close

We The Fest 2015: It’s Summertime, Baby!

wtf
wtf
We The Fest

Musim panas telah tiba. Saatnya geliat tawa, raungan festival musik dan tegukan hangat bir menjadi aktor utama dalam pementasan ini. Waktunya untuk melepas penat lalu menggantikannya dengan nafas kebebasan duniawi. Melihat apa yang terjadi pada gelaran We The Fest sudah semestinya kita percaya bahwa kegembiraan pesta pora sudah termaktub di depan mata.

Menapaki usianya yang kedua, We The Fest semakin menancapkan jemari tajamnya sebagai salah satu festival musik (dan juga budaya) yang wajib dikunjungi saat libur panjang menghampiri. Ismaya Live selaku penyelenggara nampaknya paham betul bagaimana memanjakan para pembeli tiket agar senantiasa berada di fase “menikmati seutuhnya”.

Setelah di tahun pertama penyelenggaraan menghadirkan nama-nama tenar seperti Ellie Goulding, Azealia Banks, Banks, Miami Horror, SORE, sampai Maliq & d’Essentials, di gelaran kedua ini deretan pengisi acara yang datang pun semakin beragam. Ada Kimbra, Jessie Ware, Echosmith, Flight Facilities, Sheppard, Panama, Elephant Kind dan juga Neonomora. Meski berita batalnya Passion Pit bermain menghadirkan sendu kekecewaan, namun menyaksikan animo penonton yang begitu luar biasa dinamis kekecewaan tersebut terkubur dalam-dalam.

Tata letak panggung tak jauh berbeda pada tahun sebelumnya dimana terdapat dua buah panggung besar berwujud Clown Chella dan Banana Palooza. Kehadiran Art Plugged stage yang dikhususkan untuk musisi lokal dalam naungan label Demajors juga menambah semarak hajatan ini.

panama © Warningmagz
panama © Warningmagz

Acara dimulai pukul 14.00 ketika Elephant Kind menyapa deret penonton Banana Palooza yang baru saja berdatangan. Unit indie-rock dari ibukota ini membawakan sebagian besar lagu dari album perdana mereka yang menuai pujian; Scenarios: A Short Film by Elephant Kind. Terbukti nomor-nomor seperti “Oh Well”, “Downhill” dan “Scenario III” mampu memberikan energi lebih bagi para audiens.

Tidak lama berselang, L’Alphalpha mengokupasi panggung Banana Palooza. Dengan formasi lengkap mereka menyanyikan balada “Gema”, “Tarian”, “Reprise”, serta “Dementia” secara meyakinkan. Di area Clown Chella sudah bersiap jagoan soul tanah air, Teza Sumendra. Mengenakan kaos hitam tanpa lengan, Teza menghentak panggung utama mengandalkan irama funk-soul yang dibalut vokal seksinya lewat “I Want You, Love”, “Get Together” dan “Hang Up” selama enampuluh menit penampilan.

Masih di panggung Clown Chella sudah menunggu Neonomora untuk tampil di antrian selanjutnya. Memakai atribut serba hitam dan dibuka dengan pukulan tunggal gong Zildjian, suara gelapnya mengantarkan ke berbagai harmoni “Verge of Universe”, “Seeds”, “Demonds Gone” sampai “Republic 106”. Sejenak pindah dari kebisingan Clown Chella, di Art Plugged stage berdiri dara manis bernama Danilla Riyadi. Biduan berwajah kalem ini menjadi magnet bagi pengunjung yang mencari kesyahduan suasana. Tak pelak koor massal pun terdengar menggema tatkala “Buaian”, “Ada Di Sana” dan juga “Wahai Kau” dinyanyikan olehnya secara berurutan.

Menjelang petang area Clown Chella sudah sesak pengunjung karena salah satu bintang yang ditunggu tiba: Echosmith. Kelompok indie-pop asal California beranggotakan Sierota bersaudara (Sydney, Jamie, Noah, Graham) ini sukses menyuguhkan aksi yang maksimal. Vokal prima Sydney dan kekompakan Jamie-Noah-Graham dalam melantunkan pop bertenaga membuat penonton mengelu-elukan teriak “we want more” di akhir laga mereka.

Malam pun tiba. Arena We The Fest menjadi bukti kolaborasi totalitas deretan bintang dan kehebohan penonton. Di Clown Chella duo elektronik dari negeri Kanguru, Flight Facilities mampu menyihir seisi lapangan dengan melodi samplingnya yang memukau. Ditambah tata lampu yang megah secara visual menjadikan performa Hugo Gruzman dan James Lyell ini bertambah liar. Terlebih saat nomor “Crave You” diputar ke seluruh penjuru Clown Chella.

Kemeriahaan tak hanya terjadi di panggung utama. Di Banana Palooza gerombolan pop dari Brisbane, Sheppard, meneruskan tongkat estafet kegembiraan yang terpampang. Memainkan lagu-lagu andalan semacam “Geronimo”, “Something’s Missing”, “Find Someone” serta “Halfway to Hell”, Amy Sheppard dan Jay Bovino memimpin sesi ini tanpa kehilangan antusiasme sedikit pun. Kembali ke tanah utama, Jessie Ware melantunkan tembang “Running” sebagai salam pembuka darinya untuk Jakarta. Sejurus kemudian balada yang tak asing lagi di telinga fans pun ia bawakan penuh penghayatan; “Champaigne Kisses”, “Cruel”, “110%”, “Tough Love” dan “You & I Forever”. Sebuah romantisme yang modern.

cyril hahn © Warningmagz
cyril hahn © Warningmagz

We The Fest adalah manifestasi sempurna bagaimana musim panas diisi dengan kegiatan hiburan yang menyenangkan. Sajian festival musik sebagai fondasi utama mampu didukung secara baik oleh keberagaman lain yang nantinya membentuk satu spektrum rasa gemerlap pesta penyambutan. Akses venue yang mudah, tata pengelolaan festival yang terorganisir, hidangan kuliner yang beraneka rasa dan deretan artis berkualitas yang didatangkan pada akhirnya menuju satu kesan kesimpulan; tidak sabar untuk kembali di musim panas tahun depan. [Muhamad Faisal]

 © Warningmagz
© Warningmagz

foto-foto acara check di -> We The Fest 2015

Event by              :Ismaya Live

Place                     :Parkir Timur Senayan Jakarta

Date                      :Minggu, 9 Agustus 2015

Watchfull shot    :Buaian milik Danilla dan aksi panggung terbaik Flight Facilities

[yasr_overall_rating size=”small”]

Tags : we the fest
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.