close

[Book Review] Dunia Sophie

175586_3e0b7f12-2a8d-11e4-ba63-9b6b2523fab8

 

175586_3e0b7f12-2a8d-11e4-ba63-9b6b2523fab8

 

Judul Buku: Dunia Sophie

Penulis: Jostein Gaarder

Penerbit: Mizan

 

“Sesungguhnya, kamu sama sekali tidak dapat memisahkan filsafat tertentu, atau pemikiran tertentu, dari konteks sejarah sang filosof, atau pemikiran itu. Tapi—dan di sini aku sampai pada soal lain— karena sesuatu yang baru selalu ditambahkan, akal menjadi ‘progresif’. Dengan kata lain, pengetahuan manusia itu selalu berkembang dan maju.” – Albert Knox, Dunia Shopie (hlm 562)

Pertama-tama, saya tahu Dunia Shopie adalah novel filsafat, bukan buku teks filsafat ilmu. Namun nukilan di atas adalah salah satu bagian dari alasan saya memilih membaca buku ini untuk mempelajari filsafat. Filsafat merupakan salah satu objek kajian yang berat dan oleh karena itu perlu bentuk dan cara yang ringan untuk bisa menyerap pemikirannya. Dunia Shopie merupakan pilihan yang logis jika ingin mulai mempelajari filsafat untuk orang yang punya masalah dengan gaya buku teks yang kaku. Dan Jostein Gaarder menyusun buku ini seperti sebuah linimasa yang padat, sebuah kotak kecil yang penuh, rangkuman dari kurang lebih 3000 tahun sejarah pemikiran manusia yang ditulis dalam bahasa yang sederhana, tapi tidak menyederhanakan poin-poin penting di tiap poin filsafatnya. Setelah melewati halaman terakhir buku ini, sungguh merugi mereka yang bilang tidak ada yang bisa dipelajari dari buku fiksi.

Poin yang paling utama adalah, buku ini memberi diorama serta konteks melalui plot cerita di dalamnya. Alih-alih menjelaskan masing-masing pemikiran para filsuf sebagai suatu bagian yang terpisah-pisah, Dunia Shopie membuat filsafat sebagai bagian yang lekat dengan sejarah itu sendiri. Sehingga pembaca (dalam hal ini pembelajar filsafat) bisa mengerti konteks lahirnya pemikiran tersebut di tiap eranya. Ada linimasa yang digambarkan dengan jelas, masing-masing pemikiran dijelaskan dalam urutan lahirnya. Dunia Shopie juga memperlihatkan bahwa sejarah itu organik, ia adalah proses yang amat panjang yang digerakkan oleh manusia itu sendiri. Filsafat ada sebagai inti, sebagai puncak dari segala pertanyaan mengenai hakikat kita di dunia, dan oleh karena itu tidak bisa dilepaskan dengan realitanya. Manusia dan kehidupan. Secara umum Dunia Shopie menceritakan tentang kisah seorang gadis muda yang tiba-tiba mendapat pelajaran filsafat dari Alberto Knox, seorang laki-laki yang sebelumnya benar-benar asing bagi Shopie. Alberto Knox, melalui surat-suratnya bercerita tentang para filsuf alam di era paling awal filsafat seperti Thales dan Democritus, sampai filsuf era modern seperti Nietzsche atau Karl Marx, serta ilmuwan semacam Darwin atau Freud. Pembaca pada saat-saat tertentu akan menemukan dirinya adalah Shopie, menjadi murid yang asik dan patuh mengikuti pelajaran dari sang guru. Lebih dari itu, cerita Dunia Shopie di akhir menjadi sebuah teka-teki sendiri. Munculnya Sang Mayor dan Hilde sunggu seperti soal evaluasi tentang kasus eksistensi kita sendiri. Seperti bertanya pada pembaca ‘Setelah membaca intisari dari 3000 tahun sejarah manusia, menurutmu apa yang pantas menjadi akhir cerita ini?’.

Dunia Shopie merupakan buku yang sangat padat. Secara umum buku ini membagi sejarah filsafat menjadi beberapa bagian: Filsafat alam, Filsafat Yunani Kuno, Filsafat Abad Pertengahan, Reinasans, Filsafat zaman pencerahan dan Filsafat modern. Hampir seluruh nama-nama filsuf yang ada di ensiklopedi atau buku teks filsafat umum dirangkum disini. Alberto Knox, dalam hal ini berperan sebagai guru filsafat Shopie menjelaskan masing-masing pemikiran lengkap dengan potret tentang filsuf dan keadaan sosial yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran tersebut. Saya misalnya jadi mengerti bagaimana ide Democritus nantinya mempengaruhi aliran filsafat Stoik. Bagaimana akhirnya filsafat di zaman Barok dengan bentuk-bentuk kebudayaan yang tidak beraturan lahir sebagai perlawanan terhadap era filsafat Renaisans atau sebelumnya yang terlalu ‘rapi’ dan teratur. Atau peralihan dari saat filsafat berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat manusia dan tuhan menuju ke pertanyaan mengenai eksistensi manusia dan hal-hal yang lebih praktis. Juga tentang bagaimana hubungan filsafat dan teologi yang ternyata pernah begitu akur di era Thomas Aquinas, dan kemudian berjarak lagi.

Di awal linimasa sejarah filsafat ini, ada para filsuf alam yang pemikirannya berkutat pada fenomena alam. Pemikiran-pemikiran di era ini mendasari ilmu-ilmu alam yang lahir ratusan tahun setelahnya. Pertanyaan mengenai misalnya, bagaimana hujan terbentuk, perubahan alam atau apakah ada unsur pembentuk materi di alam. Ada nama-nama seperti Thales yang menganggap bahwa asal usul dari segala sesuatu adalah air. Lalu Empedocles yang berpikiran bahwa alam tersusun dari empat zat utama, yaitu tanah air udara dan api. Salah satu yang paling berpengaruh tentu saja Democritus yang menemukan pemikiran mengenai teori atom, tentang unsur pembentuk terkecil dari segala materi yang ada di alam. Teori Democritus ini memberikan kemungkinan bahwa karena dunia ini bersifat materiallistis, maka seharusnya apapun bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil dan seterusnya, ini juga menjelaskan tentang perubahan alam dan unsur pembentuk primer dari segala hal.

Bab paling mendalam di buku ini adalah di jaman Filsafat Yunani Kuno, yaitu pembahasan tentang Socrates, Plato dan Arisoteles. Mereka bertiga ini adalah tiga filsuf terbesar sepanjang sejarah. Socrates adalah yang pertama dari mereka bertiga. Pemikirannya berkutat pada pencarian mengenai kebenaran sejati, ia menganggap ada kebenaran abadi yang akan selalu ada dan tidak subjektif. Muridnya Plato, kemudian hari juga menjadi salah satu filsuf terbesar sepanjang sejarah. Ia mendirikan akademi, yang merupakan cikal bakal dari sistem pengajaran di sekolah sekarang ini. Filsafat Plato berfokus pada dunia ide. Dalam buku ini Alberto Knox mengibaratkan dunia seperti kue jahe atau kuda. Setiap kue jahe atau kuda di dunia ini tidak ada yang sama identik, tap kita tetap bisa mengidentifikasi mereka sebagai kue jahe atau kuda. Menurut Plato, itu karena kita sudah punya ‘ide ideal’ untuk semua hal. Plato percaya bahwa manusia dilahirkan dengan ide bawaan, dan bahwa segala hal materi di dunia ini hanyalah bayang-bayang dari sebuah dunia ide yang sudah sempurna di suatu tempat. Plato begitu terpesona dengan dunia ide. Ia dan Socrates adalah seorang rasionalis sejati. Lalu murid Plato, Arisoteles juga kemudian menjadi filsuf paling berpengaruh. Walaupun ia adalah murid Plato, ia bertolak belakang dengan pemikiran gurunya dengan mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun di dalam kesadaran yang belum pernah di alami oleh indra. Secara praktis, ia adalah salah satu pionir empirisme. Arisoteles berpendapat bahwa “bentuk” memperlihatkan ciri potensi sekaligus batas dari segala hal di dunia. Ia juga adalah seorang organisator ulung. Arisoteles lah yang mengklasifikasikan manusia, hewan dan tumbuhan, benda mati-benda hidup. Ia secara teknis bisa disebut sebagai bapak ilmu pengetahuan.

Lalu karena kebudayaan bangsa Yunani, Romawi, Mesir, Babylonia, Syria dan Persia melebur, banyak hal yang berubah. Filsafat yang lahir di realita sosial kemudian berkembang dari yang semula mempunyai nilai yang berdiri sendiri, menuju ke arah “keselamatan”. Filsafat dianggap harus membebaskan manusia dari pesismisme dan rasa takut akan kematian. Oleh karena itu, di jaman Helesnistik ini banyak interaksi yang terjadi antara filsafat dan teologi. Salah satu yang saya suka adalah aliran filsafat Stoik. Kaum ini menganggap bahwa setiap orang adalah seperti sebuah dunia miniatur, atau “mikrokosmos”, yang merupakan cerminan “makrokosmos”. Aliran ini memaknai kematian sebagai sebuah proses seperti setitik embun yang kembali ke samudera, atau ‘menyamudera’. Saat kita mati kita kembali ke alam.

Zaman berikutnya adalah zaman pertengahan yang kemudian disambung dengan zaman renaisans atau pencerahan. Istilah ini kurang lebih merujuk pada hubungan filsafat dan agama. Beberapa tokoh yang sangat berpengaruh di zaman ini adalah Thomas Aquinas yang menggunakan filsafat sebagai pondasi untuk memperkuat ajaran agama krisetennya. Di era ini filsafat dan agama menjadi akur.

Setelah Renaisans, salah satu tokoh yang paling penting untuk dibahas adalah Rene Descartes. Di abad ke-17 ini Descartes memulai filsafatnya dengan mempertanyakan hubungan jiwa dan raga. Juga tentang pengetahuan-pengetahuan tertentu. Sebagai filsuf yang lahir setelah banyaknya pemikiran-pemikiran yang saling berkelindan, Descartes yakin bahwa satu-satu yang bisa dipercaya adalah keraguannya. Bahwa hanya dengan menjadi ragu kita bisa berpikir, bahwa hanya dengan ragu kita menjadikan nyata sebuah usaha mencari kebenaran. Pemikiran ini yang kemudian hari terkenal dengan istilah ‘cogito ergo sum’, atau ‘aku berpikir maka aku ada’. Sebagai ahli matematika, Descartes juga berusaha memecahkan pertanyaannya dengan mekanis, ia mengandaikan manusia sebagai sebuah mesin sempurna. Descartes adalah seorag dualis, ia membagi realitanya menjadi realita pikiran dan realita yang meluas. Pemikiran ini kemudian hari dikembangkan oleh Spinoza. Setelah itu kalangan empiri yang cukup berjaya, deratan John Locke, Hume dan Berkeley menjadi tiga empirisis terbesar.

Menengahi jurang dan jarak yang sangat lebar antara kaum rasionalis dan empirisme, muncul Immanuel Kant dengan pemikirannya. Kant beranggapan baik ‘indra’ maupun ‘akal’ sama-sama memainkan peranan dalam konsepsi kita mengenai dunia. Ia sama-sama menganggap bahwa kaum rasionalis dan empirisme benar sampai tahap tertentu, dan sekaligus salah pada tahap tertentu juga.

Seiring dengan semakin banyak ditemukannya mesin-mesin di akhir abad 18, muncul gelombang baru yang bernama Romantisisme. Kaum romantik ini sudah selesai dengan pencarian filsafat dan ilmu pengetahuan. Yang menjadi khas dari mereka adalah kerinduan tentang sesuatu yang jauh dan tidak terjangkau. Banyak perasaan dan pemikiran reflektif yang muncul di zaman ini. Di zaman ini muncul ekspresi seni baru yang sangat kuat untuk mengungkapkan perasaan seperti karya-karya Beethoven. Di era ini juga muncul Schelling yang mempelopori gerakan naturalisme atau kembali ke alam. Hal ini karena romatisisme sendiri lahir dari budaya metropolitan atau urban. Anak zama romantisme yang paling mashyur tentu saja Hegel. Pemikiran Hegel mempunyai dasar yang kuat dan sangat logis. Ia mengibaratkan sejarah filsafat seperti sungai yang mengalir menuju ke lautan. Dimana akal adalah sungai, yang karena sisi-sisi tanah ataupun bebatuan kadang alirannya berbelok ke kanan atau ke kiri. Begitu juga dengan filsafat. Ia juga mengemukakan teori dialektika. Tentang ketegangan yang tidak bisa tidak hadir dalam setiap proses berpikir. Hegel lah yang menemukan sistem tesis, sintesis dan antitesis.

Filsuf modern yang paling berpengaruh tentu saja adalah Karl Marx. Ia adalah pemikir pertama yang menerapkan filsafat praktis. Ia tidak hanya seorang filsuf, melainkan juga ahli ekonomi sosilogi dan sejarah. Kebalikan dari Hegel yang mengatakan hubungan ruhaniah menentukan hubungan materi, Marx menganggap materilah yang pada akhirnya menentukan hubungan ruhaniah yang terjadi dalam interaksi manusia. Dan dalam hal ini, ekonomi menjadi dasar utama. Ajaran Karl Marx yang paling populer ditulisnya dalam buku Das Capital tentang kapitalisme. Marx membagi masyarakat jadi dua berdasarkan kepemilikan sarana produksi, yaitu kaum borjuis dan kaum proletar Ia menentang sistem kerja yang mengalienasi tenaga kerjanya dari dirinya sendiri. Penentangan Marx terhadap kapitalisme ini punya dasar yang kuat, yaitu bahwa sistem kapitalis ini memang tidak stabil pada dasarnya dan ia tidak mempunyai batasan rasional. Industri kapitalis ini lama kelamaan menuju ke kehancuran dirinya sendiri. Pemikiran Marx ini kemudian hari terus berkembang menjadi Marxisme, bahkan Neo-marxisme. Di Indonesia sendiri, ajaran Marxis sempat dianggap berbahaya karena dihubung-hubungkan dengan komunis. Marx ternyata hidup di era yang sama dan punya keterhubungan dengan penemuan Darwin tentang teori evolusi yang menggegerkan gereja dan teori penciptaan manusia secara teologi. Juga penemuan Sigmun Freud tentang psikoanalisis, yaitu tentang alam bawah sadar manusia, juga tentang id, ego dan superego. Secara garis besar, filsafat mdoern yang dimulai dari titik ini berkembang juga. Di era terbaru, ada Friedrich Nietzsche, Sartre dan kawan-kawannya.

Jika ada satu kritik tentang Dunia Shopie, adalah bahwa menurut saya buku ini terlalu terpaku pada filsafat barat. Seakan pergerakan pemikiran manusia hanya terjadi di bangsa Indo-Eropa. Padahal di negeri-negeri timur pada saat yang sama juga lahir banyak filsuf-filsuf dengan pemikiran yang rasanya juga berharga untuk dipelajari. Karena potensi filsafat pada dasarnya sangat sederhana, yaitu kemampuan dan kemauan untuk berpikir, tidak adil rasanya untuk menutup mata bahwa di dunia timur juga ada peradaban yang berkembang. Manusia berpikir, budaya bergerak, mustahil tanpa adanya pemikiran-pemikiran tentang kehidupan atau tuhan atau dirinya sendiri. Misalnya di China, India, Jepang, bahkan termasuk filsafat buddhisme. Semesta Shopie akan jadi lebih luas jika saja Alberto Knox juga menyertakan filsafat-filsafat timur.

Novel dan buku teks tentu saja berbeda. Materi filsafat dalam novel ini mungkin lebih sederhana daripada di buku teksnya, tapi memahami filsafat dalam cerita seperti ini rasanya lebih menyenangkan. Filsafat tidak mengada sebagai sebuah ilmu omong kosong, ia terasa menyatu dalam sejarah. Dan bahwa masing-masing dari kita pada titik tertentu telah hidup selama lebih dari 3000 tahun, karena kita adalah bagian dari sejarah. Dan filsafat akan selalu diperlukan karena terlalu banyak misteri dalam hidup dan semoga manusia tidak menjadi kelinci-kelinci yang terlalu nyaman bergelung di dalam topi pesulap –perumamaan Alberto Knox tentang manusia yang sudah begitu praktis, nyaman dan tidak merasa perlu bertanya-tanya.

Pada salah satu halaman yang ujungnya saya lipat tertulis bahwa kita tidak bisa membenarkan filsafat zaman Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Renaisans, atau pencerahan. Juga tidak bisa membenar-salahkan Socrates, Plato, Huge, Hegel, Schelling, Kant, Marx, bahkan Darwin. “Karena itu adalah cara pikir yang anti-sejarah”. Setelah melalui 3000 tahun yang panjang dan begitu padat, saya tidak bisa begitu saja memilih filsafat mana yang paling menarik atau paling benar. Tiap zaman punya potret yang begitu komples. Dunia dan apapun yang ada di dalamnya tidak pernah menjadi begitu hitam-putih. Dan kebenaran maupun pengetahuan mungkin memang tidak pernah sampai pada batas akhirnya.

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.