close

Cupumanik – Menggugat

cupumanik
cupumanik

Cupumanik – Menggugat

Demajors

Watchful Shot : Garuda Berdarah – Omong Kosong Darah Biru

WARN!NG Level : !!!. 

 

Mungkin satu hal yang paling awal menerima gugatan dari Menggugat, album kedua band asal Bandung ini bukanlah preman-preman birokrat atau omong kosong ningrat, melainkan adalah album pertama Cupumanik sendiri, sebuah album selftitled yang menyajikan musik pop berpayung serak-serak seattle sound laiknya Creed, Nickelback atau Lifehouse yang sedang berikhtiar untuk menembus industri musik arus utama. Menggugat seolah merupakan darah mendidih yang mendamprat fase lama Cupumanik tersebut, sekaligus sebagai legitimasi bagi Che (vokal) dan kawan-kawan untuk menodongkan celana sobek, atau flanel buluk mereka.

Saking otentiknya, sebenarnya mereka tak perlu harus mengedepankan lagu seperti “Grunge Harga Mati” untuk menunjukan bahwa mereka adalah kaum tersisa yang masih sepenuh hati membawakan spirit musik esensial era 90’an itu. Seolah ingin menciptakan “Smell Like Teen Spirit” versi Menggugat, track pertama tersebut mengumbar teriakan anthemic yang sialnya terdengar kurang pas menempatkan dakwaan liriknya. Atas nama kaum grunge, Che melayangkan seruan-seruan militansi seperti “Mari berteriak dan bergerak bersama”, “Jati diri kami grunge”, atau “Jadilah besar, jangan memudar”. Padahal beda dengan ideologi punk misalnya, bukankah konsepsi grunge lebih pada keresahan personal, kritik-kritik sarkas dari kondisi keterasingan atau kemuakan diri, dan bukan perjuangan komunitas? Tak perlu juga sampai memajang nama Kurt Cobain, apalagi jika barisnya berbunyi “Si jenius Kurt Cobain mewariskan suara perlawanan” dimana embel-embel ‘Si jenius’ menjadi sesuatu yang menggelikan.

Memang disayangkan jika masalah terbesar justru ada pada nomor andalan. Namun perlu digarisbawahi bahwa dari segi aransemen, “Grunge Harga Mati” dan keseluruhan materi dalam Menggugat sama sekali tak punya masalah – jika bukan yang terbaik di ranah grunge nasional saat ini. Kasar, keruh, sekaligus megah. Meski sejumlah lirik terdengar over-arrogance, namun sebagian lainnya begitu cerdas dan jeli menampilkan dobrakan-dobrakan penindasan dengan level amarah yang tiada tara. “Omong Kosong Darah Biru” misalnya, dengan riff yang brengsek, mengusung tema yang akurat dan segar. Lantas“Broken Home” dan “Syair Manunggal” sebenarnya terdengar sama dengan deretan karya masa lalu Cupumanik, namun dalam kasus Menggugat, keduanya justru patut diposisikan sebagai varian yang berhasil.

Di lagu terakhir, “Luka Bernegara” , teriakan “Kami punya cara bernegara / bekerja berkarya / biar kaya raya” pada chorus adalah bagian paling keren dari album ini sebelum kita kembali menggerutu menemui track pertama tadi. Tanpa bisa memungkiri, Menggugat tetap sebuah album grunge yang bagus, meski tidak harga mati. [WARN!NG/Soni Triantoro]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.