close

Yang Muda Yang Ngejazz: Bahagia Untuk Kita Semua

20150214_212253
© Warningmagz
© Warningmagz

Mengenakan setelan necis jas hitam dengan dasi warna gelap yang dilonggarkan, Jessi Mates mulai memainkan irama drum Sonor secara rancak; pelan dan tak beraturan. Berselang kemudian, Richard Hutapea muncul dari sisi berlawanan sembari meniup improvisasi melodi dari saxophonenya. Lalu bersamaan muncul repertoir “Yardbird Suite” milik Charlie Parker yang terdengar lebih gelap dari versi aslinya.

Itulah sedikit gambaran Salihara Jazz Buzz 2015 “Yang Muda Yang Ngejazz”; sebuah perhelatan musik jazz dengan aktor utama muda-mudi generasi baru yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara. Pada gelaran hari pertama (14/02), duo Jessi Mates dan Richard Hutapea menggebrak batasan konseptual jazz kebanyakan. Ketika umumnya akord menjadi pijakan utama dalam bermain, mereka justru menggunakan dasar melodi dan ritmik untuk membuat konstruksi instrumental. Maka tak heran apabila komposisi yang mereka bawakan terdengar begitu rumit dan mengawang ke berbagai sudut. Di lagu berikutnya, “Round Midnight” dan “Well You Needn’t” karya Thelonius Monk mereka gubah dengan bumbu gloom yang begitu terasa. Kehadiran tamu vokal Monita Tahalea sedikit menurunkan tensi yang sedari tadi dibuat tegang—juga takjub oleh irama-irama ganjil penuh kadar repetitif. Sempat canggung ketika bernyanyi pada “My Favorite Things” karena mengambil nada dasar berbeda dengan Richard, Monita membayarnya dengan penampilan memukau saat mengalunkan “Alfie”. Vokalnya yang berkarakter membuat lagu ini terasa lebih sendu dan sentimentil. Menjelang akhir babak pertama, performa duo Jessi-Richard semakin tak terkendali. Mereka dengan maksimal menggunakan daya imajinasi masing-masing untuk bercumbu bersama banyak instalasi. Dari permainan solo drum, serangan kilat bebunyian sax yang halus sampai timpal-menimpal secara jamak pada “Backyard” dan “Take 5”. Sebuah penutupan elegan.

Pukul 20.00, Jazz Buzz Salihara bersiap menyambut aksi bintang tamu selanjutnya: Dion Subiakto Team. Deretan antri penonton sudah mulai mengular ketika waktu masih menunjukkan sisa 15 menit sebelum pertunjukan dibuka. Wajah-wajah antusias bertebaran di sana-sini mengharap satu ekspektasi: pertunjukkan yang memuaskan.

Dikenal sebagai penggebuk drum Balawan Bifan Trio, kali ini Dion Subiakto mencoba keluar dari sisi pragmatisnya menjadi additional player. Mengusung format full-band-instrumentalist, ia mengajak sahabat-sahabatnya untuk menjadi sharing-partner di panggung Salihara. Ada RM. Aditya (keyboard), Richard Hutapea (saxophone), dan Shadu Rasjidi (bass). Dari nama-nama tersebut sudah lah penikmat jazz mengetahui bahwa kesempurnaan penampilan bisa jadi jaminan.

Sosok yang ditunggu akhirnya tiba juga. Dion Subiakto melangkah keluar menuju set drum yang sudah disediakan. Tanpa ba-bi-bu, gerakan dinamis yang muncul dari tangannya mengeluarkan ketukan solo drum sensasional. Kemudian personil lain, satu per satu menyusulnya ke tempat penjamuan sekaligus mengisi ruang improvisasi yang sudah tergambarkan.

© Warningmagz
© Warningmagz

“At Least Once” mengawali salam hangat mereka untuk pengunjung Teater Salihara. Ragam bebunyian yang terdengar begitu inovatif, nyaris tanpa cela. Suasana teater menjadi ramah, tatkala di setiap jeda lagu Dion selalu bercerita tentang latar belakang bagaimana komposisi tersebut terbentuk. Tak hanya itu, sesekali ia juga melempar jokes yang relatif biasa-biasa aja namun disambut guyub para pengunjung. Nomor selanjutnya yang dibawakan DST adalah “Hard Easy”. Tidak sesederhana judulnya, nomor kedua ini menawarkan kerumitan tendensius. Di dalamnya terdapat harmoni prestise dengan bumbu funk yang tepat guna. Dion Subiakto nampaknya memiliki kenangan masa kecil yang sukar dilupakan. Hal ini dapat dilihat melalui “Mario Jazz” dan “Main Sepeda”. Kedua repertoire tersebut seolah menegaskan secara jelas tentang sebuah memori yang hanya berkutat seputar permainan juga kesenangan. Teater Salihara kembali pecah, saat seorang tamu yang mengenakan atribut layaknya office boy memakai wig rambut panjang masuk ke pelataran sembari berdendang dengan galaunya. Suasana semakin gayeng ketika si office boy itu berdialog menggunakan logat Bali yang begitu kentara. Dari sini sudah jelas bukan siapa si misterius tersebut? Ya, ia adalah Balawan. Maestro gitar handal asal Pulau Dewata yang malam itu berusaha tampil nyentrik di hadapana udiens. Selain piawai memetik gitar, Balawan juga paham betul bagaimana cara mengocok perut penonton dengan banyolannya yang apa adanya. Namun, itu bukan bagian dari focus saya juga pengunjung yang lain. Prioritas utama tetap menyaksikan mereka membuat konstruksi tiang nada yang tersusun atas bebunyian diatonic dibalik fleksibilitas genre jazz. Dan jadilah dua akulturasi sempurna berbentuk “Pandawa” dan “Forest”.

Penampilan Dion Subiakto Team menjadi penutup rangkaian Jazz Buzz Salihara 2015 di hari pertama. Seyogyanya kita patut bersyukur, di tengah minimnya dukungan dari berbagai pihak untuk mengenalkan musik jazz kekhalayak ramai, Jazz Buzz berani menyodorkan misi yang visioner. Tak hanya mengenalkan jazz secara umum tetapi juga menghadirkan—dan mempromosikan musisi-musisi jazz muda andal kebanggan lokal. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Event by : Komunitas Salihara
Venue : Teater Salihara, Jakarta
Date : 14 Februari 2015
Man Of The Match : Serangkaian gertakan fusion DST dan komedi singkat Balawan sebelum memainkan komposisi “Pandawa”.
WARN!NG level: !!!!

 

Tags : JazzSalihara
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.