close

[Album Review] Weezer – Weezer (White Album)

walb

 

white album
white album

Weezer – Weezer (White Album)

Label : Crush Musci

Watchful Shots : “Wind in Our Sail”, “L.A. Girlz”, “Endless Bummer”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Dalam setiap peluncuran albumnya, Weezer tak pernah lepas dari kritik dan cibir. Selepas album debut self-titled (The Blue Album) rilisan tahun 1999 dan Pinkerton yang dirilis tahun 1996, Weezer dinilai telah usai. Berbagai album yang muncul setelah itu dinilai khalayak tak cukup baik. Beragam kritik terus dituai Weezer dalam album-album post-Pinkerton mereka (sebenarnya Pinkerton pada awalnya juga dikritik habis-habisan hingga membuat Rivers Cuomo, sang vokalis, depresi dan memutuskan untuk hiatus dan meneruskan kuliah di Harvard.).Setelah berdekade menghadapi keadaan yang stagnan, 2014 kemarin Weezer hadir dengan janji untuk “return to form”, kembali pada bentuk, entah bentuk apa, dengan mengeluarkan album bertajuk Everything Will Be Alright In The End. Kini, Weezer datang kembali dengan semangat yang sama, semangat untuk mengembalikan dirinya, dengan album self-titled (lagi) yang juga populer dengan nama White Album (2016).

Album yang dirilis 1 April 2016 ini sangat kental dengan California dan pantai. Setiap lagunya seakan membawa hawa panas dan semilir angin pantai-pantai California. Nomor “California Kids” membuka White Album dengan suara angin pantai dan kicauan burung-burung camar (dalam arti yang sebenarnya). Band yang berisi bapak-bapak tua ini sepertinya tak pernah tua, khususnya Cuomo. Ia mungkin adalah sosok Peter Pan di dunia musik. Cuomo masih terdengar seperti pemuda baru gede yang main band-band-an dalam arti yang baik. Lihat saja nomor kedua White Album yang bertajuk “Wind in Our Sail”. Dalam satu lagu, Cuomo membawa acidification, Darwin, Mendel, hingga Sisyphus. Lagu ini jadi terdengar seperti ciptaan anak SMA yang hendak ujian biologi (atau ciptaan bapak-bapak yang terlalu banyak menonton acara edukasi di televisi). Ditinjau melalui liriknya, Cuomo tetap mempertahankan keanehan dan keculunannya. Nomor “Thank God For Girls” yang banyak diapresiasi dan juga dibenci ini menjadi bukti. Dalam nomor ini, Cuomo bermain dengan isu gender, seperti cuplikan lirik  “To employ your testosterone/In a battle for supremacy and access to females glued to the TV”. “Thank God For Girls” sebenarnya berawal dengan “The girl in the pastry shop with the net in her hair”, namun pendengar dibawa hingga “God took a rib from Adam, ground it up in a centrifuge machine/Mixed it with cardamom and cloves, microwaved it on the popcorn setting”. Begitulah keanehan Cuomo.

Whiite Album juga sangat dipengaruhi Beach Boys, band yang memang banyak diasosiasikan dengan Weezer. Pengaruh tersebut dapat dilihat dalam nomor “(Girl We Got A) Good Thing”. Dibuka dengan kocokan gitar akustik halus dengan suasana pantai yang konsisten namun tak lama gebukan gitar masuk dan lagu diakhiri dengan eksplosif. Sebuah transisi yang mulus dan enjoyable. Dua nomor selanjutnya murni curahan hati Cuomo. “Do You Wanna Get High?” mengungkapkan cerita masa lalunya bersama barang-barang “haram”. Sedangkan “King of The World” adalah ungkapan cinta Cuomo pada istrinya. Cuomo juga membawa aspek lain dari kehidupan pantai. Jika pantai langusng dihubungkan dengan pesta dan keceriaan, Cuomo membawa nestapa ke pantai. “Summer Elaine and Drunk Dori” menjadi “dark side of the beach” yang coba diangkat Cuomo. “When I’m feelin’ lonely, I don’t want to go” ujar Cuomo menggerutu.

Barangkali “L.A. Girlz” adalah nomor terbaik dan paling banyak menuai apresiasi dari khalayak. Mungkin anda tidak akan pecaya, melihat judul lagunya yang terkesan sangat ABG karena menggunakan ‘z’ yang sebenarnya tak perlu.Sebenarnya  “L.A. Girlz” membawa premis klasik khas Cuomo, seorang nerd bertemu gadis populer, lalu si nerd dikecewakan.  Namun sekali didengarkan, pendengar tak akan kecewa. Gebukan drum dan seringaian gitar yang konstan dan lirik yang catchy membuat lagu ini mudah untuk diingat dan sing-along-able. Lagu ini juga kental dengan aroma-aroma Pinkerton. White Album akhirnya ditutup dengan halus “Endless Bummer”. “I just want the summer to end” begitu kata Cuomo. Genjrengan-genjrengan gitar yang halus dan santai diiringi backing vocal menjadi lagu perpisahan dalam pesta pantai Weezer.

Satu-satunya cacat mungkin ada pada nomor “Jacked Up”. Lagu ini terdengar sangat kontras dengan sembilang lagu lain. “Jacked Up” dipenuhi alunan piano yang justru tidak pas dengan konsep pantai musim panas. Selebihnya, White Album berhasil membawa Weezer kembali ke jalan yang benar. Tak dipungkiri banyak kritik yang mengatakan bahwa album self-titled Weezer kali ini tak ada bedanya dengan album sebelumnya yang sok-sokan mengembalikan Weezer. Namun, White Album bisa dibilang solid dan, mungkin, adalah yang terbaik sepanjang peridoe post-Pinkerton. Bisa dibilang, saat ini Weezer benar-benar berani menjadi dirinya kembali dan pada akhirnya mereka bisa “Marching onward/Oblivious to all the hate around”. [contributor/Unies Ananda Raja]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.