close

TrashStock Festival 2016: Menyoal Sampah dengan Meriah

trashstock festival 2016
Venue
Venue

Bagaimana jadinya jika sampah plastik menjadi solusi bagi permasalahan yang ditimbulkannya sendiri? Bila Anda belum menemukan jawabannya, berarti Anda telah melewatkan TrashStock Festival.

 

Keramaian yang terjadi di Jalan Sedap Malam, Denpasar, memang selalu terjadi di saban harinya. Kendaraan berlalu-lalang dan orang-orang bersliweran di jalan yang menghubungkan daerah Kesiman dan Sanur itu. Namun, pada hari Sabtu dan Minggu (16-17/7) yang lalu, ada hal yang berbeda dengan keramaian tersebut. Banyak orang yang berjalan menuju Taman Baca Kesiman dengan membawa kantong-kantong berisi sampah plastik. Siapakah mereka? Apa yang mereka lakukan dengan sampah-sampah tersebut?

Ternyata, mereka dengan berkantong-kantong sampah plastik tersebut adalah orang-orang yang menghadiri TrashStock Festival 2016. Setelah edisi perdananya sukses dihelat pada bulan Juni tahun lalu, kini TrashStock Festival masih saja menarik banyak orang untuk datang dengan cara yang unik. Harga tiket masuk seharga 25 ribu Rupiah tak perlu dilayangkan jika kita membawa 2 kg sampah plastik bersih sebagai biaya masuk. Atau, kita cukup membayar setengah dari harga tiket jika membawa 1 kg sampah plastik. Sungguh bukan cara yang biasa untuk memasuki suatu festival.

Sesuai dengan cara masuknya, TrashStock Festival 2016 memang bukan festival biasa. Mengusung tema “Musik, Artistik, Plastik”, festival ini sengaja dihadirkan dalam menghadapi isu terkait sampah plastik yang tak hanya berlaku di Bali, tapi juga di seluruh dunia. Festival ini menyajikan karya-karya seni dan musik sebagai bentuk kepedulian akan lingkungan dan juga kecintaan terhadap Bali. Orang-orang yang bergabung dalam festival ini menyebarkan isu-isu tragis terkait lingkungan hidup dalam bentuk artistik dan musik yang tentunya menyenangkan dan indah.

Visi TrashStock Festival ini pun tercermin pada penggunaan plastik sebagai ornamen-ornamen pendukung acara ini. Panggung utama acara ini terbuat dari palet yang digunakan untuk memindahkan kargo dengan hiasan sampah botol plastik warna-warni yang mengitarinya. Semua itu tak mengurangi keindahan tampilan panggung tersebut, malah memberi nilai tambah yang besar karena memanfaatkan sampah. Pohon yang tumbuh di sisi kiri panggung juga dipenuhi hiasan dari sampah-sampah gelas plastik. Dinding toilet pun tak kalah menariknya karena foto-foto Instagram @bombdalove tentang sampah tergantung di sana. Sepertinya, kemanapun kita pergi di area festival, sampah plastik pasti ada untuk mengingatkan bahaya sekaligus kemungkinan pemanfaatnya hari itu.

Gelaran ini menghadirkan sekitar 20 komunitas dan personal yang menjadi peserta pameran dan pengisi acara. Mereka yang bergerak di bidang artistik dalam festival ini adalah Made Bayak, Rahmat Jabaril, Wayan Suja, Gus Dark, Gede Sayur, Dodit Artawan, Lanang Mantra, Vifick Bolang, Sprites Bali, Rharharha, dan masih banyak lagi. Artistik yang ditampilkan juga beragam, yaitu foto, lukisan, instalasi, kerajinan tangan, bahkan desain baju. Semuanya mengulas tentang lingkungan, dan beberapa menggunakan sampah plastik sebagai bahan artistiknya.

live mural painting
live mural painting

Selain memamerkan hasil karya seni artistik, TrashStock Festival 2016 juga menghadirkan sederet acara menarik lainnya. Contohnya Plasticology Workshop oleh Made Bayak yang mengajarkan pembuatan karya seni dengan bahan baku sampah kepada anak-anak. Ada pula Kresek Crochet (menganyam sampah) yang diberikan oleh komunitas NCIE. Selain itu, ada pembuatan bata dari plastik, pemutaran dan diskusi film tentang plastik, workshop fotografi lubang jarum, live mural painting, caricature live sketch, serta pagelaran busana plus body painting. Semua acara tersebut pun dihadiri oleh banyak orang dengan antusiasme yang sangat tinggi.

TrashStock Festival 2016 berjalan dengan sangat santai dan menyenangkan. Mereka yang datang pun tak hanya berasal dari orang dewasa saja, karena anak-anak selalu terlihat dimana-mana, berlarian saling mengejar di rerumputan. Taman Baca Kesiman juga tak hanya dipenuhi oleh warga lokal saja karena banyak warga asing yang tampak bersantai menikmati makanan dan minuman tradisional khas Bali: nasi jinggo dan arak Bali.

Pertunjukan musik disajikan TrashStock Festival 2016 di sore hari sampai malam tiba. Sederet musisi yang sudah terkenal namanya di kancah musik Bali turut diundang untuk meramaikan panggung festival ini. Penonton pun dapat dengan santai menyaksikan penampilan sang musisi sebab panggung utama festival ini berada di halaman belakang Taman Baca Kesiman yang memang berumput. Banyak penonton yang menggelar kain untuk duduk bermandikan sinar matahari sore yang nanti digantikan oleh sinar rembulan. Menunggu sang musisi datang, beberapa terlihat membaca buku, ngobrol sambil minum bir, menyantap sate babi khas Bali, dan bermain frisbee dengan anjing mereka yang memang berkeliaran bebas di halaman.

Pada hari pertama, panggung musik TrashStock Festival diokupasi oleh Rizal & Rasendrya, Zat Kimia, Young Guns, Robi ‘Navicula’, Deep Sea Explorers, dan The Mangrooves. Sebelum mereka tampil, tepat pukul enam sore, Sako & Arif Hendrasto menyajikan “Sunset Dance” yang membawa nuansa musik India dengan ditemani seorang penari perempuan. Setelah itu, tim Marching Band Udayana memainkan perkusi yang semuanya terbuat dari sampah daur ulang. Aksi tersebut cukup membangkitkan suasana, apalagi setelahnya delapan bocah dari Sanggar Anak Tangguh membawakan musik tradisional ke tengah-tengah penonton. Suara rindik, seruling, dan gitar mengiringi kepolosan dan keceriaan mereka yang membawakan beberapa lagu, salah satunya lagu berbahasa Bali, “Ketut Garing”. Penonton seolah tak sadar malam sudah datang ketika Anaïs Bourquin menari dengan diiringi visual dari Sprites Bali dalam karya teatrikalnya yang bertajuk “Seven”. Semua penampil menghasilkan riuh tepuk tangan dari penonton.

robi 'navicula' dan sang mertua
robi ‘navicula’ dan sang mertua
nosstress
nosstress

Rizal & The Rasendrya memainkan alat musik petik yang ia namakan ‘lapsteel’. Dengan bantuan harmonika, ia bernyanyi di syahdunya malam itu. Setelah itu, angin yang berembus sepoi-sepoi mengantarkan penonton pada penampilan Zat Kimia yang penuh nuansa rock. Sempat hujan gerimis, Young Guns pun juga unjuk aksi sebelum akhirnya Robi ‘Navicula’ datang. Kali ini Robi tidak sendiri karena ia mengajak serta sang ayah mertuanya untuk bermain. Mereka membawakan lagu yang familiar di telinga penonton seperti “I Will Wait” milik Mumford & Sons. Penonton pun ikut bersorak dan bernyanyi dengan iringan gitar Robi dan banjo ayah mertuanya. Malam hari pertama ditutup dengan asyik oleh penampilan Deep Sea Explorer dan juga The Mangrooves. Bahkan The Mangrooves dengan musik alternative reggae-nya mampu mengajak penonton untuk maju ke depan panggung dan berdansa bersama-sama.

Pada hari kedua, panggung musik TrashStock Festival menghadirkan Lily of the Valley, Agha ‘Rollfast’, dan Lilyn. Selain itu, Nosstress juga tampil dengan lagu-lagu andalan mereka seperti “Tanam Saja” dan “Bersama Kita”. Penampilan mereka yang syahdu dan diselingi candaan-candaan kocak pun bisa terbilang paling banyak menarik perhatian penonton. The Hydrant pun kemudian menggantikan suasana akustik yang dibawa Nosstress dengan musik rockabilly-nya yang mengajak tubuh untuk bergoyang ikut irama. Gelaran TrashStock Festival 2016 pun akhirnya ditutup dengan iringan musik dari DJ Ronald Microbot yang membuat penonton berdansa di bawah sorotan lampu yang dihadapkan ke arah mereka.

Hendra Arimbawa selaku ketua panitia acara ini menuturkan bahwa TrashStock adalah konsep bersama antara dirinya dan kawannya yang berkebangsaan Prancis, Julien. Mereka bertemu di Australia pada tahun 2012 saat dirinya menghadiri agenda forum traveler. Mereka menggagas acara ini di tahun 2014 dan setahun kemudian, TrashStock Festival edisi pertama pun hadir. “Kita aware akan masalah sampah dan ingin melakukan sesuatu yang lebih unik dan bisa menginspirasi. Mudah-mudahan di TrashStock Festival 2016 ini teman-teman bisa terinspirasi juga untuk membawa satu perubahan,” ucapnya ketika diundang ke tengah penonton. “Mudah-mudahan teman-teman juga bisa bergerak di bidangnya masing-masing, baik itu di lingkungan, sosial, dan lain sebagainya. Semoga terus semangat, dan bisa menjaga lingkungan menjadi lebih baik,” tutupnya dengan diiringi tepuk tangan penonton yang hadir. Seluruh keuntungan yang diperoleh dari acara ini didonasikan kepada IDEP Foundation untuk mendukung program pembuatan komik mengenai masalah sampah, dan juga Budi Susila selaku Pembina Sanggar Jegeg bagus di Tabanan. [WARN!NG / Oktaria Asmarani]

 

Event by              : TrashStock Collective

Date                      : 16-17 Juli 2016

Venue                  : Taman Baca Kesiman, Jalan Sedap Malam 234, Denpasar

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery –> TrashStock Festival 2016

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response