close

Tujuh Nada Rajut Folk-Musical Dalam Teater Garasi

aIMG_9892

Hari kedua sebuah tur singkat bertajuk Suara Tujuh Nada berakhir syahdu ketika mempersembahkan rajutan kombinasi ketujuh nada milik White Shoes And The Couples Company, Dialog Dini Hari, maupun Stars And Rabbits. Merupakan usaha G Production bersama Rain Dog Records dalam menciptakan konsep tur tiga band, tiga hari berturut-turut, dan tiga lokasi berbeda. Namun yang sangat layak diapresiasi adalah terkumpulnya ketiga lokasi konser yang kesemuanya bernuansa ethnic-art-kontemporer dengan jenis venue yang berlainan. Menggelar acaranya pada Kamis (7 Maret 2013) malam, Teater Garasi menjadi pilihan tepat yang mewakili Yogyakarta sebagai venue lokasi hari kedua dimana hari sebelumnya Suara Tujuh Nada telah sukses diadakan di Maja House Bandung,

Sekali lagi, adalah janggal untuk menceritakan kembali jalannya acara ini tanpa menyinggung out of the box nya karakteristik venue malam itu. Teater Garasi sendiri bukanlah sebuah spot hingar bingar pusat pergaulan anak muda Yogyakarta. Selain letaknya di pinggiran sawah, sebagai ruang tata ekspresi seni kontemporer, situasi indoornya memang begitu hangat dan kalem dengan panggung yang tampak lebih umum digunakan sebagai alas pertunjukan seni teater. Alhasil, disertai nyawa musikal ketiga band itu sendiri, audiens malam itu bak disajikan tiga jam drama folk-musical sepaket dengan suasana intim sekaligus udara gerah.

Suasana berbeda dapat ditemukan di hadapan sebuah screen kecil yang sengaja disediakan penyelenggara di luar venue sebagai respect bagi para audiens tanpa tiket yang menjadi korban begitu kilat ludesnya tiket SuaraTujuhNada di Yogyakarta ini. Duduk beralasakan tikar yang menimpa ombak rerumputan, justru terdapat keuntungan berwujud fasilitas alam, yaitu hembusan angin bebas yang sempat menggoda beberapa audiens dalam venue untuk ikut bergabung dengan audiens tanpa tiket tersebut.

Mengacu pada pengibaratan sebuah drama folk-musical tadi, maka prolog malam itu ialah tujuh tembang dari Stars And Rabbits, termasuk “Like It Here” dan “Worth It”. Mendengar child voice dari Elda Suryani sendiri masih akan mengingatkan pada bekas rotasi radio airplay seperti “Agresif” atau “Terlalu Lelah” dari band lamanya Evo. Namun berpasangkan dengan Adi Widodo ini, Elda justru terlihat lebih nyaman dan di atas panggung malam itu, ia seperti pocahontas yang girang menemukan kedamaian dalam renungan musik folk. Celotehan-celotehan antara keduanya juga berhasil meningkatkan kadar keintiman dengan penonton.

Usai turunnya Stars And Rabbit, Musisi kenamaan pulau dewata, Dadang SH Pranoto, memimpin Dialog Dini Hari untuk menampilkan untaian dongeng monolog beriring lambaian irama folk blues. Dengan lirik-lirik kontemplasi penuh diksi, sekilas Dadang adalah Iwan Fals yang sedang tersesat di romantika alam bebas. “Pagi jangan pergi, kutakut malam nanti ku masih sendiri, dan pagimu tak lagi indah” dari “Pagi” menggugah penonton bersing along seolah tak ingin segera tertidur lelap agar Dialog Dini Hari tak berhenti mendendangkan dongengnya. Namun sampai pada lagu kesembilan, “Oksigen” menyudahi penampilan mereka.

Udara di dalam venue semakin terasa lembab, namun setelah dua jam dilarutkan dalam roman musikal apik, siapa rela melewatkan happy ending dari White Shoes And The Couples Company? Mengawali dengan “Sabda Alam” dan “Masa Remadja”, kawanan classic retro pop 60-70an itu tak disertai oleh kehadiran Mela, sang keyboardist. Namun tampil tanpa kontribusi instrumen keyboard, pada satu sesi justru membangkitkan optimalisasi aransemen lain dari Saleh dkk, seperti Ricky dengan cello dan John Navid yang memainkan kolintang. Begitu juga Saleh yang sempat menjelma menjadi drummer, diantaranya ketika mencover lagu Pure Saturday berjudul “Phatetic Waltz”. Nona Sari berikutnya tampil kembali sekaligus mengembalikan rekan-rekannya pada jatah instrumen aslinya masing-masing dengan membawakan beberapa lagu daerah yang rencananya menjadi santapan utama dari album baru yang akan dirilis pertengahan tahun. Selanjutnya adalah sapaan terakhir White Shoes And The Couples Company, baik pada audiens beruntung dalam venue maupun di atas tikar yang masih setia untuk menjadi saksi klimaks pertunjukan, “Aksi Kucing” dan “Matahari”.[Warning/Soni]

Event by : G Production dan Rain Dog Records

Venue : Teater Garasi

Date : 7 Maret 2013

Man Of The Match : Cohesiveness venue and the acts , Our biggest respect for outside venue’s screen

Score : ●●●●

 

© Warning/Noor
© Warning/Noor

 

Foto- Foto Konser ini bisa diakses di http://www.warningmagz.com/?p=351

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response