close

[Movie Review] Amy

Amy

Director                : Asif Kapadia

Durasi                   : 122 menit

Studio                   : Film 4

amy
amy

Sulit sekali untuk mulai membahas Amy. Terlalu banyak emosi, dan sedikit air mata, yang terkuras setelah menelusuri kehidupan pribadi Amy Winehouse lewat sorotan Asif Kapadia satu ini. Sembilan tahun lalu, musisi asal London ini melibas dunia dengan curahan hatinya yang tertuang murni di album keduanya, Back to Black. Amy Winehouse, di masa jayanya, lebih dari sekedar sensasi.

Dengan gayanya yang serampangan dan binal, Amy merengkuh status legenda dengan instan. Pernyataan itu tidak berlebihan, bahkan jika mengingat usianya yang kala itu baru 23 tahun. Coba tanya Duffy, Adele, atau bahkan Lady Gaga. Potong lidahnya kalau bilang Amy Winehouse bukan salah satu musisi yang menginspirasi karir mereka. Pujaan tidak cuma datang dari generasi muda saja. Musisi sekaliber Tony Bennett tanpa ragu menyandingkan Amy Winehouse dengan nama-nama sakral di ranah musik seperti Sarah Vaughan, Ella Fitzgerald, dan Aretha Franklin.

Itu yang seharusnya cukup kita ketahui, dan peduli. Bahwa Amy Winehouse adalah warisan penting dalam dunia musik dan harus diperlakukan sewajarnya. Frank dan Back to Black seharusnya sudah cukup untuk menelanjangi karakter Amy Winehouse. Malah, kita tidak bisa berhenti mengorek kehidupan pribadinya. Masalahnya dengan alkohol, narkoba, dan bulimia menjadi santapan sehari-hari yang disajikan di kolom-kolom gosip. Beberapa orang dengan mudah melupakan apa yang telah Amy berikan dan menjadikannya bahan olok-olokan. Amy Winehouse tenggelam dalam silaunya jepretan lampu flash paparazzi. Sabtu, 23 Juli 2011, sang diva akhirnya menyerah pada nasib. Terlalu dini baginya untuk terjerumus ke dalam lubang kubur yang digalinya sendiri. Talenta terbesar dalam generasi kita tertekan oleh popularitas yang ia dapatkan, termakan iblisnya sendiri dan menjadi klise dunia hiburan.

Setidaknya itu yang kita tahu dari pendeknya hidup Amy Winehouse. Namun, lewat film dokumenternya, Asif Kapadia mendedah sisi lain Amy Winehouse yang jarang terangkat ke media luas. Bermodalkan arsip video pribadi dan narasi orang-orang terdekatnya, Amy mengangkat seorang wanita rapuh di balik nama besar itu. Nick Shymansky, teman sekaligus manajer lama Amy Winehouse, memberikan sumbangan besar dalam arsip-arsip yang menyusun kerangka naratif Amy dan menekankan intimasi yang terasa di dalamnya.

Tidak ada yang baru dari cara Asif Kapadia menggarap Amy. Tapi itu tidak menjadi masalah. Sumber yang komprehensif menjalankan tugasnya dengan baik. Tak jarang, lantunan lagu Amy Winehouse yang dibarengi liriknya di layar cukup untuk menggambarkan keadaan emosionalnya pada saat itu. Sekaligus mengingatkan kita akan vokalnya yang begitu kuat dalam menyuarakan kejujuran dari sudut perasaan yang paling dalam. Baik itu di sebuah klub jazz kecil atau di studio rekaman, tanpa iringan musik sedikitpun.

Dari Amy pula kita mendapat pembingkaian yang lebih jelas terhadap tokoh antagonis dalam mitologi besar Amy Winehouse. Beberapa tokoh antagonis itu mengambil nama Raye Cosbert, manajernya, dan Mitch Winehouse yang tak lain adalah ayahnya. Mudah rasanya untuk melihat mereka berdua mengeksploitasi Amy Winehouse dalam banyak kesempatan. Seberapapun Mitch Winehouse membenci penggambaran dirinya dalam Amy, mudah untuk membantah klaimnya ketika menyaksikan apa yang dia perbuat kepada Amy Winehouse pasca rehabilitasi. Tanpa ragu, Mitch membawa kru kamera untuk mendokumentasikan proses rehabilitasi anaknya untuk sebuah acara televisi. Ada pula kronologi konser Amy Winehouse di Belgrade, Serbia pada tahun 2011 yang berakhir buruk. Ia dipaksa untuk menjalankan gig itu demi “memenuhi kontrak,” sesuai dengan perkataan Raye Cosbert.

Tapi, apa yang mereka lakukan tidak seberapa dibandingkan dengan keparatnya Blake Fielder-Civil, suami dan cinta mati Amy Winehouse. Tidak mudah untuk merangkai kalimat dalam mendeskripsikan Blake Fielder-Civil. Ya, bisa dimulai dengan “Pria brengsek berhati busuk yang tidak tahu terima kasih,” tapi itu masih terlalu sopan dan baik untuk diatribusikan kepada namanya. Blake Fielder-Civil seharusnya menjadi kosakata baru, simbolisasi dari benalu yang tidak pantas hidup.

Dari awal mereka bertemu, perangai busuk Blake sudah bisa terlihat. Ia meninggalkan Amy dan kembali lagi setelah suksesnya Back to Black. Saat itu pula mereka menikah dan menjadi reinkarnasi Sid dan Nancy masa kini. Blake adalah orang yang bertanggungjawab atas kecanduan Amy Winehouse terhadap heroin. Akal bulusnya selalu menemukan cara untuk terus memeras Amy demi kebutuhannya. Parahnya lagi, Blake yang akhirnya menceraikan Amy setelah ia dipenjara dan Amy berhenti menggunakan heroin. “What the fuck am I doing, wasting my time with her?” Katanya tanpa dosa. Bagaimanapun Amy terobsesi dengannya. Obsesi itu yang perlahan menggerogoti fisik dan mentalnya.

Mudah untuk membebankan semua yang terjadi kepada Amy Winehouse kepada nama-nama di atas. Meski demikian, dua teman masa kecil Amy, Juliette Ashby, hingga orang yang meroketkan karir Amy seperti Salaam Remi dan Nick Shymansky tahu siapa Amy sebenarnya. Dia butuh pertolongan dari dirinya sendiri, dan mereka selalu ada disana, siap untuk membantu. Kita sebagai orang awam hanya bisa memahami Amy sebagaimana yang diceritakan Juliette di malam penganugrahan Grammy ke-50.

Malam itu, Natalie Cole dan Tony Bennett, figur yang menginspirasi Amy dalam bermusik, naik panggung. Amy menyaksikannya dari London, lantaran gagal mendapatkan visa ke Amerika Serikat. Saat itu giliran pemenang kategori Record of the Year yang dibacakan. Nomor hits Amy Winehouse, “Rehab”, dinominasikan bersama Beyonce, Justin Timberlake, Rihanna, dan Foo Fighters. Amy yang sedang berkelakar di atas panggung segera membeku ketika Tony Bennett menyebut namanya sebagai pemenang. Suasana langsung meriah dengan tepuk tangan dan siulan, merayakan kesuksesan Amy. Bisa dibilang ini adalah momen tertinggi Amy Winehouse. Setelah sedikit memberikan ucapan terima kasih, Amy menarik Juliette, yang menangis bahagia, ke belakang panggung. Di depan Juliette, Amy tidak bergeming. Ia tidak menunjukkan sedikitpun reaksi layaknya pemenang Grammy. Amy berkata pada Juliette, “Jules, this is so boring without drugs.” [WARN!NG/Kevin Muhammad]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.