close

Vindication of The Rights of Classical Music

musik klasik.dok ist
musik klasik.dok ist

Musik klasik itu sulit. Musik klasik itu kaku. Musik klasik itu membuat mengantuk. Musik klasik itu membosankan. Musik klasik itu simbol kemewahan. Musik klasik itu otoriter. Itulah reaksi yang kiranya muncul di kepala orang bila mendengar kata “musik klasik”.

Bila Mary Wollstonecraft menulis buku Vindication of The Rights of Woman, saya ingin meminjam sedikit judul buku tersebut untuk penulisan artikel ini. Perbedaan mendasar dari musik klasik¹ dan perempuan adalah kontras bahwa yang satu dianggap menekan (sering ada yang berkata pada saya bahwa musik klasik itu sangat otoriter, terlebih lagi Pierre Bourdieu menganggap bahwa musik klasik merupakan simbol dominasi kelas)yang satunya dianggap tertekan (diasumsikan bahwa pembaca tahu bahwa sebagian besar perempuan direpresi oleh budaya patriarki).Berangkat dari judul tersebut, saya ingin melakukan pemulihan nama baik untuk musik klasik, khususnya di masa kini.

Keberadaan musik klasik di masa kini cukup mengkhawatirkan, ada tapi seperti tidak ada, ada tapi langka, ada tapi tidak begitu terasa, dikhawatirkan keberadaannya hampir-hampir berada di ambang kepunahan, dan seperti makhluk-makhluk yang berada di ambang kepunahan, sebaiknya dikonservasi. Musik klasik dianggap eksklusif.Hal tersebut menghiasi fakta bahwa musik klasik jarang diminati orang-orang awam, hal itu juga terlihat dari penjualan CD-CD musik klasik (dan unduhannya), cukup menyedihkan khususnya bila dibandingkan dengan tingginya penjualan CD atau tingginya unduhan musik pop, rock, metal, hip hop, r&b, dan jazz (musik-musik yang misalnya spopuler sekarang). Bila mampir ke toko CD pun, CD musik klasik akan sulit untuk dijumpai, kalaupun tersedia, koleksinya biasanya begitu terbatas dan tidak variatif, biasanya saya hanya menemukan dua keping CD yang memuat musik-musik klasik dari komponis partikular, sisanya kebanyakan adalah kompilasi musik klasik seperti misalnya Mozart for Babies, Beethoven for Babies, dll. Pencarian musik klasik pada toko CD besar lokal mengingatkan saya pada pencarian buku filsafat pada toko buku besar lokal, hasil dari pencarian tersebut biasanya membuat saya terperangah dan geleng-geleng kepala karena sering mendapati CD dan buku yang berada disana dengan kategori yang tidak pada tempatnya. Melihat CD yang tidak pada tempatnya terletak di kategori klasik itu rasanya sama seperti melihat buku Shio dan Tarot di kategori filsafat, menyebalkan tapi miris.

Musik klasik adalah minoritas dibandingkan mayoritas musik populer. Orang-orang akan dengan senang hati berbondong-bondong, bergerombol, berkeringat di kerumunan untuk menonton konser musik populer dengan sound system yang gegap gempita yang memungkinkan mereka yang berada di jarak berpuluh-puluh meter dari panggung tetap mendengarkan suara keras dari performance musik meskipun melihat performernya hanya sebagai sebuah titik kecil. Sekarang, harga tiket musik klasik bahkan biasanya lebih murah dibandingkan harga tiket musik industri. Orang-orang di masa kini agaknya sulit untuk membayangkan bahwa berpuluh-puluh tahun lalu, beratus-ratus tahun lalu, sebelum ada teknologi pengeras suara dan pemutar musik yang ringkas, orang-orang pada zaman tersebut pernah begitu menggebu pada musik klasik, berkumpul untuk menyaksikan pertunjukkan musik klasik, berkiblat pada musik ini di Eropa. Misalnya, ketika Franz Liszt yang memiliki kemampuan teknik pianistik yang sangat tinggi dan kepribadian yang memukau, konsernya selalu penuh dengan kerumunan dan para perempuan yang memperebutkan saputangan dan sarung tangannya sebagai suvenir. Kerumunan untuk konser musik klasik pada zaman tersebut dapat disandingkan dengan kerumunan untuk konser musik pop dan rock masa kini.

Apa yang terasa dalam suasana di ruang konser musik klasik di masa kini? Zaman dan budaya telah berubah. Musik yang sama yang dihadirkan dari beratus-ratus tahun lalu kini terdengar dan kadang bersanding dengan terdengarnya dering telepon genggam yang lupa dinonaktifkan. Suhu yang dingin, bangku-bangku yang tidak terisi, cahaya yang redup, rasanya selalu ada ketegangan samar di udara ruang konser. Baik pemusik yang tampil maupun audiens yang datang sama-sama tegang. Pemusik yang tampil tentu memiliki sebersit rasa tegang karena khawatir oleh pertanyaan usil dari dirinya sendiri seperti misalnya, “Adakah orang yang bersedia datang, membayar, dan menyaksikan pertunjukkan ini?”. Sementara itu audiens yang datang akan bertanya-tanya “Adakah orang lain selain diri saya yang bersedia datang, membayar, dan menyaksikan pertunjukkan ini?”. Kekhawatiran akan kepunahan sesungguhnya terasa oleh para penggemar musik klasik sehingga ketika mereka bertemu dalam ruang konser yang dingin, sepi, dan redup, menguarlah rasa takjub, heran, serta lega secara bersamaan. Biasanya mereka akan menyadari bahwa wajah yang terlihat ya ternyata itu-itu juga.

Dapat dikatakan bahwa industri musik telah membuat produk-produk untuk didengar yang kebanyakan tidak mementingkan kualitas dari bunyinya. Minimnya kualitas bunyi yang diproduksi massal umumnya dikompensasi dengan tampilan personil atau penyanyi yang menarik, publikasi menarik, kemasan album yang menarik, dan gossip yang menarik, semua hal tersebut dilakukan tentunya untuk meningkatkan penjualan komoditas dan menguntungkan sang pemilik modal. Orang-orang tertarik pada musiknya karena rangkaian publikasi tersebut, namun tidak menganggapnya secara serius. Penghargaan yang ada kemudian tidak lagi berpusat padamusik, melainkan kepada penampil dan bandnya. Sayangnya sering kali bukan karena mereka menghasilkan musik yang bermutu, melainkan hanya semata-mata karena dihiasi gencarnya publikasi atas diri mereka dan performa pertunjukkan mereka yang gegap gempita. Mereka kemudian dianugerahi status sebagai bintang, selebriti, idola, dan dipuja bagaikan dewa-dewi oleh para fansnya kemudian setelah beberapa saat, ditinggalkan sepenuhnya. Siklus ketenaran untuk hal seperti ini biasanya berganti dengan sangat cepat. Seperti yang dikatakan oleh Andy Warhol, “In the future, everyone will be famous for 15 minutes”.

Mengapa saya perlu membela musik klasik? Apa keistimewaannya? Apa manfaatnya?

Pertama, membantah bahwa musik klasik itu otoriter. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa musik klasik itu mendikte, bahwa kita harus mengikuti setiap notnya, setiap tanda-tanda musikalnya, sehingga kita tertekan, dan tidak bebas berekspresi. Saya mau mengatakan bahwa hal tersebut kurang tepat. Walaupun notasinya ketat, susunan yang tidak berubah dari rentetan notnya memiliki kapasitas luar biasa untuk melampaui dirinya sendiri dan menyesuaikan dirinya dengan berbagai suasana. Daripada melihat partitur musik klasik secara negatif, saya lebih memilih melihatnya dengan positif. Saya dapat menyandingkan pengalaman mendengarkan atau membaca notasi musik klasik dengan pengalaman membaca literatur. Menurut saya, keindahan musik klasik mirip sepertikeindahan literatur. Ketika memainkan atau mendengarkan suatu musik, rasanya bagaikan tenggelam dalam sebuah cerita pada suatu literatur. Bedanya, ceritanya terasa samar, namun kita dapat menangkap esensi dari emosi² yang terkandung disana. Musik klasik yang kita dengarkan memiliki cerita tersendiri di dalamnya, dan memainkannya atau mendengarkannya bagaikan sedang ikut berpetualang dengan komponisnya. Memainkannya juga, bagaikan menceritakan cerita itu kembali dengan ekspresi subjektif kita masing-masing. Bayangkan bila setiap orang diberi satu cerita yang sama untuk diceritakan, tentunya masing-masing orang memiliki karakterbercerita yang berbeda, penekanan pada unsur tertentu yang berbeda, intinya, karena setiap orang unik dengan pikiran, emosi, dan latar belakangnya, selalu ada ruang kebebasan untuk perbedaan interpretasi atas satu karya yang sama.

Kedua, tidak ada pengalaman musikal yang lebih indah daripada berhadapan dengan musik klasik³. Mendengar musik klasik rasanya bagaikan mendengar cerita dari komponisnya, muatan kaya yang indah, sendu, kelam,dendam, takut, romantis, jenaka, bingung, dan lainnya. Musik klasik begitu penuh oleh makna, perasaan, logika, muatan sejarah dan budaya, dan sebagainya.

Ketiga, menghadapi musik klasik memerlukan gabungan antara rasionalitas dan irasionalitas. Ini tentunya menstimulasi sensasi, kognisi, persepsi, imajinasi, dan refleksi sementara menajamkan juga penginderaan, untuk menyingkap muatan ekspresi emosi di dalamnya.Musik memiliki bahasa universal. Pernah menonton film The Pianist dan The Piano? Kira-kira apa yang terjadi bila Wladic Szpilman tidak memainkan musik ketika bertemu oleh Nazi dan apa yang terjadi bila Ada McGrath tidak memainkan musik? Semua musik dapat didengarkan oleh telinga, tetapi musik klasik tidak hanya mengundang untuk didengarkan secara pasif saja, melainkan juga menuntut untuk didengarkan secara aktif dan dieksplorasi. Mendengarkan musik klasik dengan dalam dapat melatih ketajaman telinga untuk dapat mencari tekstur, harmoni, melodi, gradasi bunyi, artikulasi, ritme, tempo, tonalitas, dan melatih kepekaan merasakan ekspresi emosi. Musik klasik datang dari beberapa abad lalu, dan mendengarkannya bagaikan melakukan kunjungan pada periode tersebut, dengan demikian mendengarkan musik klasik tidak hanya sampai pada bagaimana musik tersebut sekarang terdengar, namun juga membuat kita membayangkan bagaimana telinga orang pada zamannya – bagaimana cara mendengarkan musik tersebut pada zamannya. Musik klasik seperti meminta untuk dipahami namun ia juga dengan murah hati memberikan makna mendalam untuk mencapai pemahaman tersebut.

Keempat, saya harus mengatakan kalimat yang dapat meredakan kekhawatiran akan kepunahan, bahwa musik klasik itu sesungguhnya timeless. Mirip seperti lukisan Monalisa yang tidak bosan-bosannya tetap digandrungi orang, mirip seperti little black dress dan kemeja putih yang cocok untuk hampir semua acara, mirip seperti wine. Tidak terlupakan, terus terwariskan. Musik klasik secara konstan memiliki muatan keindahan yang melampaui waktu, terikat pada zaman spesialnya sendiri, pada berbagai zaman. Ada kualitas repeatability dan flexibility yang unik.

Kelima, seperti yang dikatakan Julian Johnson, mendengarkan musik klasik merupakan social act dan ethical act. Merupakan tindakan sosial karena mendengarkan musik yang jarang didengarkan oleh kebanyakan orang berarti berani melawan tekanan konsumerisme dan budaya industri dari masa kini, tidak begitu saja menerima produk bunyi yang tersedia di pasar, dan merupakan tindakan etis karena mendorong kita mengafirmasi kembali kemanusiaan kita untuk melawan ideologi ekonomi yang menguasai kita tanpa sesungguhnya kita perkenankan. Dua hal ini membuat kita tidak begitu saja menjadi orang mainstream dan tidak otentik, justru sebaliknya. Musik klasik dapat membuat kita menjarak secara bertahap dari keseharian kita, menjarak ini tidak dalam artian negatif seperti melarikan diri, melainkan tindakan kontemplatif karena kita bisa lebih memahami segala sesuatu dengan adanya jarak. Setelah menjarak tersebut, kita dapat terbantu untuk mengkritisi dan merefleksikan kembali mengenai keseharian kita dan makna kehidupan kita.

Musik klasik masih hidup hingga sekarang, tidak otoriter namun justru sangat luwes untuk memungkinkan kebebasan interpretasi karena tanpa adanya interpretasi, proses memainkan dan mendengarkan musik klasik kiranya akan menjadi semacam proses mekanistis belaka. Musik klasik terancam bahaya kepunahan namun dengan kualitas flexibility dan timelessnya dapat mempertahankan dirinya sendiri untuk tetap melampaui zaman. Banyak yang dapat kita peroleh dari berhadapan dengan musik klasik. Tidak harus menjadi pemusik untuk bisa menikmati musik klasik, yang harus adalah keinginan untuk terbuka, mendengar secara aktif, dan menyerap makna. Pembahasan pembelaan atas musik klasik diatas tidak berfokus pada apresiasi terhadap budaya tingkat tinggi dan penanda akan kelas, melainkan pada penilaian dan pemaknaan atas musik klasik itu sendiri, apa yang terjadi secara musikal, bagaimana pengalaman musikal, dan apa manfaat musikal darinya.

Words: Karina Andjani  

karina andjani
Karina Andjani

 

———–

 

[1]Musik klasik yang dimaksudkan pada penulisan ini tidak hanya tercakup pada musik periode Klasik namun juga yang masih lazim dipelajari dan dimainkan hingga sekarang seperti musik dari periode Barok, Klasik, Romantik, dan abad ke-20.

[2]Ketika menyebutkan emosi dalam musik bukan berarti semata-mata bahwa musik menandakan emosi atau membangkitkan emosi, melainkan bahwa musik memiliki kekuatan emosional yang dapat dirasakan secara subjektif, kekuatan emosional yang terpisah dari dirinya sendiri – yang dapat mengakibatkan bahkan bila misalnya emosinya terasa berat dan gelap, tetap ada daya kepuasan dan keindahan disana.

[3]Kalimat ini tentunya subjektif dan penilaian bahwa sesuatu itu indah sangat berkaitan dengan selera, Immanuel Kant mengatakan bahwa selera merupakan kemampuan menilai bahwa sesuatu itu indah karena adanya rasa suka yang tanpa pamrih/disinterested yang menimbulkan kesenangan atau kepuasan. Setiap orang memiliki selera masing-masing dan hal itu sebaiknya tidak diperdebatkan.

Tags : classicmusik klasik
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response