close

Wawancara Kartika Jahja, Dinda Advena, Milla Deva & Nisa Rizkiana (Kolektif Betina)

IMG_9943
IMG_9993
Kolektif Betina

Lanjutan dari Interview Kolektif Betina (part 1)

Menanggapi fakta kalau perempuan sendiri adalah agen transfer maskulinitas; entah dalam bentuk didikan pada anak selaku seorang ibu, sampai sesama wanita yang merendahkan wanita lainnya: contohnya gerakan menutup aurat, bukankah hal di atas menciptakan atmosfer bahwa kesetaraan gender merupakan angan-angan utopis di tengah masyarakat dan budaya patriarki sini?

M: Secara historis wacana feminisme di Indonesia memang belum mengakar. Kita mungkin bisa lihat dari Gerwani. Sebagai kelompok perempuan yang menurutku feminis. Mereka bikin banyak program kerja yang memang esensial, krusial waktu itu, dan paham betul situasinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa waktu itu di Indonesia wacana gerakan kiri sangat masif, sehingga perempuan ini merasa setara dengan laki-laki, mereka punya hak untuk bekerja produktif di luar rumah. Gerwani sendiri memang tak lepas dari pengaruh sosialisme saat itu. Dari situ mereka merasa terpanggil dan akhirnya membuat wadah yang menurutku sangat progresif pada zamannya dan bahkan belum ada yang bisa menyamai progresivitas mereka sampai sekarang. Kalau pakai konteks sekarang, feminisme sendiri banyak mahzabnya. Bagiku feminisme bukan sesuatu yang utopis di Indonesia selama kita mau membawanya ke level yang lebih intens. Tapi konsekuensinya, tantangannya akan lebih besar pula.

N: Mungkin terdengar utopis karena kita tinggal di negara yang kacrut, dan diperburuk dengan sekelompok perempuan yang justru mengamini ketika mereka ditindas. Terdengar utopis karena kita hidup di sistem yang kacau. Kalau sistemnya oke, maka keadannya akan beda, dan ini bukan hal yang utopis tapi realistis-realistis saja.

D: Dan aku paling sebal sih kalau ada orang ngomong, “ya itu kodratmu seperti itu…”

K: Kodrat is a dirty word (tertawa). Kalau buat aku bukan utopis, tapi justru dengan keadaan budaya dan kondisi sosial kita yang seperti ini, yang makin patriarki, makin konservatif, gerakan perempuan dan feminisme justru jadi jauh lebih relevan. Karena di tempat-tempat seperti Indonesia lah kita justru sangat dibutuhkan suaranya. Kecil nggak apa-apa, asal keras. Let’s be as loud as we can.

Dulu gue seksis kok. Mengadopsi nilai-nilai maskulinitas yang berbahaya karena gue merasa sebagai perempuan yang gue butuhkan untuk survive adalah dengan jadi one of the boys. Tapi terus gue dengar feminisme, tentang isu-isu perempuan. Sampai akhirnya gue ada di sini sekarang, ngobrol kayak gini. Jadi semakin banyak represinya, justru semakin keras suara-suara kita harus terdengar.

IMG_9959
Kolektif Betina

Sebagai perempuan yang berkarya, ada sebuah anggapan: kalau perempuan bikin sesuatu akan lebih mudah diterima khalayak, lebih mudah dapat eksposure. Apakah itu sebuah keuntungan?

N: Keuntungan yang paradoks karena akupun mengalami itu. Bukan karya duluan yang dilihat, tapi fisik dulu. Itu pujian tapi malah kasar. Dan kemudian itu jadi paradoks ketika seorang perempuan itu menjadi pihak yang mendapat privilege, tapi di saat yang sama dia menjadi pihak yang lebih mudah untuk direpresi. Aku nggak bisa melihat itu sebagai sepenuhnya keuntungan karena kalau aku melihat itu sebagai keuntungan, nggak nyaman juga.

D: Kalau dari motret, aku nggak pengen orang melihat aku sebagai fotografer cewek. Aku lebih menghargai kalau orang ngomong: Dinda ini fotografer panggung. Jadi buat aku kalau orang-orang melihat aku sebagai perempuan, itu pujian yang nylekit. Aku juga sempet ada pameran di MES 56, kebetulan dari lima orang seniman perempuan. Sempat dengar celetukan-celetukan pengunjung, “ada pameran bagus tuh, cewek-cewek semua soalnya.” Pameran bagus, karena cewek-cewek semua, maksudnya gimana? Yang jadi daya tarik di pameran ini adalah karena perempuan semua, padahal yang aku lihat karya-karya yang dibawakan justru nggak melulu mengenai perempuan. Menurutku nggak selalu harus perempuan yang jadi daya tariknya. Itu malah ejekan sih buat aku.

K: Di tempat gue bekerja masih ada nilai-nilai seperti, “lo akan mendapatkan keuntungan sebagai musisi perempuan, apabila mempunyai atribut-atribut fisik sesuai dengan standar kecantikan yang berlaku.” Sementara gue tidak masuk ke dalam lorong itu. Gue merasa harus struggle lebih berat dibanding teman laki-laki. Gue kalau di panggung suka loncat-loncat, karena gue nggak mengadopsi nilai-nilai feminin yang diberlakukan oleh masyarakat, maka jadi nggak menguntungkan. Tetapi pun misalnya gue ada di lorong itu, istilah fotografer cantik atau ilustrator cantik adalah pisau bermata dua. Jadinya malah dinilai secara fisik melulu, bukan dari karya-karyanya kita.

Tapi di lain sisi gue nggak keberatan memakai atribut perempuan. Karena memang perempuan masih butuh boost di dunia kreatif kita. Jadi nggak apa-apa sih kalau ada pameran khusus seniman perempuan. Selama yang dinilai lebih dahulu tetap karyanya, bukan gendernya. Balik ke masalah privilege, aku sendiri nggak pernah mengalami hal itu. Yang ada, waktu mau sign label malah dibilang, “bisa nggak naikin berat badan 15 kilo dalam waktu sebulan karena aku harus marketing kamu sebagai penyanyi gendut. Kalau kamu neither penyanyi hot atau penyanyi gendut, badanmu sekarang tanggung.” Untungnya gue nggak jadi sign sama mereka. Independen saja. Kayak gitu tuh yang masih berlaku dalam industri sekarang.

M: Pengalamanku dari bikin zine misalnya. Beberapa orang bilang, “wah ternyata ada cewek yang bisa nulis kayak gini, nulis dengan bahasa ini,” terus aku bilang, “loh kamu baru tau kalau cewek bisa nulis?”

K: Beberapa waktu lalu temenku manggung, dia drummer perempuan, dan ngedrumnya juga jago banget. Baru dia turun dari panggung, dibilang sama MC-nya, “wah lo keren banget! Ngedrumnya nggak kayak cewek,” Bisa dikatakan punya privilege karena dia perempuan lantas dapet spotlight. Tapi di satu sisi, dia dibilang ngedrumnya nggak kayak cewek, which is itu adalah hinaan buat perempuan.

Beralih ke soal kekerasan seksual yang juga dibahas di acara Lady Fest, menurut Anda adil nggak sih track record sebagai seorang pelaku kejahatan seksual dipakai untuk memboikot seniman/akademisi terlepas dari karya/kontribusi yang mereka hasilkan?

K: Pelaku kekerasanan seksual dan seorang seniman itu dua hal berbeda. Bukan soal menimbang-nimbang karyanya seberapa bagusnya, tetap saja pelaku kekerasan seksual. Jangan dibawa-bawa lagi karyanya yang masih diapresiasi. Gue juga nggak bilang bahwa setelah terbukti melakukan pemerkosaan, maka karyanya jadi jelek. Tapi gue punya pilihan apakah mau tetep mendukung artis ini dengan karya-karyanya. Pada saat gue tahu kelakuannya gitu, gue memilih untuk nggak mau beli lagi, nggak mau dateng lagi ke pamerannya, nggak mau dukung lagi. Karena dengan gue mendukung karyanya berarti gue mendukung orang ini.

Gue cukup banyak melakukan pendampingan sosial untuk korban kekerasan seksual. Itu melulu yang aku denger, “tapi kan dia tokoh yang terpandang di masyarakat, tapi kan dia orang yang terpelajar, tapi kan dia bla bla bla.” Pembenaran-pembenaran yang dikasih ke pelaku adalah hal-hal yang nggak ada hubungannya dengan kekerasan seksual yang dilakukan. Perkara misalnya nanti penanganannya mau dibawa ke ranah hukum atau nggak, itu terserah pada keputusan penyintas. Balik lagi pada kita, masyarakat yang ada di sampingnya. Kita mau berdiri dimana? Kita mau melihat kejahatan seksualnya atau mau memberi pembenaran-pembenaran karena kita nilai orang itu hebat. Ah, orang hebat nggak memperkosa sih, menurut gue. Rapist is a rapist, no matter who you are. Jadi harus ditindak secara sama.

M: Menurutku tergantung dari apa yang dia lakukan berikutnya. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Selama masalah kekerasan seksual yang dilakukan belum ada finalisasi yang di dalamnya ada mekanisme di mana hak korban difasilitasi, atau ternyata pelaku masih mendapat kebebasan, dan belum ada inisiatif apapun, menurutku layak untuk diboikot.

Kecuali kalau dia menyatakan bahwa dirinya bersalah, setelah itu berniat untuk menindaklanjuti ini, menanggungjawabi apapun bentuknya, dan kemudian itu sampai di proses yang bener-bener sampai si penyintas mendapat powernya lagi. Mau lewat ranah hukum, atau dalam mekanisme yang lain, kalau itu (terjadi, red) dalam lingkungan kecil atau intimate violence, misalnya komunitas, keluarga. Nggak layak diboikot lah. Dengan pertimbangan bahwa jangan terulang lagi. Aku melihatnya kontekstual saja. Karena bagiku kita nggak bisa menciptakan cetak biru sementara kekerasan seksual itu spektrumnya luas. Maksudnya, untuk satu peristiwa solusinya bisa jadi beda dengan peristiwa lain. Bahkan nggak semuanya bisa dibawa ke ranah hukum.

Menurut kalian pendidikan seks sejak dini penting nggak? Dan sampai tahap mana itu pantas dibicarakan? Mengingat negara ini begitu sensitif terbebani predikat ketimurannya.

K: Selama kita berhubungan seks, mau di timur, barat, utara, selatan, dan punya hak-hak reproduksi, tetap harus ada pendidikan seks. Kebanyakan yang terjadi saat ini, mulai dari homofobia, sampai kekerasan seksual, terjadi karena kita gagap seksualitas. Nggak ngerti dengan seksualitas kita sendiri, nggak menghargai batasan-batasan orang lain, seksualitas orang lain. Tapi approachnya tentu akan berbeda-beda di setiap budaya. Saat masuk ke masyarakat yang berbeda, kita mikirnya mesti taktis. Gimana pendekatan kita terhadap komunitas tersebut, karena ada juga yang datang-datang menggurui. Bukannya mengedukasi malah ngajak berantem.

D: Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa edukasi itu penting, namanya juga edukasi. Cuma caranya seperti apa. Buat aku akan lebih sopan kalau dengan cara yang nggak terlalu serius. Menurutku Lady Fast ini merupakan salah satu cara yang bisa mengedukasi orang-orang, dan mereka tidak sadar kalau mereka sedang diedukasi. Secara nggak langsung mereka menambah wawasan dengan sendirinya tanpa tahu sebenarnya sedang diajari.

M: Pendidikan seks itu landasan utamanya. Kalau dari situ saja sudah beda persepsi, sama sekali nggak ngerti apa itu tentang seksualitas atau feminisme, ya nggak bisa kemana-mana.

N: Gimana kita mau memahami apa yang terjadi di dunia kalau kita nggak ngerti apa yang terjadi dengan tubuh kita sendiri?

Isu kebebasan berekspresi, tentang bagaimana perempuan berpakaian menjadi isu yang seksi. Berbeda dengan isu tentang buruh perempuan, perempuan di dunia kerja, sepertinya kurang dibahas. Kira-kira mengapa demikian? Lalu apa pendapat kalian tentang isu ini?

K: Balik lagi bagaimana media menyorotinya. Contohnya kemarin kita mengalami represi dan cepat banget beritanya beredar. Sementara yang terjadi pada kelompok yang lebih underprivileged pasti dicuekin gitu saja. Bagaimana media mengganggap mana berita yang dianggap menjual dan banyak sensasi juga, sih. Kebetulan karena penampilannya kita kayak gini, terus Lady Fast konsepnya kayak gitu, media pasti merasa, ”oh pasti readers gue suka nih.” Tapi itu salah karena semua isu penting. Aku juga sedih kadang-kadang ketika ada isu yang dianggap lebih seksi atau news-worthy.

N: Kita mesti memahami definisi ekspresi, dan menurut siapa: apa menurut media atau menurut pelaku yang mau ekspresikan diri mereka? Karena ekspresi artinya bisa luas, salah satunya adalah dengan menunjukkan identitas sebagai manusia yang utuh. Jadi bukan cuma soal cewek-cewek, bukan cuma soal musik-musikan, bukan cuma soal seni-senian, tapi hak asasi manusia. Teman-teman waria yang mau mengaji saja nggak boleh. Itu juga melanggar kebebasan seseorang untuk tumbuh sebagai manusia secara utuh. Itu hal yang serius. Ya settingan media saja, sih.

D: Mungkin itu (melabeli pakai isu kebebasan berekspresi-red) biar gampang dicerna saja, dengan menggunakan istilah itu lebih menjual.

M: Yang bisa ngomong soal kebebasan berekspresi itu kan yang perutnya sudah kenyang. Kalau masih harus kerja dengan jam kerja panjang, upah murah, ya itu belum prioritas. Padahal buruh perempuan ini adalah kelompok yang paling terepresi dan represinya pun berlapis, mereka mengalami represi kelas alias ekonomi, sekaligus represi gender dan seksual.

Ketika ngomongin sesuatu isu, aku selalu berfokus pada siapa yang paling terepresi dan siapa yang paling berdampak. Itu yang harus kita perhatikan kepentingannya dan harus kita dukung. Bukan berarti yang lainnya nggak didukung, tapi ini soal prioritas. Kalau yang soal buruh jarang diangkat, mungkin orang menganggap isu itu terlalu politis, atau kurang friendly. Pengennya bahas yang seru-seru saja kalau baca berita, nggak perlu yang mikir. Sebenarnya yang paling berperan di situ adalah media juga. Medianya punya kesadaran nggak? Berpihak nggak?

K: Setiap majalah atau media punya target pembaca, biasanya orang-orang yang sudah kenyang: punya waktu baca majalah, beli koran, dan lain-lain. Orang yang berada di kelas tersebut merasa bahwa isu-isu buruh bukan bagian dari realitanya. Jadi dilewatkan saja berita-berita kayak gitu. Tapi pada saat mereka melihat isu kebebasan berekspresi, misalnya Lady Fast diserang ormas, mereka relate dengan ini. Karena terjadi juga di lingkungannya. Media sosial juga sama, siapa yang menggunakan media sosial? Kadang kita coba mengangkat isu-isu tertentu yang dianggap nggak seksi ke permukaan tapi tetep saja, nggak ada yang dengerin, nggak ada yang mau ngebahas. Tapi kalau isu-isunya sensasional kayak gini, baru heboh banget.

IMG_9952
Milla Deva – Kartika Jahja – Dinda Advena – Annisa Riskiana

Interview by: Adya Nisita & Tomi Wibisoni

Transkrip: Unies & Rani

Photo: Huhum Hambilly

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response