close

[Article] Paddling On The Tsunami Waves: Sebuah Pengantar

teaser_

“Kenapa sih lo rilis kompilasi surf ka!?” tetiba teman saya bertanya saat sore yang tanggung ketika kali pertama kami berjumpa lagi setelah beberapa bulan hanya sekedar cukup ngechat via whatsapp, kemudian simpel kala itu saya menjawab “Buat gue ini seperti cinta lama yang kependam tapi gak berbuah apa – apa, sekalipun itu sekedar jerawat”

Ketertarikan saya memang cukup besar dengan sound reverb dan twang yang nyaring bergelombang memanjang melebihi dari dua oktaf seriosa, hingga akhirnya ada saat momen dan alasan yang tepat untuk menggarap project Surf Music Compilation ini. Karena untuk pengimplementasian kecintaan ini dalam sebuah medium band buat saya pribadi tidaklah memungkinkan karena tahap kemahiran saya dalam bermusik sama sekali NOL besar. Menarik titik awal persinggungan pertama saya dengan surf sound adalah kembali saat dimana saya berada di balik stick Playstation dengan game Tony Hawk Pro-Skater dengan Police Truck nya dari Dead Kennedys mengalun keras sebagai soundtrack dari game tersebut. Cukup berselang lama dari saat momen tersebut dan tidak ada hal lain yang perlu saya tulis di kemudian harinya hanya sekedar beberapa band punk yang saya dengarkan yang memasukan sound reverb dalam musiknya itu pun bukan dari lokal punk scene. Akan Tetapi jika kita menulusuri lebih ke belakang sebenarnya dasar pondasi surf sound lokal Indonesia dapat dengan cukup mudah kita temukan pada band-band garage rock era 1960’-an yang walaupun memang mereka tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai Surf band tetapi sekira jejaknya bisa kita temukan pada diri mereka, beberapa di antaranya seperti Band Pelangi pada lagunya “Sarinah dan Laut”, atau pada EP instrumentalnya Eka Sapta bertajuk “Burung Kutjitja”, atau Kabama di lagu “Peluit Berbunyi” dan “Oh MuraiKu”, atau yang sedang sering saya dengerin adalah Remadja Bahana dan saya kira mungkin masih banyak lagi. Kecintaan saya kemudian menemukan labuannya kembali saat saya dengan gembira menemukan band Southern Beach Terror tetapi yang kala itu ada di saat timing yang tidak tepat sama sekali, manakala saat – saat mati segan dan hidup pun tak mampu yang kemudian akhirnya mereka menutup usia dengan sedikit sekali meninggalkan artefak, satu EP Live At Joes Garage dan kompilasi bebas unduh Music Beyond Borders VOL2 yang di prakasai oleh Yes No Wave Music. Kemudian dengan cekatan saat senjakala band tersebut Sonic Funeral lalu berafiliasi dengan Elevation records akhirnya menyelamatkan 9 tracks yang rencananya bakal jadi dari debut full length albumnya yang urung rilis berformat CD. Dengan memberikan sentuhan ajaib dari dua label kenamaan tersebut maka disulaplah ke 9 tracks tersebut menjadi piringan hitam 12’ dengan mengambil tajuk Wave Of Blood yang tentunya menjadi rilisan instant classic dari band surf rock underrated ini pada tahun 2013 silam.

Saat proses penelitian band lokal yang memainkan Surf Music untuk penyaringan band mana saja yang akan kami karantina untuk keperluan kompilasi ini, (tentu) kami menyempatkan untuk deep chat dengan salah satu pentolan dari band ghoib Southern Beach Terror tetapi berakhir dengan penolakan halus atas ke enggan-nan nya untuk masuk dalam kompilasi ini dengan alasan yang cukup masuk diakal “Karena band ini sudah lama tidak aktif dan mau dikubur dalam-dalam, layaknya posisi kami digantikan dengan band lainya yang masih aktif dan segar itu akan lebih baik sepertinya” dikutip dari chat saya dengan El Torro. Kemudian dengan lapang (sedikit mengulas) dada kami pun menerima alasan itu dan mengerti posisi mereka, tetapi untuk menghargai perjalanan band mereka dan karena atas alasan personal (yang bagaimana pun buat saya Southern Beach Terror dengan Wave Of Blood-nya adalah yang menjadi titik tolak serta alasan pertama untuk memulai project pendokumentasian ini) sehingga  akan mudah ditarik kesimpulannya atas alasan penamaan untuk album kompilasi ini yaitu Tsunami Bomb itu memang diambil dari salah satu judul dari 9 tracks nya Wave Of Blood. Maka jika ada asumsi lain, benar pula adanya apabila disebutkan tidak akan ada Tsunami Bomb dari tangan kami kalau Southern Beach Terror tidak pernah menampakan wujudnya.

Ketika saat ini proses penggarapan, ternyata ombak tidak selalu baik untuk popping up pada surfboard karena bagaimanapun buat kami cukup susah untuk menarik garis cakupan surf music untuk kompilasi Tsunami Bomb ini (ternyata), sebagaimana perseturuan klise apakah The Beach Boy masuk dalam ruang lingkup Surf Music? Apakah Surf Music harus selalu instrumental? Beberapa pandangan garis keras dari seperti Surf Music founding father sendiri Dick Dale yang pernah berujar “They were surfing sounds with surfing lyrics. In other words, the music wasn’t surfing music. The words made them surfing songs, that was the difference… the real surfing music is instrumental”, lalu pada The Encyclopedia of Surfing, Matt Warshaw’s menulis: “Surf music is divided into two categories: the pulsating, reverb-heavy, ‘wet’- sounding instrumental form exemplified by guitarist Dick Dale, and the smooth-voiced, multitracked harmonized vocal style invented by the Beach Boys. Purists argue that surf music is by definition instrumental.” Dan the famous Surfer Joe Summer Festival pun mereka hanya mengakomodir para Instrumental Surf Artists. Bagi Brain Wilson dari The Beach Boy sendiri yang saat itu sepertinya sudah jengah berargumen “I HATE so-called “surfin'” music. It’s a name that people slap on any sound from California. Our music is rightfully ‘the Beach Boy sound’—if one has to label it.” Lalu buat kami? para “new kid in the block? tapi eureka!!! beruntung dan berterimakasih pada Robert Taylor sang maha suci penemu internet yang akhirnya dengan sedikit googling sana-sini lalu kami menemukan rilisan kompilasi surf music yang essential dari Rhino Records berupa box set berisi 4 CD yang mereka kasih nama Cowabunga! The Surf Box dan itu buat kami seperti handbook dan kitab suci yang akan membawa kami ke arah kebajikan rahmat nan berkah.

Tsunami Bomb secara konsep akan menjadi seperti jelmaan dari Cowabunga! The Surf Box versi lokal yang akan disiasati hingga mampu mencatat band – band Surf yang pernah ada dan merekam karyanya selepas era Southern Beach Terror hingga yang masih aktif sampai tahun ini (baca: 2017) baik itu yang sound se-authentic saat era 60an ala Misirlou-nya Dick Dale & The Del-Tones atau para surf revival yang telah saling bersilang dengan genre lainnya dan tentunya dengan beragam tema. Mereka yang telah masuk daftar kami saat ini memang bahkan tidak melebihi dari 10 band saja, namun begitu kami masih terus melakukan penggalian informasi lebih lanjut untuk mencari kemungkinan jika masih ada band surf yang belum kami ketahui, berharap bisa menemukan band surf dari ujung Aceh sana atau di perbatasan Papua. So yeah, cum-ing soon!! [Kontributor/Reka Nugraha]

*PS: Untuk teman – teman yang mempunyai rekomendasi band Surf lokal di kota kalian atau bahkan band kalian sendiri bisa untuk menghubungi kami via e-mail ruangkecilrecs@gmail.com, tabik.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response