close

[Movie Review] The Adventures of Tintin

the_adventures_of_tintin_3d-normal
the_adventures_of_tintin_3d-normal

Salah satu tokoh kartun paling terkenal adalah Tintin. Tokoh rekaan Herge yang diciptakan tahun 1962ini juga menjadi salah satu tokoh inspirasiku dan favoritku. Tintin adalah gambaran seorang jurnalis ideal: super pemberani dan selalu ingin tahu, selalu melakukan investigasi terhadap kasus-kasus yang kadang tidak masuk akal. Tidak salah jika buku-buku komiknya sebagian besar sudah saya baca. Sayang sekali, ketika difilmkan sang pria berjambul ini kurang mampu menunjukkan karakter aslinya. Dua sutrad

 

ara tersohor Hollywood yang menggarapnya, Steven Spielberg dan Peter Jackson, masih belum mampu mengeksploitasi Tintin ke dalam film.

Kesan pertama dari The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn adalah teknologi motion capture-nya yang luar biasa. Bagaimana hebatnya motion capture yang mampu menjembatani antara Tintin di gambar komik dengan Tintin jika di-live action-kan di kehidupan nyata. Teknologi animasi sudah sedemikian majunya. Saya kemudian membayangkan animasi apa yang akan kita lihat sepuluh tahun lagi.

Merupakan gabungan dari tiga komik Tintin (Red Rackham’s Treasure, The Secret of the Unicorn, dan The Crab with the Golden Claw), jalan ceritanya masih mampu menghadirkan esensi semangat petualangan dan bersenang-se

tin tin

nang yang dipegang teguh oleh serial komik tersebut. Meski demikian, terlalu fokusnya kepada teknologi motion capture dan juga kepada adegan-adegan aksi, membuat film ini kurang dapat mengambil potensinya untuk membuat kisah-kisah yang menyentuh, seperti dalam film-film Disney atau Pixar.

Menurut saya, karakter yang lemah dalam film terlihat justru pada tokoh Tintin. Tintin hanya digambarkan sebagai sesosok jurnalis yang beruntung, mendapatkan petunjuk-petunjuk investigasinya dengan sangat mudah. Tokoh-tokoh lain yang hanya diberi porsi sedikit dalam film namun memiliki karakter yang lebih kuat daripada tokoh utama. Adegan-adegan aksinya pun terkadang sangat tidak masuk akal. Misalnya adegan kejar-kejaran antara Tintin dan Shakarine yang terlalu lebay. Memang ini memang kisah fiksi yang ter-motion capture, namun setidaknya film ini juga memberikan gambaran yang lebih masuk akal agar penonton lebih mampu menangkap pesan dari film ini.

Sebagai penggemar Tintin, saya tidak terlalu kecewa dengan film ini. Semoga Steven Spielberg dan Peter Jackson masih betah untuk membuat sekuelnya. Saya menginginkan agar mengambil kisah pada komik pertama Tintin in Soviet yang mengambil setting di Rusia. [Warning / Sandi Mariatna]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response