close

Wajah Graffiti di balik NSIDEONE

nside ok

“ Seseorang telah meluangkan waktu untuk berjalan dari tembok ke tembok, menggambar ‘sesuatu’ yang tidak orang lain minta, menanggung biaya dengan jumlah tidak sedikit, hanya untuk sebuah karya yang tidak jelas nasibnya, belum lagi masih harus berurusan dengan aparat atau warga atas tuduhan ‘pengrusakan’. Tiap karya ia tandai dengan nama: NSIDEONE, karya itulah yang banyak orang sebut Graffiti.”

image
NSIDEONE

Pria bernama Damar, mencoba berkisah seputar perjalanan-nya sebagai seorang writer (seniman graffiti). Tercatat sewaktu duduk di bangku sekolah pernah menjadi seorang atlet pemain bola, yang kemudian dengan tidak berat hati ia tinggalkan untuk memilih menggambar, pernah tercatat sebagai mahasiwa jurusan ekonomi yang akhirnya lebih nikmat ditinggalkan, untuk kemudian berpindah halauan di kampus jurusan desain.

Memulai aktivitas menggambar sejak 2005, menggambar dengan cara sebisa-nya, sekedar iseng. Pada suatu hari, seorang teman bilang bahwa yang ia gambar adalah sebuah graffiti. Sejak itulah Damar mulai penasaran, dan semakin tertarik mengenai graffiti. Bahkan Ia pernah membolos sekolah dengan pergi ke warnet untuk menjelajah situs graffiti, menyimpan gambar, untuk kemudian sebagai bahan referensi karya-nya. Dengan graffiti Damar merasa menjadi seorang yang berbeda, membuat graffiti adalah ketrampilan yang jarang orang miliki. Semakin hari graffiti punya keasyikan tersendiri. “Pada waktu itu, rasanya seseorang dapat membuat karya graffiti dianggap penting”.

Damar mengawali menggambar di tembok sekitaran rumah, kemudian karyanya mulai di apresiasi orang sekitar, ada seseorang yang menyarankan agar dia menggambar di kota, karena di kota banyak graffiti. Benar, kemudian Damar semakian keranjingan dengan graffiti, waktu itu menggunakan sepeda keliling untuk melihat-lihat graffiti, membuat graffiti, sampai menonton pameran. Alhasil ia mulai mengenal pemain graffiti yang sudah lama berkecimpung di bidangnya, mereka bisa dikata senior di kota Jogja, ada nama-nama seperti lovehatelove, muck, oaker, trash, pofobag (sampai kini masih aktif). “Karya mereka keren, dan mereka telah mengawali dari jauh hari, mereka sudah eksis sejak tahun 2003-an”. Melewati potongan waktu bersama teman-teman graffiti Jogja, ia semakin terpacu untuk membuat karya yang semakin bagus “harus bisa berkarya seperti teman-teman”.

Menggadang Tagging “Nsideone”, Damar semakin rajin menapak jalanan graffiti. Tertanda pada 2009, ia bergabung bersama Eve Crew, dengan member Racon3, vayne3, daos, liger. Bersama Eve, mereka pernah mengikuti graffiti battle di acara Wall-Art, di gelar di Bandung pada tahun 2011, sebuah ajang kompetisi graffiti taraf nasional, buah keseriusan bersama rekan satu tim, mereka berhasil menyabet juara 2.

Ada juga kegiatan bersama rekan-rekan bertajuk “Graffcamp”, gambaran acara-nya adalah semacam ospek, di acara ini mereka membuka peserta pendaftaran untuk teman-teman yang baru memulai aktivitas graffiti, inilah ospek nonformal yang pernah diadakan, bertujuan agar dapat membuat akrap, guyup-rukun kepada rekan graffiti se-jogja – lintas generasi. Namun pada pelaksanaanya justru banyak hal tak terduga dan mengejutkan, banyak tidakan konyol dari rekan-rekan, kekonyolan inilah yang membuat teman-teman berkesan. Acara ini kiranya jadi penting, oleh karana para pelaku graffiti jarang berkumpul, masing-masing memiliki kesibukan.

Untuk gaya sendiri Nsideone lebih dikenal dengan Wildstyle, yaitu karya graffiti (seperti) tidak bisa dibaca, terkesan rumit, dalam graffiti ini semacam aliran new-school, Damar sendiri mengaku tidak terlalu spesifik menggeluti wildstyle, karena memungkinkan bagi dia untuk eksplor ke karekter, tapi letter sebagai garis besarnya. Akhir ini Damar lebih tertarik untuk menggambar di media yang lebih menantang, seperti tembok yang kasar, bebatuan, dan ruang-ruang yang jarang di jamah. Ini membuatnya terasa unik, eksplor dapat memilih media apapun tanpa batas, apalagi sekarang dapat diunggah ke media social, banyak respon yang datang, dalam maupun luar negeri.

Meringkas perkembangan graffiti dalam lini-masa tahunan, graffiti sempat mengalami masa pasang surut, kita bisa melihat booming graffiti di tahun 2006-2007, kemudian pada 2009-2010 sempat lesu sebab pemain-nya itu-itu saja, beberapa banyak yang bosan dan vakum, dan mulai 2013-2014 terlihat menggeliat lagi. Menyikapi ini seniman graffiti perlu konsisten, Damar punya cara sendiri agar tetap berkarya, ia merancang strategi, paling tidak menggambar seminggu sekali, dan minimal – paling jelek sebulan sekali, tahun ini Damar telah membuat sekitar 40-an gambar, tertanda bahwa dia tetap eksis.

Graffiti merupakan wujud eksistensi dari si pembuatnya, semakin banyak berkarya jadi lebih dikenal. Kota Jogja menjadi patokan perkembangan graffiti, konon jadi titik penting se-asia, banyak orang asing datang ke Jogja untuk menikmati graffiti, kita dapat melihat dari banyaknya scene graffiti, mereka aktif dan terus berkarya. Barangkali, perlu di ketahui, banyak rekan-rekan seniman graffiti rela bekerja (mencari uang) untuk menghidupi (membuat) graffiti, mereka telah berkorban untuk sebuah karya, sungguh pilihan yang tidak main-main. Namun jangan salah, di lain sisi banyak seniman yang hidup dari graffiti, graffiti tak hanya berada di jalan, beberapa rekan ada yang menembus ke pasar galeri seni, produk laris di pasaran, dan banyak mengerjakan commission work, seperti proyek mural, dan pameran di banyak agenda kesenian. Belum lama ini Damar turut berkontribusi sebagai peserta pameran, buah rangkaian kegiatan FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) tepatnya dalam konten Cuts N Re-mix yang di gelar di Jogja Gallery, sebuah bukti graffiti telah masuk dalam kategori high-art, jadi gambaran kedepan sangat memungkinkan karya graffiti menjadi industri yang menjanjikan.

Damar memiliki keinginan agar graffiti dapat memberi pengaruh terhadap masyarakat, graffiti dapat menjadi sebuah aksi kegiatan yang bersifat sosial dan kemanusian. Sebagai wujud nyata, Ia mencoba memulai dengan proyek pembuatan merchandise (kaos), proyek kaos bernama alfabert, dengan cara penjualan, untuk kemudian dari keuntungan disumbangkan untuk membantu perpustakaan. Selanjutnya, Ia berharap bagi mereka yang memulai graffiti, agar dapat menghargai karya yang sudah ada, misalkan bermaksud mengganti gambar harus lebih bagus, sebenarnya penyataan ini pelik, mestinya bagi seorang seniman harus mampu mengapresiasi karya lain, meski tidak ada aturan baku dalam penempatan karya di ruang publik, ada etika dimana masing-masing pelaku dapat menempatkan diri di posisi yang sama (seniman). Huhum Hambilly

image_4
image_5
image_7
image_8
image_6

IG : @NSIDEONE

Tags : eve crewgraffiti jogjalovehatelovemucknsideonerune hsk
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response