close

Umar Haen: Berkawan Gelisah, Membunyi Kisah

umarhaen

 

Penuh dengan solonya; bercerita dalam ritme unik pun tetap akrab di telinga. Sembari memetik gitar dan membunyi perkusi, vokal basnya mengudara, “…tapi pemuda desa asing dengan sawahnya… si bapak lupa ajarkan mereka, terlalu pasrah pada sekolah,..” Dan kemudian kita pun tahu, di balik irama mayor menyenangkan, ada pesan lebih genting yang sedang disampaikan. Umar Haen, solois gondrong di balik bebunyian itu membebaskan persepsi pendengar, kendati juga membenarkan bahwa anak rohaninya—demikian ia menyebut karya-karyanya—adalah buah dari kegelisahan.

Jika solois pada umumnya menggunakan satu instrumen saja atau tidak sama sekali, maka bolehlah menyebut Umar Haen tidak biasa. Selain gitar di pelukan, ada ketuk cajon serta krincing tamborin; keduanya dimainkan dengan kaki, wujudkan komposisi dinamis yang kaya dalam kesederhanaannya. Kekayaan yang tidak hanya dibentuk melalui macam instrumen, namun juga penciptaan atmosfer kontemplatif dalam notasi, gerak vokal, sampai lirik-liriknya yang serupa sajak. Kemudian adalah efek takjub tersendiri bahwa musik-musik yang dihasilkan Umar Haen, dalam keramaiannya itu, tetap menghadirkan aroma ringan petrichor, pepohonan rindang, dan dua cangkir kopi di beranda rumah kayu. Ah, bahagia itu sederhana.

Sejauh ini Umar Haen sudah menerbitkan dua single; “Kisah Tentang Baju” yang bertema romansa, serta“Kisah Kampungku” yang akan segera rilis dalam Kompilasi WARN!NG. “Nasihat Kakek: Jangan Jual Tanahmu” dan “Tak Ada Nalar Menuju Rumah” pun turut berkumandang di beberapa panggung. Sementara untuk materi sendiri,solois bernama asli Umar Wicaksono ini mengaku sudah cukup banyak. “Materi sebenernya ‘udah siap satu album. Kalo cuaca mendukung tahun inilah,” jelasnya. Satu cerita akan diangkat dalam album, secara garis besar berputar pada kegelisahan Umar Haen di usia duapuluhannya: menyoal asmara, problematika anak muda, hingga kampung halamannya di Temanggung.

“”Kisah Kampungku’ itu memang terjadi di kampung saya. Anak-anak muda di kampung pergi semua, yang ‘bangga aku pingin tinggal di kampung aja’ itu nggak ada. Mereka semua pergi ke Cikarang, Tangerang, banyakan jadi buruh pabrik sepatu,” ungkap Umar Haen dengan emosi tertahan. Fenomena “anak-anak desa berimpian kota” itu nyatanya juga terjadi di desa-desa lainnya, dan begitulah Umar berharap kisah-kisahnya membelantara; terhubung dengan kejadian yang pun dirasakan pendengarnya.

Terinspirasi dari berbagai musisi—Iwan Fals, Ebit G. Ade, Nirvana, Queen, Jamrud, hingga kini Tiny Desk Concert—membuat musik-musik akustik Umar Haen tidak semudah ber-genre folk saja, atau rock saja, atau pop, atau blues. Berbagai warna berbaur menjadi satu, kadang kita menemukan Iwan Fals pada musik pun caranya bernyanyi, kemudian berubah jadi rock dengan karakter vokal dan lirik puitis-kritisnya, di beberapa bagian tersentuh blues, dan Umar sendiri pun tidak ingin terlalu fokus dengan genre. “Bikin lagu, musiknya gini, dengan bentuk perkusi yang begitu, dengan gitar yang begitu ya, saya nggak tahu genre-nya apa,” tukasnya.Tujuannya bermusik kemudian lebih kepada menyampaikan pesan—atau katakanlah, kisah-kisahnya—kepada pendengar, di samping juga sebagai wadahnya berekspresi.

“Musik sebagai penyampai pesan, saya percaya begitu. Kalau pesan itu lebih banyak didengar orang saya pasti lebih seneng,” ujar Umar Haen. Untuk alasan yang sama, ia tak mempermasalahkan jalur indie ataukah mayor yang nanti akan menjadi jalannya. Bersama-sama dengan gitarnya dan Arok—nama perkusinya, terinspirasi dari cerita Ayahnya mengenai Ken Arok—ia berkeinginan untuk terus bercerita dan menyulih cerita orang lain melalui lagu-lagunya. “Hampir seluruh lagu saya tulis di sepertiga malam. Itu adalah momen ketika emosi dipertajam, ingatan dipertajam, saya merasa ada penajaman di jam-jam itu,” pungkasnya. Dan demikianlah karya-karyanya berpangkal: dari ingatan, emosi, rasa, gelisah. [WARNN!NG/Christina Tjandrawira]

Download Umar Haen – “Kisah Kampungku” di album WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017 DI SINI!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response