close

[Album Review] Manic Street Preacher – Futurology

Manic_Street_Preacers_Futurology

 

Manic_Street_Preacers_Futurology
Futurology

Manic Street PreacherFuturology

Columbia Records

Watchful Shot :Futurology, Walk Me To The Bridge, Mayakovsky

[yasr_overall_rating size=”small”]

Dibentuk pada tahun 1986, band trio minimalis yang terdiri dari James Dean Bradfield (vokal), Nicky Wire (bas), dan Sean Moore (drum) kini telah menggaung kembali dengan album barunya yang bertajuk Futurology. Setelah rilisnya album Postcards From a Young Man pada tahun 2010, trio asal Wales ini sangat produktif untuk menciptakan beberapa lagu yang sangat eksperimental dan bersemangat.

Pada album ini, Manic Street Preachers memberikan kejutan dengan menggandeng musisi ternama seperti Green Gartside (Scritti Politti) dan Cian Ciarán (Super Furry Animals) untuk berkolaborasi dalam beberapa lagu. Terdapat 13 lagu yang bertengger rapi dan nikmat jika Anda dengarkan sepanjang masa, Manic Street Preachers memang band yang pandai untuk mencari celah kebosanan dari penggemarnya. Spesialnya, album ini rilis dengan dua versi yaitu deluxe edition dan Japanese edition beserta berbagai bonus yang disediakan.

Futurology menjadi gaungan pembuka yang sangat menghentak, remuk redam seperti album mereka yang kini sudah mencapai angka 12 album. Genta musik retro-futurisme terasa nikmat kita dengar, tak heran jika album ini sangat benar-benar ditunggu. Di kloter nomor dua, datang lagu Walk Me To The Bridge yang menjadi single dari album ini, respon positif datang dari pendengar ketika single ini dirilis April 2014 lalu.

Let’s Go To War merujam telinga kita dengan jahatnya, gitar melodi dari Bradfield kian menggaung, it’s like a begs people to revolt against the career rock’n’rollers and cynical money-makers!. “The Next Jet To The Moscow menjadi salah satu lagu yang memiliki opening dengan betotan bass khas Wire, melodi, dan stakato yang berirama. Terdapat dua lagu yang unik yaitu Europa Geht Durch Mich”, “Missguided Missile”yang terdengar sangat spiky, dan creepy rumble,dimana dahulunya The Manics berjanji akan menjual 16 juta kopi album debut mereka yaitu Generations Terorist pada tahun 1992 dan mereka sangat berani untuk memikirkan sebuah risiko yang akan terjadi pada mereka mengenai pernyataan ini. Sekali lagi, Manics adalah band yang telah berjalan selama tiga dekade, mereka tidak mungkin mengingkari janjinya pendirian mereka benar-benar sangat konfrontatif, dan unique, hal ini juga yang membuat mereka dapat berkarya hingga sampai saat ini.

Sisi kreatif dari The Manics memang tidak bisa ditandingi, terdengar dari salah satu lagu yang berjudul Divine Youth, sentuhan sci-fi, dengan sedikit petikan harpa dan suara vokal perempuan yang dibawakan oleh Georgia Ruth seakan membawa kita menuju ke gerbang imajinasi. Lagu andalan juga datang dengan judul Sex, Power, Love and Money”yang lebih banyak menjelaskan mengenai musuh besar dari The Manics, yaitu keserakahan, kekuasaan, dan korupsi. Banyak raungan elektronik bercampur dengan distorsi gitar melodi.

Dua track yang sangat ambisius dan mengejutkan datang dengan judul Mayakovsky” dan “Dreaming City (Hugheskova)”.Sangat instrumental karena minim dengan lirik vokal, hanya bermain field records dari beberapa suara. Memadupadankan beberapa nuansa noise dan bass rumbling adalah hal yang cerdik. Salute!. Kemudian dilanjutkan dengan “Black Square”, “Between The Clock and The Bed”, dan “The View From Stow Hill” adalah lagu terakhir yang tak kalah wahid dengan beberapa lagu lainnya. [Warn!ng/Debby Utomo]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.