close

[Movie Review] The Raid 2: Berandal

the riad 3

the raid poster Director: Gareth Evans

Casts: Iko Uwais, Yayan Ruhian, Arifin Putra, Julie Estelle, Oka Antara

Sukses besar The Raid: Redemption mengilhami Gareth Evans bersama Merantau Films dan XYZ untuk membuat sekuel yang lebih berdarah-darah. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, The Raid 2: Berandal mendapat apresiasi yang begitu tinggi dari publik domestik dan terlebih dari mancanegera.

Puja-puji pun mengalir deras.”Adegan perkelahian jarak dekat dengan koreografi terbaik, yang mendapat setidaknya tepuk tangan penonton di empat adegan,” demikian pujian yang dilontarkan oleh salah satu media internasional ternama. Evans juga disebut-sebut sebagai ‘the greatest living action filmmaker’. Tapi, layak kah Berandal berlabel ‘the best action movie ever made’?

Dan benar saja, sepanjang satu setengah jam kita dibuat nyaris tak berkedip (atau berkedip karena tak berani melihat) lewat aksi-aksi brutal nan heroik dari seorang polisi yang tengah menyamar sebagai seorang tangan kanan bos mafia untuk membuka lebar-lebar kekelaman di Gotham City, eh, Jakarta. Garis besar cerita ini memang tak ada hubungannya dengan Redemption, tapi Berandal tetap memiliki benang merah dari film pertamanya, yakni pada sosok tokoh utama, Rama (Iko Uwais), yang kembali harus bekerja sama dengan atasannya. Jika tidak, nyawa Rama akan terancam oleh mafia di kota itu dan keluarganya bisa menjadi korban.the raid2 

Tak punya pilihan, Rama mengikuti skenario atasannya. Ia dijebloskan ke penjara guna mendekati Ucok (Arifin Putra) yang kemudian akan menghubungkannya dengan ayah Uco, Bangun (Tio Pakusadewo), salah satu gembong mafia dominan di kota (satu lagi adalah komplotan mafia Jepang). Cerita menjadi penuh intrik dengan keterlibatan mafia yang sedang naik daun, Bejo (Alex Abbad), yang telah membunuh Andi (Donny Alamsyah), kakak Rama.

Selain kekerasan dan kebrutalan yang menjadi primadona di laga ini, Berandal juga memiliki pengambilan gambar yang sedemikian megah, koreografi mumpuni di samping Iko Uwais memang seorang atlet pencak silat, sehingga dari segi teknis Berandal sudah beres atau bahkan melebihi standar film-film action Hollywood. Sayangnya, di sinilah mulai terlihat kelemahan yang paling kentara, bahwa Berandal seakan-akan hanya ingin unjuk kebolehan teknis, sekedar memamerkan ‘otot-otot’ sumber daya mereka, dan terkesan tidak membumi.

Lihat saja tokoh Rama yang begitu untouchable. Rama mampu lolos dari keroyokan di toilet penjara, dengan tanpa lelah menghajar satu per satu anak buah dari Bejo, bertarung habis-habisan di dapur melawan the Assasin (Cecep Arif Rahman) lawan silat terkuatnya bersenjatakan cakar-clurit, hingga di bagian ending akhirnya ia lelah berkata, “Cukup” untuk mengakhiri marathon jotos-jotosan. Lalu, ada karakter unik namun minim karakterisasi seperti Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman).

Dari sana tampak jika Berandal memiliki penceritaan yang kurang kuat. Jangan lupakan juga adegan ‘Jakarta bersalju’ saat Prakoso (YayanRuhian) tewas yang tentunya memutarbalikkan logika kebanyakan penonton Indonesia – meski Evans sendiri mengklaim setting penceritaan Berandal berada di dunia imajiner, antah-berantah. Tetap saja, kemampuan bercerita sang sutradara Wales (yang juga berperan sebagai penulis naskah Berandal) masih belum menyamai kekuatan visualnya dalam merangkai adegan-adegan aksi yang luar biasa itu.

Selain itu, masih ditemukan celah-celah minor, seperti dialog yang tampak kaku dan beberapa kali terucapkan kurang sempurna oleh para pemain, padahal mungkin itulah dialog yang memberi penjelasan penting tentang plot cerita ini. Simak pula dialog perpisahan Rama dengan istrinya di mana kedua insan ini saling membalas ucapan dengan kata-kata baku: “Aku mencintai kamu,” yang merupakan terjemahan mentah-mentah dari “I love you”. Jika dia mati, banyak tersaji beberapa percakapan canggung, yang tak sesuai dengan ucapan lisan berbahasa Indonesia.the riad 3

Satu lagi adalah porsi action karakter perempuan yang masih kurang. Saya sempat berharap istri Prakoso (Marsha Timothy) juga punya peran lebih garang, misalnya sebagai polwan, wanita jago tembak-tembakan, atau apalah itu. Hammer Girl dirasa masih kurang ‘teman perempuan’-nya. Di film-film selanjutnya, semoga Evans menambah adegan – adegan action para wanita jagoan ini atau mungkin membuat film action bertokoh utama seorang heroine.

Logis tak logis, harus diakui Berandal merupakan salah satu film yang memuaskan hasrat menonton sebuah action movie. Sangat setimpal mengeluarkan uang 30-50 ribu rupiah di bioskop (plus parkir dua ribu). Inilah film action yang memang ditujukan untuk menghibur penonton. Namun, yaitu tadi, tidak membuat orang merefleksikan diri atau meresapi nilai-nilai yang terkandung dalam film ini. Pulang dari bioskop, kita mungkin puas, tapi setelah itu kita langsung menyodorkan pertanyaan yang paling sulit dijawab kepada rekan nobar kita, “Mau makan dimana?”

Words: Sandy Mariatna

Tags : the raid
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response