close

The Sound Project Vol. 2: Antologi Suguhan Penuh Kejutan

5 KPR X SIGMUN (9) almas

Menonton pertujukan musik pada dasarnya sama dengan menonton pertunjukan seni lain. Penontonnya punya resiko untuk jatuh cinta atau terkapar bosan.  Apalagi di kota sebesar Jakarta, dimana pertujukan musik dalam sehari bisa puluhan panggung. Tidak pernah ada yang mencatat ada berapa panggung yang membosankan dan ada berapa panggung lagi yang menyenangkan. Hingar bingar tidak selalu dimaknai berarti oleh masyarakat urban.

Jumat lalu (25/11), Gudang Sarinah Ekosistem kembali riuh ramai. Sebuah acara betajuk The Sounds Project Vol.2 digelar dengan tema “Let The Sounds Embrace Your Soul”. Jika dilihat sekilas tentu orang awam tidak akan sadar bahwa acara ini adalah hasil reinkarnasi dari Gunadarma Sounds Project 2015, yang diprakarsai oleh Musik Gunadarma sebab atribut Gunadarma sebagai universitas sudah ditanggalkan.

Dengan menyajikan sebelas penampil yang sebagian besar dari jalur indie, The Sounds Project Vol.2 berusaha menggabungkan banyak genre musik. Ada dua panggung yang disiapkan yakni “The sound Project Stage” dan “MG Stage”. Panggung MG Stage lebih kecil ukurannya dari panggung yang satunya, mungkin hanya setengahnya.

Ibarat info lalu lintas, maka sesi awal acaranya bisa dibilang ramai lancar. Seperti umumnya sebuah gelaran musik mahasiswa kampus, basis penonton yang dibawa dari kampus cukup untuk memenuhi venue. Para penampil awal seperti  Maliq & D’Essentials, Mocca, dan Indische Party  masing-masing juga mengundang fans garis kerasnya yang lumayan banyak.

The Adams misalnya tampil dengan track “Selamat Pagi Juwita”, “Waiting”, “Semirock”, “Mosque of Love”, “Berwisata”, “Hanya Kau”,“Konservatif”, dan“Halo Beni”. Penonton berkaraoke dan penuh sesak, bukan jadi pemandangan yang aneh. Tampak jelas bahwa sebagian orang yang datang memang ingin mencicipi kembali kenangan yang ada dalam dilirik serta nada-nada yang dibawakan The Adams.

The Trees And The Wild

Sementara The Trees and The Wild (TTATW), tampil dengan membawakan lagu-lagu dari album barunya Zaman,Zaman. Sejatinya sangat menarik menyaksikan penampilan tanpa jeda dari TTATW, semua lagu dijahit menjadi satu fragmen pertunjukan. Satu-satunya cara bagi si awam untuk mengetahui perubahan lagu hanya lewat perubahan tata cahaya lampu yang dipakai. Hal tersebut juga memperkuat soundscape yang rimbun dan menjaga agar nada-nada yang ada tetap menakutkan. Sayangnya dengan peforma yang paripurna, penonton TTATW tetap tidak sebanyak penonton The Adams. Itulah kejutan pertama yang tidak begitu menggembirakan, sebab pertujukan apik tidak disertai apresiasi yang ciamik.

Kejutan kedua sekaligus ketiga datang dari panggung Godbless, ketika pada lagu keempat berduet dengan Iga Massardi pentolan Barasuara. Membawakan sebuah lagu berjudul “Kehidupan”, ternyata mampu membakar panggung menjadi lebih panas. Walaupun perlu digarisbawahi bahwa panggung Godbless selalu panas dengan para penggemar fanatik yang berasal dari berbagai generasi. Menarik melihat seorang gitaris muda mengenakan atasan batik terengah-engah di tengah para personil Godbless yang staminanya tetap terjaga meski sudah cukup berumur. Pembuktian soal stamina Godbless yang gahar, berlanjut Godbless mengabulkan permintaan track tambahan dari penonton. Ahmad Albar dkk yang sudah berjalan ke belakang panggung, lantas kembali lagi untuk membawakan lagu “Trauma” permintaan penonton.

Setelah itu kejutan datang dari Kelompok Penerbang Roket (KPR)  X Sigmun yang berduet maut di penghujung acara. Mengokupasi panggung, mereka membuka  pertunjukan dengan intro yang menawan langsung dibalas lagu “Vulture” tanpa meninggalkan solo gitar dari Jono Sigmun. Kemudian disusul dengan track “Tanda Tanya”, dimana dalam lagu ini Rey KPR yang tadinya memegang gitar berganti memainkan keyboard. Berhenti sejenak, Choki dan Haikal pun menyapa para penonton sembari menerangkan bahwa penampilan mereka malam itu sekedar kolaborasi iseng.

Godbless
Kelompok Penerbang Roket x Sigmun

Melanjutkan penambilan malam itu, mereka membawakan “Devil in disguise”,”Beringin tua” dan “In the horizon”. Saat membawakan “In the horizon”, kejutan kembali terjadi sebab Vicky KPR  yang biasa menggebuk drum berganti bermain keyboard, Rey beralih ke drum dan dengan penampilan drumnya Tama tampil menjadi bintang paling bersinar dalam lagu tersebut.  Setelah jeda, “HAAI” berkumandang  dan ditutup oleh “Mati Muda”. Dalam track penutup tersebut Rey bukan sekedar menjadi backing vocal, dia bernyanyi dengan lantang satu mic dengan Haikal Sigmun.

KPR x Sigmun sebenarnya sedang menunjukan bahwa keduanya sedang menikmati kolaborasi iseng tersebut. Setiap personelnya berusaha mengeksplor kemampuan masing-masing dan tidak ada satu part pun yang terkesan didominasi oleh salah satu grup. Hal tersebut menjadi preseden yang baik mengingat mereka naik panggung setelah band legenda sekelas Godbless.

Epilog yang menyambung prolog, di tengah kebosanan masyarakat urban atas panggung yang begitu-begitu saja maka The Sounds Project Vol.2 beserta kejutan-kejutannya mampu memberikan angin segar. Walaupun tidak ada kesatuan yang jelas antara pemilihan tema acara dengan pemilihan pengisi acara serta jam penampilannya. Demikian membuat setiap panggung berdiri sendiri sehingga mengaburkan tema acara dan melupakan cerita bahwa sebenarnya mereka sedang ada dalam satu acara. [kontributo/Sekar Banjaran Aji]

Event by : Gunadarma Musik

Date : 25 November 2016

Venue: Gudang Sarinah Ekosistem

Man of the Match : saat Kelompok Penerbang Roket (KPR)  X Sigmun membawakan “In the horizon” dan semua penonton fokus menyaksikan Tama menggebuk drum, what a wonderful soundscape!

Go Check Gallery:

The Sound Project Vol. 2 (Mocca, Maliq & D’essential, The S.I.G.I.T, Indische Party, The Adam, Scaller)

The Sound Project Vol. 2 (TTATW, Godbless, WSATCC, KPR x Sigmun)

Tags : KPRSigmunsoundprojectThe AdamWSATCC
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response