close

Whatever Happened Is Rock And Roll

url

urlLewat kilas visual  logo dan nama band-nya saja mungkin kita sudah dapat sedikit menerka ‘apa’ dan ‘bagaimana’ tentang Black Rebel Motorcycle Club (BRMC). Klub motor, berontak, dan rock and roll. Berarti pilihan ‘dimana’ nya hanya satu : Kota Bandung.

Digelar pada Minggu (01/12), setidaknya tiga kali saya mendapati pertanyaan “Dago Tea House itu dimana ya?”, ketika sedang dalam perjalanan menuju kesana. Letak Dago Tea House sebagai venue konser BRMC malam itu memang tak berada di pinggir jalan besar, sehingga sedikit sukar ditemukan. Saya yang pada dasarnya juga belum pernah berkunjung kesana pun sebelumnya sempat bertanya pada seseorang dengan jawaban “Ini lurus terus aja Mas, nggak usah belak-belok, nanti kan ada banyak motor-motor parkir, sama banyak orang pakai baju item”. Tak sampai sepuluh menit kemudian, saya bersyukur menemukan kebenaran dalam sahutnya. Karena tanpa pemberitahuan, mungkin saya bisa mengira kerumunan itu sebagai upacara pemakaman Lou Reed.

Kenapa Lou Reed? Selain karena ketiadaannya masih membayang, Lou Reed bersama Velvet Underground adalah salah satu motor inspirasi BMRC. Garage–psychedelic-rock and roll hingga begitu kerennya jaket kulit hitam, ada diantara catatan ‘kebaikan’ Lou Reed di masa hidupnya dan catatan ‘kebaikan’ yang dicari penonton pada penampilan perdana BRMC di Indonesia. Harga tiket yang hampir setengah juta pun bukan urusan pelik, mengingat penggemar BRMC memang tak sembarang, namun loyal, terutama di Kota Bandung.

Kali ini pun 3Hundred kembali menciptakan penyelenggaraan show yang jitu. Sebut saja Dago Tea House, sebagai venue yang dipilih, bukanlah semacam hall raksasa, namun hanya semacam indoor theatre dengan sentuhan elegan. Karena bersama ketepatan prediksi jumlah penonton yang tak kan terlalu membludak, ruang itu akhirnya justru menjadi sangat ideal. Terasa penuh tanpa berdesak-desak, dan tetap intim. Lantai kayu yang berundak-undak (atau tribun?) juga membuat penonton yang berdiri dibelakang dapat melihat stage secara leluasa. Selain venue, aspek stage lighting juga sangat ideal. Hanya dominasi sorot emas berkelambu asap dan berurai kegelapan, yang semakin mengukuhkan citra ‘cool’ band dari BRMC.

Cool’ bagi BRMC tak hanya dialihbahasakan sebagai ‘keren’, namun juga ‘dingin’. Sejak mengawali dengan “Let The Day Begin” (lagu cover dari The Call, band almarhum ayah Robert Been Devon [Bass,vokal]), BRMC tak banyak buang sapa. Yang banyak bicara adalah Sound gahar maksimal dari Gibson ES Peter Hayes, dan Robert Been dengan hollow nya yang melanggar batasan antara tone bass dan gitar. Hayes dan Devon bahkan sempat bertukar instrumen pada “Returning”.  Sementara beat-beat statis dari drummer Lean Shapiro mengingatkan pada sosok Meg White.

Adanya undak-undakan jelas tidak mengijinkan adanya moshpit layaknya tipikal konser musik keras. Guncangan kecil hanya terjadi setiap Robert turun ke depan barikade pada “Berlin”, dan “Love Burns”. Namun seperti konser-konser BRMC yang biasa kita saksikan di video sebelumnya, adu fisik bukan favorit penonton untuk menuntaskan eargasm mereka. Dengan beat medium, distorsilah biang kerok yang diam-diam menelusup dan berhuru-hara di telinga hingga mengadu laga detak jantung. Maka dari itu meski seolah hanya berdiri, penonton tampak berkelahi sengit dengan galaknya “Beat The Devil’s Tattoo”, “Hate The Taste”, atau “Stop” di batin mereka.

Intensitas sempat memudar pada nomor “Lullaby”, “In Like The Rose”, sebelum aih, satu paragraf diatas tak lagi valid ketika Robert Loven membuat ulah pada “Six barrel Shotgun”.  Ia turun panggung, dan bersama muka ‘fuck you’ nya, ia mengenyahkan tali pembatas barikade. Sontak penonton yang seolah baru saja mendapat pembebasan atas kuasa rock and roll, langsung berhamburan merengsek ke persis depan stage, bahkan beberapa ‘ngelunjak’ dengan mencoba naik ke stage. Menanjaknya intimasi, intensitas, dan euforia penonton ini ditantang dengan “Spread Your Love” yang kali ini memaksa penonton melonjak-lonjak.

Sebagian penonton tampaknya juga telah menyelidiki setlist tur BRMC. Sehingga mereka sudah menebak encore set akustik dalam “Complicated Situation”, dan “Shuffle Your Feet”. Apalagi penonton sudah bersorak bahkan sebelum Robert mendesiskan “ I fell in love with a sweet sensation, I gave my heart to a simple chord , I gave my soul to a new religion”, mengarahkan moncong bass-nya pada penonton dan voila, “Whatever Happened To My Rock n Roll”. Single perdana BRMC itu bergejolak sebelum “Sell It” terjual sebagai nomor terakhir, dan malam itu, whatever happened is rock and roll [Warn!ng/Soni Triantoro]

 

Event by: 3Hundred

Date: 1 Desember 2013

Venue: Dago Tea House

Man of the match: Everything is cool, before barrier destruction make it hot.

Warning Level••••

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response