close

Widelines Festival: Akhirnya Artis Menyelamatkan Panggung Masing-masing

9

Widelanes Music and Arts Festival, acara dengan nama yang sungguh mulia. Acara yang digelar tanggal 1 September 2018 di Livespace, Lot8 SCBD Jakarta ini hamper gagal dieksekusi oleh promotor. Dalam rilis yang dikeluarkan Harika Event, festival music ini yang mengusung tema utopia, dimana para pengunjung dapat merasakan euphoria melalui music dan seni. “Widelanes adalah tujuan tepat dari kehidupan sehari-hari yang jemu. Kalian akan menemukan sensasi yang megah dan imajinatif penuh kebahagiaan” demikian kutipan dari rilis media.

Sejak sore hanya separuh dari total vanue yang terisi oleh penonton. Tidak ada pertunjukan seni meskipun bertajuk festival seni. Hanya ada satu panggung, berbeda dengan festival music lainnya. Bahkan acara ini berlangsung tanpa pembawa acara, hingga para penonton gamang. Sebagian besar meninggalkan venue tepat setelah musisi favoritnya turun panggung.

Acara yang semestinya diselenggarakan 28 April 2018 di Kuningan city ini terpaksa mundur demi menghadirkan artis pamungkasnya yakni Mild High Club dan Kero-kero Bonito. Selain beberapa deretan artis independen local lainnya yang berasal dari beberapa range musik berbeda. Ada yang kekinian seperti Basboi, SMSR, Reality Club. Perwakilan era 80-90an dengan Good Night Electric, lantas era 60-70an dengan Naif.

Mild High Club awalnya adalah proyek solo Alex Brettin, seorang teman dan murid dari Mac DeMarco. Akhirnya band beranggotakan lima orang pemuda ini menciptakan musik ciamik70-an jazz-rock dan funk dengan lebih atraktif. Seakan tahu jika penonton tidak familiar dengan jenis musik mereka, Mild High Club memulai dengan lagu-lagu dari album pertama mereka yang kental aroma Mac DeMarco-nya. Barulah ketika penonton mulai high, mereka menghajar dengan dream jazz seperti versi lofinya yang digemari masyarakat Youtube.

Merasa masa bodoh dengan apa yang dilakukan promotor, Mild High Club mencoba bermain sesuka hati mereka. Ada aura alam mimpi yang mereka sebarkan dan sukses membius para penonton. Keasyikan kelompok dari Los Angles ini terhadap alat musiknya sendiri berakibat positif dengan ditambahnya dua lagu bonus untuk para penonton.

Berbeda dengan penampil sebelumnya, ketika Kero-kero Bonito naik panggung penonton sangat antusias. Membuka penampilan dengan intro yang selalu fresh yang digabung dengan track andalan mereka “Flamingo” seketika lantai langsung panas. Penonton mulai bergoyang.

Kero Kero Bonito (KKB) band Inggris dengan atribut Jepang yang kuat ini seakan tahu bahwa kekuatan mereka adalah ambiguitas. Mulai dari nama band yang sengaja dibuat ambigu hingga cerita yang sedang mereka ingin mainkan di atas panggung. Sejak lagu pertama, mereka mulai mengundang tokoh-tokoh fiksi dengan berbagai atribut mulai dari boneka flamingo, telepon mainan, hingga boneka dinosaurus hijau.

Tidak banyak yang mengerti cerita yang dibangun Sarah, Gus dan Jamie karena alurnya begitu singkat dalam narasi. Namun tentang perasaan baik itu gembira, sebal atau kalut tersalurkan lewat tiap bit dan akrobat nada digital yang mereka sajikan. Hal tersebut terlihat karena sebagian penonton bertahan sampai KKB selesai dengan penampilan mereka.

Widelanes Music and Arts Festival kembali mengajarkan bahwa penguasaan capital akan membuatmu leluasa mengundang siapapun dalam panggung. Promotor bisa berusaha atas itu tapi pada akhirnya tiap artis punya caranya sendiri menyelamatkan panggungnya masing-masing. Dalam konteks ini Mild High Club dan KKB telah sukses menjadi dirinya sendiri serta tetap dicintai penonton.[Sekar BanjaranAji/Kontributor]

Event By              :Harika Event

Venue                  :Livespace, Lot8 SCBD Jakarta

Date                      :1 September 2018

Man of The Match: Mild High Club, Kero-kero Bonito

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response