close

Warpaint – Heads Up

Warpaint

Review overview

WARN!NG Level 8

Summary

8 Score

 

Label: Rough Trade

Watchful Shot: “Don’t Wanna”, “By Your Side”, “Dre”

Year: 2016

Ada yang berbeda dari album terbaru kuartet indie-rock asal Los Angeles, Warpaint. Selain sampul minimalis yang didominasi spektrum tunggal hitam putih, juga hal-hal lain yang kiranya berpendar di titik esensial. Jika Anda sepakat menyebut musikalitas mereka cenderung lebih gelap dibanding karya sebelumnya, mari kita berjabat tangan. Jika Anda berasumsi peran Lindberg dan Mozgawa cukup besar daripada album terdahulu, mari mengadakan kesepakatan. Tapi apabila Anda beropini Heads Up tidak terdengar laiknya identitas mereka, sebaiknya tahan sejenak kalimat itu.

Heads Up merupakan album penuh ketiga dari band yang beranggotakan Emily Kokal (gitar), Theresa Wayman (gitar), Jenny Lee Lindberg (bass), dan Stella Mozgawa (drum). Nampaknya mereka hanya butuh waktu menunggu dua tahun selepas kemunculan The Fool (2010) serta Warpaint (2014). Berisi sebelas lagu, Heads Up menjadi lanskap anyar bagi keempat wanita ini untuk bermain ke dimensi yang gelap, kelam, namun memanjakan telinga lewat deru delusional nan mengembara.

Respon terkejut mungkin timbul kala keseluruhan materi di Heads Up diputar. Pesona yang memicu antusiasme bawah tanah dengan letupan crowdsurfing meriah agaknya tidak lagi berteriak lancang. Termasuk geliat dentuman bernutrisi berat, improvisasi post maupun fluktuasi shoegaze di tengah repertoir, hingga pukulan rapat Mozgawa yang selama ini jadi ciri khas Warpaint.

Tenang saja, Warpaint tidak mengalami turbulensi akut sampai harus menggubah fondasi kreatif yang dipupuk sejak lama. Dengan begitu lihainya, mereka menggabungkan identitas Cocteau Twins dan Kraftwerk dalam satu wadah bersama sedikit keintiman yang distingtif juga beat mengguncang iman. Simak bagaimana “By Your Side” dipenuhi aroma muram dan raungan vokal yang tersentak derita loop. Atau misal “Dre” yang dikuasai kemegahan warna hip-hop seolah Kendrick Lamar ikut meramaikan di balik kesunyian pijakan efek Theresa.

Reformasi yang ditempuh Warpaint tak bisa dilepaskan dari kontribusi Lindberg ataupun Mozgawa. Beberapa kali telinga terseret hanyut dalam lautan downtempo yang diciptakannya. Terkadang ia menuliskan panorama lebar yang ditumpulkan dari irama picking sehingga melahirkan sensibilitas bunyi tajam. Sesekali pula ia juga sukses memantapkan kesepian symphatetic vibration yang langka agar tak dihempaskan jauh oleh gelembung tremolo hasil perpaduan neck bending bersama gebrakan milik Mozgawa. Sekaligus menyeret kelincahan distorsi Emily ke ranah tanpa daya.

Tema utama Heads Up tak jauh dari sikap depresi maupun putus keyakinan karena harapan yang tak selalu berbanding lurus dengan realita. Emily bahkan menggariskannya secara halus pada track “Don’t Wanna”. Kala cabikan Lindberg sayup-sayup bergerak malas, ia berujar tegas; Would you thought about all inside you know?//That you only hold. Tak hanya itu, di “Whiteout” yang melemparkan agresi dan riff-riff menyenangkan pun ia berkata demikian; You know what I want//To know the secrets in your heart. Entah apa yang terbelenggu dalam selaput pikirannya.

Pertentangan sempat beradu debat ketika memasuki nirwana Heads Up dengan paripurna. Sirkulasi kekecewaan bercampur beribu pertanyaan menyentil arah perubahan yang sedang digeluti. Satu percobaan, tak cukup. Dua percobaan, masih kurang. Begitu seterusnya hingga saya menyadari penolakan yang berparas ganda. Meski diganjal revolusi yang bisa dibilang drastis, akhirnya kulminasi kenikmatan itu menyeruak; perlahan demi perlahan menuju klimaks teramat. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response