close

Yosep Anggi Noen: Menghidupkan yang Hilang Lewat Sinema

Yosep Anggi 730×487
Photo by: Nindias Khalika
Photo by: Nindias Khalika

Wawancara oleh Adya Nisita and Tomi Wibisono

Beberapa orang tampaknya memang terlahir dengan pesona sebagai teman bicara dalam perjalanan jauh atau malam yang panjang bersama secangkir kopi, Yosep Anggi Noen salah satunya. Berbicara dengan pria ini menghadirkan satu pengalaman baru: seperti sensasi di sisi lain indera pengecap yang terbuai tatkala mencoba suatu kudapan untuk pertama kalinya. Ditemui di kantor limaenamfilms, sutradara yang sudah dua kali bertolak ke Locarno ini terlihat santai dengan setelan kaos oblong putih dipadu celana panjang warna khaki yang digulung sampai tengah betis. Segera setelah kami duduk, ia menawari minum sembari mengeluhkan satu bukunya di rak pojok ruangan habis termakan rayap.

Ia bicara banyak tentang keterpukauannya pada sinema, pada ide soal saling transaksi gagasan setelah menatap satu layar yang sama. Perkenalannya dengan sinema dimulai dari pengalaman menonton televisi dan ketoprak. Baginya, tumbuh besar bersama TVRI dan ketoprak ialah kunci dari desain pemikiran-pemikirannya tentang moving image, “TVRI masih sangat punya taring untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang sebegitu kuat dan kritisnya untuk mencatat manusia dan kemanusiaan waktu itu, nggak seperti TV sekarang yang dipenuhi dengan sampah.” Sedangkan film dokumenter Asal Tak Ada Angin (2011) arahannya dirangkum dari sisa-sisa ingatan akan pementasan ketoprak di kampungnya dulu.

Sudah sejak lama teknologi merekam menarik minatnya. Sebelum berkenalan dengan bentuk audio-visual, Anggi Noen gemar memotret pakai kamera SLR pinjaman dan menunggui proses cetaknya. Hingga sampai pada tahun 2001, bersama kawan-kawan semasa SMA, ia mendirikan komunitas film yang juga memainkan peran sebagai badan usaha produksi bagi beragam karya audio visual bertajuk limaenamfilms. Selain Yosep Anggi Noen, di dalamnya ada nama-nama yang sudah tidak asing seperti  BW Purbanegara dan Bayu Prihantoro yang baru saja melangsungkan debutnya di Venice International Film Festival sebagai sutradara dalam On the Origin of Fear.

Tahun ini, Anggi Noen kembali ke Festival del film Locarno setelah tahun 2012 lalu hadir bersama film panjang pertama Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya. Kali ini, ia bersama Marissa Anita dan produser Yulia Evina Bhara menjadi delegasi untuk berbicara soal film teranyar mereka Istirahatlah Kata-Kata. Film yang bercerita tentang sosok aktivis dan penyair yang masih dinyatakan hilang ini, kabarnya akan diputarkan di bioskop-bioskop tanah air awal tahun mendatang. Di sela-sela kesibukannya selepas kepulangan dari Swiss, Anggi Noen merawikan sekelumit perjalanan kekaryaan sinematiknya, pandangan soal keragaman film Indonesia, serta tidak lupa membicarakan tangkapan idenya soal sosok besar Wiji Thukul.

 

Seiring dengan berkembangnya teknologi, beragam layar pun muncul, kini film tidak hanya bisa ditonton dari dalam gedung bioskop. Apakah inovasi-inovasi tersebut mempengaruhi karya Anda?

Saya selalu mendesain film saya untuk layar besar, jadi secara estetika saya tidak terpengaruh oleh perkembangan dinamika ukuran layar atau dinamika cara orang itu menonton film. Perkembangan memang tidak akan berhenti, dari zaman dulu inovasi selalu dilakukan dalam sinema. Zaman digital ini inovasi semakin menggila, orang bisa setiap saat menonton film di HP. Tapi itu tidak mempengaruhi saya karena saya menganggap penciptaan sinema itu untuk sebuah ritual menonton film yang layak. Orang datang ke bioskop, membeli tiket, masuk ke dalam ruangan, duduk di tempat yang nyaman, bercakap-cakap sebentar, kemudian perlahan-lahan lampu itu meredup, kemudian menjadi gelap, perlahan-lahan gambar muncul. Itulah sinema buat saya.

Kalau misalnya ternyata pada konsep bisnis yang lain film-film saya bisa dibeli melalui iTunes atau Netflix, berarti itu sudah menjadi bawaan dari konsep industrinya. Tetapi saya ingin steril dari gagasan-gagasan itu, saya pengin pilihan estetika saya adalah pilihan estetika yang klasik yang tidak buru-buru terpengaruh oleh gagasan zaman digital ini. Karena saya percaya apa yang terjadi sekarang adalah proses pencarian terus-menerus, bahwa kemudian suatu saat nanti yang disebut sebagai sinema itu adalah sebuah devosi, ritual. Sinema itu seperti kuil. Suatu saat nanti orang datang ke bioskop itu harus membayar mahal sekali—untuk masuk ke dalam ruangan yang memang sebegitu diinginkannya, kemudian ruangan itu menggelap dan ia bisa menyaksikan sesuatu yang megah, sesuatu yang bisa memuaskan gagasan dia, sesuatu yang membuat dia berkontemplasi, sesuatu yang membuat dia teringat akan kehidupan, sesuatu yang membuat dia melihat dirinya sendiri.

Remah-remah moving image yang ada pada gadget, pada ruang tamu, menurut saya bukan sinema, itu adalah remah-remah sinema. Memang perpanjangan tangan dari sinema, tapi kemudian tidak akan memaknai sinema dalam sebuah kerangka yang sepraksis itu. Akan ada orang-orang yang nanti akan bersedia masuk ke kuil tadi untuk menonton sinema dengan cara yang proper. Nah, bagaimana itu bisa terjadi? Ya si pembuat film harus menjaga bahwa sebenarnya layar besar, ritual menonton film itu adalah ritual yang memang tidak tergantikan. Pasti berkembang, tapi tidak tergantikan.

 

Menurut Anda sendiri, apa sih yang masih kurang dari film Indonesia?

Cerita tentang Indonesia yang terjadi di Indonesia, tentang manusia Indonesia, tentang kehidupan di Indonesia itu ada milyaran. Banyak cerita tapi tidak disertai dengan eksplorasi cara tutur. Banyak orang takut dan tidak punya percaya diri untuk bertutur, “nanti nggak ada yang nonton, nanti orang-orang nggak paham, nanti orang-orang menonton sesuatu yang tidak biasa.” Itu problem cara tutur yang harus dipatahkan, harus ada hal-hal baru yang muncul dari sejarah sinema Indonesia ini. Jarang yang punya keberanian untuk membangun narasi baru, itu memilukan buat saya. Maka saya pikir saya ingin terus-terusan mengeksplorasi gagasan-gagasan baru mengenai cerita-cerita yang lekat dengan nafas di mana kita itu muncul. Jangan sampai melulu mengikuti narasi arus utama. Karena kalau tetap seperti itu yang terjadi, kita tidak lagi mempunyai sumbangsih pada narasi-narasi kecil yang menjadi penyeimbang asupan.

 

sampai hari ini saya tidak pernah dipaksa untuk membuat film. Mereka yang harus berkompromi dengan saya.

 

Masih lekatkah cara pandang barat untuk melihat masyarakat kita sebagai sesuatu yang jauh dan eksotis dari film-film Indonesia di kancah festival internasional?

Yang dipahami sebagai eksotika adalah ragamnya, bukan bentuknya. Maksud saya, ketika negeri yang jauh selalu dipandang kuno dan keterbelakang dari sudut pandang barat, harusnya kita bicara mengenai Indonesia di kancah internasional dengan mengunggulkan gagasan-gagasan, ragam, dan cara tutur yang spesial. Jangan manut pada eksotikasisasi barat: pada eksotikasisasi gagasan yang justru menjadikan kita objek, bukan subjeknya.

Saya punya kesempatan untuk berinteraksi dengan sinema dari negara lain di festival-festival film. Di sana saya mengambil pelajaran bahwa sebenarnya sinema Eropa itu telusur estetikanya sudah mentok. Sementara, sinema Asia, tidak terkecuali Indonesia, akan jadi wajah baru sinema dunia. Ketika saya nonton film dari Bhutan, dari seni cerita, cara tutur, sampai orisinalitas itu sangat baru. Sebenarnya yang paling menarik adalah, justru karena cacatnya masih ada, kita seperti melihat kehidupan. Dalam sinema, pengalaman tersebut seperti melihat hal yang lebih hidup, lebih nyata.

Asia ialah nafas baru untuk meredefinisi sinema. Nah, makanya kita harus jadi subjek, caranya gimana? Percaya diri dengan cara tutur dan potensi kita. Sekarang apa yang brilian dari Hollywood? Apa yang kemudian baru dari Hollywood? Sebuah pengulangan-pengulangan saja. Toh film Hollywood paling brilian juga palingan dibuat oleh orang-orang yang lebih merdeka dari industri.

 

Apakah keberadaan modal atau uang mempengaruhi kekaryaan Anda?

Saya merasa cukup beruntung karena selama ini uang tidak pernah mengarahkan saya untuk berbuat sesuatu. Saya memilih cara saya sendiri dan uang datang untuk menyokongnya. Memang itu proses panjang untuk tetap bisa bilang ‘tidak’ kalau saya memang tidak mampu atau ketika tidak sepakat dengan gagasan. Dan bisa bilang ‘iya’ dengan lebih bermartabat supaya yang saya iyakan itu tidak mendesain pemikiran, gagasan, tidak mengarahkan estetika yang saya anut. Saya merasa itu adalah bagian dari kesetiaan plus keberuntungan, sampai hari ini saya tidak pernah dipaksa untuk membuat film. Mereka yang harus berkompromi dengan saya.

Saya pernah membuat film di Jepang, mereka (funder, red) bilang ini untuk pariwisata, saya bilang ini tidak untuk pariwisata, ini untuk mengenalkan kesepianmu kepada banyak orang di seluruh dunia dan akhirnya kami sepakat. Padahal mereka bilang ini film untuk menunjukkan keindahan Kota Okinawa. Mereka ingin melihat dari sudut pandang orang lain. Pikiran mereka adalah: kalau Okinawa dilihat dari sudut pandang orang lain pasti lebih indah. Tidak, Kota Okinawa sudah indah, manusianya yang harus dikenalkan. Saya tidak tertarik melihat kota tersebut sebagai sesuatu yang eksotis. Saya lebih tertarik untuk mengambil cerita tentang rumah dan kesepian. Lantas saya berbicara mengenai manusia dan kerinduan.

Alhasil, film itu diputar cukup banyak dan akhirnya orang-orang juga suka. Tapi jangan sampai ini dipahami sebagai kekakuan melihat kolaborasi, ini adalah sebuah negosiasi yang kita menangkan bersama-sama.

 

Di Jogja, jadi bodoh itu malu setengah mati, kalau di TV nasional ‘kan menjadi bodoh itu dirayakan.

 

Jogja disebut-sebut sebagai melting pot, di mana semua ide dan gagasan dari ragam individu membaur. Apa sih yang berbeda dari atmosfer berkesenian di Jogja dengan daerah lainnya?

Proses kolaborasi di Jogja menyediakan waktu lebih untuk berbicara panjang mengenai konten dan gagasan film. Proses untuk membuat film di Jogja adalah proses dialog terus-menerus antara manusia yang terlibat di dalamnya. Yang dalam konteks industri jelas jarang dilakukan, industri lebih mekanis, lebih menggunakan kuasa-kuasa sistem yang memang sudah mengakar. Nah, di Jogja proses menggali gagasan masih disediakan waktu yang banyak, bisa ngobrol berjam-jam tanpa harus kehabisan uang. Ke angkringan dengan uang 5 ribu bisa sampai pagi, dan itu baru ngomongin satu film. Kedalaman gagasan film-film yang muncul di Jogja itu lebih karena tradisi berdiskusi yang lebih kuat di sini.

Justru karena kita banyak sekali berdiskusi terus-menerus, kebanyakan orang akan melihat kita sebagai banyak omong. Sempet ya ada kru film yang bilang: kalau kerja sama anak Jogja tuh nggak bisa lari, ngomong aja terus, diskusi terus. Kita bisa jawab: kalau kerja sama kalian tuh nggak pernah mikir, kerja terus nggak ada pikirannya. Tapi itu bukan dalam rangka kebencian, itu sebagai sebuah kritik yang saling membangun. Memang harus ada dialog yang terus-menerus dibangun, karena sistem itu kan memang harus dibangun. Kita tahu betul kalau film itu industri, mau nggak mau kita harus masuk dan sepakati itu.

 

Anggi Noen
Yosep Anggi Noen

 

Kemudian, bagaimana kultur yang ada di Jogja menempa Anda?

Di Jogja kalau saya pahami adalah, kita ini bakal malu kalau tidak mengerti apa-apa. Kamu kumpul sama teman-teman seni rupa dan bisa ngecap dirimu pembuat film tiba-tiba berargumentasi soal film atau soal seni yang lain dan tidak berdasar apapun, itu malu aja. Di Jogja, jadi bodoh itu malu setengah mati, kalau di TV nasional kan menjadi bodoh itu dirayakan. Maka saya belajar terus menerus itu dengan cara melihat seni yang lain untuk melihat film, interaksi seperti itu kan sering terjadi di Jogja. Kita bisa melihat seni rupa lalu mencari keterhubungan seni rupa dengan sinema.

Saya yakin kenapa saya mengerti film itu tidak semata-mata karena saya belajar film. Saya bisa mengerti film dengan lebih mendalam karena saya berinteraksi dengan seni yang lain. Memang di Jogja ini seni dan gagasan-gagasan ilmu sosial lain tumbuh sebegitunya. Saya merasa beruntung tidak sekolah film tapi sekolah ilmu politik, justru itu yang sebenarnya membangun saya. Komunitas besar di Jogja ini lah yang sebetulnya memberi bekal pada saya untuk mengerti tentang sinema.

Sebenarnya kultur kritik di Jogja sangat berat dan mengerikan, apalagi disampaikan dengan satir. Menjadi orang Jogja, aturan pertama kali adalah kamu harus paham satir. Kalau ada orang yang bilang karyamu hebat betul, itu belum tentu hebat betul, kamu harus berpikir hebatnya di mana kok sampai dibilang hebat. Seni-seni yang lain juga mengalami itu. Teater Garasi kemarin manggung di Jakarta, semua orang memuja. Di Jogja itu Teater Garasi bisa diejek, lho. Orang pakai baskom di atas kepala terus gedek-gedek akan dibilang, “wah, Teater Garasi.” Itu kan sebenarnya Jogja ahli dekonstruksi. [tertawa]

Yang sudah kamu konstruksi sebagai sinema, seni rupa, terus didekonstruksi. Dan itu terus menerus terjadi, ini yang sebenarnya membuat menjadi bodoh di Jogja itu malu. Kalau di Jakarta kan kamu malu kalau tidak menjadi bagian dari kasak-kusuk dunia maya. Di Jogja kita harus memahami dekonstruksi, kita harus memahami satir, kita harus kuat kritik.

 

Anda sudah merasa seberapa terkenal di Jogja?

Masih ada beberapa orang yang tidak tahu apa yang saya kerjakan. Jadi, ada tetangga saya namanya Pak Tugiman, suatu saat tahun 2008 saya sekolah film di Korea, Asian Film Academy. Nah ia mengira saya pergi ke Korea untuk menjadi TKI. Bukan tanpa alasan, karena orang-orang Kaliduren yang pergi ke Korea dan Jepang itu jadi TKI. Makanya kemudian saya sering banget membuat film di Kaliduren, jadi hampir semua produksi film saya itu paling tidak sehari-dua hari syuting di dekat rumah. Supaya orang melihat dan orang paham ada kerjaan lain selain jadi TKI, tukang las dan petani. Sebenarnya itu juga langkah penghematan sih kalau syuting deket rumah [tertawa].

 

Wiji Thukul punya kemampuan mencatat keseharian dan zaman yang sebegitu luar biasanya, sebegitu kuat dan lugasnya yang membuat orang merasa punya cermin untuk melihat kasus nyata hari ini.

 

Bagaimana proses pertemuan Anda dengan ide dari sosok Wiji Thukul?

Awalnya saya berkenalan dengan puisi-puisi Wiji Thukul mungkin waktu masih SMP. Waktu itu saya dikenalkan oleh aktivis yang tetangga saya. Tapi tidak menganggapnya sebagai puisi, ini terlalu lugas. Lalu saya tidak menganggap dia sebagai tokoh sastra. Jauh lebih dulu berkenalan dengan Chairil Anwar, Rendra, dan dengan puisi yang mendayu-dayu Taufiq Ismail. Dulu waktu SMP saya baca Kahlil Gibran dong, dan menganggapnya sebagai pencapaian penyusunan kata-kata. Lalu setelah itu saya berpikir dan muak dengan kata-katanya. Itu kan perkembangan selera orang seiring dia menjadi dewasa, di situ saya merasa bahwa Wiji Thukul punya kemampuan mencatat keseharian dan zaman yang sebegitu luar biasanya, sebegitu kuat dan lugasnya yang membuat orang merasa punya cermin untuk melihat kasus nyata hari ini. Saya mulai melihat sosoknya sebagai sastrawan, orang yang menyajikan keindahan-keindahan puisi meskipun dengan kata-kata yang sebegitu lugasnya.

 

Dari pernyataan Anda di sejumlah media, bahwa dengan adanya film ini Anda berniat memberikan ruang agar puisi-puisi Wiji Thukul kembali terdengar. Apakah generasi sekarang terlihat abai dengan karya-karya Thukul?

Saya yakin puisi-puisinya tidak populer, sedikit saja yang menjadikannya sebagai panutan. Sebenarnya puisi-puisi yang dituturkan dalam film ini adalah puisi-puisi yang justru tidak terlalu populer. Jangan harap ada puisi ‘hanya ada satu kata, lawan’, karena kata-kata tersebut sudah terlampau populer. FPI bisa bilang hanya ada satu kata lawan, di sisi lain juga teman-teman LGBT bisa bilang hal yang sama, itu sudah menjadi komoditi. Kami ingin mengenalkan puisi yang lain, kami ingin mengenalkan Istirahatlah, Kata-kata, Puisi Kemerdekaan, puisi tentang rumah Wiji Thukul yang disatroni intel dan buku-bukunya dijarah.

Kami juga mengenalkan kehidupan yang berdevosi pada gagasan kemanusiaan, begitu peka terhadap kondisi lingkungan, begitu menghargai ilmu pengetahuan, sastra dan kata-kata. Sekarang pada umumnya kita menyepelekan semua itu. Sekarang anak-anak muda tidak mengabadikan bahasa sebagai suatu keindahan, semua menggunakan bahasa untuk kepentingan yang sebegitu pribadinya. Meskipun sekarang ada gairah baru untuk memandang sosial media sebagai gerakan, puji syukur kepada semesta untuk yang satu itu.

Kita ada di masa di mana orang menggunakan kata-kata demi kepentingan pribadi di media—selaku ruang publik dan transaksi gagasan. Mengenalkan tokoh Wiji Thukul ini adalah mengenalkan tokoh yang komprehensif: dia punya telusuran-telusuran personal, dia juga sakit hati, dia juga rindu, dia juga punya rasa cinta tapi dia juga tetep punya kepekaan terhadap lingkungan dan ketidakadilan, yang paling penting dia masih muda. Dialah salah satu orang yang sebenarnya menjadi martir sehingga keran demokrasi terbuka. Kita harus melihat bahwa anak muda, orang-orang yang bersuara keras, orang-orang yang menyuarakan ketidakadilan harus menjadi ikon untuk panutan.

 

Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul

 

Bagaimana perjalanan riset karakter utama Wiji Thukul?

Saya membaca banyak sekali tentang Wiji Thukul, mulai dari puisi hingga cerpen. Ada tulisan wawancara dia dengan mahasiswa UMM waktu diundang ke Malang dan itu saya temukan di perpustakaan online Ohio State University. Di situ banyak sekali email-email yang dicatat, seperti email dari Budiman Sudjatmiko, pres rilis PRD tahun 1996 menyikapi 27 Juli. Saya kayak detektif. Kronologi demonstrasi penggusuran Kali Code tahun 1994 di depan Sanata Dharma, itu ada kronologinya, mulai dari pembacaan puisinya siapa oleh siapa. Sumber memang terbatas, saya bisa menemukan ‘kan karena saya mencari, tidak tiba-tiba ada di depan mata.

Selain itu saya juga bertemu banyak orang, keluarganya, adiknya, istri dan anak-anaknya. Saya bertemu dengan Halim HD, orang yang bersahabat dengan Wiji Thukul. Saya mencoba mencari tahu bagaimana si Wiji Thukul ini punya sifat. Dan semua saya rangkum dan hubung-hubungkan. Salah satu yang paling menarik adalah bahwa Wiji Thukul ternyata orang yang menjengkelkan: njelehi, bahasa jowone. Karena apabila dia ingin sesuatu, dia akan meminta terus-menerus, dan dia suka sekali ngobrol terus-menerus. Kalo di Sanggar Suka Banjir lagi pada kumpul, tiba-tiba Thukul datang, mereka mendengus. Di satu sisi memang Wiji Thukul begitu memikat tapi kadang-kadang begitu menjengkelkan. Dia impulsif menurut saya, itu yang saya coba rangkum.

 

Mengapa Anda secara khusus memilih periode pelarian Wiji Thukul untuk dijadikan inti cerita?

Itu krusial buat Wiji Thukul karena itu pertama kali dia dituding sebagai tersangka. Selama ini dia berhadapan dengan demonstrasi. Dipukul popor senjata militer nggak masalah, paling dipanggil koramil kemudian diperingatkan, tapi nggak pernah ditersangkakan.

 

Film panjang kali ini sedikit berbeda ya dengan film-film Anda yang lumrahnya memuat gagasan sederhana yang bisa ditemui di kehidupan sehari-hari? 

Saya pasti berbicara seuatu yang detail yang bisa ditemukan sehari-hari, maka sebesar apapun gagasan yang ingin saya utarakan, saya berusaha menuturkannya dengan sederhana. Bukan dengan sesuatu yang besar seperti nasionalisme, patriotisme, marxisme. Saya bisa kok bicara mengenai kelas menggunakan Coca Cola, bisa juga kok membicarakan ideologi menggunakan obrolan warung kopi, bicara tentang militerisme menggunakan tuak atau potong rambut. Ide itu harus besar, tapi bentuknya bisa kecil sehingga muat bagi berbagai pintu.

 

Membuat film biopik soal tokoh yang bisa dibilang begitu kontroversialnya, adakah beban tertentu?

Setiap film punya bebannya masing-masing, tapi beban itu hilang oleh semangat yang lain: semangat untuk bercerita, menyampaikan gagasan-gagasan besar, semangat untuk merekam dan mencatat hari ini. Beban itu menurut saya nggak ada. Bisa jadi mungkin memang ada anggapan bahwa tokoh ini masih hilang, beban kalau ini berasal dari kenyataan. Saya adalah pembuat film dan tugas saya adalah menciptakan pembanding dari kenyataan supaya kemudian muncul pemikiran-pemikiran baru. Bukan melulu menyajikan kenyataan.

Keluaga Wiji Thukul belum nonton filmnya, tapi jelas mendukung. Mereka sama sekali membebaskan. Mereka paham betul kalau Wiji Thukul orang besar, seniman, bahwa kata-kata yang disusun oleh Thukul adalah kata-kata yang dipakai oleh semua orang, tidak tunggal pastinya. Jadi ketika film tentang Wiji Thukul mau dibuat oleh seniman juga, mereka tahu kalo seniman itu punya tafsir. Itu salah satu yang membuat saya merasa lega karena tidak ada keberatan apapun.

 

Marissa Anita sebagai Sipon
Marissa Anita sebagai Sipon

 

Film Istirahatlah, Kata-Kata sudah diputar perdana di Locarno, bisa diceritakan respon internasional khususnya mengenai Indonesia sebagai latar cerita?

Di QnA kami bicara mengenai indonesia, ada pertanyaan menarik, yakni: Indonesia sudah lebih demokratis dari zaman Soeharto, tapi kenapa kemudian secara ekonomi masih sangat terpuruk? Saya menjawab bahwa demokrasi adalah harga utama, ekonomi itu PR (pekerjaan rumah, red) setelah berdemokrasi. Dulu itu zaman Soeharto semuanya ada, semuanya makmur, tapi kita utang.

 

Beberapa respon justru datang dari pemilihan kasting Marissa Anita sebagai Sipon yang ‘terlalu cantik’, tanggapan sebagai sutradara?

Cantik itu relatif, kalau menurut saya Marissa Anita nggak cantik dan menurutmu cantik, ya nggak apa-apa, to. Kamu belum pernah aja seminggu sama Marissa Anita, paling juga sebah. Marissa isine ngentut wae, bocahe waton—karena dia manusia dan itu manusiawi. Dia aktor yang sangat bagus sampai kita mangkel, karena dia nggak kayak artis. Dia mampu mengeluarkan potensi yang tidak pernah muncul. Potensi kehilangan, pilu, kekuatan seorang ibu, itu nggak pernah muncul. Semua orang tertambat pada gagasan bahwa dia seorang news anchor yang ramah dan cakep. Kamu lihat filmnya saja nanti, dan akan lupa kalau itu adalah Marissa Anita.

 

Apakah pemilihan kasting yang ramah secara visual adalah bentuk strategi tertentu mengingat film ini ditargetkan menjadi film populer?

Setiap film itu harus dipertimbangkan menjadi film yang populer. Kenapa? Karena film itu untuk penonton, jadi tiap film harus dibuat untuk menjadi populer. Film Jonas Mekas, Chris Maker itu juga harus populer karena itu adalah medium yang harus bertemu dengan banyak orang. Kalau kamu nggak mau itu populer ya buat saja keris. Setelah jadi, simpan di lemari, kadang-kadang dipakai untuk kondangan.

 

Lepas dari itu, bagaimana pemilihan kasting pemeran Wiji Thukul sendiri?

Gunawan Maryanto itu penyair juga. Saya yakin dia juga percaya pada kata-kata, sama seperti Wiji Thukul percaya pada kata-kata. Saya yakin dia juga bisa mendiami diri sebagai sosok, tubuh, jiwa yang mencari kata-kata. Dia bisa kami ajak diskusi lebih mendalam, selain itu juga mendalami disiplin keaktoran yang cukup kuat karena aktif di Teater Garasi. Pilihan tunggal sih, jadi jangan membayangkan Reza Rahadian, ya. [tertawa]

 

Seberapa percaya Anda pada film sebagai media yang berpengaruh membentuk opini masyarakat?

Kita ini pernah dibesarkan oleh film bernama Pengkhianatan G30S/PKI, bahwa sebenarnya medium audio visual, multimedia itu bisa mendesain pemikiran, mendesain keputusan kamu. Saya itu pernah dalam satu mobil bersama tante-tante saya, riuh ngomongin sesuatu, ternyata mereka ngomongin sinetron. Artinya mereka melibatkan kehidupan nyata ini ke dalam fiksi yang dibangun oleh narasi televisi itu.

Ya, film, audio visual itu kuat sekali untuk bisa jadi pembanding dari kenyataan. Bisa jadi pelajaran sejarah itu juga fiksi. Siapa yang tahu sejarah kita itu bener? ‘Kan yang nulis pemenang, kalau yang nulis yang kalah pasti perspektifnya berbeda, tergantung sudut pandang. Jadi, semakin banyak sudut pandang itu dipapar untuk sebuah kenyataan, untuk sejarah, maka sebenarnya orang itu akan terus menerus mencari kebenaran dan saat itu juga kita akan mempercayai kebenaran itu. Repeating lies will bring you taking that as the truth.

 

Foto: Festival del film Locarno

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response