close

(Wawancara) Jerinx SID: Bala Prahara (bagian 2)

photo(3)

Lanjutan dari Interview Jerinx (bagian 1) | Wawancara oleh: Tomi Wibisono & Soni Triantoro

jrx
jrx

 

Pergulatan dengan isu rasis terkesan mendapat porsi yang lebih besar dan utama di antara isu lain pada Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! Apakah isu itu memang lebih menciptakan momen-momen emosional bagi SID?

Tentu saja karena sebagai band ‘daerah’,  tuduhan rasis terhadap suku Jawa itu hampir sama daya bunuhnya dengan tuduhan—misalnya —“Kamu PKI!”. Apalagi di masa itu belum ada media sosial hingga kami harus kerja ekstra keras untuk meredam isu tersebut. Isu rasis itu paling lama menimbulkan turbulensi terhadap karir SID karena ia tak hanya menyentuh kalangan ‘polisi punk’ tapi juga semua kalangan yang bersuku Jawa. Bayangkan, satu band versus satu suku! It was beyond crazy, dan saya rasa tak ada satupun band di dunia ini yang pernah alami masa-masa gelap segelap SID.

Di situlah terdapat histori krusial dengan Kota Jogja. Bagaimana Jerinx melihat relasi Jogja-SID yang sekarang?

Saya dari dulu entah kenapa selalu senang dengan Jogja, bahkan sebelum saya pernah ke sana. Mungkin karena lagu “Yogyakarta”-nya KLA Project yang begitu anggun? Mungkin karena konser luar Bali SID adalah di Bantul? (1998). Karena ganjanya murah? Atau karena saya selalu berpikir ada banyak kesamaan antara Bali dan Yogyakarta—seni, budaya, melting pot, toleransi dan lain-lainnya). Tapi sekarang saya makin paham jika Yogyakarta juga memiliki tendensi nasib yang sama seperti Bali. Di Bali ada gerakan “Bali Not For Sale”, sementara Yogyakarta punya “Jogja Ora Didol”. Dari pandangan saya, ada baiknya seniman atau aktivis Bali dan Yogyakarta bersatu lebih kuat lagi. Jangan sampai Yogyakarta menjadi Bali kedua, kehilangan identitas dan masyarakat lokal tergilas roda industri bernamakan pariwisata.

Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! menyajikan wajah SID sebagai sekelompok pemuda bandel  yang menyatakan persetan pada apapun kecuali bersenang-senang dan jadi diri sendiri. Di mana titik tolak perubahan SID sebagai band yang melibatkan diri dalam perjuangan sosial dan memiliki visi yang besar?

Ini pasti terdengar sangat cheesy, tapi saya percaya “within great power comes great responsibility“. Setelah masuk major label, kami mulai tur ke luar Bali dengan frekuensi yang cukup padat. Di sana, saya yang saat itu masih Bali-sentris banyak sekali belajar tentang hal-hal yang seharusnya kami suarakan. Kami tak bisa melulu bernyanyi tentang hedonisme, seks, drugs and alcohol sedangkan pendengar musik kami—terutama di daerah daerah—masih banyak yang hidup dalam penjajahan. Entah itu bentuknya pembodohan, penyeragaman dan lain-lain. Nah, spirit itu yang membantu transformasi SID dari band punk rock yang enggak peduli setan, menjadi band punk rock yang peduli setan dengan cara yang tentu saja rock & roll. Kami tak mau pondasi punk rock kami: fun, etos fuck the world dan bajingan kami hilang hanya gara-gara kami menjadi band yang ‘peduli’. Dan menyeimbangkan hal-hal tersebut bagi saya adalah tantangan yang menarik.

Anda percaya musik bisa mengubah dunia?

Percaya. Contoh paling konkret dan dekat dengan kehidupan saya. Tanpa adanya mars Bali Tolak Reklamasi dan para musisi di Bali tak turun ke jalan meneriakkan itu secara konsisten, reklamasi Teluk Benoa pasti sudah jalan dua tahun yang lalu.

Pemodal kadang lebih berbahaya untuk dikritisi dibanding negara. Mengkritisi Soundrenaline tentu membuka kemungkinan untuk diboikot di acara tersebut. Dan SID akhirnya benar-benar tidak main di sana tahun ini. Apa ini memang sudah dipertimbangkan? 

Ya, seperti yang saya ungkap di awal wawancara ini. Manajemen kadang menegur saya jika statement saya berpotensi mengurangi jadwal panggung SID. Tapi di satu sisi, manajemen juga sangat mendukung saya jika benar SID ‘dianaktirikan’ oleh Soundrenaline karena kasus Bali Tolak Reklamasi (BTR). Pada saat event Road To Soundrenaline di Denpasar beberapa bulan lalu, SID memang ditekan oleh panitia, aparat, monyet dan lain-lain untuk jangan bicara reklamasi di stage. Kami iyakan. Kami tak bicarakan di stage, tapi kami kompak pakai kaos BTR dan membuat foto dengan mulut dilakban diatas stage sebelum memulai konser. Di sana mungkin mereka merasa kecolongan. Anyway, intinya, selama kami ditekan, dipersulit atau apapun, SID enggak perlu dan enggak harus konser di Soundrenaline.

1913898_167936981861_8018576_n
Lewat media sosial, Anda mengatakan “Kita bisa memilah mana band atau musisi yang bernurani, mana yang tidak”. Kemudian diikuti dengan tagar #ayoperangterbuka.

Unggahan tersebut sudah saya hapus atas permintaan tim ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi). Mereka khawatir status tersebut malah akan menimbulkan konflik horisontal antar musisi di Bali. Dan saya akui saya membuat status tersebut dalam keadaan emosi setelah membaca status beberapa orang musisi yang konser di Soundrenaline—yang selama ini saya anggap kawan—menuduh BTR hanyalah gerakan jualan baju. Saya sangat geram. Ingin saya telpon orang tersebut tapi dilarang oleh manajer saya. Karena dilarang, akhirnya saya tulis status tersebut. Kurang tepat memang, karena banyak juga musisi Bali yang tulus dukung BTR selama ini konser di Soundrenaline, dan mungkin karena bagi mereka Soundrenaline itu sebuah momen langka yang “mewah”, akhirnya mereka tak satu pun ada yang berani angkat tema BTR di atas panggung. Tapi saya mengerti pilihan sikap mereka. Tak semua orang punya nyali atau nalar yang sama. Selama mereka masih satu suara mendukung BTR, dan tetap menyuarakannya—meski tidak di semua event—saya rasa itu yang terpenting.
Ada banyak juga musisi lain yang mendapat stigma “musisi berlagak aktivis demi brand dan jualan”. Bagaimana pendapat Jerinx?

Menarik. Okelah, kalau musisi macam Nugie, Noah yang sebatas jadi ‘aktivis’ tanam mangrove itu saya yakin memang untuk pencitraan. Aktivis main aman. I mean, siapa sih yang akan memusuhimu kalau aksimu hanya tanam pohon? Semua pihak, termasuk penguasa rakus juga akan senang dengan aksimu. Apalagi seperti Noah yang aksi tanam mangrove-nya di-organize oleh pihak pro reklamasi Teluk Benoa. Nah, beda lagi levelnya kalau jadi aktivis yang melawan korporat besar perusak alam. Di level ini Anda sudah tidak berdagang lagi karena dengan adanya aktivisme model ini, pasti akan ada pihak yang merasa kepentingannya terancam. Potensi intimidasi dan tekanan pun ada. Dan ingat, kekuatan dana pemodal itu luar biasa. Mereka bisa membunuh karirmu, atau ‘menciptakan’ situasi agar Anda tak lagi ‘melawan’ lagi—dijebak, dihilangkan, dan lain-lain. Jadi intinya, masyarakat harus lebih cerdas lagi menilai ‘aktivisme’ seorang seniman atau band itu sebatas mana. Hanya pencitraan semata atau memang tulus dari hati? Jujur, tiga tahun yang lalu saya dihubungi pihak pro reklamasi. SID diminta menjadi duta mangrove mereka. Dan saya yakin jika tawaran tersebut saya iyakan, karir kami akan tambah lancar. Setidaknya dua-tiga milyar pasti turun, tur keluar negeri tanpa ada yang mengundang pun pasti lancar. Dan kalau SID sudah tidak dalam kondisi perang dengan ‘taipan’ sekaliber Tommy Winata—bos PT TWBI yang akan mereklamasi Teluk Benoa—kami yakin pasti banyak korporat besar—telco, rokok, motor dan lain-lain—tertarik menjadikan SID sebagai ikon brand mereka. Dan hal itu tidak terjadi karena apa? Ya karena para ‘taipan’ pemilik korporat-korporat itu semua pasti saling kenal lah. Ada semacam kode etik tak tertulis diantara mereka. Padahal SID kurang apa coba? Fanbase kami banyak dan sangat militan, rupa kami bisa diadu, lagu-lagu populer kami ada isinya. (tertawa) Maaf ya sombong sedikit. But thats the truth, so suck it!

Anda memang seperti akrab dengan kepemilikan musuh yang tiada habisnya.

Namanya punk rocker kalau kemana-mana tebar senyum, sopan, rajin ke salon dan ramah ya lebih baik jadi pemain sinetron aja mas. (tertawa) Punk suppose to be a threat! Mungkin karena gestur dan gaya bicara saya yang terkesan arogan itu pemicunya. Tapi deep down inside saya tahu siapa diri saya. Saya bukan orang jahat. Saya ‘ngawur’ karena benar—quote-nya Mbah Sudjiwo Tejo kalau enggak salah. Dan karena dua rekan saya di SID gesturnya dan gaya bicaranya lebih kalem, ya otomatis para musuh lebih fokus ke saya lah (tertawa). Yang paling memorable mungkin di Jogja, saat isu ada tato “Fuck Java” di tubuh saya sedang masif-masifnya. SID konser di sebuah venue kecil, di belakang saya ada pria tinggi besar penuh tato menantang saya duel. Saya bilang ke dia, “Oke, nanti setelah SID selesai konser kamu cek badan saya, ada apa tidak tato tersebut. Kalau ada silakan kamu hajar saya, tapi kalau tato tersebut tidak ada, boleh saya hajar kamu?”. Selepas konser saya cari dia, tak berbaju, ia perhatikan tato saya satu persatu. Dan karena memang enggak ada tato yang ia cari, dia malah jadi bersikap baik ke saya. Besoknya saya main ke distro miliknya—maaf saya lupa nama orang tersebut. Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, dia telpon saya dari dalam penjara. Kena kasus ganja. Well, saya enggak perlu hajar dia. Semesta yang melakukannya.
Salah satunya. tahun lalu Anda menerima penghargaan dari Sri Sultan HB X yang juga berakhir memicu kontroversi.

WALHI Nasional sudah mengklarifikasi hal tersebut di fanpage mereka. Intinya, itu semua salah paham. Penghargaan tersebut bukan dari Sri Sultan kepada saya. Itu adalah penghargaan dari WALHI kepada saya, yang kebetulan Sri Sultan ditugaskan menyerahkannya kepada saya di atas panggung. Saya juga baru tahu jika Sultan yang akan serahkan penghargaan beberapa saat sebelum dipanggil ke atas panggung. Agenda utama saya datang di acara tersebut adalah untuk bertemu Jokowi—yang kabarnya akan datang, namun mendadak batal—dan menyerahkan berkas kasus Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Jadi, fokus saya saat itu bukan pada Sri Sultan. Siapapun yang ada di posisi saya saat itu pasti akan paham apa yang saya rasakan.
Banyak  pihak menyebut SID sebagai suksesor Iwan Fals dan Slank. Pendengar langsung era Iwan Fals dan Slank adalah generasi pemuda yang kemudian sukses menjatuhkan Orde Baru. Sementara kini pendengar SID juga tengah berupaya mewujudkan perubahan besar dengan menuntaskan perjuangan tolak reklamasi Bali. Bagaimana Anda melihatnya?

Saya bisa mengerti kenapa publik punya persepsi itu, benang merahnya adalah kami—Fals, Slank, SID—punya common enemy, yaitu mindset orba. Meski orde baru sudah “tumbang”, jaman sudah berubah, dan lain-lain, tapi mindset orba masih banyak tertanam subur di kepala generasi muda, baik itu mereka menyadarinya atau tidak. Nah, proyek reklamasi Teluk Benoa ini sangat pekat diwarnai dan di-organize dengan pola yang sangat orba: penipuan publik, intimidasi, teror, pembungkaman, manipulasi media, fitnah, mengadu domba sipil, memakai polisi atau tentara sebagai hamba investor dan lain-lain. Jadi bisa dibilang proyek reklamasi Teluk Benoa ini adalah manifestasi perpanjangan tangan orde baru dalam konteks lokal. Dan jika—semoga semesta merestui—SID dan rakyat Bali mampu gagalkan proyek ini, impact-nya akan besar sekali. Sekarang saja sudah terasa, warga-warga di luar Bali yang SDA-nya dieksploitasi pemodal atau penguasa rakus mulai banyak yang berani melawan. Lihat kasus Salim Kancil kemarin. Kejahatan ekologi sebagai salah satu manifestasi Orde Baru terjadi hampir di seluruh NKRI. Anda pikir Syahrini bisa beli Lamborghini hanya karena menyanyi? (Tertawa) Kiddin! Nah, jika Bali berhasil gagalkan reklamasi, itu akan menjadi sejarah baru bagi dunia perlawanan terhadap pemodal atau penguasa rakus di Indonesia. Dan saya yakin hal itu sangat ditakutkan oleh penguasa atau pemodal yang masih memakai etos kerja orba dalam agendanya. Mindset orba itu mindset pengecut, jauh dari sikap ksatria serta berfikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang atau kekerasan. Tapi individu-individu dengan pola pikir orba biasanya terlihat santun, dewasa, baik terhadap semua orang dan mencoba agar disukai oleh semua orang. Licik adalah kunci.

photo(3)

Beberapa kali Jerinx kedapatan mengkritisi Outsider. Apakah basis penggemar SID yang mayoritas remaja kemudian mendorong SID menjalankan konsep mendidik penggemar?

Inilah konsekuensi jika Anda memiliki band yang ‘akhirnya’ punya ‘hits’ besar setelah jungkir balik di dunia bawah tanah sejak 1995. Para fans yang mengaku Outsider atau Lady Rose saat ini mayoritas baru tahu SID sejak 2009. Itu pun karena hit “Jika Kami Bersama” yang liriknya ditulis Heru Shaggydog serta masifnya berita Vans Warped Tour sebelas kota di Amerika yang dilakoni SID saat itu. Nah, beberapa Outsider atau Lady Rose baru ini masih belum bisa membedakan SID dengan band-band Indonesia lain—yang  kebanyakan hanya jual tampang, bernyanyi tentang selingkuh, enggak mau terlibat dalam movement-movement di luar musik dan diem aja merchandise-nya dibajak—hingga  cara mereka ‘memperlakukan’ SID juga disamakan dengan cara mereka memperlakukan band-band ‘aman’ tersebut. Mereka pikir hanya karena saya drummer, peran saya enggak sebesar rekan saya yang lain. Dan sebagai drummer, saya seperti dituntut untuk diam dan main drum saja. I mean, fuck you. Saya yang menamakan band ini SID, saya yang memberi nama ‘Kool’ dan ‘Rock’ pada rekan saya. Saya menulis puluhan lagu dan lirik serta merancang tur luar negeri serta movement-movement sosial SID, dan saya disuruh diam? Itulah yang membuat saya merasa perlu banyak bicara. Jangan perlakukan SID seperti Noah atau apalah. Yang kami jual bukan tampang tapi hal-hal yang lebih besar dari itu. Saya terus terang muak melihat fans SID yang menyukai SID karena alasan-alasan superfisial (ganteng, macho dan lain-lain) tapi enggak paham lirik atau perjuangan SID. We are much fukkin bigger than tatttoos and pretty fukkin faces!

Langsung dari empunya, tolong diceritakan tentang lagu “Lady Rose”, dan kenapa ia harus selalu ada di repertoar standar konser SID?

Tidak harus selalu ada sih. Di beberapa konser kadang lagu tersebut tak saya bawakan tapi kebanyakan memang sering dibawakan. Saya menulis lagu ini bersama pasangan saya saat itu (2005) dan liriknya tentang dia. Yang menarik dari lagu ini adalah, karena  ia lagu cinta dan makna cinta itu luas, maka saat live saya bisa dedikasikan kepada apapun yang dilandasi cinta: perlawanan, kesetaraan, keadilan untuk alam dan seterusnya. Lingkupnya bisa luas, sesuai dengan isu apa yang sedang relevan saat itu. Pada saat bawakan lagu tersebut live adalah kesempatan saya untuk mengeluarkan apapun yang membuat tidur saya tak nyenyak, sembari berharap agar mantra saya bisa membuka pola pikir baru di kepala para Outsider dan Lady Rose. Maklum, sebagai drummer kesempatan saya berbicara di stage cenderung terbatas, maka saat bernyanyilah saya gunakan waktu itu sebaik-baiknya.

Terakhir, Apa buku yang menginspirasi Anda?

Beberapa buku Tan Malaka, Wiji Thukul dan Pramoedya. Buku tentang konspirasi dunianya Noam Chomsky. Seri dokumentar Zeitgeist dan lain-lain. Saya juga sangat terinspirasi oleh lirik-lirik band band kesukaan saya serta puisi-puisi jalanan yang memiliki nuansa rebel dan romansa yang imbang. Saya mencintai tulisan yang terdengar cantik serta gagah di saat yang bersamaan. Jika saya terlahir sebagai buku, saya mungkin akan menjadi buku gay pertama di dunia (tertawa)
#Sarapanmusik?

Banyak, akhir-akhir ini saya banyak mendengarkan Against Me!, their new album is brilliant!. Jonny Two Bags, Lucero, Bruce Springsteen, Gaslight Anthem, dan tentu saja beberapa timeless bands yang masih saya dengarkan sejak 90-an: Social Distortion, Bad Religion and Rancid.

Photos Credit: Fanspage FB JRX

 

Tags : Interviewinterview jerinxsuperman is deadwawancara jerinx
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response