close

[Album Review] Warmouth – Pariah

IMG_6848
pariah
pariah

Records Label: Samstrong Records (2016)

Watchfull shoot: “Chains”, “My Unsacred Halo”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Sudah lebih setahun sejak Warmouth merilis demo pertama mereka dan kemudian merilis split EP bersama rekan sejawat, Cloudburst. Dengan olahan yang rumit antara grindcore, death metal dengan sub genre hardcore punk semacam PowerViolence dan D-Beat, trio dari Jogjakarta ini sukses menarik perhatian khalayak pecinta musik tanah air.

Dengan bumbu metallic yang sedikit lebih banyak di Pariah, Warmouth membuka kesebelas track di sini dengan “Sworn Vengeance” yang berkecepatan sedang tapi berat layaknya tank yang sedang melaju di medan perang. Sound gitar yang kelam dan thrashy serta beratnya gebukan drum yang konstan, kadang ngebut mengiringi teriakan kemarahan. Sound fuzzbox yang memekakkan, menohok ala Converge mix Entombed memang sedang menjadi acuan yang menarik dalam perkembangan musik hardcore dan metal akhir-akhir ini. Hal ini yang membuat sound metal seperti kembali ke awalnya, yang  kemudian membuat sebuah dimensi racikan baru antara cita rasa hardcore dengan metal.

Penempatan track panjang di tengah dan akhir album seolah diujikan untuk menghindari bagian yang halus dimana hal tersebut bisa membuat pendengar mempunyai jeda sebentar dari serangan intens yang dilemparkan. Warmouth bisa saja membuat komposisi mereka menjadi lebih panjang dengan mengulang chorus dan verse tanpa perlu kehilangan kesan berat dan gelap tapi mereka sadar bahwa itu akan membuat momentum perputaran materi mereka menjadi lebih lambat. Band ini sendiri secara sadar dibangun atas dasar agresifitas sehingga mereka menginginkan momentum yang didapat untuk berjalan secepat yang mereka bisa.

Band ini memang lebih peduli dengan kecepatan dan keganasan materinya akan tetapi di album ini mereka tidak hanya menyuguhkan itu. Trio ini mampu membuktikan bahwa mereka bisa melambatkan tempo tanpa mengurangi hantaman gelombang yang tercipta. Simak saja track semacam “Flies” atau “My Unsacred Halo” yang berada pada durasi 5 dan 6 menitan dimana track lain hanya berkutat pada 1 atau 2 menitan.

Materi yang memantik api kemarahan yang disuguhkan Warmouth tentu memerlukan lirik yang sesuai dengan intensitas-nya. Lirik semacam “Suffocate from the deepest slumber” pada “Sworn Vengeance”, atau pada “The Blank Stare” yang berbunyi “Trapped inside this blissful silence” sampai pada “Turn the knife, break the cage, no more control in my life” Pariah mampu memvisualisasikan kemarahan Made Dharma cs. Hal tersebut didukung pula dengan kover dominan hitam putih yang mana departemen artwork dikerjakan oleh Bharata Danu (Plasticmyth).

Pariah adalah sebuah koleksi anthem kekelaman yang memeluk katarsis. Pariah menyuguhkan sebuah ledakan katarsis dari kemarahan yang tidak tersaring. Pariah memang tidak menyuguhkan sesuatu yang radikal tapi ini adalah pengejawantahan kemarahan yang paling efektif. Dengan mengambil banyak elemen kebrutalan beberapa sub genre musik, Warmouth telah menciptakan sebuah rekaman kejam yang membuat kita menyembah untuk memutar kembali album ini dan kembali menerima serangan bertubi-tubi ini, lagi dan lagi. Legit! [WARN!NG/Indra Menus]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response