close

Yuda Kurniawan: Asa Menolak Lupa dalam Tuturan Sinema Sederhana

Yuda Kurniawan

Tidak berlebihan untuk menyebutkan bahwa proses menemui diri dengan puisi-puisi Wiji Thukul adalah pengalaman yang mampu melampaui fungsi spiritualnya. Ia memiliki andil cukup besar dalam mengubah cara pandang terhadap rezim yang berkuasa; tentang apa itu tirani, bagaimana kebenaran selayaknya ditegakkan, hingga sebaik-baiknya seni ketika ia keluar dari tangan dan mulut rakyat yang lapar. Gema peluru puisi-puisi Thukul masih terdengar nyaring. Diadaptasi, diproyeksikan, hingga digubah sedemikian rupa sampai sekarang ke dalam berbagai bentuk produk budaya lain dari lukisan, musik, hingga film.

Pasca Istirahatlah Kata-Kata (Yosep Anggi Noen, 2016) yang bercerita tentang masa pelarian Wiji Thukul, tahun ini publik sinema Indonesia boleh bersenang atas rilisnya Nyanyian Akar Rumput (Yuda Kurniawan, 2018). Dan atau justru berduka di saat yang sama karena hingga tulisan ini dibuat, belum ada titik terang dari pemerintah dalam usaha rekonsiliasi kasus penghilangan paksa aktivis ’98. Lebih dari sekadar slogan dalam puisi Kebenaran Akan Terus Hidup, upaya memunculkan sosok Thukul ke dalam sinema juga turut serta berlipat ganda.

Film mengambil judul dari salah satu puisi Thukul yang dibuat di tahun 1988, bercerita tentang keluarga Thukul; Sipon Dyah Sujirah (Istri), Fitri Nganthi Wani (Anak pertama), dan Fajar Merah (Anak kedua) dalam menjalani hidup setelah suami dan/atau ayah mereka dinyatakan hilang pada tahun 1998. Ada tali-temali yang berusaha dirangkai dalam menghidupkan figur penyair dan salah satu aktivis hak asasi manusia yang dihilangkan di bawah rezim Suharto ini. Nyawa baru dihembuskan melalui puisi-puisi Wani kecil hingga dewasa sampai lagu-lagu Fajar Merah di Merah Bercerita hasil gubahan puisi Thukul yang mampu memberikan kekuatan penyembuhan bagi banyak orang; termasuk bagi Fajar dan keluarga Thukul sendiri. Bagi mereka, ini bukan hanya soal bertahan untuk melanjutkan hidup, tetapi bagaimana agar terus mempertahankan dan mewariskan semangat perjuangan sebagai salah satu peninggalan Thukul yang paling berharga.

Yuda mengambil koridor utama ini, membangun narasi dan membentuk film sedemikian rupa sebagai sebuah dokumenter musik yang turut memunculkan narasi-narasi kecil lain di sekitar aktivisme Wiji Thukul. Melanglang buana dari Busan International Film Festival, menyabet NETPAC Award dalam gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-13, hingga piala citra Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia 2018. Di sela-sela jadwal padatnya, Yuda mampir sejenak ke Festival Film Dokumenter Yogyakarta ke-17 dan berbincang pada kami tentang proses kekaryaannya dalam film, relasinya dengan keluarga besar Wiji Thukul, proyeksi besar seorang penyair revolusioner, Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-Kata, hingga pandangan dan sikap politiknya pada pilpres mendatang.

Wawancara & Foto oleh: Dwiki Aprinaldi

Bisa diceritakan sekilas tentang karier filmografi mas Yuda sebelum Jalan Dakwah Pesantren (2016) dan Balada Bala Sinema (2017) ?

2001 aku kuliah di Jogja. Di awal tahun 2003 mulai senang membuat karya-karya audio-visual, video klip, film pendek fiksi, dan dokumenter pendek sampai kemudian sempat membuat film fiksi panjang tahun 2005 berjudul Ketika Tinta Bicara, tapi aku anggap sebagai film belajar. Selesai kuliah tahun 2006 aku ke Jakarta kerja sebagai editor, edit serial dan tayangan TV di berbagai production house. Dari situ kemudian beberapa kali terlibat dalam dokumenter LSM ke beberapa pelosok daerah, kadang-kadang aku nongkrong sama teman-teman film komersil. Sempat beberapa kali tergabung dalam produksi dan kebetulan banyak nongkrong di tempatnya mas Hanung Bramantyo di Dapur Film di daerah Lenteng Agung, Jakarta. Mengerjakan Behind the scene film sampai kemudian memberanikan diri untuk menjadi asisten sutradara dia di Perempuan Berkalung Sorban (2009), Tendangan dari Langit (2011), dan menjadi asisten sutradara untuk film layar lebar lainnya dengan beberapa sutradara. Di sela-sela ini aku tetap bikin dokumenter, kemudian masih sama Dapur Film mengerjakan serial FTV, lalu disibukkan dengan pekerjaan untuk membuat dokumenter seri di Kompas TV dengan PH lainnya. Lalu di tahun 2011 aku mendirikan PH sendiri, PT. Kanumayasa Films dan waktu itu kami banyak mengerjakan iklan-iklan komersil dengan klien PT. Unilever dan lain sebagainya. Lalu di tahun 2012 aku merasa bahwa aku butuh membuat dokumenter dengan kemampuan dan keahlianku sendiri, untuk urusan di luar Kanumayasa Films, kemudian aku mendirikan Rekam Docs, ruang ini aku gunakan sebagai ruang untuk memproduksi film-film dokumenter, semacam ruang belajar bersama atau workshop bagi saya pribadi dan teman-teman para penggiat, pembuat, dan pemutar film dokumenter. Dengan Rekam Docs kami sering membuat workshop produksi dokumenter baik secara mandiri maupun hasil kerjasama dengan lembaga lain. Di tahun yang sama aku memulai project dokumenter tentang kelompok orkes dangdut gerobak keliling di Lenteng Agung, aku mengikuti mereka selama 5 tahun, dengan segala macam hiruk-pikuk kehidupan mereka. Sekarang sedang proses editing yang kemungkinan akan rilis 2020, sembari bikin itu kemudian aku bikin Nyanyian Akar Rumput di sekitar 2014 awal, tapi di awal aku bikin Nyanyian Akar Rumput Aku bantuin teman juga mbak Olin di dokumenter Masih Ada Asa (2015), syutingnya cukup singkat, dokumenter tentang Ati dan Ros, dua perempuan penyintas kekerasan seksual di antara ribuan perempuan penyintas lainnya yang berasal dari Maumere, Flores. Di pertengahan tahun 2015 aku bikin Balada Bala Sinema, kadang di Solo untuk merekam Nyanyian Akar Rumput, kadang di Purbalingga untuk Balada Bala Sinema. Lalu aku pulang ke Jakarta untuk menyunting dan mengerjakan pekerjaan komersil demi menyambung hidup dan membiayai produksi dua film itu. Sembari itu, di sepanjang tahun 2015-2016 aku ada kontrak sama perusahaan selama satu tahun di Riau, jadi aku membagi waktu untuk mengerjakan dokumenter pribadi dan proyek dokumenter dengan perusahaan yang mempekerjakan aku, jadi tiap bulan harus bolak-balik Jakarta-Riau, di Riau minimal seminggu trus balik Jakarta, begitu selama setahun, di tengah-tengah itu aku bikin Jalan Dakwah Pesantren (2016) rilis pas Hari Santri Nasional, 2017 aku rilis Balada Bala Sinema, 2018 Nyanyian Akar Rumput, selanjutnya aku rilis The Dangduters tahun 2020.

Bagaimana respons audiens maupun juri ketika Nyanyian Akar Rumput (2018) masuk kompetisi di Busan International Film Festival? Hingga tentang masuknya film di nominasi FFI 2018 hingga membawa pulang piala citra untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik?

Yuda Kurniawan @ Busan International Film Festival 2018

Aku tidak pernah menyangka bisa masuk ke Busan International Film Festival, sebagai festival yang cukup prestisius di Asia dan cukup diperhitungkan di kancah Internasional karena posisi film saat itu sebenarnya belum selesai ketika aku daftarkan, masih offline belum di-grading belum di-mixing tapi rasanya sayang kalau tidak aku masukkan siapa tahu masuk. Aku submit di last minute batas pendaftaran selang beberapa bulan kemudian dan sebenarnya agak lucu karena waktu Busan mengabarkan ternyata programmer-nya sempet kirim e-mail ke aku seminggu sebelumnya jadi tanggal 10 Agustus dia email aku kalau filmku diminta untuk world premiere dan Kompetisi tapi aku tidak tahu, dia e-mail lagi tanggal 17 Agustus dia bilang kalau seminggu lalu sudah e-mail tapi tidak ada respon ternyata e-mail dia masuk spam karena aku pake yahoo, sialan yahoo [tertawa]. Untung programmernya baik, lalu aku balas dan aku langsung kelimpungan karena posisinya aku harus ngirim DCP (Digital Cinema Package) dalam waktu seminggu, tapi untungnya Mas Andhy Pulung, co-produser film ini bersama tim Super 8mm Studio yang men-support untuk colour grading serta Mangkils Hasan dan tim Katahati Studio untuk support sound-mixing sudah sangat profesional mengerjakan ini jadi cukup cepat dan memuaskan. Meskipun akhirnya mengirim DCP telat dari tenggang waktu hingga beberapa hari karena proses mastering dan copy DCP-nya harus antri dengan banyak judul film di tempat yang sama, tapi lega sekali akhirnya DCP itu terkirim juga, setelah melalui berbagai drama.

Yuda Kurniawan @ Festival Film Indonesia 2018

Waktu di Busan respon penonton baik sekali. Sehabis pemutaran dan Q&A banyak penonton yang menghampiri aku dan berbincang-bincang, mereka sangat suka dengan storytelling yang aku gunakan di film ini. Sederhana, mudah dipahami, dan membangkitkan simpati. Karena di dokumenter ini aku menggabungkan pendekatan ekspositori dan observasi untuk membicarakan tentang tragedi ‘98, Wiji Thukul, dan keluarganya. Aku tidak mau menggunakan satu cara saja, seperti kebanyakan dokumenter saat ini yaitu pendekatan direct cinema atau observasi, yang terkadang terlalu memaksakan bentuk observasi yang justru pesannya tidak sampai dan membuat bingung penonton. Aku mencoba untuk senyamannya aku dan senyamannya mereka [keluarga besar Wiji Thukul] tanpa terbebani dengan kehadiranku di situ setiap hari. Busan tidak terlalu mempermasalahkan harus seperti apa bentuk dan pendekatan apa yang dipakai, yang penting pesan dan apa yang dimau oleh filmmaker bisa sampai dan bisa diterima penonton dan isunya penting, itu yang aku tahu dari bincang-bincang bersama programmer dan temen-temen sesama filmmaker di sana. Saat pemutaran responnya juga aku tidak menyangka karena tiga kali pemutaran dan dua pertama yang aku datang karena ada Q&A itu banyak juga lansia yang ikut menonton bawa tongkat jalan ditemani anak atau cucunya dan semua pemutaran full. Entah karena budaya menonton orang Korea memang besar atau karena mereka tertarik dengan isu ini. Mereka tahu sekarang presiden kita Jokowi cukup populer di Korea karena seminggu sebelum aku datang kalau tidak salah beliau juga hadir di Seoul untuk kunjungan diplomasi, dan opening Asian Games dengan adegan Jokowi naik motor gede ternyata sangat berpengaruh bagi orang Korea dalam melihat Jokowi sebagai presiden yang cool, asik, millenial banget lah istilahnya, tapi penonton di sana setelah menonton film ini jadi tahu bahwa ternyata ada masalah lain, yaitu Jokowi belum bisa menuntaskan kasus pelanggaran HAM, ini karena selama ini yang kita tahu adalah bahwa dia sukses dan mampu membangun banyak infrastruktur dsb. Itu mungkin pemberitaan media yang mereka baca dan tahu tentang Jokowi, setidaknya ini [Nyanyian Akar Rumput] memberikan pandangan baru kepada penonton bagaimana kondisi Indonesia setelah 4 tahun pemerintahan Jokowi khususnya masalah HAM. Aku cukup excited ketika sadar kalau musik itu memang bahasa yang universal, mereka suka lagu Bunga dan Tembok walaupun dengan bahasa Indonesia kalau musiknya bagus pasti orang juga suka, apalagi ketika mereka membaca teksnya, mereka jadi tahu bahwa “oh pantes ya Wiji Thukul menjadi orang yang dibenci pemerintah saat itu,” karena memang bagi kita orang Indonesia yang tahu framing dan kondisinya di zaman itu ibaratnya kan menyentil Suharto sedikit saja kita bisa hilang entah ke mana. Mereka bisa membayangkan bagaimana seorang diktator 32 tahun menjadi presiden yang anti-kritik dan anti-masukan, ketika mereka membaca teks puisi-puisi Wiji Thukul lalu wajar ketika dia dihilangkan oleh Rezim Orde Baru. Aku sengaja merilis film ini di tahun 2018 di momentun 20 tahun tragedi ’98. Dan tidak menyangka akhirnya bisa mendapatkan Piala Citra di FFI tahun ini.

Belum ada pola yang terbentuk dari filmografi mas Yuda dari ketiga film;  Jalan Dakwah Pesantren, Balada Bala Sinema, dan Nyanyian Akar Rumput, observasi dan eksplorasi yang dilakukan cukup dan mungkin sangat berbeda di tiap film, pertimbangan apa yang dibuat untuk memutuskan bahwa isu tertentu penting untuk difilmkan?

Kalau dilihat dari Balada Bala Sinema sama Nyanyian Akar Rumput itu adalah dua hal yang aku cintai dan aku berusaha menggambarkannya dalam karya filmku itu. Balada Bala Sinema itu kan aku ngomongin film dan di situ aku ngomongin 10 tahun Festival Film Purbalingga, Tentang kisah Balada orang-orang (Bala atau Bolo dalam bahasa Jawa bisa diartikan semacam teman seperjuangan) yang mencintai sinema. Membuat Balada Bala Sinema adalah satu hal yang aku cintai: film. Aku mem-film-kan film, aku mem-film-kan orang-orang film yang punya cinta yang besar kepada film: Bowo Leksono dan CLC Purbalingga. Sedangkan Nyanyian Akar Rumput karena selain aku nge-fans sama Wiji Thukul, aku juga suka musik. Dari dulu aku sudah bercita-cita untuk membuat dokumenter musik tapi tidak pernah kesampaian sampai kemudian aku tahu Fajar Merah yang kemudian bermusik bersama Merah Bercerita dan tahunnya pas 2014 di saat kita ada harapan baru dengan salah satu calon presiden. Aku pikir itu waktu yang tepat untuk aku bikin film ini. Semuanya sebenarnya berangkat dari passion ku sendiri yaitu film dan musik.

Screening Jalan Dakwah Pesantren

Untuk Jalan Dakwah Pesantren aku ingin membuat film tentang pesantren karena rumahku tak jauh dari pesantren, aku tinggal di Banyuwangi di mana budaya NU-nya kuat sekali dan NU sangat lekat dengan budaya pesantren. Aku tidak pernah nyantri tapi aku melihat kehidupan pesantren itu menarik sekali sebagai sebuah budaya sebagai sebuah sub-culture kalo istilahnya Gus Dur. Sebelumnya belum pernah terbesit untuk kemudian syuting sampai akhirnya ketemu mas Hamzah Sahal, salah satu jurnalis di NU online dan cukup aktif di organisasi NU. Suatu ketika ada acara di PBNU aku datang dan kebetulan yang dibahas masalah film waktu itu. Dari situ aku mengenal mas Hamzah sebagai salah satu audiens di acara itu. Selesai acara lalu kita berbincang-bincang soal film lalu obrolan mengrucut ke soal pesantren. Kebetulan waktu itu kondisi masyarakat kita sedang labil dalam beragama semacam mengalami krisis identitas dalam memeluk agamanya sendiri yaitu Islam. Ada yang merasa Islamnya paling benar yang lain salah. Saat itu mulai banyak orang mulai mabuk agama. Ada yang menganggap yang beda agama adalah kafir dan lain sebagainya. Tahun 2015 itu adalah tahun yang paling ribet dalam urusan beragama dan berlanjut hingga sekarang. Di Jalan Dakwah Pesantren aku ingin bicara Islam dari sudut pandang pesantren yang berkembang di Nusantara ini dan sudah punya sejarah sangat panjang dari abad ke-6 dari zaman Wali Songo, kemudian bagaimana Islam berbaur dengan masyarakat kita yang sangat cultural tidak dengan cara kekerasan seperti sekarang. Aku melihatnya orang-orang yang ingin mengatakan dirinya Islam banget itu justru yang menggunakan cara-cara kekerasan, memaki-maki yang tak senada dengan mereka meskipun sama-sama Islam. Islam kita itu bukan Islam yang seperti itu, kemudian aku melihat sisi Islam dari pesantren bahwa di pesantren itu Bhinneka Tunggal Ika dari seluruh penjuru nusantara tinggal di satu pesantren yang sama dan pesantren itu adalah cerminan Indonesia dengan sistem pendidikan yang sudah ada beratus-ratus tahun umurnya. Di awal proses produksi Jalan Dakwah Pesantren bersama Mas Hamzah, lalu ketemu temen Mas Hamzah, Pak Muhtaddin orang dari KEMENAG, beliau tertarik dengan apa yang kami kerjakan akhirnya dikasih uang untuk produksi dan cukup lah untuk waktu itu untuk biaya operasional. Kita lalu keliling ke banyak pesantren di pulau Jawa, kita mengerjakan film itu dengan penuh suka cita dibantu banyak pihak hingga proses post-production. Dan tidak menyangka juga akhirnya direspon sangat luas. Lebih dari 100 titik pemutaran dan diskusi hingga Sekarang, terakhir diputar di Leiden University dan beberapa kampus lainnya di Belanda dan itu pengalaman yang sangat tidak bisa aku lupakan untuk memutarkan film secara independen dengan total hampir 70.000 penonton, jumlah yang banyak untuk ukuran pemutaran keliling disertai diskusi. Aku bikin pemutaran di kampus-kampus, sekolah, madrasah, lapangan, komunitas pemutar film, kafe, hingga ke pesantren-pesantren tradisional yang mereka tidak kenal TV atau radio. Aku memutar film di sana bawa layar sendiri bawa proyektor sendiri, sound-nya mereka yang urus, kadang-kadang kami juga pakai baliho bekas pengajian disorot ke balihonya, bagian belakang yang putih, juga ke tembok sampai pernah kita muter yang menonton 5.000 orang di sebuah lapangan pesantren di kota Gresik pakai 5 layar dan pernah di satu waktu di hari Santri di tahun 2016 itu di Jogja dalam sehari 6 kali pemutaran dan semuanya diskusi, itu benar-benar tidak terlupakan, lelah tapi bahagia. Aku melihat sebetulnya antusiasme penonton kita untuk dokumenter itu besar, cuma tergantung kitanya mau tidak untuk mendekatkan film kita kepada penonton dan tidak tergantung sama bioskop. Karena yang mereka butuhkan kan sebenarnya tontonan alternatif dan bertemu filmmaker-nya. Ketika ada filmmaker, mereka antusias bertanya dari pertanyaan ringan sampai pertanyaan berat, asyik sekali bisa membuka ruang-ruang diskusi dan silaturahmi dengan penonton dari berbagai macam latar belakang suku, agama, dan ras.

Beberapa proyek dilakukan dalam rentang tahun yang sama, bagaimana cara membagi jadwal syuting di tiap film melihat lokasi yang berbeda-beda?

Waktu itu aku mikir seperti ini, momentum kadang bisa kita ciptakan kadang tidak. Aku takut kehilangan momen, jadi semampunya aku kalau bebarengan ya aku jalanin juga bebarengan. Contoh Balada Bala Sinema, 2016 aku pikir tepat untuk merayakan momentum satu dekade Festival Film Purbalingga, yang aku selalu pikirkan adalah goal-nya. Mungkin jika aku membuatnya ketika usia Festivalnya di tahun ke 8 mungkin itu akan sangat biasa, nah akan luar biasa ketika aku membuatnya tepat diusia mereka satu dekade, tepat di usia festival itu 10 tahun di tahun 2016. Itu menurutku adalah pencapaian yang luar biasa sebagai sebuah festival independen yang tidak dibiayai pemerintah atau sponsor. Dari 2015 aku sudah persiapan buat festival mereka yang ke-10 tapi di tahun sebelumnya, 2014 aku sudah memulai Nyanyian Akar Rumput karena di tahun itu suhu politik mulai menghangat terlebih ketika Jokowi mulai dicalonkan menjadi Presiden oleh PDI-P dengan rival Prabowo Subianto yang notabene dia adalah mantan jenderal kopassus di era Orde Baru yang punya masalah HAM, yang diduga menculik dan menghilangkan para aktivis pro-demokrasi. Di sisi lain aku tahu saat itu Fajar Merah dan bandnya Merah Bercerita juga mulai sibuk mempersiapkan album perdana. Jadi kondisi dinamika politik di Jakarta dan kondisi Fajar dan keluarganya inilah yang menggerakkan aku untuk mulai merekam Nyanyian Akar Rumput. Aku cukup intens waktu itu mengikuti kampanye, sudah seperti wartawan, aku ikut konferensi pers, kampanye, ambil gambar ini itu banyak sekali dan bolak-balik Jakarta-Solo untuk merekam aktivitas Fajar dan keluarganya.

Adakah problem yang dialami ketika melakukan riset tentang Wiji Thukul seperti kekurangan arsip atau mungkin hal yang lain?

Sebetulnya memang jarang dokumentasi tentang Wiji Thukul di saat itu. Aku kurang tahu mungkin karena dia ke kiri-kiri-an jadi tidak begitu banyak dokumentasi dalam bentuk video yang sangat disayangkan juga, atau apakah di saat itu dia tidak ingin diekspos atau tidak ada orang yang peduli dengan pergerakan dia atau bagaimana. Dan yang kita ketahui sekarang dokumentasi tentang Wiji Thukul ya yang ada di YouTube dan yang ada di film itu. Ada beberapa yang lain mungkin, aku tidak tahu. Memang susah mencari Wiji Thukul dalam bentuk video dan itu cukup jadi kendala sih.

Saya melihat Nyanyian Akar Rumput (2018) memang disasar untuk penonton yang sebelumnya belum terlalu mengenal Wiji Thukul dan atau Fajar Merah, film ini seperti bab awal atau perkenalan sebelum penonton bisa masuk lebih dalam ke karya-karya dan aktivisme Wiji Thukul dan atau Fajar Merah di Merah Bercerita sendiri, ada tanggapan?

Benar, tapi aku tetap berharap ada film lain tentang Wiji Thukul dalam bentuk drama fiksi based on true story yang bisa menggambarkan Wiji Thukul seperti apa yang kita ketahui, di masa yang akan datang. Maksudku seperti ketika dia memimpin demonstrasi menentang PT. Sritex, menentang Limbah Sari Warna, dan peristiwa-peristiwa penting yang kemudian membuat dia menjadi orang yang sangat dicari rezim orde baru, itu menarik sekali tergantung siapa yang ingin memproduseri. Tapi menurutku itu sangat penting karena kita membicarakan peristiwa ’98, masa peralihan dari Orde Baru ke Reformasi, rentang waktunya tidak terlalu jauh seperti misal ketika kita bicara peristiwa ‘65 yang mungkin secara budget produksi akan lebih mahal set-nya. Tapi setidaknya Istirahatlah Kata-Kata itu cukup untuk menggambarkan Wiji Thukul dari sisi yang lain, tapi tetap harus ada yang lain lagi, seperti beberapa dokumenter atau film lain yang menggambarkan satu figur sama tapi dari sudut pandang yang lain, seperti dokumenter The Beatles misalnya, ada banyak sekali judul dengan berbagai sudut pandang dengan sutradara yang berbeda juga.

Nyanyian Akar Rumput (Yuda Kurniawan, 2018)

Secara personal, bagaimana mas Yuda mengenal sosok Wiji Thukul? Karena mungkin bagi kami generasi yang lahir dan besar pasca reformasi tentu ada jarak yang tercipta dan satu-satunya cara bagi kami untuk mengenal sosok Wiji Thukul adalah dari puisi-puisi, tulisan, berita, dan mungkin film tentang Wiji Thukul yang kemunculannya baru dirasakan akhir 3 tahun ini, bagaimana untuk mas Yuda sendiri?

Mungkin seperti yang kamu ketahui, karena mungkin usia kita tidak jauh berbeda dan referensi kita tentang Wiji Thukul mungkin sama. Mungkin akan terasa berbeda bagi orang-orang yang se-generasi dengan dia, angkatan ‘98 yang mungkin memang mengenal langsung seperti apa gesturnya seperti apa cara berbicaranya. Mungkin bisa tahu banget, kalau yang aku tahu ya dari video, tapi kita kan tidak tahu keseharian dia seperti apa, kita tidak akan pernah tahu. Nah sosok Wiji Thukul yang aku dan kebanyakan orang tahu yang memang tidak mengenal dia dan berusaha mencari tahu dari buku dan tulisan kurang lebih sama. Mungkin kita sepakat bahwa Wiji Thukul adalah sosok yang revolusioner terlepas dia tetap manusia yang punya rasa takut, punya rasa rindu terhadap keluarga ketika dia jauh dan ingin bertemu anak, sangat manusiawi sekali.

Mengapa memutuskan untuk mengambil koridor sudut pandang dan memproyeksikan seorang Wiji Thukul yang seperti di Nyanyian Akar Rumput (2018), di saat-saat puncak aktivisme beliau? Bukan Wiji Thukul seperti di Istirahatlah, Kata-Kata (2016) ?

Sebetulnya tidak bisa juga membandingkan Nyanyian Akar Rumput dan Istirahatlah Kata-Kata, yang satu dokumenter yang satunya drama based on true story. Di Nyanyian Akar Rumput, aku berusaha menggambarkan Wiji Thukul sebagai sosok yang revolusioner memang, walaupun dengan segala keterbatasan footage tapi setidaknya yang menurutku paling ngena adalah ketika mbak Wani membacakan puisi di Yap Thiam Hien Award secara emosional “apakah bapak mau aku dianggap sebagai anak buron?,” dari situ kemudian aku bisa memasukkan foto-foto Wiji Thukul meskipun dengan keterbatasan footage foto. Di Nyanyian Akar Rumput aku tidak hanya bicara tentang Wiji Thukul tapi aku juga harus menggambarkan keluarganya: mbak Sipon, Mbak Wani, dan Fajar, karena ketiga karakter ini sangat kuat. Mbak Sipon dulunya sangat aktivis sekali, dan aku harus membagi cerita Wiji Thukul itu siapa, mbak Sipon itu bagaimana, Fajar, dan mbak Wani. Porsinya harus pas sedangkan aku juga harus memberikan gambaran kondisi politik 2014 di saat harapan keluarga ini terhadap jokowi muncul. Artinya aku juga harus menceritakan tragedi ’98, minimal tentang bagaimana Orde Baru, bagaimana peristiwa ’98 itu terjadi, ini kemudian jadi tantangan buatku. Di sisi lain aku tidak punya gambaran tentang Wiji Thukul secara visual karena bagaimanapun juga penonton kita butuh visual yang memperlihatkan cara berbicara dan membaca puisi Wiji Thukul walaupun sebenarnya mereka bisa mengakses di YouTube tapi bagi yang tidak mengakses paling tidak bisa melihat Wiji Thukul dari film ini, itu cukup jadi kendala. Dan saya sangat beruntung ketika dikasih copy rekaman Wiji Thukul saat membaca puisi Apa Guna dan lainnya dalam bentuk kaset VHS oleh mbak Sipon. Itulah yang kemudian aku pakai di film.

Saya melihat bahwa apa yang benar-benar menampar, mengguncang, atau mampu mencampur aduk perasaan penonton dari film ini justru hadir dari footage-footage lama, entah saat Wiji Thukul berorasi atau mbak Wani yang sedang membacakan puisi ketika masih belia, mungkin bisa diceritakan proses dari mendapatkan footage-footage tersebut; dari izin, hingga pendekatan yang dilakukan ke keluarga besar Wiji Thukul?

Aku sudah cukup lama tahu Fajar Merah sampai akhirnya di satu momen aku nonton mereka sebagai sebuah band itu di Taman Ismail Marzuki di Asian Literary Festival awal tahun 2014. Cuma aku tidak tahu mau masuk dari mana, nah aku udah lama kenal Mas Lexy Rambadeta seorang jurnalis independen dan filmmaker senior yang cukup rapi dalam mendokumentasikan sesuatu termasuk kehidupan masa kecil Fajar Merah, dan waktu itu ia pernah membuat film dokumenter berjudul Batas Panggung tahun 2000, yang berkisah tentang Wiji Thukul dan beberapa korban penghilangan paksa lainnya.  Kemudian aku minta dikenalin ke Fajar Merah sama mas Lexy karena aku pernah lihat dia mengunggah video Fajar Merah ketika dia sedang perform di acara mengenang Munir dan aku tahu dia cukup dekat dengan keluarga Wiji Thukul. Mas Lexy punya koleksi ribuan kaset termasuk koleksi kehidupan fajar ketika masih berusia 6 tahun dalam bentuk mini DV yang belum di-digital-kan, dari situ aku mulai cek satu-satu ketika ketemu aku capture. Kemudian aku ke Solo ngobrol banyak hal dengan Fajar, mbak Wani dan mbak Sipon, dari situlah akhirnya aku mulai intens bolak-balik Jakarta-Solo untuk mulai merekam Fajar dan keluarganya. Aku menggunakan segala macem footage yang bisa mendukung jalan cerita film ini  dan posisinya waktu itu aku diberi banyak footage sama mas Lexy, dia punya footage-footage lama Fajar yang belum pernah dipakai, aku pakai di film dan itu cukup membantu bagi aku membangun cerita karena mau tidak mau aku harus bercerita tentang masa-masa kecil mbak Wani dan Fajar. Untuk footage Fajar waktu kecil itu aku rasa adalah keberuntungan karena belum pernah dipakai Mas Lexy terus kemudian aku bisa memakainya dan akhirnya bisa menjadi kekuatan dalam film ini. Overall footage lama yang kudapat dari mas Lexy adalah mulai dari suasana rumah, Fajar kecil, sampai Yap Thiam Hien Award, kalau kerusuhan ‘98 itu aku dapatnya dari almarhum Om Tino Saroengallo. Aku dikasih master high-res film beliau yang berjudul Student Movement in Indonesia: They forced them to be violent (1999). Ada beberapa tambahan footage lain dari teman-teman tapi kebanyakan dari mas Lexy.

Setengah ke belakang intensitas film lebih berfokus pada proses kekaryaan Fajar Merah dan kawan-kawan Merah Bercerita, keputusan seperti apa yang diambil mas Yuda untuk membagi porsi narasi dan penceritaan dari banyak subjek yang sebenarnya bisa digali lebih dalam lagi dalam film ini?

Aku tetap menggunakan struktur tiga babak karena bagaimanapun juga itu adalah struktur yang bisa diterima oleh penonton universal: awal, tengah, akhir. Mau tidak mau aku harus bisa membagi cerita itu dengan 5 subjek atau narasi yaitu: Wiji Thukul, mbak Sipon, mbak Wani, Fajar dan Merah Bercerita, dan dinamika politik pilpres. Memang sebetulnya sangat matematis ketika kita bikin film. Sebelum editing aku mulai membuat catatan yang aku tulis dan aku tempel di tembok dan aku bagi menjadi 3 babak, tiap struktur cerita terdiri dari 10 menit hingga akhir. Setiap hari aku lihat kertas-kertas itu sambil membayangkan adegannya. Karena semua footage aku yang ambil sendiri jadi aku masih ingat semuanya. Karena kebanyakan dokumenter yang bagus, apapun bentuknya entah itu ekspositoris, observasi, pendekatan issue-driven maupun character-driven, dsb., hitungan pembagian sequence menit per-menit dari tiap struktur plotnya pasti tepat. Dan dari semua dokumenter yang pernah aku tonton pasti begitu, apalagi dokumenter Amerika. Aku banyak menonton film dokumenter musik, ada ratusan judul yang aku koleksi, beberapa yang aku suka aku tonton berkali-kali, aku pelajari dan aku catat. Karena di film ini aku menggabungkan bentuk ekspositori dan observasi jadi aku bisa dengan leluasa menggunakan footage lama, interview, daily live shot untuk merangkai cerita, tanpa harus terbebani ini bentuknya harus observasi, direct cinema, atau harus ekspositori aja. Dan aku berusaha untuk patuh dengan hitung-hitungan itu waktu aku menyunting film ini. Seperti menit 0 sampai 10 harus bicara apa, menit 10 ke menit 20 harus bicara apa dan seterusnya. karena 10 menit pertama itu penting sekali untuk membicarakan Fajar Merah, siapa dia, anaknya siapa dia, minimal tergambarkan seperti bagaimana kondisi dia masa lalu dan saat ini. Aku menggunakan sudut pandang mbak Wani sebagai kakak untuk bercerita tentang Fajar Merah masa kecil sampai kemudian dia beralih untuk mencintai musik dan mengenal bapaknya. Kemudian aku bisa mendapatkan dua gambaran karakter si Fajar dan kemudian mbak Wani sebagai kakak Fajar. Dan yang menjadi beban buat aku sebetulnya porsi kondisi dan dinamika politik saat itu, bagaimanapun juga ketika aku mengenalkan ’98, dari sini aku harus menceritakan tentang kerusuhan, tentang Wiji Thukul dan 12 aktivis lainnya yang hilang. Tapi peristiwa ini kan bermula dari kasus 27 Juli 1996 ketika kantor PDI digeruduk kemudian Wiji Thukul dan aktivis pro-demokrasi lainnya dikambinghitamkan, nah PDI ini yang kemudian jadi kuncinya, kita bisa melihat bahwa PDI ini adalah musuh bebuyutan Suharto. Suharto tidak mau mengakui Megawati sebagai ketua umum PDI yang diakui kan Soerjadi akhirnya Megawati membentuk PDI-P. Akhirnya di 2014 aku melihat ada peristiwa yang terulang kembali, Megawati tetap ingin “melawan” tapi dia mengajukan Jokowi sebagai calon presiden, jadi setelah peristiwa ‘98 kemudian aku masuk ke peristiwa pemilu tahun 2014. Dinamika itu harus tetap aku gambarkan secara intens ketika mbak Sipon antusias melihat berita-berita tentang politik elektoral di TV, bagaimana kondisi Jakarta pasca pengumuman dari KPU, apatisnya Fajar tatkala mbak Sipon tetap mengikuti berita, dan ia lebih memilih manggung bersama bandnya Merah Bercerita tanpa peduli siapa yang menang. Sampai kemudian Gerindra menolak hasil KPU ke Mahkamah Konstitusi. Itu cukup menyita [durasi], aku cukup banyak ganti rough cut, film ini final di rough cut ke-10, setelah sebelumya, dilain waktu dan kesempatan, aku tontonin film ini ke lebih dari 30 orang dengan berbagai latar belakang profesi untuk mendengar pendapat dan menerima masukan dari mereka. Jadi peristiwa politik dalam film ini cukup berganti posisi banyak sekali tapi aku sudah harus menyelesaikan urusan politik elektoral di menit ke-60 entah bagaimanapun caranya. Selanjutnya aku lebih fokus bercerita tentang Fajar Merah dan Merah Bercerita tanpa terdistraksi masalah politik lagi walaupun kita semua tahu kalau Jokowi pada akhirnya menang tapi aku tetap harus menggambarkan peristiwa saat itu yang cukup menuai banyak ganjalan di Mahkamah Konstitusi: kerusuhan dari pihak Prabowo dan segala macam peristiwa yang terjadi saat itu juga tidak jauh dengan apa yang terjadi di struktur film ini.

Nyanyian Akar Rumput (Yuda Kurniawan, 2018)

Ada sikap politik yang nampak jelas terlihat dalam film, yang mungkin beberapa dari penonton baru tahu dengan contoh kecil bahwa ada demonstrasi dari pihak timses Prabowo yang tidak terima dengan hasil pemilu 2014 lampau, pun begitu, ia mencoba tetap netral dengan menghadirkan narasi bahwa Jokowi pun belum juga bisa menepati janjinya secara konkret untuk mengentaskan rekonsiliasi atas isu penghilangan paksa aktivis ’98. Apa yang mas Yuda hendak sampaikan lewat posisi seperti ini?

Sebetulnya aku cuma ingin menyuarakan apa yang dirasakan sama keluarga ini ketika Jokowi memutuskan untuk mengajukan diri sebagai capres. Sudah terasa excited-nya mbak Sipon, aku hanya berusaha menangkap momen itu tanpa ada intervensi karena seperti di film memang beliau bicara kalau dia sudah memilih Jokowi sejak dia menjadi walikota lalu dia semakin senang ketika dia mengajukan diri sebagai gubernur Jakarta hingga lanjut sebagai capres yang dicalonkan dari kubu PDI-P. Keluarga ini punya irisan yang cukup besar dengan PDI-P karena orang-orang dari PRD (Partai Rakyat Demokrat) dulu cukup banyak yang ke PDI-P seperti Budiman Sudjatmiko, dll. Dari situ kemudian timbul harapan besar ketika Jokowi naik otomatis orang-orang di sekitar dia akan mendukung untuk menyelesaikan kasus HAM tahun ‘98 dan jelas rivalnya adalah Prabowo. Ini menjadi sikap politik yang kuat bagi keluarga ini secara tidak langsung yang memang secara otomatis akan tergambarkan seperti itu secara verbal dan secara visual. Memang kondisinya seperti itu, sampai mbak Sipon rela sablon kaos dijual meski untung tipis yang penting bagaimana caranya orang bisa punya kaos gambar Jokowi dan nyoblos jokowi, terserah kemudian orang menilainya bagaimana tapi sikap politik Mbak Sipon memang ke Jokowi.

Bagi mbak Wani atau Fajar?

Kalau mbak Wani jelas dia sudah apatis, golput atau tidak aku kurang tahu. Fajar aku belum tahu, belum aku tanyakan, tapi untuk Fajar dia lebih selow, dan dia tidak pernah menyatakan itu.

Ada tanggapan tentang sikap mas Yuda dalam melihat pemilu mendatang? Adakah sikap skeptis kepada kedua belah pihak atau justru percaya bahwa akan ada pihak yang bisa menentukan takdir rekonsiliasi atau mungkin sikap yang diambil lebih cair yang mungkin bisa berubah seiring berjalannya waktu?

Kalau aku sih tidak mau golput ya, meski ada beberapa temen yang kecewa dengan Jokowi lebih memilih untuk Golput. Karena menurutku golput tidak akan menyelesaikan masalah mungkin bisa jadi suaramu akan hilang dan dirampas oleh Prabowo. Menurutku harus tetap memilih bagaimanapun juga dan akan tambah runyam ketika Prabowo menang, jadi pilihanku tetap jokowi apapun yang terjadi karena tidak ada pilihannya lagi. Dia [Jokowi] adalah pilihan terbaik dari yang terburuk. Jika mengutip pendapat Romo Magnis Suseno, “pemilu bukan untuk memilih yang terbaik tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa,” kurang lebih seperti itu sikap politik saya.

Tapi apakah masih ada kepercayaan untuk rekonsiliasi ’98 bagi Mas Yuda sendiri secara personal?

Masih, aku ingin filmku tetap bisa diputar dan ditonton oleh Jokowi, habis nonton kita diskusi, mengundang banyak pihak. Karena bagaimanapun juga ini demi kepentingan keluarga Wiji Thukul dan keluarga korban penghilangan paksa dan korban pelanggaran HAM berat lainnya. Sudah 20 tahun bahkan lebih kasus ini belum menemukan titik terang. Menurutku ini bukan hanya tanggung Jawab Jokowi sebagai presiden tapi juga pemerintah bahkan negara. Artinya semuanya harus terlibat untuk menuntaskan kasus ini. Dan ini menjadi tanggung jawab semua jajaran pemerintahan pasca ’98 mulai dari mantan Presiden BJ Habibie, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Jokowi, kalau semua masalah dibebankan ke Jokowi tidak adil juga karena negara harus bertanggung jawab. Bagaimanapun caranya semua harus dewasa dalam menyikapi ini.

Agenda ke depan untuk mendistribusikan film ini?

Kalau pesannya mbak Wani, aku harus tetap independen. Aku tetap ingin melakukannya [distribusi] seperti di film-filmku sebelumnya, diputar keliling dengan diskusi apalagi setelah Jalan Dakwah Pesantren dan Balada Bala Sinema aku melihat bahwa pertumbuhan komunitas pemutar film di seluruh kota itu semakin besar karena komunitas film tidak sekadar komunitas produksi. Komunitas pemutar film banyak sekali dan itu jadi salah satu tempat kita untuk memutarkan film, jadi menurutku tidak ada alasan untuk tidak diputar, jadi tidak harus di bioskop komersil tapi tempat-tempat itu [bioskop alternatif] dan lain sebagainya yang justru itu jadi tempat yang asik bagi kita berinteraksi, diskusi, dan membicarakan hal-hal yang bisa dilakukan ke depan. Sebetulnya sudah ada beberapa orang yang ingin membiayai film ini untuk masuk ke bioskop, tapi harus dipikir dulu karena aku pikir ketika ini dirilis di tahun 2019 itu bisa menjadi alat tunggangan politik karena aku juga tidak mau jadi beban bagi keluarga ini ketika ini jadi alat tunggangan politik untuk mencapai tujuan tertentu bagi elite politik Prabowo untuk menyerang Jokowi dan sebaliknya. Dan cara-cara paling tepat yang bisa dilakukan sementara ini adalah memutarkan film ini di komunitas-komunitas pemutaran seperti di kampus-kampus, sekolah, dan bioskop alternatif yang dikelola secara independen serta tetap memutarkannya di festival-festival film baik dalam maupun luar negeri.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response