close

When Irish Drunken Meet Jamaican Dancer In Jogja

aIMG_9607
Celtic Punk vs Ska @ Tomora Cafe
Celtic Punk vs Ska @ Tomora Cafe

Apa yang terjadi jika aroma musik ceria Jamaica, dipadukan dengan semangat bersenang-senang Irlandia? Tentu saja, drunk and dancing all nite. Setidaknya seperti itulah gambaran ideal kombinasi musik ska dan celtic punk. Bertempat di Tomora café, perpaduan musik tersebut disajikan pada sabtu malam (04/05/13) tadi.

Mematok harga yang cukup murah, tak membuat pengunjung datang dengan cepat. The Barley Hops membuka lewat alunan irish punk tanpa drum. Nomor-nomor andalan dari Flogging Molly seperti “Drunken Lulabies” dan “Rebels OF The Sacred Heart” tersaji malam tadi. Namun semangat lagu maestro celtic punk ini hanya direspon beberapa penonton. Perform mereka dilanjutkan Social Hitam Putih. Penantian panjang dalam menyetel alat, dibayar unit ska ini dengan mengajak penonton untuk memerawani lantai dansa. Mereka juga sempat berkolaborasi dengan vokalis The Choopers di lagu “Where Are You Rude”.

Penampil selanjutnya, Skarockoi mengawali menyuguhkan alunan celtic punk dengan beat yang cepat. Sang vokalis terlihat membawa kertas berisi lirik sembari membawakan nomor-nomor dari Flogging Molly. Lantai dansa mulai panas ketika “Seven Deadly Sins” dikumandangkan, minimnya sound yang keluar dari banjo, tidak terlalu dihiraukan penonton.

Panggung dikembalikan ke ranah ska. The Choppers memulai perform dengan sambutan lantai dansa yang kosong. Beberapa penonton terlihat kelelahan, setelah sebelumnya dihajar Skarockoi. Baru ketika mereka menggubah nomor dari band skinhead kawakan, Cock Sparrer lantai dansa kembali terisi. Semangat pekerja di lagu “We’re Coming Back” berhasil dibawakan dengan ceria oleh The Choppers. Masih dengan Cock Sparrer, nomor “England Belongs To Me” diiubah menjadi “Jogja Belongs To Me”, Tak pelak, singalong pun terjadi di sepanjang lagu.

“lets go dirty, lets go dirty,” teriak beberapa penonton ketika Dirty Glass berada di panggung. Tampil tanpa vokalis utama, tak membuat mereka kehilangan soul celtic punk yang mereka usung. Puncak perform mereka ada ketika lagu “I’m Shipping Up To Boston” berkumandang. Satu nomor dari Dropkick Murphy tadi diaulat menjadi encore dari Dirty Glass, setelah sebelumnya membawakan “Love Song”. Hingga Dirty Glass selesai perform, MC tak henti-hentinya mengatakan “bagi yang menemukan HP Nokia 1200, mohon dikembalikan ke panitia.” Peringatan tadi secara terus menurus diumumkan selama jeda band.

Giliran Sri plecit mengambil alih panggung. Dibuka dengan satu nomor dari Hepcat Hell, “Dance With Me”, secara tersirat Sri Plecit mengajak penonton untuk memenuhi lantai dansa. Pesan tadi direspon beberapa penonton, yang terlihat hanyut berdansa. Penonton semakin merapat ketika lagu ‘kebangsaan’ kaum ska didendangkan, tak lain “A Messege To You Rudy” dari The Special. Mereka terus mengiringi dansa penonton lewat rentetan lagu “ Ska For Me And You”, Gubahan lagu dari USBC Allstar, “This One For you” dan ditutup lewat lagu andalan “Datanglah Kemari”.

Waktu menunjukan pukul 22:30, gigs dilanjutkan oleh salah satu pionir celtic punk di Jogja, yakni The Cloves And The Tobbacco(TCATT). Mereka menghasilkan sound-sound folk khas Irlandia dengan beat yang cepat. Singalong mulai terdengar keras saat “Railways”dibawakan. Sedangkan “Cornelist Street” didaulat menjadi encore. Lima lagu terasa cukup singkat bagi penonton, namun terlihat jelas, sang drummer sangat kelelahan, dan mereka pun sepakat mengakhiri perform.

“Jangan pulang dulu, setelah ini masih ada Oversight, Flogging Molly, Dropkick Murphy” ungkap MC, sembari memperingatkan kembali tentang handphone yang hilang. Oversight, band ska punk yang sudah jarang manggung ini, didaulat menjadi penutup acara. Mendapat musibah kehilangan handphone, tak membuat pusing sang vokalis untuk langsung menggeber panggung. Aroma Rancid sangat terasa kental di band ini, baik dari musik maupun gimmick sang vokalis. Dengan sedikit orasi, mereka membawakan “Run” dengan penuh semangat. Aroma pionir ska punk, Rancid semakin nyata ketika “Red Hot Moon” didendangkan. Alhasil moshpit kembali terisi, walaupun banyak penonton yang mulai meninggalkan venue, semangat pemabuk dan pedansa yang tersisa masih menyala.Beberapa penonton yang survive sampai acara selesai, berhasil merepresentasikan konsep yang diusung panitia; drunken and dancer show. [Warning/Tommy]

 

Event By: Komunitas Ska dan Celtic Punk Jogjakarta

Venue : Tomora Café

Date : 4 Mei 2013

Man Of The Match : Harmoni musik pemabuk Irlandia dengan alunan dansa Jamaica semakin menguatkan Jogja sebagai kota multikultur.

Rating : ●●●

 

Foto-foto gigs ini bisa diakses disini – > Celtic Punk Vs SKa 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response