close

[Book Review] Cerita dari Digul

Cerita dari Digul
Cerita dari Digul

 

Penyunting: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Kelompok Penerbit Gramedia (KPG)

Halaman: 225

Tahun: 2015 (cetakan keempat)

 

Sejarah tak ubahnya pesan masa lampau yang mau tidak mau, suka tidak suka, memberikan tanggung jawab moral untuk menjaganya. Berjuta tulisan yang tersusun atas beribu kata dan makna dibingkai dalam satu kesatuan; memelihara ingatan agar tak dibuang atau terbuang begitu saja ke lembah keapatisan. Indonesia merupakan bangsa besar dengan hikayat serta riwayat pendirian yang membuahi kompleksitas, bahkan terkadang mengalunkan argumen multitafsir. Deretan transkrip yang berisi kontemplasi rumusan, penuturan nyata, pencitraan tokoh yang dianggap berjasa, hingga pembenaran maupun pembelokan fakta senantiasa berdiri bak martil; yang setiap saat dapat menghukum tanpa harus menunggu kapan waktunya tiba.

Berbicara perihal tema, Negara ini tak dapat dilepaskan dari pengarsipan gerakan kiri yang muncul di awal tahun 1930 sampai meletupnya tragedi kemanusiaan berupa 1965; yang masih berupaya mendapati cahaya terang penyelesaian. Materi tersebut selalu menarik dibahas, dikuliti mengelupas, ataupun ditelanjangi secara pantas. Menyimpan beragam misteri, wajar. Memendam pelbagai versi, normal. Akan terus berputar karena ia melenggang bak primadona jagad yang mengobrak-abrik tata kaidah kesesuaian. Maka jangan heran jika sering dijumpai aksi pembubaran, tindak pelarangan, serta penyematan stempel bahaya bagi keamanan politik walaupun sebenarnya sudah tak lagi relevan dikaitkan.

Sebelum bom massal meletus, pergerakan sejenis telah terlebih dulu meledak di periode pembentukan. Pemikiran progresif tumbuh subur, berkembang biak ke penjuru daerah yang lantas melahirkan begundal pemberontak; aparat terkejut, takut kuasanya diberedel keadilan, lalu berlomba-lomba meringkus penuh praduga dan membuangnya ke semesta berwujud Boven Digoel. Jika Anda sekalian masih merasa kurang puas atas runtutan penjelasan tersebut, maka seyogyanya buku Cerita dari Digul yang disunting langsung oleh Pramoedya Ananta Toer bisa menutupinya dengan gaya alternatif nan menyegarkan. Cerita dari Digul tidak menjelaskan perihal paparan baku dimana pencantuman variabel masa, sosok, maupun rentang kronologi diatur begitu sistemik. Lebih mudahnya sebut saja kitab cerita. Akan tetapi saya cenderung memilih menyematkan definisi sebagai roman merah pengepul rekam heroik dari individu-individu kuat yang bertahan pada ideologinya sendiri.

Digul, daratan luas yang berdiri di tanah Papua itu tak hanya melukiskan panorama alam megah; rerimbunan hijau membentang dari utara ke selatan, aliran sungai yang membelah luar biasa derasnya, dan barisan bukit berjejeran rapi seraya menyembulkan awan pekat kegagahan di angkasa. Sedangkan rimbanya dipenuhi semak belukar tanpa nama, peraduan hewan-hewan buas, juga sekumpulan suku lokal yang menari pilu. Tetapi, Digul tak sekedar itu; ia menjelma menjadi lahan penampungan otak revolusioner yang kadung dicap pemberontak, bengal, dan pastinya antek komunis. Sebongkah rumah untuk para tersingkirkan yang terampas kesejahteraannya hingga tak tahu kapan mampu memeluk keluarga serta sanak saudaranya lagi.

Surat dari Digul memuat 5 (lima) kisah berlatar belakang sama; pengasingan dan usaha melarikan diri. Di antaranya ada Rustam Digulist (D.E. Manu Turoe), Darah dan Air-Mata di Boven Digul (Oen Bo Tik), Pandu Anak Buangan (Abdoe’lXarim M.s), Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul (Wiranta), serta Minggat dari Digul (Tanpa Nama) yang terdiri dari 4 jilid penerbitan. Jujur saya merasa asing melihat deretan penulis yang mengisahkan petualangannya di buku ini. Nama-nama yang sebenarnya cukup sulit diidentifikasi dalam kotak literasi sastra atau sejenisnya. Memang, di Arsip Nasional, lembaran data tentang Digul terkurasi kurang lebih setebal tiga meter atau berjumlah 24 boks dari periode 1927-1942. Tapi untuk menemukan catatan hidup dari para pengarang, tak semudah yang dibayangkan. Keterangan yang cukup memadai justru didapatkan lewat karya Anthony Reid: The Blood of The People, Revolution and The End of Traditional Rule in Northern Sumatra terbitan Oxford University Press yang memaparkan personifikasi Abdoe’lXarim M.s.

Tirai dibuka dengan Rustam Digulist yang berkisah mengenai hilangnya identitas kebebasan semenjak ditangkap batalion pemberantas. Rustam, bukan orang besar dengan jabatan di belakang. Atau pengusaha gula yang pundi-pundi uangnya mampu membeli harga diri para birokrat. Ia warga biasa dengan jalur normal yang tidak neko-neko. Kemudian tibalah fajar kala ia diringkus karena label komunis. Seketika apa yang sudah didapat dalam hidupnya, lenyap tak bersisa. Lalu Darah dan Air-Mata di Boven Digul membahas pergulatan hati Sugiri yang dikoyak-koyak ironi; melaju asa, menyiram garam perpisahan yang terlampau tragis dirasakan. Sedangkan Pandu Anak Buangan menyorot intensitas Pandu dalam melenyapkan tembok beton yang terpampang di depan mata. Pandu adalah strategi yang terus bergerak tanpa letih; mengotak-atik rencana, mempersiapkan perbekalan, dan merajam kesempatan bangkit kesekian kalinya. Dan di dua babak akhir, pembaca akan mengikuti rentetan perjuangan dalam menerabas lebatnya hutan, melawan ketakutan, serta menanggapi lelucon sarkas yang dibungkus dialog para pelaku.

Proses memahami maksud dalam buku ini memakan dua kali keberlangsungan disebabkan penggunaan bahasa Melayu yang sangat dominan. Hal tersebut bukan tanpa alasan karena latar peristiwa terjadi di sekitar tahun 1930, dimana bahasa Melayu mengalami kulminasi tertinggi dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Ditambah pula dengan fakta bahwa selepas Sumpah Pemuda, pemakaian bahasa Melayu bergulir begitu masif. Mengapa demikian? Pertama, bahasa Melayu dipakai juga sebagai pengantar aktifitas birokrasi setelah bahasa Belanda. Kedua, peristiwa Sumpah Pemuda menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia sekaligus bahasa nasional. Tak heran apabila terdapat selendang panjang yang merekatkan hubungan kausalitas antara melayu, Malaysia, dan olah fungsi bahasa. Pada hakikatnya, meski bahasa Melayu menguasai ranah penyampaian, Pram berusaha merombaknya agar terdengar harmonis dengan kearifan lokal.

Jalannya cerita yang tersaji saya ikuti secara seksama. Tiap konflik dipaparkan begitu runtut. Polanya hampir mirip antara satu dan lainnya; tangkap, buang, bertahan. Jika membaca dengan utuh, terdapat benang lurus yang mengaitkan kesamaan. Apa yang dilakukan aparat pada tempo dulu tak jauh beda pada masa sekarang; penahanan sepihak, pembubaran, pengekangan, dan yang lebih parah berupa penghilangan status kemerdekaan pribadi. Jelasnya bahwa upaya meremas kemerdekaan berdampak pengungkapan kesetaraan; menggunakan media propaganda halus dalam menusuk kebijakan. Setiap manusia berhak merdeka dan kita berutang banyak kepadanya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response