close

Yusi Avianto Pareanom: Seorang Paman yang Gemar Bercerita

IMG_6019
Yusi Avianto
Yusi Avianto

Interview by: Adya Nisita & Sekar Banjaran Aji

Penulis terlambat panas, begitu istilah yang disampirkan ke pundak laki-laki berusia 48 tahun ini. Lulus dari jurusan teknik geodesi, kerja jadi wartawan, kini namanya menanjak tenar di dunia sastra. Yusi Avianto Pareanom atau sering disapa Paman Yusi sedang sibuk-sibuknya bertandang kesana kemari gara-gara kehebohan yang diciptakan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Dongeng yang katanya memakan waktu 6 tahun pembuatan ini berhasil menggugah minat pembaca karena berbagai kebaruan yang ditawarkan. Gabungan kisah coming of age, petualangan erotis, kuliner, serta sisipan humor menggelitik, dijahit apik jadi narasi kolosal lamun ringan dibaca.

Lama bergulat di dunia jurnalisme tidak membuatnya lupa akan minat untuk terus bercerita fiksi. Dedikasinya di dunia perbukuan juga tidak sebatas penelur karya. Tahun 2005, Yusi bersama seorang teman satu almamater mendirikan Penerbit Banana yang sekaligus berlaku sebagai pencetak buku-buku garapannya. Lebih dari itu, sejak April lalu ia resmi diangkat jadi Ketua Komite Sastra di Dewan Kesenian Jakarta periode 2015-2018. WARN!NG berkesempatan menemui paman dari ibu kota ini di sela-sela kepadatan jadwalnya. Selepas singgah ke Jogja menghadiri acara bedah buku teranyarnya, beliau langsung bertolak ke Makassar dalam rangka mengisi jajaran penulis Indonesia di Makassar International Writers Festival 2016.

Di halaman belakang sebuah kedai kopi di mana bukunya akan didiskusikan bersama, Yusi mengambil kursi sebelah kami. “Aku duduk sini, ya.” Ia mengenakan kemeja hitam khasnya dipadu celana jeans biru muda dan tas ransel yang dipangku. Betapa ramahnya, begitu kesan pertama didapat. Kenihilan jarak pada posisi duduk kami membuahkan kesempatan bagi perbincangan basa-basi. Pribadi yang senantiasa mengindahkan detail dan tajam penglihatan adalah nilai plus dari paman satu ini. Imbas karakternya tadi bisa langsung terlihat pada karya cerita pendek, guratan jurnal di media sosial, hingga dongeng panjangnya. Yusi begitu luwes memainkan segala hal-ihwal yang remeh sekalipun di sekitar sebagai bekal memperkaya kisahnya.

Sayang sekali, acara bedah buku usai terlampau larut. Wawancara berlangsung ketika sang paman tampak lelah dan ingin segera mendamaikan gejolak di perut. Meski begitu, penggemar-penggemar yang mampir minta legalisir tetap dilayani di sela-sela wawancara. Tidak hanya mengobral senyum, laki-laki berkacamata ini juga repot-repot menanyai nama, pesan, bahkan menyempatkan ngobrol sepatah-dua patah kata. WARN!NG mesti rela menukar kehangatan Yusi dengan fokusnya yang terbelah. Padahal masih banyak pertanyaan trivial yang nampaknya menarik untuk dicari tahu namun belum sempat terlontar. Terkait kegemarannya makan daging sapi setengah matang atau kejenakaannya mencerna agama misalnya.

Terlepas keterbatasan waktu serta hal lainnya, lewat wawancara ini lisan Yusi terbukti setajam gores penanya. Cara bertuturnya juga tidak jauh berbeda dengan tulisannya, diselipi humor dan sentilan, lugas namun tidak pelit substansi. Paman ini kelepasan juga memberi wejangan-wejangan khas orang tua, banyak di antaranya adalah imbauan untuk mengukuhkan aktivitas membaca sebagai kebiasan. Baginya, membaca adalah kunci bagi segala pintu, karya yang bermutu juga kekayaan pikir.

Yusi Avianto
Yusi Avianto

Pasar Raden Mandasia ini tersegmentasi, ya?

Yang pertama, jelas ditujukan untuk dewasa karena materinya. Kedua, untuk teman-teman yang pada dasarnya sudah suka membaca. Apakah orang yang dengan pengalaman membaca sedikit tidak bisa menerima ini? Moga-moga sih bisa. Tapi kalau teman-teman punya pengalaman baca yang lebih banyak—ini asumsiku saja—mungkin dia akan bisa mengenali teks-teks, kejadian-kejadian, yang aku rujuk. Sebenarnya orang yang bergelut dengan dunia penulisan juga bisa mengira-kira atau setidaknya membaca strategi penulisanku ini: bagaimana pembuatan karakter, bagaimana riset yang kulakukan, misalnya seperti itu.

Apakah pengalaman membaca berpengaruh pada proses kepenulisan Anda sendiri? Kisah Raden Mandasia agaknya mirip dengan klasik The Catcher in the Rye.

Kalau mirip soal setting sih tidak, tapi lebih ke cerita tentang pendewasaan diri seseorang usia belasan atau dua puluhan saat mencari ‘saya ini sebenernya siapa’. Itu kan sebenarnya tema klasik dan sudah banyak sekali yang mengolah. Cuma yang paling terkenal The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger dan memang merupakan salah satu pengarang favoritku. Apakah terpengaruh? Setiap bacaan yang kubaca pasti ada pengaruh pada karyaku, tapi bagaimana bacaan-bacaan itu kemudian diolah menjadi suaraku sendiri. Bagi seorang penulis yang paling penting kan menemukan suaranya. Begitu dia mendapatkan suaranya, pengaruh-pengaruh itu akan melebur menjadi suara si penulis.

Dapat referensi dari mana sih untuk menghasilkan karya dongeng kolosal ala babad Jawa seperti Raden Mandasia ini?

Saya adalah pembaca yang rakus. Nyaris semua jenis bacaan kulahap. Mau cerita lama, kitab suci berbagai agama, ilmu pertukangan, semua kubaca sepanjang menarik minatku. Mungkin itu bagian dari keisengan, tapi bisa juga bagian dari belanja gagasan. Misalnya kalau ketemu kutipan menarik bakal terpikir: ‘enak nih kalau dipindah settingnya, enak nih kalau dikasih pritilan dikit-dikit.’

Bicara soal gaya menulis, apakah ada perbedaan gaya sebelum jadi wartawan dan setelah menjadi wartawan?

Nggak sebenarnya, kecuali media-media yang mencantumkan nama penulis, seperti The Economist. Tapi kalau media-media yang tidak mencantumkan nama penulis biasanya akan tetap ketahuan sisi personal si penulis. Di Tempo kan juga ada sekian banyak penulis. Untuk yang menulis soal nasional punya gaya macam-macam, begitupun para penulis feature. Nah, mereka bisa menulis jurusan kiri, kanan, tengah, segala macam pasti terpengaruh oleh asupan masing-masing. Yang kita produksi itu kan tergantung asupan, makin banyak baca, akan makin banyak keterampilannya. Karena kau meminjam gaya beberapa penulis sebelum akhirnya kau buat sendiri. Tapi kalau bacaanmu terbatas, apa boleh buat, kau akan mentok. Jadi ya perbanyak membaca, bagaimanapun kita masih sangat kurang membaca.

Menanggapi pengakuan Anda sebagai pembaca yang rakus, kok sejauh ini jarang ya menemukan mahasiswa teknik di lapangan yang suka membaca?

Wah, pergaulanmu dengan anak teknik kurang banyak tuh. Nirwan A. Arsuka itu anak teknik nuklir bacaannya luar biasa, Nirwan Dewanto anak teknik geologi juga bacaannya luar biasa. Itu anak humaniora yang nggak baca juga banyak. Tidak bisa digeneralisir karena punya peluang besar luput. Tapi nggak tau ya kalau sekarang, di generasiku anak teknik bacaan politiknya juga banyak.

Gini, orang yang memang nggak suka baca akan tidak pernah sempat membaca. Katakanlah, ada orang yang tidak membaca karena nggak punya duit, karena buku mahal dan sebagainya. Ketika orang ini ekonominya membaik tapi dia nggak ada tradisi membaca, saya yakin ia tetap tidak akan membaca. Ini kan kebiasaan, baik maupun buruk bakal melekat. Apa yang kau suka lakukan setiap pagi? Pasti akan kau ulang. Manusia punya kecenderungan kayak gitu, makanya ada ungkapan old habits die hard, ada kebiasaan-kebisaan yang sulit diubah. Maka biasakan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Kalau aku ngomong gini kaya orang tua kan?

Lelaki Harimau sukses di mancanegara, apakah ada rencana untuk menerjemahkan karya sendiri?

Sudah ada sebenarnya, tapi buku kecil. Kalau (menerjemahkan) Raden Mandasia adalah ambisi, bukan lagi rencana. (Terganjal) persoalan biaya, juga persoalan memilih penerjemah yang pas karena aku mungkin akan nggak punya waktu dan tenaga untuk menerjemahkan karya sendiri. Kalau sekadar sebagai pemeriksa sih masih bisa, supaya penerjemahnya bisa menangkap suaraku. Aku senang kawanku, Eka Kurniawan, sudah membuka jalan terjemahan diterima di banyak tempat. Moga-moga ini juga berimbas pada karya-karya yang lain, yang memang pantas mewakili Indonesia. Indonesia ini kan sangat beragam to, sangat majemuk, ya biar tahulah ada yang seperti Eka dan ada yang seperti siapa lagi.

Yusi Avianto
Yusi Avianto

Anda juga sudah banyak menerjemahkan karya mancanegara ke Bahasa Indonesia, keputusan alih bahasa karya itu sebenarnya mengikuti preferensi pribadi atau melihat buku-buku tersebut perlu dibaca di Indonesia?

Pertama-tama pribadi, karena aku harus suka apa yang aku lakukan. Aku tidak mau mengerjakan apa yang tidak suka kulakukan. Bahkan kalau ada pertimbangan komersial, aku paling nggak bisa menoleransi. Tapi juga nggak mungkin aku mengambil karya yang sudah mainstream, misalkan karya-karya J.K. Rowling. Karena pertimbangan praktis saja, sudah diambil penerbit besar dan hak ciptanya besar sekali. Jadi, kami (teman-teman di Banana) terbiasa memperkenalkan penulis yang sebenarnya menarik tetapi tidak terlalu dikenal di Indonesia. Misalnya Sherman Alexie penulis Indian-Amerika, F.X. Toole yang menulis soal benua tinju, Annie Dillard atau bahkan J.D. Salinger. Dulu banyak orang bicara The Catcher in the Rye tapi belum ada karyanya. Moga-moga tidak lama lagi, On the Road ada karya terjemahannya.

Bagaimana suka dan dukanya punya penerbit sendiri?

Kendali baik soal konten atau keputusan bisnisnya memang lebih besar, tapi tenaga yang dikeluarkan juga jauh lebih besar dan kadang-kadang gemas sendiri. Seringkali aku berharap punya dana lebih untuk menerbitkan buku lebih banyak. Dan kadang-kadang—bukan kadang sih, selalu—umur buku di toko buku mainstream itu terlalu pendek. Ada buku-buku yang terlambat panas menurutku yang sebenarnya menarik untuk dibaca, tapi udah keburu hilang dari rak. Untungnya sekarang selain ada penerbit rumahan—bukan murahan lho—ada juga teman-teman yang membantu jualan lewat toko buku komunitas atau toko buku online. Menurutku itu sangat membantu dan bisa jadi simbiosis mutualisme.

Apakah hal tersebut masuk sebagai kritik terhadap penerbit arus utama?

Penerbit besar itu kebanyakan latah, aku sudah sering bilang kayak gitu. Kalau misalnya ada salah satu judul laris, misalnya: Ketika Batu Sungai Bertasbih, nanti semua daun akan bertasbih, semua kricikan air sungai bertasbih, kira-kira begitulah. Tapi mungkin itu yang menjadikan mereka besar kali, ya.

Dari slogannya, Penerbit Banana menjanjikan ketersediaan buku yang bermutu, benar begitu?

Karena menerbitkan buku itu berarti mengorbankan. Ada berapa banyak pohon yang harus hilang untuk satu judul buku? Kalau nggak bermutu untuk apa? Begini, kita melempar produk ke pasar selalu ada kemungkinan laku atau tidak. Kalau kita melempar produk ke pasar, menghabisi hutan sekian hektar, lantas jelek dan tidak laku pula. Ya Allah, betapa celakanya saya jadi manusia, mbok saya mohon dihindarkan  dari manusia yang sedemikian rupa. Aku juga pengin menghindar jadi manusia seperti itu, sih.

Lantas pernahkah menyesal membaca suatu karya?

Banyak karya yang menyesal aku baca. Tapi bukan menyesal lah, karya buruk pun bisa menjadi pelajaran supaya kita tidak menulis seperti itu. Semakin panjang perjalananku sebagai pembaca dan penulis, kalau menemui karya buruk ya aku tidak akan menginvestasikan waktu terlalu banyak.

Menurut Anda apakah relevan menilai kualitas penulis dari pendapat personalnya?  

Hak masing-masing untuk berpendapat, setidakbermutu apapun. Setiap orang berhak berpendapat, kecuali dia melanggar hukum. Nah, itu baru kita keberatan. Padahal sebenarnya yang lebih bisa dipegang adalah hal-hal yang ia sampaikan di luar bukunya. Kalau secara konsisten ia menyatakan sesuatu, itu mungkin dari pandangan personalnya. Baik buruk karyanya tidak bisa dinilai dari situ, tapi tetap nggak terlalu jauh lah. Karena orang nggak bakal bisa lari terlalu jauh dari apa yang ia ciptakan. Dari situ pandangan dunianya akan kelihatan.

Lanjut ke novel Anak-Anak Gerhana yang sedang digarap, apakah karya tersebut memang ditujukan untuk anak-anak atau berlatar dunia kanak-kanak Anda?

Anak-anak Gerhana adalah cerita generasiku tumbuh di zaman Orde Baru. Di generasi kami ada peristiwa gerhana matahari total tahun 1983. Aku mengambilnya sebagai metafora bahwa kami ini, anak-anak Orde Baru adalah anak-anak gerhana. Pada hari gerhana itu mesin propaganda Orde Baru bekerja sempurna, banyak sekali orang nggak boleh keluar rumah karena ditakut-takuti. Sebelumnya juga ada serangkaian pembunuhan misterius. Ide utamanya adalah bagaimana mesin Orde Baru bekerja, khususnya pada satu hari gerhana itu.

Ada cahaya tapi juga gelap, gelap tapi ada cahaya, sehingga kami melihat dengan pandangan terbatas. Hal tersebut berpengaruh pada menjadi manusia macam apa generasi kami ini ke depannya. Kalau premis awalku ya, generasiku ini generasi kompromis, generasi yang dididik untuk jinak. Tentu ada orang-orang terpilih yang memberikan perlawanan, tapi secara umum kami-lah generasi yang patuh.

Dari Rumah Kopi Singa Tertawa Anda kelihatan sangat observatif, sampai bikin pembaca bertanya-tanya apakah benar si penulis mengalami sendiri skenario di dalamnya. Lalu, seberapa berpengaruhnya sih kehidupan Anda yang seru, didukung dengan tekanan rezim Orde Baru dalam menghasilkan karya yang kritis?

Seberapa gelisahnya kau sih sebetulnya. Memang generasiku  punya musuh besar, musuh bersama. Tapi kan juga banyak yang nyaman. Nah, kegelisahan ini biasanya ditimbulkan dari interaksi dengan banyak hal, dengan manusia lain, dengan bacaan, dengan segala macam. Kalau yang nyaman itu kan yang hidup di kepompong atau tempurung yang mungkin dia tidak paham batas tempurung dan kepompongnya seperti apa. Kalau misalnya generasimu nyaman, coba keluar sebentar ke daerah pelosok, ke pulau-pulau terluar, keluar dari zona nyamannya, pasti akan menemukan banyak hal.

Memang nyaman itu melenakan, sih. Bisa saja penulis yang hidupnya anteng-anteng, tulisannya bisa seru soalnya di kepalanya ada sekian macam perjumpaan, konflik dan segala macam. Ada juga seseorang yang hidupnya seru tapi juga nggak bisa menghasilkan apa-apa karena tidak punya dorongan untuk menulis. Orang menulis itu untuk berbagi cerita. Aku yakin hidupku tidak seberapa seru kalau dibandingkan dengan orang lain. Bedanya, mereka hidup seru-seru tapi tidak menulis. Aku ya moga-moga masuk golongan yang menulis.

Photos: Aditya Adam

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response