close

[Movie Review] Transcendence

transceposter

Transcendence

Sutradara: Wally Pfister

Genre: Science fiction

Year: 2014

transceposter

Siapa sangka perhelatan sebuah konferensi sains dapat menjadi pemicu serangan teroris. Teror menghentak secara simultan menargetkan beberapa lembaga riset kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kelompok yang bertanggung-jawab adalah RIFT, Revolutionary Independence from Technology, sekelompok teroris yang memegang pandangan apokaliptik bahwa kecerdasan buatan merupakan ancaman bagi kemanusiaan. Bagi RIFT, “Self-aware technology has doomed us all.”

Kekhawatiran macam itu lahir dari impian para ilmuwan kecerdasan buatan pada saat itu yang memang imajinatif. Evelyn, diperankan oleh Rebecca Hall, mencita-citakan sebuah masa depan di mana kecerdasan buatan dapat membersihkan bumi dan menyembuhkan segala penyakit manusia. Ketika Will Caster, yang diperankan Johnny Depp, pada konferensi sains mempresentasikan spekulasinya mengenai teknologi kecerdasan buatan yang memiliki kesadaran diri dan kapasitas kognisi yang melampaui manusia, seorang mahasiswa bertanya.  “So you’re trying to create a God?” Will menjawab, “isn’t that what man has always tried to do?” Tepat saat itu, teror pun serentak RIFT lancarkan.

Will terlanjur menunggu maut karena tertembus peluru radioaktif akibat teror RIFT. Evelyn, yang tidak rela kehilangan kekasihnya, mengunggah kesadaran Will ke dalam bentuk digital. Meski tanpa tubuh, perangkat-perangkat input seperti webcam dan microphone menjadi serupa alat sensor indranya. Will, yang diproyeksikan dalam bentuk avatarnya, pun seakan hidup kembali. Dituntunlah istrinya membangun suatu kota utopis di mana mereka mewujudkan cita-citanya.

Anda mungkin akan dikejutkan oleh lompatan teknologi yang amat jauh. Frankenstein berwujud Will Caster ini berhasil menciptakan nanomachine yang dapat menyembuhkan manusia, menanamkan kesadaran dirinya kepada orang lain, hingga menyulap hujan buatan. Potensinya yang membuat sebuah koloni, membuat RIFT tidak tinggal diam. FBI yang akhirnya juga bersepakat melihatnya sebagai sebuah ancaman, berkerjasama dengan RIFT. Seperti dapat diduga, adegan berikutnya adalah konfrontasi antara kedua pihak ini.

Pihak anti-teknologi di satu sisi digambarkan sebagai antagonis teroris, tapi di sisi lain kubu Will Caster dan Evelyn dianggap sebagai ancaman. Film ini gagal menunjukkan pesan apa sebenarnya yang hendak disampaikan. Kerakusan tema yang hendak diusung pun membuatnya relatif terlihat berantakan. Transcendence dapat menjadi film thriller yang menguras otak, di sisi lain terdapat bagian adegan action ala sci-fi,  juga kisah cinta dengan emosi mendalam. Cukup menghibur, namun gagal meninggalkan kesan istimewa bagi penontonnya.

Kekecewaan macam ini mungkin juga hadir karena harapan penonton yang terlalu tinggi terhadap film debut Wally Pfister ini. Pfister, yang kita tahu pernah menangani sinematografi dari film-film Nolan seperti The Dark Knight dan Inception, tentu saja tidak menggarapnya tanpa rujukan saintifik yang gegabah. Christof Koch, ketua peneliti ilmiah dari Allen Institute for Brain Science dari Seattle, menjadi rekan konsultan Pfister dalam meriset Transcendence.

Bagi Koch, kesadaran diri (self-awareness) tidak lebih daripada salah satu fitur firmware dari otak kita. Jadi tidaklah mustahil baginya membuka ruang kemungkinan untuk membentuk sebuah komputer gigantik dengan model otak manusia—di mana terdapat sel syaraf, sinapsis dan neurotransmitter—dengan prinsip kerja apa yang semua otak manusia dapat lakukan. Gagasan emulator otak dalam ranah sains komputer sendiri sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Dari memori yang menyerupai prinsip kerja ingatan manusia, networking yang menyerupai asosiasi yang dibentuk dari sel syaraf yang melakukan rambatan secara simultan ke sel-sel syaraf lainnya, hingga kode biner yang disimbolkan 1 dan 0 yang menyerupai representasi kondisi on dan off dari suatu sel syaraf. Ilmuwan seperti Koch juga yakin bahwa kesadaran (consciousness) mungkin juga dapat diemulasikan.

Apa yang menarik dari Transcendence juga tidak lain adalah kekayaan gagasan yang disajikan serta adegan yang membuat kita terprovokasi untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar consciusness, jiwa, serta masa depan kemanusiaan. Apa itu consciousness? Dapatkah kita membuktikan kita memilikinya? Etiskah untuk mengkompensasikan consciousness manusia menjadi berupa mesin demi bumi yang lebih hijau?

Review dikirim oleh: Sandi Wilo @wilobudi

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response