close

Warpaint Live In Jakarta: Anjangsana Menggelitar Kuartet Seduktif

warpaint-media-6

Review overview

WARN!NG Level 7.2

Summary

7.2 Score

“Kami melihat seorang kawan lama yang kembali dengan cerita-cerita terbarunya. Begitu sederhana, begitu ringkas, pun begitu gelap. Kali ini Jakarta, tempatnya berteduh –selepas perjalanan panjangnya dari banyaknya kota di negara bagian di Amerika, dan juga Brazil. Selain Heads Up sebagai kebaruan, tidak banyak perubahan terjadi padanya, kami memanggilnya: Warpaint.”

Ia bertandang ke sebuah tempat yang jauh dari rumah, tepat tiga hari setelah perayaan genap usianya yang ke-13. Dengan tujuan berbagi kelumit kisah dalam catatan yang sudah ia tuliskan sejak Januari tahun lalu. Kali ini, dengan kisahnya yang baru ia terlihat lebih dewasa; guratan di bawah pelupuk matanya mengisyaratkan sendu yang riang –sebuah pertanda baik bagi pendengarnya agar tak melulu merayakan romantisme The Fool atau bahkan Exquisite Corpse.

Awan di atas Parkir Selatan Senayan terlalu cerah ketika menjamunya. Yang ingin mendengarkan ceritanya juga terlalu dini untuk menempati barisan depan. Satu hal yang pasti, di bawah lampu kelabu ungu biru beratap panggung sederhana yang lebarnya tidak lebih panjang dari penantian para pendengar, harapan malam itu lunas pukul setengah sepuluh tepat.

Sebelumnya, kekosongan panggung dipercantik dengan hadirnya: Trou, Diocreatura, dan Kimokal. Ketika bisa dibilang, terlalu prematur bagi para penonton untuk benar-benar mengalami malam secara genap dan paripurna.

Warpaint © Wire It Up

Stella (Drum), Theresa (Gitar/Vokal), Emily (Vokal/Gitar), dan Jenny (Bass/Back) masuk berurut-urut, mengundang salam keriuhan dari ratusan kepala yang ada di depan mereka. Memulai jumpa perdana dengan “Intro” hingga tak terasa melodi gitar Theresa dan Emily telah menjelma hangat menyelimuti daun-daun telinga kami. Di waktu yang sama, Jenny, terlalu manis untuk tidak mencuri perhatian. Lika-laku ayun kepala, gestur badan, serta hentakan kakinya ketika mengisi lapis-lapis kosong pada pondasi ritmik yang mengudara terlalu menghipnotis.

Jenny Lee / Warpaint © Wire It Up

Hingga “Keep It Healthy,” adegan seperti ini terjadi cukup konstan, tidak lebih tidak kurang, sangat sangat sederhana. Penonton mengisyaratkan sesuatu yang lebih selepas lagu kedua usai, riuh aplaus pun terbang mengangkasa.

“Terima kasih!” balas Emily, adalah kata pertama yang keluar dari mereka, begitu saja, sonder basa-basi.

Tanpa menghabiskan banyak waktu, laku aba-aba ketukan stik Stella menjadi permulaan dengan sesuatu yang lebih gelap: “Heads Up” –dari album terbaru bertajuk sama. Bedanya, lampu dansa di atas mereka kini mulai terlihat kilap kilaunya. Repetisi “and it’s okay, it’s okay, it’s okaymengawang-awang, sebuah bujuk rayu untuk merayakan kesedihan, cukup memabukkan.

Stella Mozgawa & Theresa Wayman / Warpaint © Wire It Up

Tiga selanjutnya cukup nostalgik, nomor-nomor lawas pun dilantunkan: “Krimson,” “Undertow,” dan “No Way Out.” Atmosfer berubah menjadi ajang koor massal dengan Emily sebagai kondaktur utama, sampai-sampai gitar yang sedari tadi ditenteng pun dilepasnya pada nomor “Undertow,” hingga ditutup dengan solo gitar Theresa, menghanyut lembut menuju gemericik suara-suara tipis tepuk tangan penonton yang semakin melebat.

Silau lampu putih lalu menyorot ke penonton, “Beetles” dari Exquisite Corpse masuk. Dari awal sampai akhir, pukau cahaya ini seakan tahu bahwa kini memang giliran penonton mendaulat diri sebagai penyanyi utama. Tempo yang mengiringi pun melambat di saat-saat tertentu, tanpa putus, petikan gitar Emily menjembataninya ke “Whiteout.” Semua elemen dalam malam itu menjadi semakin bertingkah, iringan vokal mengerawang Emily bersahut-sahutan dengan lafal sama yang juga diteriakkan kepala-kepala di depannya. Hingga tanpa sadar, atma berubah menjadi lebih magis. Theresa mula-mula meletakkan gitar yang sedari tadi dibopongnya, semua lampu seketika berubah; makin lama makin memerah, mendominasi, dan memadam mati. “Love Is to Die” hadir lewat rongrongan Theresa, menyongsong imaji tergelap dalam lanskap pikir penontonnya. Semua terlalu hanyut dalam hening, menghabiskan enam detik pertama setelah kesatuan lagu tuntas untuk tepukan tangan pertama terdengar, orang-orang cukup lama terisap, tanpa sadar.

Dan seketika intensitas menjadi meledak-ledak saat tanpa peringatan, “New Song” digeber secara mendadak. Mengubah tanah aspal yang sedari tadi dipijak seakan-akan lantai dansa di sebuah bar tanpa pejam. Lewat nomor yang terlampau electro untuk malam itu, Warpaint memberi tanda agar tak lama-lama bersedih.

Keadaan paling menyihir sudah terlewat, selebihnya: gimmick encore yang sebelumnya telah diprediksi lalu terjadi. “So Good” dan “Bees” menjadi penutup alih-alih “Disco//Very” yang konon seharusnya menjadi sajian penutup. Tidak ada klimaks, pun bukan berarti mengalami malam itu merupakan sebuah kesia-siaan. Satu persatu dari mereka pamit mundur dari panggung, tanpa berbicara panjang-panjang yang memang tidak perlu juga. Sebuah perjumpaan perdana, yang juga tak perlu berlama-lama. [WARN!NG/Dwiki Aprinaldi]

Event by: Wire It Up

Date: Friday, 17th February 2017

Venue: Parkir Selatan, Senayan Jakarta

Man of The Match: Koor Massal oleh Emily Kokal dan Magisnya “Love is To Die”

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.