close

[Album Review] Kaveh Kanes – Capital

kaveh-kanes-capital

Label: Kolibri Rekords
Year: 2015
Watchful shot: “Poacher”, “Late”, “Starlet”

Saya sempat berimajinasi pada suatu masa. Berandai-andai entah jauh ke sana membayangkan terdapat sosok yang terdampar di lautan gurun pasir yang begitu luas. Tanpa perbekalan memadai, yang tersisa hanya angan utopis untuk menyelamatkan diri. Kira-kira hampir mirip dengan kisah legendaris Le Petit Prince (Pangeran Kecil) karya Antoine de Saint-Exupery. Bedanya, jika pada naskah yang ditulis sastrawan besar Prancis itu memunculkan sosok makhluk dari antah berantah, yang timbul dalam benak saya ialah ia yang terlepas sendirian; memacu raga keberanian atas silabus kenyataan. Saat diri ingin menyudahi bayangan kabur ini, ternyata ada diorama yang tertinggal; sang terdampar mengeluarkan walkman klasik berwarna terang, lantas memasangkan headphone ke dua lubang telinganya. Tatapannya berubah seolah baru saja mendapati ilham dari kahyangan. Seraya membangkitkan badan, mixtape yang menyimpan repertoar dari The Beach Boys, Jan and Dean hingga Checkered Flag pun diputar menemani langkah optimismenya melawan keraguan.

Ya, seperti itu saya menggambarkan panorama Kaveh Kanes; unit alternatif/indie-pop/surf-pop asal Yogyakarta yang digawangi Asad Gibran (vokal), Za’immuddin Mukarrom (gitar), dan Muchammad Najib (drum). Laiknya pengembara yang bertarung menghadapi kerasnya bongkahan enigma, mereka mencoba menerjemahkan harfiah kehidupan secara manis dan terkonsep melalui debut album penuh mengesankan: Capital. Album ini merupakan lanskap melukis Kaveh Kanes. Segala wujud kecanduan, keinginan, maupun hasrat terpendam akan estetika dan roman pengingat memori lampau, diejawantahkan dalam konteks keindahan syair puitik nan melagu bias. Ada total delapan nomor yang kental nuansa surf era 80 dengan sepercik tetesan campur pedal efek yang terlambat berteriak di belakang serta ketukan ritmis ala seruan drum-machine yang dipoles sistematis.

Sedikit bercerita, Kaveh Kanes berdiri pada tahun 2011 di Kota Yogyakarta. Setahun setelahnya, mereka mengeluarkan mini album yang dilepas cuma-cuma via netlabel dari Inggris, BFW Records; Arabia’s Frankincense Trail. Dominasi indie-pop yang renyah dengan guratan gitar jangly mengarahkan jalan bermusik mereka ke decak apresiasi khalayak ramai; dianggap memberikan sentuhan baru bagi khazanah independen lokal. Bukan sebuah band jika tak mengalami gangguan internal. Karena kepentingan tertentu, seperti selesainya jenjang akademis yang ditempuh dan keinginan untuk pulang ke kampung halaman, beberapa personil memutuskan mengundurkan diri. Alhasil, Kaveh Kanes sempat mengakami hiatus selama kurang lebih 3 tahun sebelum akhirnya kembali ke dapur rekaman dan bergumul bersama kreatifitas di selaput otak.

Kaveh Kanes membuka salam dengan lagu bertajuk “Tiger in Your Tank”. Rintihan vokal Asad menghunus tajam ke sela-sela raut penyesalan. Mengeluarkan jaringan rindu yang muskil diucapkan lewat petikan gitar mendayu. Di tengah lagu, melodi bertempo rapat merayu rongrongan bunyi synth yang menemani saat permadani kata “Your expectation is my execution//Didn’t realize I lost the one I love” terucap tanpa tendensi abu-abu. Di nomor kedua, hentakan drum yang dikawal Najib mengawali sengat “Modern Times”. Sayup-sayup terdengar warna Beach Fossils semasa “Sleep Apnea”; mempertemukan kedekatan karib Heavenly Beat dan Dustin Payseur dalam tenggak scotch ringan di pinggir Brooklyn. Sedangkan “Night Shift” menjadi saksi bisu bagaimana kesepian meliuk lara di tengah rasa diam yang bergejolak ingin berpamitan. Asad tak menyisakan kekecewaan barang secuil pun tatkala berkata dalam gelembung melankoli. Kemudian “Starlet” membuih pelan menyisakan kepingan “I Can’t Help Myself” dan kharisma Isobel Knowless dari Architecture In Helsinki di pusat pertokoan Fritzroy pada musim semi 1982 yang tak terlalu membahagiakan. Sudah menanti selanjutnya balada “Norwegian Crush” yang mengajarkan tentang persepsi rasional maupun titik taut esensial; meletakkan pilihan bersepakat di urutan pertama. Kemudian “Reminiscence” menyuguhkan instrumental bernada post yang gurih dengan kocokan teratur dan layak presisi sekaligus membelakkan mata atas improvisasi nada. Lalu dua nomor terakhir, “Poacher” dan “Late” bergerak pada sumbu yang berlawanan; satu sebagai alpha, satu seperti omega. Keduanya mengawal alur perjumpaan dan perpisahan dalam waktu yang bersamaan.

Rata-rata setiap lagu di Capital berdurasi sekitar tiga menit. Memang tidak panjang akan tetapi Kaveh Kanes berhasil menyampaikan pesan demi pesan yang termaktub tanpa banyak basa-basi terlewat kuno. Meluncur deras ke permukaan, menyampaikan catatan tulis dari pejalan, bercerita sekilas lalu tak lama berselang melanjutkan kembali perjalanan. Apa yang diuraikan dalam Capital berkutat seputar roda hidup yang tak selalu meraba gairah kesesuaian. Lihat saja kala “Late” memercikkan gelora semu, “Starlet” yang menyimpan rona kecemasan, atau “Poacher” yang meniadakan jiwa antusiasme. Masing-masing lagu mempunyai kaidah bertata filosofis sendiri dan Kaveh Kanes mampu menyambungnya tanpa harus melebur fondasi yang dipijak. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response