close

Your Guitar Sucks! Bagimu Gitarmu, Bagiku Gitarku

519253_crash
519253_crash

Jika kejauhan bisa berartian terlalu jauh, maka kedekatan berarti terlalu dekat. Keindahan? Terlalu indah? Menjadikan ini sebagai barisan kata yang ‘berantakan’ dan mematahkan struktur berbahasa yang telah diatur dalam kamus besar bahasa Indonesia. Tapi kata adalah tergantung yang memaknainya. Tidak berarti hitam berarti hitam, gelap berarti gelap. Pun begitu dengan estetika/keindahan yang bisa dibentuk oleh sudut pandang siapapun yang menilanya.

Mengintrepetasikan tentang hal yang ‘berantakan’ tadi dengan bunyi dan keindahan. Ketika nama lain dari bunyi dan keindahan adalah musik, maka musik adalah keteraturan bunyi ketika nada dan irama dalam ritmis bersatu dalam harmoni yang selaras. Tapi apakah ketika mendengarkan bunyi-bunyian bising distorsi dalam permainan gitar yang seperti tak beraturan, nilai estetikanya masih ada?

Kalau anda mati duluan, coba tanya Kurt Cobain tentang hal itu. Mungkin dia akan tertawa terpingkal-pingkal ‘disana’ dengan sebuah pertanyaan yang menurutnya lelucon. Jadi sudahlah jangan mati dulu, dan urungkan saja niat bertanya pada Kurt Cobain tentang hal itu. Karena seni itu abstrak dan tergantung siapa yang memaknainya, jadi tak ada pakem yang menyepakati tentang bagaimana seharusnya bermain gitar. Karena seperti apa kata Radiohead jika “anyone can play guitar”.

Lagu dengan bunyi-bunyian bising yang berhasil memporak-porandakan pendengaran yang tidak terbiasa dengan bunyi gitar dan distorsi ‘busuk’ dari sebuah lagu. Menjadikannya sebuah pesta kecil-kecilan yang datang tak dijemput pulang tak diantar, dari deretan band dengan sound gitar berbahaya yang menghajar estetika dengan permainan gitarnya yang ‘menyebalkan’. Menyebalkan karena, “kok dia bisa kepikiran mainin gitarnya kaya gitu ya?”, menyebalkan karena “nih kaya yang gampang gini lagunya, tapi pas ngulik gitarnya kok susah ya?”, menyebalkan karena “aaah fuck, suka banget sama sound gitar kaya gini”. Sialan emang. Your Guitar SUCKS!! Tapi ya, Lakum dinukum waliadin, bagimu gitarmu, bagiku gitarku.

Memulainya dengan sound LO-FI dari Guided By Voices, Pavement, Dinosaur Jr, dan beberapa band dengan kualitas rekaman dibawah standar, hingga pada eranya Sonic Youth dan Nirvana yang menghadirkan bunyi noise yang ampun-ampunan itu. Mereka memainkan lagu yang terbilang tidak lazim (jika harus dikatakan seperti itu) dengan karakter sound dan kekhasannya yang kuat. Sampai kemudian sekarang ini orang mengidentikannya dengan istilah noise rock atau apapun itu namanya, yang jika harus meminjam istilah band Teenage Death Star sih motonya “skill is dead let’s rockin”. Dimana bunyi gitar yang kasar, mentah, dan berisik itu malah menjadikannya menarik yang mempunyai nilai estetika tersendiri.

Tapi bukankah rock memang seharusnya ditampilkan seperti itu? Rock dengan suguhan manis dengan sound yang terlalu rapih bisa jadi terdengar sedikit kehilangan rohnya. Atau dalam konteks sederhananya adalah ketika bebunyian bising nan semrawutan itulah yang pada akhirnya bisa memenuhi ekspektasi orang yang berharap musik rock itu harusnya terdengar berisik, kasar, dan liar. Sedangkan Bon Jovi? U2? Itu band apa ya? Maaf bercanda. Keren kok si Jon dan Bono.

Entahlah, tapi menurut saya pribadi, tidak ada yang lebih indah dari ketika kita masuk ke studio, berniat latihan band tapi ga tahu mau bawain lagu apa, colok jack ke gitar, mainin lagu yang belum tahu arahnya akan kemana, ditimpali bunyi drum dengan suara sang vokalis yang sama-sama tidak tahu arah lagu akan kemana, noise dimana-mana, getting high, dan demi almarhum Kurt Cobain, tidak ada yang lebih indah dari itu. Menghabisan waktu seharian dengan main musik dengan sound yang memekakan telinga dengan sound semrawutannya itu. Dan sekali lagi jika “Lakum Dinukum Waliadin, Bagimu Gitarmu, Bagiku Gitarku”. Your guitar sucks, But your music is Good.

 

opini ini dikirim oleh Angga Wiradiputra| @hitosick

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response