close

[Book Review] Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London

orwll

Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London

Pengarang: George orwell

Penerbit: Oak Press

Halaman: 272

Tahun terbit: 2015

Bagi orang miskin, memiliki kehidupan mapan hanya sebuah angan-angan belaka, tanpa sempat memikirkan bagaimana caranya

Pernah ada acara reality show yang menayangkan tentang pertukaran nasib di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Acara tersebut menceritakan tentang pertukaran nasib antara orang miskin dan orang kaya. Si miskin akan dibawa menuju kebahagiaan hidup orang kaya. Si kaya pun akan menjalani bagaimana penderitaan kehidupan si miskin.

Pengalaman penderitaan hidup si kaya menjadi orang miskin yang sementara, tentunya tidak akan mereperesentasikan penderitan si miskin yang sebenarnya. Si kaya sadar, bahwa ia menjadi orang miskin beberapa hari saja. Berbeda halnya dengan orang yang hidup miskin yang tidak tahu kapan lepas dari belenggu kemiskinan

Untuk merasakan bagaimana kehidupan orang miskin, tentunya kita harus menjadi orang miskin yang sejatinya. Orang miskin yang tidak tahu kapan ia hidup dalam kemapanan. Pengalaman ini lah yang ingin dibagikan oleh George orwell dalam novel otobiografinya. Novel terjemahan yang berjudul “Terbenam dan Tenggelan di Paris dan London”. Novel ini menceritakan pengalaman pribadi Orwell ketika hidup miskin di Paris dan London

Cerita diawali dengan kepindahan Orwell ke Paris dan hidup di salah satu perkampungan kumuh disana. Ia bekerja mengajar les bahasa Inggris. Dengan sisa uang yang ia punya, ia sudah memperkirakan bahwa uang yang dimilikinya cukup untuk satu bulan ke depan. Akan tetapi, musibah terjadi. Tempat ia menginap dibobol orang dan uang ia punya dibawa kabur. Ditambah lagi, murid-murid les bahasa Inggrisnya pun menghilang tanpa membayar uang lesnya.

Kini ia pun benar-benar menjadi orang miskin. Seseorang yang hanya memiliki uang beberapa franc saja dan sonder pekerjaan. Mencari pekerjaan pun merupakan sesuatu yang sulit di Paris kala itu. Awalnya ia harus menjual beberapa barang yang ia miliki untuk bertahan hidup. Hingga barang-barangnya yang bisa dijual habis, ia pun harus merasakan bagaimana rasanya tidak makan dalam beberapa hari.

Setelah sekian lama, akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai plounger. Ia bekerja sebagai plounger secara berpindah-pindah tempat. Tidak ada penjelasan mengenai plounger. Akan tetapi, disini Orwell menggambarkan plounger terkadang merupakan seorang tukang cuci, terkadang sebagai seorang pelayan. Intinya plounger dianggap sebagai pekerjaan paling rendah dalam sebuah hotel atau restoran. Pekerjaan ini dianggap setara dengan budak. Jam kerjanya tidak masuk akal. Sehari ia bekerja hingga 12 jam, bahkan terkadang lebih.

Walaupun sudah mampu mengisi nafsu perutnya, ia merasa bekerja sebagai plounger tidak memiliki arti untuk kehidupan. Menurutnya, menjadi plounger hanya memenuhi nafsu orang-orang berduit saja. Oleh karena itu lah ia merasa cukup untuk terus menjadi plounger. Kemudian ia menulis surat kepada seorang temannya di London bernama B.. Orwell menceritakan bahwa ia ingin pulang kembali ke London dan meminta pekerjaan kepadanya.

Surat Orwell pun dibalas. ia dijanjikan pekerjaan oleh B., juga dikirimkan sedikit uang untuk pulang ke London. Setibanya di London, nasib Orwell juga tidak kunjung membaik. Setelah mengunjungi kantor B., ia mengetahui bahwa B. sedang ke luar negeri. B. baru tiba di London satu bulan kemudian. Ia pun terpaksa hidup miskin lagi. Saat di London ia menjadi seorang tunawisma. Selama hari ke hari ia bermalam di sebuah spike (rumah penampungan tunawisma). Hidupnya di London tak kunjung membaik. Tidak ubahnya saat ia hidup di Paris.

Dari pengalamannya hidup miskin ia merasa bahwa, orang-orang yang kelaparan sepertinya tidak ada bedanya seperti hewan. Dalam kondisi lapar kamu tidak akan sempat memikirkan hal-hal lain, selain bagaiamana caranya perutmu itu tidak lapar lagi. Ditambah lagi dengan pekerjaan kelas rendah tidak manusiawi. Hal ini membuat orang tidak memiliki ruang berpikir untuk mengembangkan dirinya dan bagaimana keluar dari kemiskinan. Kondisi ini lah yang menurut Orwell tidak beda jauh dengan seekor hewan peliharaan yang cukup dipenuhi makanannya saja. Keluar dari belenggu kemiskinan menjadi angan-angan orang miskin yang tak sempat mereka pikirkan cara untuk keluarnya. [Rifky Afwakhowir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.