close

[Album Review] Warpaint – Warpaint

warpaint
Warpaint
Warpaint

Warpaint – Warpaint

Rough Trade

Watchful shot    :“Love Is to Die”, “Drive”, “Feeling Allright”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Warpaint adalah anomali. Sebuah unit yang penuh kontradiksi di dalamnya. Banyak cara untuk menyanjung pengecualian mereka. Namun, dengan mendengarkannya adalah salah satu langkah cerdas.

Setelah merilis The Fool sebagai album studio pertama, band asal Los Angeles tersebut kembali dengan album studio kedua dengan tajuk self-titled; Warpaint. Album ini dilepas bulan Januari lalu. Berisi dua belas lagu yang mempunyai daya tarik masing-masing. Setiap lagu mereka berusaha menyampaikan pesan moral dari tiap personil. Emily Kokal (lead vocal), Theresa Wayman (guitar, vocal), Jenny Lee Lindberg (bass, vocal), maupun Stella Mozgawa (drum) sudah sepakat; bagi yang membutuhkan obat, hubungi segera mungkin.

Membuka perjumpaan pertama dengan “Intro” yang penuh deru noise instrumental. Asal tetap sadar diri, tak jadi masalah. Karena dua menit pertama dalam lagu ini bagai ganja tanpa daya. Jangan teler terlalu lama, hentakan ritmis dubstep elektronik pada “Keep It Healthy” bersiap menyambut hiatus Anda. Memori akan suara Elizabeth Frazer terbesit melayang ketika Emily menyanyikannya dengan cukup berat. “Love Is to Die” mengajak untuk merayakan kesedihan. Ternyata judul lagu tidak berpengaruh terhadap musikalitas di dalamnya. Permainan bass Lindberg membentuk irama teratur bersamaan suasana gembira yang muncul. Hampir sama ketika Stephen Stills dari CSN memberikan warna lagu dengan pola bass-nya pada “Suite: Judy Blue Eyes” di tahun 1969.

Bagi Anda yang mengenal Joni Mitchell, sesekali coba putar “Shades of Scarlett Conquering” dari album The Hissing of Summer Lawns. Ketika Anda sudah mendengarnya, maka “Hi” milik Warpaint adalah wujud representasi yang tepat. Seolah berganti wujud dari aslinya 39 tahun silam, “Hi” menawarkan rasa sendu tersekat candu. Identik dengan apa yang sudah diperbuat Mitchell di “Shades of Scarlett Conquering”. Vokal Emily tampak menari layu menghindar dari terpaan kegundahan saat True feeling runs across my chest // In my silence there’s a color I never see didendangkan ke udara. Tidak ingin dipenuhi metaforik kesedihan terus-menerus, “Disco//Very” akan menuntun Anda berjalan tanpa pil stimulan; bebas, lepas, sedikit kacau. Desahan Emily dan iringan gitar low-tune ganjil Theresa tak pernah sebaik ini semenjak duo Elizabeth Fraser-Robin Guthrie dari Cocteau Twins menghasilkan “Fluffy Tufts”. Gesekan ambient segar juga dapat dinikmati lewat “Feeling Allright”. Mereka bermain hati-hati agar semua terasa baik; tak ada improvisasi ganjil, demi penjagaan genap. Koneksitas yang berujung pada kutub berlawanan. Di nomor “Drive”, Emily mengendarai nada-nada post rock a la Explosions in the Sky. Menuntun ketukan Mozgawa yang statis, menyeret petikan gitar Theresa yang minor, dan menarik jauh konstruksi bass Lindberg menuju dimensi baru. Semua tersaji laiknya arsitektur bangunan di tengah hamparan padang rumput yang luas. Megah dan Indah.

Warpaint merupakan album sarat komposisi kompleks. Menyuguhkan berbagai unsur yang berbaur layaknya Kaleidoscope milik Siouxsie and the Banshees, melancarkan serangan vertikal penuh gejala sematik seperti Cocteau Twins saat membuat Victorialand, dan berakhir dalam depresif Court and Spark yang terkurung kepekatan Joni Mitchell.

Maka mereka hadir untuk sebuah alasan; kegaduhan. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Tags : review albumwarpaint
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response