close

Ugoran Prasad (Melancholic Bitch): Konstruksi Keluarga Dan Orba Yang Terjaga

Hampir setiap konser Melancholic Bitch dirayakan bak hari raya. Konser-konser itu memang bukan sebuah momentum yang bisa dilewatkan begitu saja dengan alasan-alasan remeh. Frekuensi tampil yang terhitung langka tak cukup mengimbangi pendengar antusiasnya—untuk menghindari istilah fans—yang cenderung menaruh ekspektasi tinggi sekaligus sarat militansi.

Kode numerik “hari raya” berikutnya adalah 9917 yang juga tertera di bagian depan kaus resmi Melancholic Bitch terbaru. Maka digelarlah, konser pertama Melancholic Bitch di tahun 2017 dalam rangka perilisan album penuh ketiga bertajuk NKKBS Bagian Pertama pada hari Sabtu (9/9) lalu. Euforia praktis melanda penantian konser ini karena album tersebut berjangka tujuh tahun dari album hebat mereka sebelumnya yang dipengaruhi sentuhan teater dan sastra, Balada Joni dan Susi (2009).

Ugoran Prasad, sang vokalis yang juga giat berkiprah di medan sastra dan seni pertunjukan, malam itu tampil seperti sediakala. Ia tetap mengenakan setelan serba hitam dengan arloji merah yang sudah menahun rutin dipakainya. Hanya saja kali ini ia mencuri perhatian penonton tatkala pertama kali masuk panggung seraya menjinjing sebuah ember berwarna merah. Bisa jadi itu atribut simbolis yang merepresentasikan dinamika domestik rumah tangga dan keluarga, tapi yang jelas penonton terbahak ketika Ugo menggunakan ember itu untuk menadah abu rokoknya.

Konser berjalan lancar dua jam setelahnya. “Aku janji, kita pasti ketemu lagi… segera. Lebih cepat dari tujuh tahun pastinya,” tukas Ugo mengkhatamkan persuaan “mahal” itu. Ukuran jeda senantiasa menjadi penting dalam merajut penantian terhadap Melancholic Bitch. Syukurlah, tak pernah ada yang tak lunas.

Namun, tak sedramatis kalimat perpisahan dari Ugo itu sebenarnya. Segelintir konser sempat digelar lagi oleh Melancholic Bitch. Ujung ceritanya bisa ditebak: konser-konser itu dibicarakan, albumnya masuk di sederet versi lis karya terbaik tahunan, serta wacana yang tersuguhkan itu lamat-lamat mulai marak dibedah. Mereka meringkus sorot perhatian meski reputasi komersial dan pasarnya terjaga di skala yang sama.

Impak lainnya adalah jamaknya jurnalis yang berminat melakukan wawancara. Sebagian berhasil, termasuk kami. Yang tak kebagian kesempatan, berharaplah Ugo berumur panjang. Penulis musik lokal millenial akan menemukan standar mutu tanya jawab yang baru sejak mewawancarai Ugoran Prasad.

Kami menyambanginya di markas Teater Garasi sehari setelah gelaran Live at Teater Garasi: Melancholic Bitch di Jalan Tikus. Teater Garasi memang krusial sebagai ruang tumbuh kembang kesenimanan Ugo. Ruang seni-budaya itu menggumulinya baik di atas maupun di luar panggung. Mungkin ini terlihat dari bagaimana ia kedapatan tidak menyendirikan busana panggungnya sebagai vokalis Melbi dari tampilan kesehariannya. Yang lain hanya rambutnya yang mengembang tak cukup rapi, seperti orang yang tengah bangun tidur atau sibuk memikirkan negara. Yang terakhir ini sempat kami pertimbangkan kebenarannya di tengah wawancara.

Selain rokok, Ugo juga peminum kopi yang taat, meski menolak jika disebut sebagai fundamentalis. “Saya tidak pakai gula, tapi saya tidak ideologis soal itu,” ujarnya sambil mengaduk beberapa cangkir kopi yang dibuatkannya untuk kami.

“Maka kita tidak lagi Orde Baru itu sebelah mananya? Semua unsur-unsur peri kehidupan kita masih Orde Baru sekali kok,”

Kombinasi kopi dan rokok diakuinya manjur mengganjal lapar kendati ia sebenarnya sedang memesan pempek lewat ojek online: “Saya pelan-pelan ya menjawabnya, ini hangover. Belum makan,” tukasnya. Entah karena kopi dan rokoknya yang mujarab atau memang topik wawancaranya yang menyentuh sisi intelek dan emosinya yang mendalam, Ugo berkisah dengan berapi, tak tampak terganggu oleh lapar.

Adalah prinsip utama bahwa sungguh merugi mewawancarai Ugoran Prasad dan selesai di pertanyaan-pertanyaan teknis musik. Ingat, mereka baru saja merilis sebuah album yang judulnya saja disambar dari jargon konsep keluarga ideal buatan Orde Baru, mengisyaratkan wacana yang tidak ringan namun relevan. Di dalam album itu termaktub bermacam amatan dan pertanyaan perihal keluarga, sejarah, dan persinggungan – persinggungan sosial-politik lainnya yang diaduk dengan lebur dan bukan asal tampung.

Ugo menyatakan, “Saya agak sebal ketika beberapa orang ngomong seolah-olah saya sedang menggali isu lama yang menjadi retro dalam taraf tertentu. Menurut saya, ada banyak wartawan yang malas. Soalnya saya sudah bolak-balik ngomong bahwa saya menggunakan NKKBS karena makin lama ini makin relevan. Saya sedang merasa bahwa yang kita bayangkan sebagai matinya Orde Baru itu bohong banget.”

”Cek saja, penggusuran dimana-mana. Lihat saja proyek-proyek bandara dan reklamasi. Orang miskin digusur, tentara masuk di mana-mana. Cuma, ada bubble kelas menengah besar-besaran di Indonesia sekarang. Konfliknya sebenarnya konflik kelas, dan sama dengan di zaman Orba bahwa kelas menengah memang enak karena saat itu ada oil boom tahun 70-80’an. Pertumbuhan ekonomi meningkat dan Suharto dibiarkan berlama-lama karena kelas menengah tidur. Situasinya serupa dalam taraf tertentu,” imbuhnya, disusul komentar panjang soal koalisi politik di situasi 1998 sebagai latar belakang kondisi politik saat ini yang tak banyak beranjak. Mendadak, ia menyetop cakapnya sejenak, dan berceletuk, “Kenapa kita ngomong sampai sini?” sambil senyumnya terkembang.

Waktu hampir 2 jam habis hanya untuk sedikit butir pertanyaan karena tiap-tiapnya dijawab dengan panjang. Beberapa juga tak perlu disusul pertanyaan susulan untuk memperdalam jawaban karena Ugo sudah melunaskan rasa penasaran, misalnya soal gagasan Post-Orba. “Kita sekarang sebenarnya sangat bisa menyebut diri kita Post-Orba. Soalnya Orbanya masih ada. Tapi tentu saja saya juga sedang mengatakan ada banyak yang berbeda. FPI bisa ada berkat situasi Post-Orba, karena kalau zaman Suharto pasti sudah dimatikan. Tapi FPI itu juga hasil dari Orba dalam pengertian bahwa karena gerakan islam di zaman Suharto dihajar semua selama puluhan tahun. Maka habis itu gerakan Islam jadi gerakan yang paling masuk akal muncul di 1998,” paparnya. “Maka masuk akal kalau habis 1998 ada kebebasan berserikat dan berkumpul. Ada banjir ekspresi gerakan islam dari kanan kiri dan segala sudut. Artinya FPI harus dilihat sebagai bagian dari trauma 20 tahun itu.”

Selain organisasi-organisasi masyarakat yang intoleran, indikator soal Post-Orba itu juga hadir dalam percatutan pegawai negeri. “Pegawai negeri ini bagian dari sejarah kolonial di zaman Belanda, karena itu posisinya di tengah-tengah, semacam elit yang baru. Lalu sampai sekarang pembukaan pegawai negeri tak pernah kurang. Memangnya kita butuh seberapa banyak pegawai negeri? Tidak jelas. Pegawai negeri menjadi alat negara untuk ngomong berkurangnya indeks pengangguran, ini seperti zaman Orde Baru. Sampai sekarang masih kan? Memangnya negara kita tak bisa kerja kalau kita tiba-tiba menutup lowongan pegawai negeri? Bohong banget. Perusahaan saja berhenti menarik pegawai. Kita malah selalu menambah lagi, sementara pada saat yang sama pegawai negeri lama banyak yang tak ada kerjaan. Kita diam saja, pasti banyak yang protes kalau tiba-tiba lowongan pegawai negeri ditutup.”

“Maka kita tidak lagi Orde Baru itu sebelah mananya? Semua unsur-unsur peri kehidupan kita masih Orde Baru sekali kok,” pertanyaan merangkap pernyataan ini rasanya yang mantap ingin disampaikan oleh Ugo lewat NKKBS. Sementara narasi soal keluarga menjadi salah satu fokus kemasan naratif akan polemik-polemik Orde Baru itu. Dan WARN!NG merasa perlu untuk membuka percakapan dengan mengintip latar belakang Ugo terkait agen sosial terkecilnya tersebut.

oleh: Soni Triantoro & Titah AW

foto oleh: Tomi Wibisono

Kalian tumbuh di keluarga yang seperti apa?

Biasa-biasa saja. Saya tahu keluarga sebagian personil Melancholic Bitch, tapi saya tidak bisa cerita seperti apa keluarga mereka. Pekerjaan keluarga mereka rata-rata pegawai negeri, wiraswasta, atau guru—sebagaimana ibuku dan ayahnya Yennu.

Saya tak tahu apakah ada sejarah gelap atau kekerasan domestik macam apa di keluarga mereka, tapi keluarga saya biasa-biasa saja, kelas menengah tanggung. Pegawai negeri Orde Baru kere kan? Tapi ada perasaan tenar. Aneh memang.

Namun justru karena tidak spesial, kemudian kita merasa referensi atas kebanyakan keluarga di Indonesia sepertinya begitu. Biasalah, di tahun itu semua orang punya cerita minggat dari rumahnya, sebagaimana anak laki-laki Orde Baru lainnya. Minggat, pulang, lalu berdamai. Eh, generasi kalian begitu juga kan?

Sepertinya sudah tidak.

Harus dicek lagi ya, tapi kayaknya memang minggat adalah cerita semua orang di zaman 90’an, sehingga mereka bisa sampai tinggal di studio band. Tapi bukan berarti minggat itu tanda dari keluarga yang keras, karena memang sedemikian wajarnya. Seakan harus ada break di antara tatanan di keluarga, seperti orientasi yang dipaksakan keluarga ke anaknya, dan minggat jadi seolah satu-satunya jalan. Ayahku bukan orang yang memukuli anaknya, tapi cara dia mendidik kami di rumah tetap punya bau-bau kekerasan zaman sebelumnya. Kekerasannya verbal. Tegas yang untuk ukuran zaman sekarang sudah dilihat sebagai kekerasan. Bukannya saya sedang membicarakan keburukan almarhum Bapakku ya, tapi dia memang produk dari generasinya.

Dia juga lahir dari generasi transisi, tidak seperti keluarga zaman sekarang dengan anak yang cenderung dibiarkan. Saya melihat bagaimana teman-temanku yang sudah menjadi bapak memberi anaknya ruang tumbuh. Saya tak pernah dengar ada anak umur 5 tahun yang sampai dibentak keras-keras oleh orangtua zaman sekarang. Sudah bukan begitu caranya.

Sementara dulu berbeda. Saya tinggal di Lampung dan punya tetangga orang Jawa. Saya punya imaji orang Jawa lembut, tapi ternyata dia menyuruh anaknya makan dengan “Pangan! pangan!” [berteriak] sampai kedengaran beberapa rumah sampingnya [tertawa]. Sebagaimana ayahku atau ibuku. Saya di umur tiga tahun kalau ngomong jorok bakal dicabein pakai cabe rawit. Logikanya adalah mencari efek jera.

Ayah dan ibuku sarjana muda, mereka cukup educated tapi tanggung posisinya. Masih di posisi sistem pendidikan lama sehingga barangkali belum serapi anak generasi zaman sekarang. Dan saya yakin keluarga Yossy dan Yennu itu serupa, walau bentuknya berbeda-beda. Serupa dalam pengertian keluarga mereka juga transisional. Nilai-nilai lama masih ada sisa-sisanya. Nilai-nilai baru belum sepenuhnya terformulasi dengan jelas. Orde Baru banget, dalam pengertian misalnya ayahku masih ingin semua anaknya jadi insinyur.Cara berpikirnya teknokratik, BJ Habibie sekali. Ayahku sendiri sarjana ekonomi tapi dia fetish banget anaknya masuk pendidikan sains. Bagaimana caranya anak muda harus masuk teknik waktu itu, seperti Si Doel lah. Tapi anehnya di Melbi nggak ada anak tekniknya. Kok saya ngalor-ngidul ya? [tertawa]

Kapan Anda menyadari bahwa keluarga Anda termasuk produk bentukan rezim?

Saat sudah dewasa. Saat saya kecil cuma berpikir ayahku galak. Kira-kira saat awal kuliah, ayahku di kantornya mengalami konflik dan dia sering membocorkan beberapa hal, termasuk situasi di kantor. Misalnya dia pernah ngomong bahwa beli mobil Kijang itu nggak masuk akal karena gaji PNS dengan cicilan mobil Kijang itu lebih gede cicilannya. Sementara mobil Kijang itu kayak mobilnya PNS kan? Mungkin karena ayahku pintar, akhirnya dia mengerti, “oh, itu maling” karena matematikanya nggak masuk akal antara pendapatan PNS dan cicilan mobilnya. Tapi pada saat yang sama, keluarga-keluarga berkumpul saat lebaran, semi pesta, pakai mobil Kijang semua. Ini pada maling semua atau bagaimana? Setelah itu muncul pertanyaan soal korupsi yang dilembagakan. Setelah dewasa, berpantul antara isu korupsi yang dilembagakan dengan kenyataan masa kecil yang saya lihat.

Saya bilang ini ke Jurnal Ruang. Salah satu percakapan kami adalah semasa kecil ada banyak kebocoran-kebocoran yang kemudian terjelaskan beberapa tahun kemudian. Karena saya suka cerita detektif, jadi modelnya kemudian seperti ada klu pertama, klu kedua, lalu ketemu titik, dan “oh begitu”. Termasuk pembangunan desa, konflik di kampung, kristenisasi, apalagi petrus, itu datangnya selalu lamat-lamat. Nggak ada kejadian petrus di tempatku, tapi dia menjadi “hantu”. Selalu terdengar istilahnya, “nanti dipetrus lho!”

Mas Ugo berapa bersaudara?

Lima.

Saya produk lama. Ayahku punya anak tiga sampai 90’an–ada split sekitar sepuluh tahun–lalu ada adik keempat dan lima. Ayahku nggak ikut KB, dia nggak pakai kontrasepsi. Penting nggak sih ini infonya? [tertawa]

Apakah NKKBS lebih berorientasi menegaskan bahwa kita sekarang masih belum beranjak dari sistem Orba, atau lebih sebagai counter akan kerinduan ke sistem Orba yang belakangan mulai tumbuh lagi?

Itu anehnya, akhirnya adalah dua duanya. Alasan awal kenapa sampai kesana itu subjektif, dalam artian kami semua sudah berkeluarga dengan satu atau lain cara. Bentuknya juga nggak selalu normatif ya, bukan berarti harus ada bapak, ibu, dan anak. Tapi ada bangunan keluarga yang bermacam-macam, nggak tunggal, dan ada yang single parent.

Nah, cerita dalam keluarga itu yang akhirnya lebih banyak kita obrolin daripada main musik. Kenapa kita ngomong NKKBS karena konstruksi keluarga kita sekarang ini, dan itu yang tidak direformasi. Itu yang tidak digugat. Akhirnya itu bagian dari nilai Orde Baru yang sampai sekarang masih berlaku nilai-nilainya. Kalau aturan mainnya apakah punya anak dua adalah cukup itu bisa diperdebatkan, tapi bagaimana dengan heteronormativitasnya? Siapa yang berperan sebagai leader dan pendukung, lalu bagaimana fungsi dan relasi anak.

Keluarga adalah agen ideologi dan agen sejarah. Makanya kenapa struktur penting banget, hingga ada pengadilan, aturan main, dan hukum. Pun hukum ini berlangsung dari segi ketubuhan. Orang tidak boleh bercinta sebelum menikah, dan kalau melanggar akan masuk pasal kriminal. Padahal itu organisasi tubuh. Ya kan?

Ini masalah serius, berkaitan dengan bagaimana kamu sedang menggadaikan legalitas tubuhmu itu ke negara. Kamu sedang membiarkan negara yang memonopoli legal atau tidak legalnya tubuhmu. Itu mengerikan bukan? Apa urusannya saya ingin memakai tubuh saya dan harus legal atau enggak? Strukturnya lain kalau narkoba, tapi urusannya apa kalau seks? Betul bahwa ada perlindungan yang kaitannya dengan AIDS,consent, atau umur, tapi pola dasarnya harusnya tidak begitu. Pola pengorganisasiannya harus lebih jelas, maksudku malah lebih jelas model sensornya film daripada model sensor seks sehari-hari. Untuk film yang 17 tahun maka ratingnya R, dan sebagainya, maka lebih jelas strukturnya. Kalau seks sehari-hari malah tidak kan? Pokoknya kalau belum nikah bisa jadi asusila.

“Ini masalah serius, berkaitan dengan bagaimana kamu sedang menggadaikan legalitas tubuhmu itu ke negara. Kamu sedang membiarkan negara yang memonopoli legal atau tidak legalnya tubuhmu. Itu mengerikan bukan?”

Yang terbaru, permohonan pemidanaan kumpul kebo dan LGBT masih ditolak oleh Mahkamah Konstitusi. Jadi kasusnya sekarang belum pidana.

Saya tidak tahu yang dipidana itu apanya. Harus dicek ya, apakah yang dipidana itu asusilanya atau semacam “terserah kamu akan melakukan apa, tapi orang kampung boleh ngegeruduk”. Makanya setelah itu ada kasus-kasus orang kampung bisa tiba-tiba menangkap orang kumpul kebo lalu kemudian diarak. Itu bagian dari ideologi heternormatif yang ditawarkan dan diputarkan. Logikanya tidak jelas. Setelah itu malah ada logika kawin kontrak di Puncak. Itu lebih ngeri. Itu kan orang-orang mengakali sistem legal yang ada. Artinya, sistemnya yang bullshit, karena bisa diakalin kok. Dan itu ternyata jadi persoalan yang lain karena menjadi isu force labour, atau sexual slavery. Sistem yang kita punya ini ternyata memungkinkan adanya sexual enslavement. Artinya, sistemnya nggak benar dong.

Apakah dari album Balada Joni dan Susi ke NKKBS memang ada pergeseran narasi mikro ke makro?

Sebenernya sama saja, cuma memang lebih susah membicarakan yang heteronormatif itu karena kita juga sadar bahwa kita membutuhkan beberapa hal yang ada di struktur heteronormatif tersebut. “Kita” dalam pengertian kita-kita sendiri, misalnya kayak kalau ditanya “memang lu mau punya anak banyak?” “Ya enggak.” Persoalannya bukan itu. Bahkan saya punya anak satu saja tidak mau nambah kok. Gila apa menambah anak di zaman sekarang? Bukan itu, tapi masalahnya lu govern gue, lu punya politik pengorganisasian.

Negara seperti orangtua dan menyikapi warga seperti bocah. Semacam itu hubungan parental antara negara sama warga. Bagaimana sih, lha negara itu mendapat titah dari kita kok malah sekarang mengatur kita seperti bayi. Suharto seperti bapak negara. Ini memang wajah negara Asia. Lee Kuan Yew, Mahathir Mohamad, atau Kim Jong-Il seperti itu. Nah, kita anak-anaknya yang nakal dan harus diatur.

Sementara Balada Joni dan Susi seperti motif, dan strukturnya dalam taraf tertentu seperti cerita Romeo & Juliet atau West Side Story. Memang sudah biasa, standar saja, cerita dua orang yang pasti trespass struktur sosial. Klasik sih kalau kita bicara motif. Kalau anak-anak creative writing atau yang suka baca buku ya rujukannya Galih dan Ratna. Karena memang biasa, tinggal social structure apa yang mau dilintasi oleh pasangan ini. Romeo & Juliet adalah kelas, persoalan West Side Story adalah ras, dan sebagainya. Model naratif Balada Joni dan Susi punya banyak perbandingan dan banyak rujukan.

Sementara NKKBS memang juga punya rujukan seperti One Hundred Years of Solitude-nya Gabo, atau yang saya kutip, Anna Karenina. Banyak cerita keluarga, bahkan–siapa ya yang bilang?–kalau mau bikin novel kanon maka bikinlah cerita keluarga. Dan sebelumnya, NKKBS sendiri sebagai judul sudah saya gunakan untuk fragmen-fragmen keluarga yang saya tulis di Garasi, yakni di pertunjukan “Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi”. Semua adegan-adegan keluarganya saya tulis di bawah judul NKKBS. Itu kemudian kenapa patungnya juga ada dimana-mana. termasuk ada di PKKH, di Bandung, dan ketika kita main di Jakarta. Itu gambaran keluarga. Tapi yang saya sebut NKKBS itu justru cerita pasca 98, bukan di zaman Orde Baru, simply karena saya mengindikasikan bahwa NKKBS sampai sekarang masih menjadi logika kontrol. Bedanya memang macam-macam, seperti nilai-nilai agama lebih banyak masuk dan mengubah tatanan. Tapi tetap saja ada norma keluarga kecil bahagia sejahtera yang dibayangkan. Saya nggak berusaha romantik untuk ngomong dan sedang berusaha bikin teritori temporal yang clear bahwa “nggak, ini ceritanya semua sebelum 98”.

Ada isu yang saya pikir masih terus berlangsung kalau dilacak. Ngomong 65? Apa bedanya kita dengan tahun 80-90-an. Pertama kali 98 datang, saya menulis soal perang spanduk di majalah di Bali yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Foto-fotonya sudah “awas bahaya komunis!” padahal tahun 98 adalah sesudah reformasi, bukan sebelum reformasi. Gus Dur pun pada dasarnya hampir bisa dikatakan diturunkan dari kepresidenan karena dia ingin menghapus TAP MPRS Marxisme dan Leninisme. Yang paling bikin DPR pusing di masa-masa terakhirnya adalah usulan itu. Setelah itu, MK gagal melaksanakan truth and reconciliation pada tahun 2006-2007, dan sampai sekarang masih jadi hantu. Bagaimana kamu mau ngomong kita tidak Orde Baru?

Nah, ini yang paling ngeri, kalau kamu merasa ini bukan Orde Baru, artinya kamu diuntungkan sekali oleh rezim sekarang. Karena yang dulu begitu, yang tidak ingin protes ke Orde Baru adalah mereka yang diuntungkan secara personal dan diuntungkan oleh sistem. Yang ingin protes adalah buruh yang mengalami ketidakadilan. Kalau sekarang kamu merasa kita sudah di zaman yang lebih baik dari Orde Baru, artinya kamu sekadar diuntungkan saja oleh sistem yang opresif ini. Perlu dilacak tuh wartawan-wartawan musik yang menganggap saya retro. Semuanya sebenernya lagi diuntungkan apa ya? Oh gila,Orde Baru disebut retro? Lu hidup dimana sih?

Sama sebenarnya seperti GPK Aceh atau GPK Lampung yang bukan wajah keseluruhan Indonesia. Irian Jaya, Timor-Timur, Papua,adalah corner dari Indonesia yang disembunyikan dari wajah Indonesia di Jakarta. Sama, Suharto melakukannya. Tidak sampai disini beritanya, tidak ada di koran. Apa yang terjadi di Papua sekarang? Siapa yang membicarakan? Bandara (NYIA) saja tidak jadi isu di Jogja kok.

Bedanya ada di organisasi informasi. Di zaman dulu, organisasi informasi dilakukan penguasa dengan cara disensor, disembunyikan, atau didiamkan. Kalau sekarang, di-flood timeline-mu. Bluruurur.. banjir semua, karena ini post-truth. Kamu tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah karena linimasamu penuh. Kamu dengar ada berita bandara, tapi setelah itu ada berita (Kim) Kardashian. Kita mabuk dengan berita. Sama-sama pengorganisasian informasi, tapi yang dulu caranya dikosongi—kamu mendapat informasi sesedikit mungkin dari yang benar—sementara sekarang kamu dibanjiri informasi sampai tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak, mana yang penting dan mana yang tidak. Kita tak tahu logika prioritas. Efeknya sama, kita tidak bisa merespons. Kita ngomongin apa sih ya? [tertawa]

“Nah, ini yang paling ngeri, kalau kamu merasa ini bukan Orde Baru, artinya kamu diuntungkan sekali oleh rezim sekarang.”

Jarak Balada Joni dan Susi ke NKKBS adalah delapan tahun. Pasti ada regenerasi pendengar Melancholic Bitch. Apakah kalian mempertimbangkannya juga dalam proses pembuatan album ini?

Iya dan enggak. Iya, dalam pengertian interlokutor (rekan bicara), memikirkan tentang apa yang sedang berlangsung dan jadi discourse hari ini. Dengan cara itu kita memikirkan penonton, sama dengan operasional yang saya pelajari dari teater. Memilih tema untuk mendorong percakapan apa yang akan berlangsung antara kita dan penonton atau pendengar. Kami merasa di teater ada pentingnya persejajaran antara penampil dan penonton, dalam artian kita adalah interlokutor atau teman dialog. Saya menyodori karya karena ingin bikin percakapan dan membangun diskusi dalam taraf tertentu.

Karena cuma itu yang bisa kita lakukan. Kita tidak bisa bikin album lalu bikin orang hoyo-hoyo angkat senjata. Yang bisa seperti itu ialah kotbah Jumat atau reli-reli FPI. Habib Rizieq sebagai penampil, sementara penontonnya adalah umatnya yang menurut saja apa katanya. Bukan itu relasi kita. Kami membawa relasi diskursif. Dalam asumsinya, kita tahu sedikit. Pengalaman yang kita tahu pasti parsial. Apa yang bisa kami pelajari pasti ada limitnya, makanya kami ingin dengar apa yang orang rasakan dan dengar.

Ketika kami sedang menyodorkan sesuatu, pasti ada pengalaman penonton, dan apakah kita bisa ketemu di tengah-tengah? Makanya penting dari awal untuk tema ini diinspirasi dari serangkaian struktur kerja yang ada di sekitar kita. Sudah banyak kok yang ngomongin soal keberlanjutan Orde Baru. Kami tidak orisinal, terutama di beberapa aspek yang memang keras seperti aspek kesejarahan, politik lokal, gender equality. Kita cuma mendorong percakapan di satu arah, tapi sebenernya bagaimana percakapan ini berkembang sudah di luar kuasa kami. Semoga karya itu bisa jadi bahan diskusi, atau mungkin saja gagal.

Tapi pengalaman Balada Joni dan Susi begitu juga. Kami agak percaya dengan waktu. Saya ingat Balada Joni dan Susi juga tidak langsung diterima, butuh waktu kok. Bahkan, menurutku Balada Joni dan Susi lebih banyak ditangkap oleh generasi setelah kami, bukan pendengarnya Anamnesis. Pendengarnya Anamnesis saat mendengarkan Balada Joni dan Susi untuk pertama kalinya langsung berkomentar, “Nggak ah” dan lebih memilih Anamnesis. Banyak yang digenerasi awal bilang, “Kok lu jadi politis sih?”, “Nggak gelap-gelap lagi sih?”, “Terlalu verbal”. Balada Joni dan Susi saja dibilang terlalu verbal, mampus lu kalau mendengarkan NKKBS! [tertawa]

Kita melihat patternpattern generasi, dan sangat menyenangkan. Misalnya, logika situasinya Anamnesis dulu yang tidak mungkin membuat kita main di pensi. Memang kita tidak pernah main di pensi sampai sekarang.

Tapi kalau misalkan sekarang penonton Melancholic Bitch berada di usia kuliah, berarti mereka masih SMP saat Balada Joni dan Susi keluar. Kalau kalian sekarang mendengarkan kami, artinya kalian dulu adalah yang dianggap tidak mungkin mendengarkan Melancholic Bitch oleh teman-teman kita. Mungkin karena terarsip ya, CD kan musiknya begitu-begitu saja walau diputar sepuluh tahun lagi, jadi bisa melampaui generasi. Kami sangat diuntungkan dari percakapan antar generasi. Karena Anamnesis (2005-2006), Balada Joni dan Susi (2009), hingga NKKBS (2017), pasti melewati banyak generasi. Setengah penonton di PKKH kemarin adalah reuni, yakni penonton lama yang sudah tak pernah nonton gig. Hanya setengahnya yang benar-benar baru, paling anak semester dua atau tiga, yang masih SMP saat Balada Joni dan Susi rilis.

“Kami diuntungkan dengan orang yang mau datang ke galeri dan bersedia pusing bersama karya seni rupanya. Saya yakin Melancholic Bitch diuntungkan oleh lingkungan itu.”

Lirik Melancholic Bitch cenderung menantang untuk berpikir. Apakah kalian memang punya kesadaran bahwa pendengar Melancholic Bitch adalah orang yang sedikit banyak sudah punya pemahaman dasar akan isu-isu yang kalian sampaikan?

Saya cuma ingin adil saja. Sebagai konsumen, saya tidak suka simplifikasi. Pengalaman saya sebagai konsumen adalah pengalaman kerja keras. Salah satu album yang ternyata paling banyak berpengaruh di angkatan 90-an dan lintas generasi sekaligus lintas genre dan punya artikulasi politik adalah album Rage Against The Machine berjudul Evil Empire. Di sleeve-nya Evil Empire ada catatan buku-buku, termasuk buku The Anarchist Cookbook dan lain-lain. Saya ingat, saat itu susah mencari buku-bukunya di Bandung tapi tetap saja dicari. Saya jadi tahu gerakan anti-sensornya Rage Against The Machine dan network politik band itu. Tidak cuma yang politis. Misalnya, saya juga mendengarkan OK Computer, meski dengan sengaja menunggu setahun kemudian sampai orang-orang sudah tidak membicarakan album itu—karena saya benci sekali dengan Pablo Honey. Konteks saya mendengarkannya memang untuk mempelajari, seperti ada lagu “Electioneering” yang menyinggung IMF, “Maju Kanan”, dan sebagainya. Saya bertanya-tanya, “Kenapa istilah yang dipakai adalah electioneering?”

Sama seperti di sastra, saya memang agak punya problem dengan generasi yang gila aksesibilitas, yang semua harus sederhana dan gampang. Kamu baca Das Kapital ya tidak bakal gampang, gila apa kamu? Ya memang susah, baca buku memang susah. Gila apa baca Ulysess-nya James Joyce tidak susah? Saya merasa di musik juga begitu.

Bukan berarti kemudian mempersusah diri supaya terlihat keren, tapi ada kualitas percakapan yang jadi lebih serius. Ada kualitas pemikiran yang lebih dalam karena tidak tanggung mengajak kita jalan-jalan. Sehingga saya juga membayangkan pendengarnya Melancholic Bitch begitu. Atau begitu juga penontonnya Teater Garasi, tidak gila aksesibilitas dan tidak ingin semua sederhana. Kalau saya punya kesimpulannya, ya saya kotbah saja. Tidak usah bikin teater dan bikin album. Karena memang yang diobrolkan susah. Kalaupun kita lalu paham, kadang ambil tindakan dari sanapun susah. Saya mengerti apa persoalannya, lalu mau ngapain? Situasinya kadang sudah terlalu pelik. Atau situasinya sudah sedemikian pelik sampai kita tidak bisa sendirian meresponsnya. Bahkan, komunitas kecil saja kadang sudah tidak cukup.

Ada yang ngomong, “jadi posisinya Melancholic Bitch apasih? Keberpihakannya kok nggak jelas?”dan “nggak memberi solusi”. Ya gila apa lu? Ini soalnya susah banget lho, makanya saya ngajak ngobrol, ayo cari solusinya. Memang siapa gue ngasih solusi ke elu? Nabi Muhammad? Dan kalau saya jadi Nabi Muhammad kan seram? Kalau saya memberi solusi, hubungan kita jadi tidak setara. Hubungannya jadi guru dan murid dong. Jadinya tidak teremansipasi. Ini yang diomongkan oleh (Jacques) Ranciere, bahwa hati-hati dengan hubungan guru dan murid.  Siapa gue jadi guru lu? Kalau workshop penulisan lirik lagu,saya bisalah jadi fasilitator, tapi kalau soal politik, waduh gila apa? [menepok kepala]. Orang-orang pintar yang ada sampai sekarang dan jadi rujukanku saja masih mencari jawabannya kok. Cek Ariel Heryanto, ia masih mencari jawaban.

Kalau sudah punya jawaban sih tidak kayak begini, atau ngomong “Ayo berserikat dan  berkumpul! Ayo turun ke jalan!” Saya merasa kualitas percakapan kita yang mesti ditingkatkan. Iya, kita tahu jawabannya adalah mobilisasi massa. Tapi yang bisa FPI lho, bukan kita. Iya kan? Kita bullshit, kalah semua. Makanya kemenangan-kemenangan kecil itu ayo kita rayakan betul. Yang kasusnya MK misalnya, oke bisa menang satu. Tapi skor kita secara umum banyak kalahnya daripada menangnya. Kemenangan-kemenangan kecil kita juga bisa selalu di-cancel dalam beberapa tahun, tergantung angin.Sementara kekalahan-kekalahan besar kita makin banyak, sepertiTap MPRS, kekerasan HAM, atau kasus Papua.

Ada persepsi bahwa kebanyakan film Indonesia gagal bercerita karena sineas kita jauh dari sastra. Ketika digeser ke konteks musik, apakah Ugo merasa diuntungkan dengan kedekatannya pada musik dan sastra sekaligus?

Ya, sedikit banyak. Tentu saja kalau ngomong di level teknis dan level bunyi. Dan teman-temanku orang teaterdi Teater Garasi adalah penyair besar, seperti Goenawan Maryanto, atau Yudi Ahmad Tajudin yang disuruh baca resep masakan saja pasti puitik.

Tentu saya belajar dari lingkungan itu. Saya bukan penyair dan tidak tahu caranya bikin puisi. Saya bisa meniru-niru bikin puisi, tapi lirikku bukan puisi. Ya sudah prosa pendek saja. Saya mengklaim diriku sebagai fiksionis. Semua yang di lirik Melancholic Bitch adalah prosa, tapi karena struktur ruangnya maka harus digunting-gunting dan dipotong-potong,sehingga ada banyak lubang imajinya.

Saya sangat diuntungkan dengan kesadaran itu. Dan bisa dibedah. Bahkan, karena saya menulis di komputer dan ponsel, sebenarnya kesejarahan teksnya bisa dilacak, mulai darimana dan ujungnya ke mana.  Saya juga bisa selalu mempelajarinya. Itu dilakukan dari mulai Balada Joni dan Susi: menulis panjang lebar, bagaimana mengeditnya, bagaimana musik masuk, dan sebagainya.

Sejak Balada Joni dan Susi, proses menulisku independen dari proses musik.Tulis saja dulu. Ada konstelasi-konstelasi di lirikku. Ada beberapa tema, lalu dipertimbangkan apakah mood-nya masuk? Jadi seperti main puzzle.

Apakah itu berpengaruh pada format penyusunan judul di NKKBS yang seakan menyandingkan dua tema pada tiap lagu?

Kalau itu karena mulanya saya khawatir dengan particularity dan singularity. Adalah isu yang penting untuk menjadi singular atau partikular ketika dulu semua ngotot universal. Jadi tidak melihat unsur lokal atau kelokalan. Pada saat itu mereka dihajar sama yang universal, padahal sebenernya yang universal adalah euro-sentrism, berpikir dengan sudut pandang eropa, dan tidak berpikir di level lokal. Tapi pada saat yang sama, sekarang kalau ngomong politik identitas atau partikular berarti jadi dalam teritori baru, sehabisnya orang jadi bicara agama dan agama itu lho. Struktur sosial kita memungkinkan itu jadi ruang-ruang tertutup, dan sehabis itu jadi susah kontak. Saya merasa orang-orang itu tidak membangun kontak antar isu-isunya. Makanya penting bahwa satu hal itu dicari hubungannya dalam jaringan yang lain, tidak pernah hal itu tentang hal itu sendiri. Makanya saya menjajarkan masing-masing dua tema. Kadang-kadang set goal-nya yang paling hancur saja, bisa nggak dari dapur ke NKK/BKK? Atau‘mungkin nggak ngomongin dari panci ke tentara?’

Ada penggalan lirik “perempuan liar jangan dibiar” di lagu “Bioskop, Pisau Lipat”. Bagaimana Anda mendefinisikan itu mengingat gerakan perempuan selalu ada namun mengalami demonisasi?

Itu dari Saskia Wieringa. Sebenernya kalau melihat versi bukunya Melancholic Bitch yang sayangnya agak mahal—karena banyak foto dariAkiq AW—ada selipan akan skema percakapan yang memengaruhi obrolan ini. Istilah perempuan liar itu memang dari Saskia Wieringa, bagaimana Orde Baru melakukan demonizing. Tapi kalau pembicaraannya ke pengarang-pengarang sekarang seperti Intan Paramaditha atau Ayu Utami, monsternya justru jadi penting. Reclaiming monsterness itu malah jadi penting. Walaupun yang disebut liar itu bisa macam-macam, sesimpel ibu-ibu yang menari, “bodo amat lu sebut gue perempuan liar”. Kalau dulu berbeda. Perempuan liar adalah istilah yang ngeri dari Gerwani. Saya awalnya merasa khawatir banget dengan term itu. Takutnya term itu malah melukai. Tapi ternyata tidak, karena klaimnya adalah merebut.Sesuatu yang sebenarnya dikenakan pada mereka secara tidak adil ini justru direbut untuk dijadikan senjata. Sebagaimana kalau kasusnya di LBGT adalah queer yang sebelumnya jadi ejekan tapi diambil dan direbut menjadi senjata.

Lalu kenapa ada lagu nomor sebelas (“Resepsi Pernikahan”) yang format judulnya berbeda?

Indonesia kan serius banget soal pernikahan dan resepsi. Industri paling gila. Operasi gedung teater di Indonesia cuma untuk resepsi pernikahan. Gedung teater yang saya maksud tidak harus GKJ ya, tapi asumsinya adalah ruang besar bersama yang bisa dipakai untuk pertunjukan. Pertunjukan paling rutin di Indonesia adalah resepsi pernikahan. Repertoarnya itu-itu saja, sehingga semua orang sudah paham betul.

Jika bicara neo-realisme Italia, mereka seperti bisa kerja dengan non-aktor, sesederhana karena orang Italia waktu itu semuanya tiap minggu nonton opera. Jadi mereka tahu caranya akting. Sementara yang kita datangi tiap Minggu adalah kawinan. Orientasi semua orang digerakkan untuk menuju ke sana.Tidak ada yang lain. Ujungnya kawin, kawin, kawin, harus kawin. Semua ditentukan lewat perkawinan. Setelah itu yang ada cuma alternatif dari perkawinan. Semua orang berpikir, “kalau gue kawin, gue inginnya kawin di…”

Lalu tiba-tiba kita ribut bicara pernikahan dini. Ini ngeri. Sementara seperti apa ideologi keluarga? Ruang keluarga? Pengaturan kekeluargaan? Bagaimana dengan kenyataan bahwa dunia isinya sudah tujuh milyar. Punya anak itu sudah tidak friendly secara ekologi, tapi kamu tetap bikin anak. Kenapa?

Sementara sistem hukum untuk pernikahan dibiarkan begitu saja. Tidak pernah ada reformasi beneran untuk sistem pernikahan yang sebenarnya sangat nggak adil. Pernikahan islam misalnya sangat tidak adil: bapak ketemu bapak, laki-laki ketemu laki-laki, ceweknya entah dimana, nurut-nurut, salaman. Yang salaman laki-laki dan laki-laki. Apasih? Sudah tidak adil. Bapaknya mewakili, lha dia memangnya tak punya suaranya sendiri?

Terakhir kemarin, saya datang ke pernikahan adikku yang sudah kerja. Ia perempuan mandiri. Saya diminta untuk salaman–karena bapak sudah tidak ada–cuma karena saya adalah kakak tertua. Padahal ia sudah menangani hidupnya sendiri dan independen. Saya tidak bisa menawar agar dia saja yang salaman karena tidak ada sistemnya. Itu tidak masuk hukum islam, sehingga tidak sah kalau dilakukan. Sementara saya juga tidak rela jika orang lain yang menggantikan saya. Saya berada dalam situasi yang paradoks atas sistem pernikahan ini. Ya sudah dilewati saja.

Tapi isu-isu semacam itu bertumpuk. Resepsi pernikahan itu sendiri tentang siapa mau pamer apa sih? Bahkan, lagu di pernikahan adikku adalah “cantik, ingin rasa hati berbisik” (lagu “Cantik” dari Kahitna). Aduh, bahkan lagunya saja tidak diganti sejak beberapa puluh tahun.

Sakit, menurutku ini rusak banget. Dan isunya sama di mana-mana. Di Amerika Serikat, majalah print out yang sampai sekarang masih ada industrinya adalah Bridal–untuk pernikahan. Industri yang sampahnya paling banyak juga pernikahan. Gabus-gabus itu sama sekali tidak eco-friendly. Begitu juga sampah-sampah bunga atau baju yang dipakai cuma sekali. Sinting kalau sudah bicara seberapa hancurnya kita.

Tapi memang itu center dari sosial kita. Bagi orangtua ya anaknya kawin, sesudah itu baru selesai tugasnya dengan anaknya. Anaknya juga begitu, akhirnya menikah untuk membuktikan sesuatu ke orangtua. Ini game-nya.

“Pertunjukan paling rutin di Indonesia adalah resepsi pernikahan. Repertoarnya itu-itu saja, sehingga semua orang sudah paham betul.”

Coba deh. Sama-sama yuk satu generasi ngomong “nggak mau kawin gue”. Kan ada tuh terminologi “satu bulan tanpa TV”. Yuk, coba “satu tahun tanpa pernikahan”. Akan brutal efek sosialnya.

Bukan berarti menolak pernikahan, cuma yuk bersama-sama mengecek bagaimana jadinya kalau seluruh hal yang berkaitan dengan teater nikah ini hilang. Siapa yang tidak berpikir itu sebagai teater sih? Teater dalam pengertian yang buruk ya, mending kalau teater eksperimental yang politis.

Dan ada ticketing juga?

Iya, ticketing. (tertawa)

Efek ini juga sampai pada bagaimana perempuan pada gelombang konservatif merasa tujuan hidup mereka selesai ketika menemukan “imam”.

Iya, sinting kan itu? Paling tidak sempat ada percakapan soal itu di tahun 90-an. Di tahun 70-an begitulah pernikahan ayah-ibuku, sekarang ternyata masih begitu situasinya. Seperti tidak ada komanya. Dari bapak-ibuku di tahun 1978 sampai pernikahan adikku di tahun 2017.

Mau teriak seperti apa lagi soal kritik NKKBS, tiap minggu tetap ada yang kawin. Saya kan kalah? Mending kalau tiap minggu, bahkan modelnya sekarang pakai shift, jam 10 – jam 5 – jam 8 malam. Gila, teater bangsat. Makanya saya juga main tanggal, karena semua orang gila dengan tanggal-tanggal cantik. Orang-orang bertanya “apakah karena 212?” Tidak, saya merespons orang kawinan. Begitu ada tanggal cantik, misalnya 17-11-17, pasti semua gedung langsung di-booking. Pokoknya hati-hati dengan tanggal cantik. Barangkali sekarang sudah ada yang booking tanggal 2-1-21 kok, padahal masih 3-4 tahun lagi. Coba cek deh.

Di Tirto, kalian menekankan bahwa Melancholic Bitch masih merupakan artist collective, bukan band. Memangnya apa yang belum kalian lakukan sehingga tidak bisa disebut band?

Sama saja, artist collective juga sebagai orientasi. Ini juga dipelajari dari Teater Garasi dan beberapa kolektif seni di Jogja dan Bandung. Kami melihat kalau itu penting sebab teritorinya bisa lebih lebar. Band seolah-olah ada aturan mainnya. Mereka memang bisa beroperasi dengan cara itu sebagai model ya, di mana ada lima orang dengan satu vokalis, dua gitaris, satu bassis, satu drummer, dan nanti ditambah satu keyboard. Semuanya berada dalam pattern yang kayaknya harus dicek deh. Orkes zaman dulu kan tidak begitu.

Jauh lebih menyenangkan juga kalau term-nya kolektif karena mengatasi waktu dan tuntutan profesionalitas, misalnya Yossi bisa menjadi sound engineer. Kalau begini bisa fleksibel banget model kerjanya. Kadang-kadang ada orang yang bisa ikut satu proyek atau satu agenda tertentu sebagai inisiator, atau ia mundur menjadi sekadar yang merespons. Seperti tak ada pattern yang fix dari struktur penciptaan dan proses kerjanya. Bisa selalu berubah. Sebenernya band juga sudah banyak yang terbuka seperti itu. Cuma ketika pakai istilah kolektif, artikulasinya barangkali tidak cuma musik, melainkan bisa workshop, visual art, dan teater. Buat kami, (teater-musik) “Menara Ingatan” juga bagian dari kerja Melancholic Bitch, walaupun susah dinamakan begitu. Saya dramaturnya, Yanu komposer dan yang punya ide, sementara Yossi penata sound, artinya ini pekerjaan Melancholic Bitch karena kita bertiga ada di sini. Cuma modelnya memang begitu, lebih liar dan menyenangkan.

Adakah tips untuk generasi NKKBS yang punya kesadaran sebagai produk NKKBS?

Saya membayangkan kita membangun percakapan. Apa yang saya bicarakan sangat bisa salah, lalu pengalaman-pengalamandan point of reference yang mendengarkan sangat penting. Apakah mungkin kita diskusi? Apakah mungkin ini memantik percakapan tertentu? Akan sangat menyenangkan kalau kami bisa mendengarnya. Saya tidak merasa perlu ada tips.

Satu-satunya yang saya yakin adalah bahwa mereka yang suka Melancholic Bitch kecenderungannya akan tidak menerima, artinya mereka akan mempertanyakan, “Melancholic Bitchini ngomong apa sih?” Setelah itu mereka bersedia bersusah payah juga untuk memikirkannya. Karena sudah album ketiga, maka sudah jadi pattern. Sama-sama mau ngobrol. Saya membayangkan yang mendengarkan Melancholic Bitch sudah begitu dari sananya, walau saya tak tahu intensitasnya. Dan itu bukan hal baru ya, sama seperti penonton seni pertunjukan sebagaimana penonton teater atau visual art. Kami diuntungkan dengan orang yang mau datang ke galeri dan bersedia pusing bersama karya seni rupanya. Saya yakin Melancholic Bitch diuntungkan oleh lingkungan itu. Menikmati sesuatu yang  semakin susah semakin menyenangkan. Atau kalau gampang justru malah jadi seperti mengejek.Ada yang seperti itu kan? “Ini kegampangan, lu ngejek gue?”

Apa lagu yang mengubah pola pikir seorang Ugo?

Wah, tidak bisa. Susah sekali. Saya selalu susah menjawab pertanyaan semacam ini, entah itu musik atau buku. Karena kenapa sebuah lagu penting adalah tergantung waktunya. Bagiku tidak ada lagu abadi yang sama nilainya. Saya bisa jawab, tapi pasti tidak akan jujur karena Cuma ingin terdengar keren. Mending kalau pertanyaannya sekalian bercanda, tapi sulit kalau ini.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response