close

Thursday Noise Vol. 8: Momen Hibridasi Penikmat Bising

Morfem (2)
Tarrkam
Tarrkam

Hingga penyelenggaraannya yang ke-8, Thursday Noise hadir dengan semangat kemandirian yang kali ini semakin mengakar.

Sebagai salah satu acara yang paling ditunggu oleh mereka yang tinggal di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Thursday Noise bukanlah sekadar rentetan bising feedback yang keluar dari gitar maupun permainan pedal modulasi. Tidak hanya mengundang band yang sudah-sudah, Thursday Noise juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mewujudkan kancah musik independen yang berkelanjutan. Hal tersebut dilakukan Jimi Multhazam dan tim dengan menyelami puluhan akun-akun band di dunia maya lalu memilih satu-dua nama yang tidak terlacak sebelumnya untuk dimasukkan ke line up. Thursday Noise juga mengundang artis-artis visual untuk berkompetisi dalam mendesain poster acara sesuai dengan tema dan syarat yang ditentukan hingga meletakkan nama-nama potensial sebagai headliner.

Thursday Noise Vol.8: Hybrid Moment (27/4) bukan lain merupakan representasi dari seluruh gambaran di atas; keterlibatan Texpack—band indie rock/noise belia asal Bogor, dipilihnya karya Rahesa sebagai poster resmi dari ratusan peserta lomba dan penobatan taRRkam sebagai headliner acara. Dikutip dari blog pribadi Jimi Multhazam, tema Hybrid Moment ditujukan bagi headliner taRRkam—unit hardcore punk dengan hibridasi berbagai jenis musik—sebagai gambaran bahwa acara merupakan momen milik band. Hanya pada Thursday Noise pula, sebuah panggung didirikan di 365 Ecobar Kemang, agar penampil tidak tenggelam oleh kerumunan penonton seperti pada acara-acara lain di tempat sama.

Texpack
Texpack
Negative Lovers
Negative Lovers

Tiga penampil yang naik pertama pada malam itu banyak membawa gaung dan membuat suasana terasa “dikelilingi gelombang dahsyat”, sebagaimana komentar Jimi Multhazam yang juga bertindak sebagai MC acara. Sebagai aksi pembuka, Negative Lovers berhasil mendefinisikan Thursday Noise sebagai perhelatan penuh bising melalui kombinasi tiga gitar yang mana permainannya disekatkan dalam pembagian kerja yang apik; satu memainkan not-not konstan, satu memainkan riff dengan frekuensi yang digoyangkan whammy bar dan satu yang pada dasarnya menghasilkan noise dan menggila dengan pedal wah. Hentakkan drum yang tegas dan kehadiran bass yang dalam beberapa lagu disubstusi synthesizer turut membungkus keseluruhan permainan dengan baik. Satu hal baik yang patut dicatat adalah bahwa ramainya instrumen di panggung tidak menjadikan kualitas sound sebagai tumbal dari penampilan band, seperti ketika nomor tersohor “Faster Lover” dimainkan. Kombinasi setiap unsur spesifik adalah formula yang menghasilkan psychedelic noise gaya Negative Lovers.

Texpack mungkin tidak menghadirkan impresi terbaik melalui penampilannya, tetapi jelas bahwa apa yang mereka bawa dapat dinikmati dan menjadi penanda bahwa kancah indie rock Bogor memiliki penerus dengan potensi yang menjanjikan. Dalam penampilannya, sang gitaris terlihat lihai dalam menciptakan bebunyian bising dalam kadar yang pas dengan menggesekkan korek gas pada fret. “Bored Song” sebagai single andalan dimainkan dengan cukup apik sehingga membuat mereka yang baru pertama kali menonton Texpack dapat menangkap konsep musik yang ditawarkan band. Musik Texpack yang sarat pengaruh alternatif 90-an dan nuansa emo rasanya tepat jika divisualisasikan melalui figur gadis indie yang menggoyangkan pundak santai pada alunan musik sejenis di hadapan panggung. MOISS mengokupasi panggung dengan permainan dan kualitas produksi yang solid. Bagian akhir setiap lagu yang rata-rata menampilkan permainan konstan dibawakan dengan baik dan terdengar jelas sehingga mereka yang awalnya tidak familiar dengan lagu-lagu milik band dapat menggumamkan bagian tersebut. Hal tersebut tergambarkan ketika nomor-nomor seperti “Sometimes”, “This is Real” dan “Golden/Grey” dimainkan. Kerumunan penonton baru mulai terlihat memadati bibir panggung saat MOISS tampil.

Venue semakin padat ketika mereka yang awalnya masih duduk-duduk di luar mulai masuk bersama dengan naiknya Morfem sebagai penampil. Sejak awal hingga akhir penampilan Morfem, tak sedikit dari mereka yang menunggangi ombak kerumunan penonton menjulang kaki ke wajah penonton lain yang berada dalam posisi sama. Kerumunan terlihat terdorong dari kiri ke kanan dan terus juga sebaliknya selama Morfem mengokupasi panggung penuh kharisma dengan lontaran-lontaran interaksi yang terasa begitu cair. Di luar lagu-lagu milik band yang dibawakan, cover lagu “Kuning” milik Rumahsakit dan “Pucat Pedih Serang” milik Netral menjadi daya tarik dari penampilan Morfem malam itu. Koor tentunya tidak terhindarkan pada nomor-nomor seperti “Tertidur di Manapun Bermimpi Kapanpun” dan “Jungkir Balik”. Penampilan Morfem malam itu ditutup dengan “Gadis Suku Pedalaman” yang dimainkan secara impresif.

Morfem
Morfem
Tarrkam
Tarrkam

Seharusnya energi penonton sudah habis dengan berakhirnya penampilan Morfem. Namun, sejak taRRkam mempersiapkan alat di atas panggung, kerumunan penonton—yang sebagian di antaranya adalah teman-teman sebaya yang juga aktif bermusik—sudah ramai di depan panggung meneriakkan gurauan-gurauan tak penting kepada keempat personel. Benar saja, intro kaotis taRRkam disambut dengan hamburan penonton yang bergerak liar tak terkendali. Ketika lagu “Kamen Rider KW Super” baru saja dimulai, mikrofon sudah direbut dari vokalis Ape dan baru kembai setelah lagu berakhir. Circle pit bisa jadi begitu gila pada lagu-lagu seperti “Seratus Juta Tenaga Kuta” dan “Mahameru Selfie Destroyer” sehingga stage crew sesekali harus melindungi kabel mikrofon yang tertarik serta speaker monitor yang terhantam dan dijadikan pijakkan stage dive. Malam itu, taRRkam berhasil memanfaatkan momen yang diperuntukkan baginya secara optimal dengan memacu hasrat kebinatangan banyak penonton yang masih bertahan hingga akhir acara. Keberhasilan tersebut turut terpancar pada wajah-wajah teman sebaya dari berbagai band lain yang menatap iri selama taRRkam mengokupasi panggung malam itu.

Thursday Noise Vol. 8 adalah lanjutan dari seluruh rangkaian acara yang masih akan terus berlanjut di mana banyak unsur dilibatkan secara aktif guna memapankan kancah musik yang berkelanjutan. Walau tidak seluruh penampil bermain dengan kualitas yang sama prima, acara menghadirkan sajian tata suara yang baik dengan barisan nama yang patut disaksikan. Lebih dari itu, Jimi Multhazam dan tim berhasil mempraktikkan semangat kancah musik independen yang mengakar; menghidupkan kancah secara utuh dengan melibatkan berbagai unsur yang bisa diberdayakan—band-band baru, artis visual dan sebagainya—tanpa hanya memberikan kesempatan pada nama-nama yang sudah lebih berkedudukan mapan. [contributor/Adam Bagaskara]

Event by: Thursday Noise

Date: 27 April 2016

Venue: 365 Ecobar, Kemang, Jakarta Selatan

Man of the Match: Morfem sebagai tuan rumah yang selalu tampil impresif dan tentunya taRRkam yang membawa pengalaman mendengar hardcore punk ke tataran baru.

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery: Thursday Noise Vol. 8

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response