close

[Album Review] Tigapagi – Roekmana’s Repertoire

IMG_1620
IMG_1620

Tigapagi – Roekmana’s Repertoire

Label: Demajors Records

Watchful Shot : Pasir – Batu Tua – Tangan Hampa Kaki Telanjang

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Memasukkan cakram CD Roekmana’s Repertoire ke player, sebuah kisah panjang akan mengalun dalam 14 nomor yang dirangkai jadi satu cerita sepanjang 65 menit tanpa jeda. Empat belas kisah pilu yang diceritakan diantara petikan kecapi Sunda, lengking biola, dan irama syahdu lainnya. Paduan pentatonis Jawa dan klasik Eropa yang rukun bercengkrama. Tigapagi tidak sendirian, banyak tamu yang membuat album ini lebih berwarna. Dalam package Roekmana’s Repertoire ini, disertakan pula lirik dalam kertas kopi dan gambar-gambar tangan, juga foto ruang tamu si tokoh sentral, Roekmana. Sebuah karya yang sangat terkonsep dari trio Sigit Agung Pramudita, Eko Sakti Oktavianto, dan Primadian Febrianto.

Ber-setting di hiruk pikuk Indonesia tahun 1965, album ini secara keseluruhan menceritakan kegelisahan Roekmana. Kegundahan hati yang belum diselesaikan, kehilangan yang belum berakhir pertemuan, harapan di usia senja yang memudar, sampai liang kubur tempat ia akan tertidur. Sendu memang cuacanya. Semisal warna, album ini kelabu.

Track panjang dibuka dengan nomor “Alang-alang” yang disuarakan Firza Achmar Paloh (SORE). Menceritakan kepiluan orang tua yang kehilangan anaknya (mungkin di tahun 65), “Anakku yang hilang tak kembali,” kisahnya. Tanpa sempat mengambil tissue, kesenduan bersambung di vokal legit Ida Ayu Sarasvati (Nada Fiksi) membawakan tembang “Erika”. Seorang wanita yang mungkin menjadi tumpuan hati Si Roekmana tua. “S(m)unda” yang sedih mengalun, disambung “Yes, We Were Lost in Our Hometown” yang liriknya hanya sepanjang judulnya.

Rintihan getir biola membuka nomor andalan, “Batu Tua”. Lagu ini adalah puncak kegelisahan Roekmana. Tentang usianya yang semakin senja dan harapan-harapan yang terpaksa memudar. Di nomor ini Sigit sendiri yang menyanyikan lirik “Pasti tetap menua. Tetap menjadi jingga, meski lelah kau mencoba..” Nomor berlanjut pada “Sorrow Haunts”, lalu “Heufken” yang tanpa lirik.

Judul-judul lainnya masih akan membuat sore yang cerah jadi sendu. “Tangan Hampa Kaki Telanjang”, “Vertebrate Song” dan “The Way” menyuara. Khusus di nomor “Pasir”, adalah Cholil (Efek Rumah Kaca) yang mengeksekusi vokalnya. “Birthday” mungkin akan terbaca bahagia sampai liriknya terdengar. Alih-alih perayaan umur yang bertambah, di lagu ini Roekmana mengartikan ulang tahun sebagai jarak dengan kubur yang semakin mendekat. “Cause you will see your face death.”

Di menit ke 57:20,  sebuah radio menyuarakan pidato Soeharto yang mengajak masyarakat untuk tetap tenang di tengah keadaan genting mengakhiri nomor “De Rode Slaapkamer”. Bersambung kemudian ke lagu terakhir, “Tertidur” yang disuarakan oleh Aji Gergaji (TheMilo). Di bagian akhir album ini, terdengar petikan kecapi dan suara tawa anak-anak kecil yang seolah semakin menjauh lalu kembali ke awal lagu “Alang-alang” lagi. Seperti putaran tanpa henti, seperti kesedihan Roekmana yang belum terlunasi. [ Warn!ng/Titah Asmaning]

Tags : tigapagi
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.