close

Wawancara Puthut EA (Bagian 2)

puthut

Lanjutan dari -> Wawancara Puthut EA (Bagian 1)

Puthut EA Dok. Fb Puthut EA
Puthut EA Dok. Fb Puthut EA

Terkait tanggung jawab politik di Mojok, Anda pernah mengajukan permintaan maaf atas insiden dengan MUI.

Penulis di Mojok ini kan menulis berdasarkan apa yang mereka baca di media massa mainstream. Sialnya waktu itu media massa mainstream keliru melaporkan. Hampir semua media—saya sudah cek—keliru. Nah karena saya tahu itu keliru, ya Mojok harus tanggung jawab. Harus minta maaf. Itu kan yang saya sebut tanggung jawab politik. Bahwa media massa lain tidak melakukannya ya saya enggak tahu. Tapi itu bagus pelajarannya, hingga membuat kita lebih hati-hati. Kayak misalnya kemarin, kita hati-hati menulis Setya Novanto. Karena kita tahu ada tarik menarik banyak pihak yang berkepentingan. Kita enggak mau Mojok ikut menjadi spin dari rekayasa politik tertentu. Kita ambil angle-nya yang aman. Aman tapi tetap nakal.

Mojok selalu responsif dengan isu-isu terkini. Apakah ada isu tertentu yang diistimewakan dengan cara diikuti secara lebih intens atau justru cenderung dihindari?

Kalau isunya itu nanti sudah isu-isu elit, kita harus hati-hati. Kayak Setya Novanto dan Freeport itu sudah sangat elit. Freeport itu kan sudah dari dulu bermasalah tapi enggak ada solusinya. Kepentingan Freeport dan lain sebagainya kan tipis banyak saya tahu. Cuma kan saya enggak bisa menyimpulkan ini ada permainan apa sekarang. Jadi saya lebih hati-hati. Cuma isu-isu yang diterima publik tapi tidak berdasarkan rekayasa elit itu juga harus kita respons. Misalnya LGBT. Kepentingan elit enggak ada di situ. Tapi antar masyarakat sipil ada kepentingan yang berbeda. Sehingga saya harus memutuskan ini harus diberi wadah di Mojok. Supaya masyarakat tahu ada perbedaan-perbedaan pengertian atau perbedaan politis dalam melihat satu persoalan. Jadi pertukaran gagasan. Jadi saya agak senang kalau misalnya di Mojok itu ada satu tulisan, lalu ditanggapi penulis yang lain. Dinamis. Walau kita enggak bisa panjang-panjang. Satu tema itu maksimal saya batasi empat artikel. Tapi rata-rata satu tema ada dua artikel. Itu pun yang diterima publik ya. Kalau enggak ya biasanya cukup satu tulisan aja.

Lalu kemudian di Mojok itu dulu 80 persen hasil pemindaian dari media sosial. Jadi apa yang dipercakapkan oleh publik di media sosial kita pindai. Lalu misal hari ini ada lima tema, “Mana ini yang akan kita angkat?” Itu selalu begitu. Tapi satu tahun Mojok berjalan, kini hanya 50 persen. Jadi Mojok sudah tidak harus lagi mengikuti apa yang terjadi di media sosial. Mojok harus mengeluarkan karakternya sendiri. Kita akan mengeluarkan apa yang terjadi di media sosial, tapi sudah tidak di porsi yang besar. Jadi misal ada naskah yang bagus—tidak ada hubungannya dengan apa yang dipercakapkan di media sosial, dan itu Mojok banget—ya akan dikeluarkan. Kalau dulu biasanya enggak.

Ada situs Jakartabeat.net yang juga sempat naik daun dengan mengusung konsep tulisan kontribusi terbuka. Apa Anda melihat eksistensi Mojok kini mengalihkan pembaca-pembaca situs-situs semacam itu?

Saya kira bukan beralih ya. Kalau riset sederhana kami menyatakan bahwa pembaca seperti Jakartabeat itu tetap ada pembacanya, cuma mereka juga baca Mojok. Nah pembaca Mojok belum tentu baca Jakartabeat. Sama, Indoprogress juga seperti itu. Pembaca Indoprogress membaca Mojok. Tapi tidak semua pembaca Mojok membaca Indoprogress. Mojok lebih mudah diterima.

Apakah memang sudah waktunya kini media digital lebih memprioritaskan tulisan-tulisan pendek?

Kebetulan ini menjadi tema diskusi kita di tutup tahun. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah media itu mempengaruhi cara memproduksi dan mengonsumsi. Jawaban saya, iya. Ya gimana, Anda kan baca di gadget. Jadinya mau bacanya ya yang pendek-pendek. Tapi bukan berarti tulisan panjang tidak berguna. Tetap ada yang meminati. Tapi kan kita bicara soal umum. Sehingga kalau di Mojok ya kita batasin. Ya paling kita baca tiga menit-empat menit. Sambil main facebook sambil baca. Kalau saya percaya dengan itu. Ada perubahan cara orang memproduksi dan mengonsumsi. Di medium digital sudah seperti itu.

Saya kan dulu penulis cerpen. Menulis cerpen itu kan nggak ada batasannya. Pendeknya berapa, panjangnya berapa. Tapi karena koran memfasilitasi kita untuk menulis, kita jadi menulis di 800 kata sampai 1500 kata. Padahal secara teori, 500 kata juga bisa jadi cerpen. Dari 3000 sampai 8000 kata juga bisa. Tapi kalau saya menulis 8000 kata, siapa yang mau memuat? Nah otomatis itu jamak dilakukan di berbagai tempat di Indonesia berpuluh-puluh tahun sehingga mengasumsikan bahwa menulis cerpen ya seperti itu.

Ada persepsi bahwasanya kebanyakan penulis masih lebih menyukai tulisannya dimuat di media cetak daripada media digital. Apa Anda juga melihatnya seperti itu?

Itu hanya soal waktu. Saya kira perlahan akan banyak orang—dan ini sudah terjadi—lebih suka tulisannya dimuat di media-media alternatif seperti Mojok yang engagement sosialnya sangat tinggi. Kalau Anda menulis di Kompas, Anda nggak bisa mendapat respons yang sangat cepat dari pembaca. Tapi kalau anda menulis di Mojok, pasti segera tahu, baik di komentar atau media sosial. Dan itu nilai jual yang luar biasa di Mojok. Maka banyak sekali orang yang menginginkan untuk bisa menulis di Mojok. Bahkan sampai bilang enggak usah dibayar enggak apa-apa. Ya kita kan bukan masalah bayar enggak bayar. Tapi tulisan itu layak atau enggak.

Lantas apa yang membuat buku atau majalah seharusnya masih relevan di era kini?

Ya karena fisik. Tetap bedalah. Kalau saya tahu ada buku di Indonesia—aku enggak tahu kalau majalah, harus ada riset—sudah punya digital book, tapi buku fisiknya ada di toko buku, ya saya tetap beli. Jadi sifatnya enggak kanibal. Jadi hanya melengkapi aja. Kalau di koran itu agak beda ya. Saya dulu enggak pernah membayangkan berhenti langganan Kompas. Dan ternyata di tahun 2010 saya memutuskan berhenti. Karena semua sudah bisa saya dapatkan di Twitter.

Karena yang disajikan buku adalah kedalaman. Itu kenapa ia masih eksis.

Betul.

Kabarnya Anda akan bikin gerakan buku gratis?

Kalau Anda baca The Innovators (Walter Isaacson ­– red ), bagus ya. Itu penulisnya yang nulis biografinya (Albert) Einstein, saya lupa namanya. Yang hebat di dunia digital ini sebenarnya kolaborasi. Satu hal itu tumbuh karena ia disumbang oleh banyak orang untuk mengembangkan dan mematangkan itu. Makanya ideologi atau metode bekerjanya itu kolaborasi. Oleh karena itu, para pegiat dunia digital atau orang yang mengakrabi dunia digital seperti saya itu kan berhutang budi pada banyak hal. Pada masyarakat, penemu, dan inovator. Nah kalau kita punya gagasan-gagasan tertentu yang itu penting buat masyarakat, kita kumpulkan, terus kita berikan pada masyarakat lagi. Bentuknya digital. Kalau mau cetak ya kita cetakin, tapi harus beli. Kan itui beda ya? Harus mengganti ongkos cetaknya. Tapi tidak semua buku kita perlakukan seperti itu. Lebih ke buku-buku yang kita merasa penting dimiliki masyarakat luas.

Apakah termasuk buku Dunia Kali dan Kisah Sehari-Hari?

Dunia Kali dan Kisah Sehari-Hari lain. Dulu sempat saya berjanji dengan teman-teman Facebook kalau saya bikin buku kayak gini—pengalaman sehari-hari dengan Kali (Bisma Kalijaga, anak pertama Puthut – red)—saya akan bikin digital book-nya dan kalian bisa baca gratis. Karena kadang orang menulis itu kan terlalu berat. Nulis aja harus yang hebat. Kan enggak harus. Nulis yang sederhana-sederhana saja. Cerita sehari-hari pun sumber pengetahuan yang luar biasa dan orang sering lupa. Nah media sosial sebenarnya menangkap itu. Karena kan mereka ngomongin apa yang terjadi sehari-hari yang dulu sering dilupakan orang. Saya kira ini kekuatan media sosial dan kekuatan digital saat ini. Menemukan momentum dan media yang tepat. Ya Facebook, Twitter, Path, Instagram. Jarang sekali temanku yang menulis status-status itu harus membuka referensi dulu.

Bagaimana Anda melihat dunia perbukuan yang belakangan tengah melejit kembali?

Buku kalau di Indonesia umurnya masih panjang. Di Amerika sendiri juga enggak termakan oleh digital book. Yang termakan itu kan surat kabar.

Budaya baca naik. Apakah hal serupa kemudian juga terjadi di budaya tulis?

Budaya tulis makin bagus. Lihat status-status orang. Hanya persoalannya kan apakah mereka menganggap status mereka berharga? Penting atau enggak? Itu harus ditanamkan pada mereka bahwa statusmu itu penting. Kan orang suka meng-underestimate diri mereka sendiri. Bukan penulis, bukan intelektual, bukan pemikir, jadi status mereka tidak berguna. Oh salah. Mojok sebenarnya mau bilang bahwa itu penting. Jadi sering orang misleading, keliru melihat persoalan. Seakan produsen tulisan itu sedikit. Kalau Anda bilang buku, mungkin bisa kita perdebatkan. Tapi coba deh, lihat status Facebook, Twitter, blog. Itu perkembangannya luar biasa. Jadi apa yang dimaksud dengan produksi? Blog juga tulisan, bisa dikonsumsi, bisa didokumentasikan dan ditebarkan. Masalahnya menurut saya bukan di situ, tapi orang sadar nggak bahwa itu penting? Itu yang harus terus menerus ditanamkan. Orang jadi lebih punya pemikiran sendiri, tidak harus selalu membeo pemikiran orang lain. Lebih genuine ya. Ya walaupun rata-rata orang masih nulis satu-dua paragraf. Daripada dulu, orang nggak bisa menulis itu benar-benar enggak bisa menulis. Kalau sekarang kan anak muda enggak bisa menulis tetap bisa menulis.

Konteks tidak bisa menulisnya beda.

Iya. Karena teknologi membantu mereka. Sama lah kayak memotret. Kalau jaman saya orang mau belajar memotret harus sama orang kaya. Karena kamera mahal, film mahal. Kalau sekarang semua orang bisa jadi fotografer. Permasalahannya mereka sadar nggak kalau mereka fotografer dan potretan mereka bagus atau berguna? Memang ada masalah lain. Banjir bandang produksi. Sama kayak kita motret. Dulu karena pakai film kan, dari kepala kita sudah ngedit dulu karena film mahal. Kalau sekarang asal jepret tiba-tiba di dalam sudah ada seribu foto. Gimana Anda mengurasi ini? Malas, disimpan dulu. Lama-lama sudah ada ratusan ribu foto di situ. Itu persoalan. Sehingga harus ada kesadaran juga untuk mengedit pikiran dan produksi kita. Kalau kita sudah menganggap status Facebook itu penting, tahap selanjutnya adalah supaya itu tidak jadi sampah.

Apakah Anda juga melihat ada kecenderungan pada seniman, terutama penulis di Yogyakarta untuk merasa inferior dengan karyanya?

Aku enggak tahu kalau musisi. Tapi kalau penulis Jogja itu selalu superior. Mereka punya tempat tersendiri yang belum tergantikan sampai sekarang. Karena hampir seluruh penulis besar di Indonesia selalu punya hubungan dengan Jogja. Entah kuliah di Jogja atau apa. Kalau perupa setahuku juga superior. Iya dong, kalau lukisannya mahal pasti dari Jogja, walaupun kalau secara kualitas bisa diperdebatkan antara Jogja dan Bandung.

Siapa penulis muda yang menurut Anda perlu lebih diketahui orang saat ini?

Ada, tapi bukan orang Jogja. Namanya Shelly, dari Surabaya. Bagus, saya suka. Duh nama panjangnya saya lupa (Berdiri, memanggil kawan). Oh, Shellya Febriana Anindhita. Aku suka karena dia anak muda, nulisnya juga menunjukan lokalitasnya. Kenapa saya lebih suka Agus Mulyadi? Bukan cuma sekedar dia bisa menulis, tapi dia menunjukan diri sebagai orang Magelang. Nah, Jogja seharusnya juga punya yang begitu. Kan kita pernah punya Umar Kayam, kalau menulis sangat Jogja. Si Shelly ini menulis dengan gaya Surabaya-an, suka saya. Dan juga ada Dea Anugrah. Bagus banget. Cowok, adik kelasku di FIlsafat (UGM).

Banyak anak muda menganggap menulis tidak prospek sebagai sebuah profesi. Apa pendapat Anda?

Itu pilihan hidup ya. Pertama, apa yang kita cari? Harta atau kebahagiaan? (tertawa) Kalau saya sih suka menulis, menikmati menulis, dan percayalah menulis bisa hidup. Itu yang paling penting. Yang kedua, memang banyak penulis yang menganggap menulis bukan profesi. Susah kalau begitu. Itu hobi. Makanya kalau ada orang datang kepadaku mau belajar menulis, pertanyaan pertamanya itu: “Kamu mau menulis sebagai profesi atau hobi?” Itu hal yang berbeda. Kalau sebagai profesi berarti menulis itu jadi pegangan hidup. Asas profesionalitas harus kita pegang. Kalau menulis sebagai hobi ya suka-suka. Karena begitu kita ingin menjadi penulis profesional kan ada banyak hal yang harus kita pegang. Misalnya deadline, kualitas tulisan, dan lainnya harus kita tingkatkan terus. Kalau hobi kan cukup seperlunya.

Bagaimana seorang Phutut EA dalam menikmati musik?

(Terkikik) Selera musikku jelek. Aku dulu sama seperti anak muda yang lain lah, pengen jadi musisi. Mungkin karena gagal ya. Selera musikku enggak bagus. Referensi musikku enggak banyak. Aku dulu kalau suka musik ya paling cuma Slank, Iwan Fals. Kalau barat ya paling The Doors, Guns N’ Roses, Metallica.

Ketika aku menulis, enggak bisa dengar musik. Merokok aja enggak bisa. Enggak boleh ada distraksi. Mitos-mitos yang lain itu enggak kena di aku: harus merokok, ada kopi, ada musik. Aku malah harus hening, sepi, dan tidak boleh ada gangguan. Itu kalau menulis yang bagus ya. Kalau hanya tulis-tulisan sekedarnya dimana aja bisa. Kemudian, karena aku gaul sama anak-anak muda, jadi update. Ada temanku yang namanya Nuran Wibisono kan, jadi ngerti-lah musik. Dibikinin lah file musik untukku kalau di mobil untuk didengerin. Dari situlah aku tahu Silampukau, Frau, FSTVLST, dan lain-lain.

Sebagai penulis, apakah Anda punya atensi khusus ke departemen lirik dalam menikmati sebuah lagu?

Oh pasti. Dan kadang-kadang itu mengganggu. Kadang geli juga. Misalnya penggunaan kata “acuh”. “Acuh” itu artinya perhatian. Sering musisi menyanyi “mengacuhkanku” dianggap tidak memperhatikan. Ya enggak apa-apa sih, cuma terganggu aja. Masak enggak ada sih orang memperingatkan dari sekian industri itu. “Tatap matamu bagai busur panah (dari “Roman Picisan”-Dewa 19)” Loh busur kan yang begini? (memperagakan) Gimana? Harusnya anak panah, bukan busur panah. Banyak itu lagu-lagu yang aku terganggu karena liriknya. Dan karena itu aku enggak mau dengerin. Itulah kenapa aku suka Silampukau. Karena mereka punya kesadaran yang bagus untuk menghidupkan bahasa. Tidak harus puitis. Lirik lagu menurutku nggak harus puitis. Yang penting mewakili. Diksinya itu tepat untuk mewakili ekspresi orang. Tidak ada kekeliruan nalar di situ. Banyak itu yang ngaco. Sejak lagu “Di langit bulan benderang. Cahayanya sampai ke bintang (dari “Ambilkan Bulan Bu..” karya A.T Mahmud).” Loh, bulan kok cahayanya sampai ke bintang? Ya enggak dong. Masa anak kecil diajarin yang keliru-keliru begitu?

#Sarapanmusik

Saya enggak pernah mendengarkan lagu sehabis bangun tidur. Tapi ada cerita yang seru. Istriku kan sering mendengarkan lagu semenjak kami menikah. Kami beda jam tidur. Istriku bangun pagi, aku baru tidur pagi. Dia terus mengantarkan anak dan mengurus warung. Sehingga untuk menghidupkan suasana rumah, dia sering menyalakan radio. Kadang kalau kami jalan satu mobil dia juga menyalakan musik radio. Ada lagu bagus banget aku suka. Nah suatu ketika saat aku bangun tidur, denger lagu ini. Sudah kuincar lagu itu. “Ini lagu judulnya apa ini?” Aku lari, panik, langsung aku rekam. Aku kirim ke Nuran. “Nuran, ini lagu siapa?” Ternyata itu lagunya Virzha yang “Akulah Lelakimu” (tersenyum). Kalau sudah suka seperti itu, aku bisa denger berkali-kali. Sama juga Isyana Sarasvati. Saya ketemu temen-temen,”Ini ada lagu bagus banget. Yang nyanyi cewek, lagi ngetren. Lagunya siapa ya?” Langsung dicariin di Youtube sama mereka.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response