close

Urbangigs: Anjangsana yang Menghangatkan

om-pmr-4
Crowd
Crowd

Yogyakarta memang sedang dingin-dinginnya karena hujan. Namun mengapa malah hangat yang terasa di halaman Sindu Kusuma Edupark?

Akhir-akhir ini cuaca di daerah Sleman dan sekitarnya cukup menyebalkan. Teriknya matahari siang seringkali ditutupi oleh gumpalan awan kelabu yang kemudian diiringi oleh hujan. Durasi hujan yang turun juga cukup lama, bisa berkisar lima jam, bahkan lebih. Keadaan seperti ini juga terjadi pada Sabtu, (24/9) lalu. Hujan mengguyur tiada berkesudahan sedari siang hingga malam menjemput. Padahal, Urban GiGs yang menampilkan The Adams, OM PMR, dan Rubah di Selatan dihelat di hari yang sama. Selain menyediakan panggung untuk musisi-musisi ini, seperti biasa, Urban GiGs juga menggelar pameran seni, bazaar kreatif, dan workshop.

Tepat pukul setengah delapan malam, saya mulai membelah jalanan yang basah. Lampu sepeda motor yang saya kendarai menerangi rintik-rintik hujan yang masih turun. Udara cukup dingin dan perjalanan dari kediaman saya ke Sindu Kusuma Edupark (SKE) juga tak bisa dibilang singkat. Sweater yang cukup tebal dibalut jas hujan tidak mampu menahan dingin. Tapi tak mengapa, pikir saya, ini hiburan yang sudah saya tunggu sejak seminggu lalu.

Setibanya di venue, saya sudah siap menerima bahwa penampilan Rubah di Selatan telah usai. Namun ternyata saya cukup beruntung. Kuintet asal Bantul ini baru saja naik panggung sesaat setelah saya memarkir kendaraan. Walaupun panggung musik diundur selama satu jam lamanya, ternyata penonton yang hadir masih terbilang sedikit. Hanya puluhan orang saja. Beberapa penonton masih mengenakan jas hujan. Hampir semua penonton menggunakan sandal jepit sebagai alas kaki. Yang berani berdiri dan mendekati panggung hanya para juru kamera. Kebanyakan penonton masih anteng berlindung di bawah tenda bening yang menghalau hujan. Karpet rumput yang digelar di bawahnya, yang di awal terlihat empuk diinjak, kini telah menjadi spons penyerap air hujan. Jika menapak di atasnya, maka tenggelamlah sudah kaki kita.

Rubah di Selatan
Rubah di Selatan

Gerimis masih turun ketika Rubah di Selatan membuka penampilannya dengan “Water” pada pukul delapan malam. Penampilan mereka seolah membawa kesan magis tersendiri di awal lagu. Penonton yang hadir terlihat serius menyaksikan penampilan mereka. Pukulan-pukulan pada udu pot (alat musik khas Afrika yang terlihat seperti kendi dengan dua lubang) menyajikan tempo yang pelan tapi pasti.

Mereka kemudian melanjutkan dengan “Mata Air Mata”, sebuah lagu yang terinspirasi dari keadaan Selokan Mataram. Tempo sudah mulai bergerak lebih cepat di lagu ini. Rubah di Selatan mencapai klimaksnya pada lagu terakhir, “Leaving Anthera”. Nomor ini dimulai dengan suara Kecak dan diakhiri dengan suara yang sama. Lagu yang terinspirasi dari tradisi macapat (tembang Jawa) ini sungguh menguatkan identitas mereka yang mendaku sebagai unit ethnic-folk. Riuh tepuk tangan penonton pun menutup penampilan mereka yang singkat namun cukup membuat malam yang dingin menjadi semakin syahdu.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hujan sudah mereda. Ketika personil Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) satu per satu menaiki panggung, saya baru sadar bahwa penonton yang hadir kini telah bertambah berkali-kali lipat jumlahnya. Penonton langsung berjalan mendekati panggung, berdesakan mencari posisi terdepan. Saat OM PMR memulai penampilannya dengan “Malam Jumat Kliwon” yang legendaris, berpasang-pasang jempol penonton terlihat bergoyang di udara.

Orkes Moral Pengantar Minum Racun
Orkes Moral Pengantar Minum Racun
Orkes Moral Pengantar Minum Racun
Orkes Moral Pengantar Minum Racun

“Selamat malam calon-calon jenazah!” sapa Yudi Padukone, sang pemetik gitar. Gelak tawa penonton langsung membalas sapaan tersebut. Selanjutnya, setiap jeda antarlagu diisi oleh lawakan-lawakan dari seluruh personil OM PMR. Di sini saya baru menyadari bahwa banyolan khas orang tua yang mungkin kini disebut sebagai ‘humor receh’ ternyata masih mampu mengundang tawa anak-anak muda. Perlu diketahui juga bahwa sebagian besar penonton ini memanglah anak-anak muda. Senang rasanya melihat kaum muda masih mampu menghargai dan menikmati musik orkes khas Indonesia yang kini mungkin sudah terdengar begitu ketinggalan jaman. Apalagi, yang membawakan musik ini juga merupakan kelompok yang terbentuk sejak era ’70-an. Mungkin usia para personilnya setara dengan usia para orang tua sang penonton.

Orkes Moral Pengantar Minum Racun
Orkes Moral Pengantar Minum Racun

OM PMR membawakan tujuh buah lagu malam itu, di antaranya “Tato atau Panu”, “Bintangku Bintangmu”, “Rayuan Pulau Kelapa”, dan satu lagu gubahan “Terlalu Lama Sendiri” milik Kunto Aji. Dua lagu yang mengundang paduan suara terbanyak adalah “Istilah Cinta” dan lagu penutup, “Lagu-Laguan”. OM PMR pun tampil dengan sangat prima. Jhonny Madumatikutu, sang vokalis, memainkan harmonika sisirnya di lagu “Tato atau Panu”. Muke Kapur menampilkan beberapa gimmick yang kocak dan mengundang tawa seperti mencoba memanjat kuda-kuda panggung sambil memukul mini drumnya. OM PMR berhasil menghapus sekat-sekat usia di antara semua yang hadir. Tua dan muda, semuanya bergoyang mengikuti irama. Teriakan penonton yang meminta encore pun menandai keengganan mereka untuk berpisah dengan bapak-bapak nyentrik ini.

Kemudian, The Adams mengokupasi panggung 20 menit setelah OM PMR menghilang di balik panggung. Gebukan drum “Selamat Pagi Juwita” yang ikonik pun mengundang riuh tepuk tangan penonton. Beberapa dari mereka terdengar memanggil nama Ario, sang vokalis, dan Ale, sang gitaris. Lagu-lagu yang The Adams bawakan tak jauh dari setlist standar mereka di gig-gig lainnya. Nomor-nomor yang telah akrab di telinga seperti “Waiting”, “Fool”, dan “Kau Disana” dibawakan ke hadapan penonton yang kebetulan juga didominasi oleh kaum adam. The Adams mengajak penonton berpartisipasi dalam nomor berdurasi kurang dari satu menit, “Berwisata”. Mereka sampai mengulang sebanyak dua kali untuk mendapatkan tempo yang sama dengan penonton.

The Adams
The Adams
The Adams
The Adams
The Adams
The Adams

Bahana koor terdengar paling megah di tiga lagu terakhir; “Hanya Kau”, “Halo Beni”, dan “Konservatif”. Saking bersemangatnya, penonton sampai melagukan melodi-melodi gitar dengan ber-tarara-tarara. Formasi yang lengkap juga membuat aksi panggung The Adams jauh lebih mantap dibanding penampilan terakhir mereka di Yogyakarta pertengahan Mei lalu. Kepala para penonton juga terlihat mengangguk-angguk sesuai dengan tempo lagu. Tubuh-tubuh mereka melompat, tak peduli basahnya air yang menggenangi kaki mereka saat kembali berpijak.

UrbanGiGs edisi kali ini sangat berhasil mengobati kerinduan para penikmat musik Yogyakarta, khususnya pada OM PMR dan The Adams. Walaupun sebagian besar nomor yang mereka bawakan merupakan tembang yang cukup lawas untuk era 2016, rindu tetaplah terbayar tuntas. Yang paling penting adalah bagaimana interaksi antara penampil dan penonton. Bagaimana kebahagiaan penampil yang melihat mulut-mulut penonton melagukan lirik-lirik lagu, dan bagaimana kebahagiaan penonton menyaksikan idolanya membawakan musik kebanggan mereka. Sesaat setelah acara ini usai, saya baru menyadari bahwa dingin yang saya rasakan telah berganti menjadi hangat. Kini jelaslah sudah bahwa salah satu hal yang bisa menghangatkan adalah sebuah temu kangen, sebuah anjangsana.[WARN!NG/Oktaria Asmarani]

Event by              : UrbanGiGs

Date                      : 24 September 2016

Venue                  : Halaman Sindu Kusuma Edupark

Man of the Match           : “Lagu-Laguan” milik OM PMR yang mengundang goyang dan sahut-sahutan, serta paduan suara penonton pada “Konservatif”

[yasr_overall_rating size=”small”]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.