close

We The Fest 2016: Menyematkan Gempita dan Gemuruh Pesta

The 1975 (2)
The 1975
The 1975

Semakin konsisten dalam menyajikan festival musik skala besar. Kandidat terbaik tahun ini dan beberapa tahun ke depan.

Pusat kota dan keramaian adalah dua hal yang tak bisa dilepaskan. Asap kendaraan yang menggelembung padat, bunyi klakson yang saling menerkam kesunyian, cahaya lampu pencakar langit yang membiaskan mata dan sumpah serapah para pejalan kaki yang mengutuk keadaan. Derap langkah kesibukan bergerak tanpa henti. Tak didera lelah, tak ditimpa resah. Berputar, berputar dan terus berputar searah jarum jam, meski kadang juga berlawanan dengan sumbu normal. Semua larut dalam bingkai keseimbangan. Tak terkecuali gelaran besar bertajuk We The Fest; yang tahun ini semakin menunjukkan tajinya sebagai salah satu festival terbesar di Indonesia.

Ismaya Live selaku pihak penyelenggara paham betul bagaimana merumuskan kiat jitu agar pelaksanaan festival juga menjadi ajang berkumpulnya segala sesuatu yang berkaitan dengan gaya hidup metropolitan. Selain mengadakan konser musik, beragam atraksi serta media untuk mewadahi kebutuhan akan fashion dan kuliner pun disediakan. Tak pelak, helatan yang mengambil tajuk A Summer Festival of Music, Art, Fashion & Food ini berhasil menghubungkan keterkaitan antara satu sub budaya dengan sub yang lain; sekaligus melebarkan sayap eksistensi bagi penegasan diri.

Semenjak diadakan pertama kali di tahun 2014, We The Fest berupaya untuk menangkap permintaan pasar dengan melakukan inovasi dan terobosan, terutama yang bersinggungan langsung dengan gairah anak muda masa kini. Tiga tahun berjalan nyatanya sudah cukup mengangkat popularitas We The Fest ke titik tertinggi. Usaha demi usaha dituntaskan untuk meningkatkan mutu dan standar pelaksanaan. Ada dua hal yang dapat dijadikan indikator. Pertama, pemilihan line up. Lalu yang kedua soal animo penonton. Apabila ditarik garis penghubung, kedua hal tersebut memang memiliki ketertarikan satu dan yang lain. Singkatnya seperti ini: pemilihan line up yang berkualitas secara otomatis menarik antusiasme penonton untuk datang. Formula sederhana yang menjadi pedoman Ismaya Live di setiap musimnya. Maka tak heran musisi-musisi dari luar konsisten dihadirkan pada gelaran sebelumnya seperti Echosmith, Panama, Passion Pit sampai Flight Facilities. Kemudian di umurnya yang ketiga, We The Fest menampilkan barisan tak kalah kelas semacam Purity Ring, Alina Banaz, Dream Koala, The Temper Trap, Mark Ronson, Macklemore & Ryan Lewis dan tentu saja The 1975. Menjadi saksi bahwa mereka tak sekedar umbar janji.

Tidak hanya menaikkan tingkat dari bintang tamu luar, We The Fest juga memberikan porsi banyak bagi musisi dalam negeri. Ini yang sebenarnya menarik atensi sekaligus apresiasi karena Ismaya Live berani menyediakan ruang kepada musisi alternatif untuk menunjukkan bakat dan talentanya. Tak tanggung-tanggung, 21 band/musisi lokal diajak berpartisipasi dalam memeriahkan helatan We The Fest 2016. Terdiri atas band yang sudah malang melintang maupun yang sedang mempromosikan kemunculan terbarunya dari beragam aliran dan kancah permusikan.

The Temper Trap
The Temper Trap

Edisi ketiga merupakan momentum We The Fest untuk memperpanjang durasi penyelenggaraan menjadi dua hari; sesuatu yang tidak dilakukan dalam edisi-edisi sebelumnya. Tujuannya jelas: mengakomodasi semua pelaku kepentingan, entah musisi atau penonton yang terlibat dalam festival ini. Penempatan panggung tidak mengalami perbedaan signifikan; terbagi atas tiga buah stage yakni We The Fest Stage, Another Stage dan This Stage Is B.A.N.A.N.A.S!!!. Tiap stage memiliki ciri khas masing-masing yang pastinya memberikan kesan dan pengalaman tertentu. Seperti halnya Another Stage yang khusus disediakan untuk penampilan musisi-musisi dalam negeri.

Halaman parkir timur Gelora Bung Karno sudah dijejali kerumunan massal. Tawa riang, celoteh hangat serta pikiran lepas yang berfokus pada pesta pora mendominasi tiap sudut kegilaan. Produk-produk fashion menjalar tak terkendali; memeriahkan pelataran yang memanjang kiri kanan. Bak arena catwalk yang berdiri tanpa barikade dan sekat. Budaya modernitas melebur jadi satu kesatuan utuh. Meyakinkan status sosial golongan urban yang kian menjamur. Dentuman elektronik memacu adrenalin secara masif; menemani khalayak sebelum pementasan utama dimulai. Semua menggelora, semua bergembira.

Trees & Wild
Trees & Wild

Dalam menyaksikan sebuah festival diperlukan strategi tersendiri agar dapat menikmati sajian musik secara seksama. Di tengah berjubelnya artis yang terdaftar, perlu manajemen jadwal untuk memastikan bahwa keberlangsungan acara akan berjalan baik-baik saja. Termasuk dalam We The Fest ini. Banyaknya musisi yang tampil memaksa saya, mau tidak mau, suka tidak suka, untuk memindai penuh perhitungan; karena nampak mustahil apabila membabat habis keseluruhan penampilan dari panggung satu ke panggung lainnya.

Turunnya hujan menjadi momok utama bagi pelaksanaan We The Fest selama dua hari berturut. Memang dapat diprediksi karena matahari nampak malu untuk memunculkan sinarnya. Selepas sore, keadaan semakin tak bisa dibendung yang berimbas tutupnya Another Stage. Alhasil kesempatan untuk melihat Monkey To Millionaire, Indische Party, Abenk Alter, Beeswax sampai Four Twnty gagal terwujud seketika.

George Maple
George Maple

We The Fest memberikan pengalaman audio visual yang menyenangkan. Tidak terpaku pada satu macam genre saja, namun juga melepaskan serangan dari genre lain yang variatif. Polka Wars dan Sajama Cut memberi pandangan alternatif yang membuai. Tampil dengan kondisi prima, mereka mengguncang panggung dengan komposisi sarat bebunyian luar angkasa serta efek delay elektrik yang memikat. Lalu ada Silampukau yang menyampaikan pesan kritik sosialnya secara intim; menghilangkan praduga apatis dan pesimistis tentang moralitas sehari-hari. Homogenic menawarkan gebrakan elektro yang memicu panasnya altar panggung utama; “Today Forever” sampai “Memories That Last A Dream” disuguhkan penuh letupan. Sedangkan Adhitia Sofyan melantunkan tembang-tembang melankolianya; menyayat perasaan dalam balut fiksi tak terduga dalam “Adelaide Sky” maupun “Staring This Feeling”. Dua band besar tampil memeriahkan memori nostalgia: Naif dan Sheila On 7. Memicu lautan nyanyian megah lewat “Piknik ‘72” sampai “Pejantan Tangguh”. Kemudian Kelompok Penerbang Roket meneriakan distorsi rock kasar melalui “Mati Muda” juga “Dimana Merdeka”, Kimokal serta Barasuara tak kalah intens dalam menyuguhkan performa yang maksimal. Terutama Barasuara yang menonjolkan keindahan “Lentera Api” serta “Sendu Melagu”. Akan tetapi kekecewaan sempat melanda tatkala The Trees and The Wild tidak menyuguhkan aksi impresif karena peralatan sound yang sempat terkendala akibat derasnya hujan. Meski demikian mereka tak mengendurkan deru post “Saija” dan “Empati Tamako” sedikit pun. Di sisi lain, penampil dari luar berhasil menarik minat penonton untuk berpesta pora tanpa henti. Dream Koala yang impulsif dengan deru noise ganjil saat mengokupasi “Odyssey”, Alina Baraz yang bernyanyi konseptual lewat komposisi “Drift” serta “Make You Feel”, atau George Maple yang berimprovisasi dengan “Talk Talk” tanpa ragu. Oh, jangan lupakan juga geliat Ta-Ku yang menggoda iman dengan “Gravel Pit”.

Tiga penampil utama bisa dibilang berhasil membuat keramaian penonton semakin menjadi-jadi. The Temper Trap datang membawa amunisi dari album Thick as Thieves yang baru saja rilis ke pasaran. Alunan suara Dougy Mandagi memecah keheningan sekaligus mengawang ke angkasa Jakarta yang terlukis pekat. Ketika “Sweet Disposition” dan “Love Together” dimainkan seketika gema berskala masif menyeruak ke atas lantai pertemuan. Tak ketinggalan pula “The Sea Is Calling” serta “Fall Together” ditiupkan agar malam semakin layak dinikmati secara elegan. Meski saya tidak terlalu memberikan perhatian lebih kepada Macklemore & Ryan Lewis, akan tetapi apa yang mereka tunjukan di panggung merupakan pemandangan memukau. Kombinasi beat hip-hop yang kadang terdengar ganjil namun seksi bahkan sesekali memacu keliaran, ketukan konstan yang memaksa untuk bergoyang serta tembakan layar yang membentuk guratan Michael Jackson adalah daya tarik eksepsional. Mungkin setelah ini saya akan jatuh hati pada “Thrift Shop”, “Can’t Hold Us” juga “Downtown” seperti apa yang sudah mereka perlihatkan sewaktu We The Fest berlangsung. Sedangkan The 1975 tak ingin tertinggal di belakang. Tiga instalasi disiapkan secara bergantian; menyesuaikan kehendak sang bintang dalam memantulkan kharisma permainan. Mengenakan setelan kaos berwarna gelap, Matthew Haley beraksi seperti biasanya; ekspresif penuh penghayatan. Ia tak sedikit pun kehilangan momentum supaya “Somebody Else”, “Heart”, “Sex” sampai “The Sound” terus bercahaya membius telinga; yang membuat We The Fest 2016 semakin sulit hilang dalam pikiran. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Event by: Ismaya Live

Venue: Parkir Timur Gelora Bung Karno

Date: 13-14 Agustus 2016

Man of the Match: Koor massal Naif saat membawakan “Jikalau”, eksplorasi noise Dream Koala serta instalasi elektrik George Maple yang memukau

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery: We The Fest 2016 (Day 1) & We The Fest 2016 (Day 2)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response