close

[Album Review] Adhitia Sofyan – Silver Painted Radiance

silver painted radiance
silver painted radiance
silver painted radiance

Label               :           Demajors (2016)

Watchful shot  :           “Rocket Ship”, “Loneliest Day”, “Starting This Feeling”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Siapa yang tak kenal Adhitia Sofyan? Bagi penikmat musik alternatif pasti paham akan keberadaannya yang sudah malang melintang semenjak satu dekade silam. Ia dibesarkan dengan perawakan lelaki karir khas kota metropolitan; menggunakan kacamata berframe tebal, kemeja yang dibalut sweater ataupun flannel siku bermotif beraturan. Sambil meneteng gitar akustik seri Yamaha, beberapa balada ia nyanyikan begitu khidmat dengan topik bahasan seputar roman yang tertinggal atau ingin kembali berada pada pelukan. Kira-kira seperti itulah Adhitia Sofyan besar dengan namanya. Identitas yang dikenal publik sebagai penyedia layanan lagu slow-romance sentimentil. Membuat perasaan berkecamuk antara patah hati, kesepian ataupun jatuh cinta untuk sementara waktu. Coba simak tiga album terdahulu, maka anda akan mendapati sedemikian rindu tak terkira.

Tahun ini, album keempatnya lepas ke pasaran. Tak jauh dari formula album sebelumnya, Adhitia Sofyan masih setia pada patron akustik yang menenangkan. Ia juga masih berpegang teguh untuk meletakkan karya-karyanya secara freemium di kanal Soundcloud seperti apa yang dilakukannya pada Quiet Down (2009), Forget Your Plan (2010), How To Stop Time (2012). Silver Painted Radiance adalah babak baru dari cerita hidup yang terkumpul dari ide-ide liar di pojokan kamar pribadinya. Memuat total sepuluh balada yang memiliki benang merah antara satu dan lain; menautkan garis lurus menyoal bergejolaknya para batin.

Silver Painted Radiance berisi beberapa hal tentang kisah perjalanan, dilindas rutinitas semu atau berjalan melawan amnesia pikir yang kadang datang secara tiba-tiba. Petikan pelan menyayat pada “Find Who You Are” memberikan vokal yang lirih seakan bingung pada disorientasi keramaian. Menusuk telinga dengan syair-syair apatis ria dan berteriak kencang lewat “Rocket Ship”. Kemudian ada “Loneliest Day”; sarat dengan kelalaian waktu yang berbuntut kegundahan. Ia seolah ingin mengajak menyelami karang terjal bernama keinginan terperi. “Agony of Defeat” bisa anda putar tatkala berada pada ujung tanduk hubungan. Atau “Our Constellation” yang mengingatkan pada kebingungan trilogi Linklater. Petikan gitarnya yang lembut dalam “Starting This Feeling” menuntun pendengar untuk melangkah, mengungkapkan dan akhirnya tumbang karna ungkapan kesedihan.

Kekuatan lirik solois kelahiran Bandung 38 tahun lalu ini memang tidak terbantah. Ia konsisten menggunakan transkrip penulisan Inggris dalam melantunkan syair-syairnya. Saya bersyukur tidak mendengarnya berdendang menggunakan bahasa nasional karena justru akan merusak tatanan lagu. Tetaplah seperti itu meski acapkali nada cela menyoal kebanggaan ejaan Indonesia menggema satu dua. Memang tidak ada nomor yang ikonik laiknya “Adelaide Sky”, “Forget Jakarta” ataupun “Into the Rain”. Tapi bukan berarti tidak muncul opsi baru dalam karyanya. Coba simak “Home Away From Home” yang kental nuansa My Morning Jacket dengan versi bernyanyi di tepi Missisippi. Juga “Silver Painted Radiance” yang berdiri tegak melibas jarum-jarum tajam dari rintik hujan kala kemacetan ibukota mulai melintas, lantas menjelma bentuk guratan kalbu berisi udara penantian. Sampai pada titik “World Will End” menutup gelembung-gelembung imajinasi Adhitia Sofyan yang sejurus kemudian bertanya apa maksud dari semua kenyataan.

Ia terobsesi menciptakan taman bermain bagi batinnya yang berisikan premis-premis personal; bagaimana kesepian menyerang, percintaan yang kandas, sampai ritual penyampaian kekecewaan. Secara jujur ia berani menuangkannya ke dalam melodi yang jatuh dan bangkit bersamaan. Ketegasan dirinya dibuktikan melalui komposisi yang melantun syahdu dari teman setianya. Adhitia Sofyan telah menulis mitos-mitosnya sendiri. Saling menyapa, tak peduli bahkan juga memaki. Ia adalah kawan bagi kehilangan laiknya “Blue Sky Collapse” atau musuh di tengah keramaian bagai “Greatest Cure” di karya terdahulu. Tapi saya rasa ke depan ia harus berani berjalan agar tidak dilindas oleh melankolia sendiri. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response