close

XTC #10: Suguhan Eksploratif Tanpa Ba-bi-bu

SONY DSC
Ramayana Soul
Ramayana Soul

Ada satu kesamaan mengenai apa yang dilakukan Seahoarse, Sungai, Pribumi dan Ramayana Soul: mereka bermain-main dengan batas genre musik yang biasa.

Dunia sudah begitu bising dan kanal-kanal distributor musik sudah terlalu jenuh untuk mengalirkan bebunyian yang begitu-begitu saja ke telinga-telinga manusia. Sabtu (28/11) lalu, panggung beton Langgeng Art Foundation (LAF) digilir oleh empat kelompok musik yang pantas diapresiasi, bukan hanya karena menghasilkan musik ear-catching tapi juga karena keputusan mereka menghadirkan warna-warna musik yang berbeda. Ada seahoarse yang memainkan musik indie-pop dalam balutan shoegaze yang cathcy, Sungai yang mengeksplorasi musik pop dengan sentukan eksperimental melalui perkusif yang terdengar organik, Pribumi yang riuh dengan huru-hara noise-rock poetic dan Ramayana Soul yang memainkan musik psychedelic rock a la Bollywood. Kesemuanya dirangkum dalam gelaran XTC #10 yang digagas oleh X Teenage Club, sebuah kolektif anak muda bawah tanah asal Jogjakarta.

Sabtu lalu mendung menggelayut pekat di langit Jogja, sempat hujan bahkan. Dan boleh jadi itu yang menjadi salah satu faktor pertunjukkan ini tidak terlalu ramai pengunjung, walaupun menampilkan line-up menarik. Pertunjukkan yang memakan waktu kurang lebih empat jam itu juga berlangsung sederhana. Tidak ada tata panggung heboh, gimmick-gimmick penggembira, dan bahkan tidak ada band yang menabuhkan encore di ujung setlist mereka. Masing-masing bermain sesuai porsinya. Penonton menikmati sesuai seleranya.

Seahoarse
Seahoarse

Bebunyian indie-pop yang kental menyuara saat Seahoarse mengokupasi panggung. Kuartet anyar yang tengah naik daun di Jogja ini memainkan beberapa lagu seperti “Submarine” dan “Sugarcave”. Absennya gitaris mereka, Mahamboro malam itu digantikan dengan tampilnya dedengkot noise Jogja, Indra Menus yang khidmat menekuri synthesizer sepanjang pertunjukan. “Malam ini Seahoarse duet sama To Die, jadi DieHoarse,” kelakar Gisela Swaragita, vokalis Seahoarse di sela-sela setlist. Kolaborasi yang bisa dipertimbangkan untuk dilakukan lagi di panggung berikutnya. Indra Menus membuat “Cricket Choir” terdengar lebih ‘realis’ dengan noise-nya yang menyerupai suara jangkrik. Sayang sekali Seahoarse yang biasanya menggunakan tata visual di panggung malam itu tampil polos. “In The Sun” lalu menutup penampilan mereka.

Sungai
Sungai

Tampil berikutnya Sungai. Kuartet bentukan Anggito Rahman (Anggisluka) ini memainkan musik pop yang terdengar raw dan organik berkat permainan perkusi mereka yang lain dari band biasa. Menggunakan potongan kayu, bebunyian perkusif Sungai boleh jadi daya tarik paling besar dari band ini. Sungai memainkan tujuh lagu, di antaranya “Merah Muda”, “Kelabu”, “Pohon”, dan “Seratmantra”. Band yang segera merilis album pertamanya ini menutup penampilan dengan “Tinggi”. Sebuah penampilan manis.

Pribumi
Pribumi

Dari nuansa manis, panggung diambil alih bebunyian distorsif. Pribumi tampil tanpa ba-bi-bu membawakan “Melati dan Kemenyan”. Handoyo Purwowijoyo yang malam itu tampil mengenakan setelan rapi jin dan kemeja putih, agaknya menganut laku penyair dengan tetap berekspresi tenang dan teatrikal pada waktu-waktu tertentu. Sementara Handoyo menyanyikan lagu-lagu Pribumi bak membacakan puisi, dua kawan di belakangnya mengiringi dengan musik noise rock yang apik. Trio yang juga dikenal sebagai personil Seek Six Sick ini membawakan beberapa lagu seperti “Jalang (Luka Kecewa)”, “Putih”, “Pusara” dan “Lembar Nyawa”. Jarang ada band noise-rock yang terasa seemosional Pribumi. Sambil mengulang-ulang larik “Jangan ganggu rokokku”, Pribumi mengakhiri setlist mereka di lagu “Rokokku”

Ramayana Soul
Ramayana Soul

Jeda cukup panjang sebelum Ramayana Soul mengokupasi panggung mengingat alat musik yang mereka mainkan cukup banyak. Sambil merapalkan mantra-mantra, Ramayana Soul mengawali setlist mereka dengan “Rhaksasa”. Malam itu Ramayana Soul tampil maksimal dalam setlist yang sangat panjang, 15 lagu! Balutan bebunyian tradisional india hasil permainan sitar dan tabla menyuara kental, ditambahi asap dupa yang tipis membumbung. Penonton yang sedari tadi duduk agak jauh di depan panggung mulai berdiri dan merapat. Sementara itu, tidak butuh waktu lama untuk Erlangga Ishanders mendapatkan mood untuk menggila di atas panggung, membuka baju, ikut menggebuk drum sampai terduduk penuh penghayatan memainkan sitar. Nomor-nomor seperti “Aluminium Foil”, “Terang”, “Cerpen Mata Emas”, dan “Dimensi Dejavu” dimainkan tanpa banyak gimmick. Mereka juga sempat melantukan mantra “Jay Gedishe” yang mungkin lebih sering kita dengar dari film-film Bollywood di televisi. Menarik. Ramayana Soul menutup penampilan perdana mereka di Jogja ini dengan “Jaya Raga Jiwa”.

XTC #10 secara umum menarik dengan menghadirkan band-band yang melakukan eksplorasi tidak biasa dan tengah naik daun. Dengan kualitas kurasi band dan penyelenggaraan yang sudah baik, semoga suguhan berikutnya tidak terkendala hal sepele seperti cuaca atau hujan, yang sebenarnya setimpal untuk ditembus demi line-up seperti Sabtu lalu itu. [WARN!NG/Titah Asmaning]

Event By: X Teenage Club (XTC) & Fringe Musik Event (FME)

Date: 28 November 2015

Venue: Langgeng Art Foundation

Man of The Match: Pribumi yang tampil poetic dan emosional sepanjang setlist

WARN!NG Level: !!!1/2

Foto lainnya cek -> Gallery XTC #10

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.