close

[Album Review] Weezer – Everything Will Be Alright In The End

weezer
weezer
Everything Will Be Alright In The End

Weezer – Everything Will Be Alright In The End

Republic

Watchful Shot: Lonely GirlCleopatraThe Futurescope Trilogy

 [yasr_overall_rating size=”small”]

Ketika putus cinta jadi budaya, Rivers Cuomo menawarkan solusi di akhir tahun 2014: balikan. Karya anyarnya bareng Weezer, Everything Will Be Alright In The End, siap membuat Anda tersipu kalau Anda mencintai Weezer dua dekade silam. Jelasnya, Cuomo bakal memaksa Anda memuntahkan kesan “Naah, it’s Weezer!” dengan kembali kepada Pinkerton dan Blue Album, tapi setelah Anda menertawakan “Back to The Shack” tentunya.

Tidak mengejutkan kalau album dengan proses terlama mereka selama tiga belas tahun ini jadi yang terbaik – dalam jangka waktu itu. Everything Will Be Alright In The End bukan sebuah karya besar, tapi patut disimak karena mengandung terobosan klasik: terasa seperti album pertama Weezer yang tidak aneh-aneh dan mencoba untuk menjadi yang ‘paling’, kecuali “Back to The Shack”, karena ia menjadi nomor ‘paling’ lucu setelah “Pork and Beans”.

Di awal album, “Back To The Shack” siap membuat kita tergelitik dengan liriknya. Weezer secara gamblang menjajakan konsep untuk kembali kepada era kejayaan mereka. “Rockin’ out like it’s ‘94” dan “more hardcore,” mereka selipkan dan promosi-promosi murahan lainnya. Cuomo seolah menjadi pelacur yang sudah jatuh tempo, tapi ingin memanggil kembali roman cintanya di masa remaja.

Walau begitu, sihir Cuomo tak akan bisa dipungkiri. Baik itu hook maupun sebagian besar lagu selalu sederhana dan memikat. Bahkan seorang pembenci Cuomo pun akan mengakuinya, sang maestro mampu menuliskan melodi yang masuk tanpa permisi, lalu menumpang di otak kita, tak peduli rela atau tidak.

Cuomo dengan jelas menyampaikan curhat dan imaji lewat album ini atas nama Weezer. Ia menulis lagu tentang hubungannya dengan bandnya, wanita, dan ayahnya. Tidak percaya? Simak saja tema yang tersirat dalam lirik-lirik nomornya. “Eulogy for a Rock Band” bercerita tentang masa jaya sebuah band rock yang sudah berlalu – representasi diri mereka, mari tertawa. Ada juga, “Cleopatra” yang bercerita tentang perpisahan dengan seorang wanita, dan tentunya “Foolish Father”. Masih perlu penjelasan?

Frasa demi frasa selalu muncul dan terulang dalam mayoritas nomor di Everything Will Be Alright In The End. Kalau menyimak “Ain’t Got Nobody” dan“Lonely Girl”, keduanya menawarkan rekaman dalam sudut pandang positif dan membentuk semacam narasi, satu hal yang lama tak terdengar sejak Pinkerton. Lirik di dalamnya sering mengena, tapi lebih baik Anda skip nomor seperti “Go Away” dan “Da Vinci”. Cuomo mengakhiri album dengan “The Futurescope Trilogy” (“The Waste Land”, “Anonymous”, dan “Return to Ithaka”) sebagai penutup yang manis.

Dan, Everything Will Be Alright in the End memang pantas mendapat pujian – dengan setengah hati. Kalau memang harus memuji, saya akan melontarkan pujian seperti “Yah, gak jelek-jelek amat!” atau “Oh, lumayan!”. Yups, strategi mencoba balikan tak sepenuhnya berhasil, tapi cukup menghibur. Setidaknya, everything will be alright in the end. [Yudha Danujatmika]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.