close

[Album Review] Basement – Promise Everything

a0589355378_10

Label: Walking After Music (2016)
Watchful Shot: “Promise Everyhting”, “Aquasun”,

Selang satu hari selepas pemberian titah langsung daripemilik label Walking After Music, sub-label Samstrong Records, untuk me-review Promise Everything dengan mahar cakram padat ini secara cuma-cuma, saya menyempatkan diri sejenak untuk membuat playlist Spotify personal berjudul “Merungu Rekat” dalam bentuk eskapis saya terhadap hilir-mudiknya tugas-tugas UTS yang masih berkeliaran di beberapa hari ke depan. Isi-isi dari daftar putar ini tak jauh dari nomor-nomor yang enggan beranjak dari telinga pribadi saya, earworm istilahnya, berisi lagu-lagu yang dirilis pada tahun-tahun saya mendewasa; dari “Mr. Brightside” milik The Killers, “We Share The Same Skies” milik The Cribs atau bahkan nomor seperti “Wedding Singer” milik Modern Baseball yang baru sajadirilis di awal tahun ini.

Dalam proses pilah-milahnya, secara tak sadar saya telah menempatkan dua nomor Basement dari dua album berbeda pada daftar putar ini. “Whole” dalam Colourmeinkindness (2012) dan “Promise Everything” dalam album berjudul sama yang pertama kali dirilis pada akhir Januari silam oleh recordlabel asal Boston, Run for Cover Records. Pikiran untuk mengerjakan tugas UTS pun saya kesampingkan terlebih dahulu mengingat kerja pengarsipan dalam bentuk tulisan seperti ini –apalagi menyangkut kemaslahatan band-band-an, lebih penting adanya. Rentang jarak Colourmeinkindness dan Promise Everything sebenarnya tidak terlalu jauh, kecuali ketika kita melihat bahwa dua entitas ini secara spasial telah mengalami divergensi kausa hiatusnya Basement pada akhir 2012 lampau. Saya kurang tahu bagaimana jalan kurasional maupun konsep estetika yang ditempuh oleh Walking After Music ketika memilih untuk merilis ulang Promise Everything versi Asia sebagai rilisan pertama mereka, bahkan jika beberapa bulan selepas album ini rilis, mereka juga turut membantu proses lahirnya album Kelinci (2016) milik seorang musisi folk asal Kanada, Cud Eastbound, yang pada Maret hingga April lalu telah melakukan turnya di Indonesia. Jika relasinya bisa tercipta entah di kemudian hari, saya harap kelindannya muncul tatkala Basement nantinya juga akan melakukan tur di Indonesia, rekaan ini tidak begitu berhubungan, namun impian ini pun juga tidak terlalu sureal, semoga saja.

Tanpa merubah satu nama pun dalam lini personil awal, kembalinya Basement dua tahun lalu dan iringan warta penggarapan materi anyar yang akhirnya terlaksana dalam wujud sepuluh nomor pada Promise Everything turut mengundang berbagai macam tanggapan. Salah satu teman yang juga memiliki online records store di Jogja secara personal mendaulatColourmeinkindness sebagai jawara, pun begitu juga sama dengan tulah satu teman lain yang kerap membuat gigs kolektif di Jogja. Dua percakapan ini terjadi sebelum saya mendengarkan Promise Everything secara komprehensif, atau paling tidak sebelum album ini tersedia di Spotify, pendapat tadi saya kira didasari oleh romantisme belaka. Jika Anda mencari Colourmeinkindness part-two atau malah I Wish I Could Stay Here (2011) part-two, coba saja dengarkan band lain seperti Turnover album Peripheral Version (2015) atau Title Fight album Shed (2011) karena Anda tidak akan menemukan taste dua album penuh pertama Basement dalam Promise Everything. Album penuh ketiganya ini secara utuh tersaji menjelma serupa gabungan antar karya-karya Mineral dan Sunny Day Real Estate namun dengan tafsir yang lebih depresif, hangat dalam gelora sedu-sedan yang mereka tawarkan. Laiknya katarsis seorang pemuda emosional; Promise Everything saya gambarkan sebagai pelarian seorang lelaki yang mengatasi kepura-puraan dengan menulis lagu di pojok kecil di dalam berantaknya sudut sebuah kamar selepas ketidak-berpihakkan dunia kepadanya. Sebuah ketegaran yang rapuh ini, jika boleh meminjam lirik “In The Garage” milik Rivers Cuomo, kurang lebih secara eksplisit mampu diilustrasikan lewat narasi “In the garage / I feel safe / No one cares about my ways // In the garage / Where I belong / No one hears me sing this song.

Penambatan “Promise Everything” di daftar putar pribadi yang telah saya katakan di awal tulisan bukan tanpa alasan. It’s the most suitable and catchy song you can dance or air-guitaring to. Duncan Stewart –bassist Basement, bekerja ekstra dalam memenuhi keutuhan layer nomor ini pada rentang bridge menuju reffrain. Di lain sisi, vokal Andrew Fisher –frontman Basement, secara esensial adalah instrumen terbaik yang sementara ini dimiliki oleh band, yang sayangnya pada Promise Everything justru menjadi kerengsaan alih-alih sebagai bahan bakar yang sebelumnya jelas terlihat pada dua album pendahulunya. Kondisi ini tidak dibantu dengan keadaan lain. Lapisan gitar melodius yang dieksplor justru serupa mode auto-pilot yang pada akhirnya terdengar dekat antar satu-sama-lain, “Brother’s Keeper” sebagai pembuka kurang lebih adalah ambivalensi dalam mendengar kesamaan tadi. Sedikit kekecewaan ini perlahan hilang sampai “Aquasun”naik sebagai juru selamat. Padanan vokal laung yang bergesek denganbisik lembut di vokal latar, pautan interval alegro berlarut-larut, hingga riff yang mengingatkan pada “1979” milik The Smashing Pumpkins namun bertempo sedikit lebih cepat paling tidak adalah satu-dua alasan mengapa Promise Everything menjadi satuan yang menarik. Meski bahwasanya akan lebih menarik lagi ketika dialami di beberapa bagiannya saja. [WARN!NG/Dwiki Aprinaldi]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.