close

Film Internasional Terbaik 2016

20170101115537 (1)

Franchise X-Men kembali busuk dan satu pihak yang harus benar-benar melakukan bunuh diri atas nama Suicide Squad adalah studionya. Berita duka juga datang dari Michael Cimino, Abbas Kiarostami, Anton Yelchin, dan Andrzej Zulawski yang harus berpulang pada tuhannya masing-masing tahun ini. Sementara itu, kengerian film thriller konvensional disalip oleh serangkaian serangan kelompok teroris yang semakin produktif membuat sekuel  di berbagai kota.

Ditambah perang sipil yang memorak-porandakan Aleppo, atau Filipina yang tiba-tiba menjadi wild west di bawah kepemimpinan Duterte. Harus segera ada inovasi besar-besaran dari genre thriller agar penikmatnya tak lantas berpaling ke CNN atau Fox News. Batas antara fantasi dan kenyataan semakin lebur. Tensi terus mendekati titik didih, sementara kita tidak bisa banyak berbuat apa-apa menghadapi surealisme Kafkaesque ini.

Mudah untuk melihat 2016 sebagai tahun yang mengecewakan dalam perfilman. Mungkin ini salah satu alasan mengapa British Film Institute nekat memasukkan Lemonade dalam daftar film terbaik tahunannya. Memang tidak ada yang meragukan kualitas masterpiece Queen Bey. Tapi, jika mengikuti rangkaian bernalar BFI, mengapa tidak turut menyertakan Horace and Pete atau Westworld? Walau disajikan dalam format serial, kedua karya ini sekurang-kurangnya adalah pencapaian sinematik yang jarang ditemukan, bahkan di film-film bioskop pada umumnya.

Bukan niat kami jadi tandingan daftar mengejutkan dari institut sekaliber BFI. Dengan didasari akal sehat, berikut sepuluh film terbaik tahun 2016 pilihan kami—yang tentunya masih wajar-wajar saja.

 

 

10. Sing Street

Director: John Carney

Cast: Ferdia Walsh-Peelo, Lucy Boynton, Maria Doyle Kennedy, Aidan Gillen

Pada suatu fase kita pasti pernah berkeinginan untuk membuat kolektif seni yang bertumpu pada gitar elektrik, bass bertanda Fender, serta satu set drum Pearl yang sering digebuk Eric Singer. Meski tak punya kemampuan mumpuni, toh tidak ada salahnya jika niat mulia tersebut digantung di atap kamar sejajar dengan poster David Bowie ataupun Paul McCartney. Sudah, tak usah malu mengakui. Jika skill memang pas-pasan, Anda tidak sendirian. Di belahan Britania sana, pemuda bernama Conor membuktikan bahwa menikmati musik adalah tentang bagaimana menjaga antusiasme yang dibawa. Alhasil, film terbaru dari John Carney yang berjudul Sing Street ini kelak mengembalikan memori menyenangkan tentang impian usia remaja; membentuk band demi dapat pengakuan.

Sing Street memberikan perpaduan sempurna dengan latar belakang bangku sekolah, transisi kedewasaan, upaya pelarian, dan merawat harapan untuk menggandeng gadis yang diidamkan. Carney mewujudkan keinginan sederhananya dengan mengangkat realita Dublin 1980, di mana jalanan dipenuhi gelembung gairah rock-alternatif, gebyar budaya bernama video musik, dan tentu saja demam Duran-Duran yang menyerang seantero negeri. Di tengah itu semua, nyatanya Conor hanya ingin menyelami identitas dirinya yang terlampau rumit lewat proses emosional, yang pastinya pernah kita alami entah beberapa kali di masa silam.

 

 

9. Captain Fantastic

Director: Matt Ross

Cast: Viggo Mortensen, Frank Langella, Kathryn Hanh, Steven Zahn

Viggo Mortensen memainkan peran orang tua tunggal yang mesti merawat keberlangsungan keenam buah hatinya. Selepas sang istri meninggal dunia akibat komplikasi bipolar yang menjalar di sekujur pikir, ditambah rasa ketidakpercayaannya terhadap negara dan sistem kapitalis, ia memutuskan untuk melenyapkan diri dari semesta luar dengan mengajak serta anak-anaknya hidup dalam belantara hutan di ujung Washington.

Setiap fajar menyingsing rutinitas menyatu bersama alam menjadi santapan empuk yang tak bisa dilewatkan; berburu, meramu, hingga meditasi melalui tiupan angin dibalik sekat rerimbunan. Lantas kala petang menjelang suasana berubah bak kelas filsafat; membaca tumpukan The Brothers Karamazov, Middlemarch, sampai mendiskusikan marxism atau geliat kritis dari Noam Chomsky. Ben Cash adalah sosok mentor sekaligus figur krusial bagi tumbuh kembang Bo, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja, juga Nai. Kita tak pernah tahu, apakah langkah yang diambilnya itu merupakan wujud kecintaan kepada putra-putrinya atau hanya pelampiasan rasa salahnya untuk masa lampau yang kelewat tragis.

 

 

8. Zootopia

Director: Byron Howard, Rich Moore, Jared Bush

Cast: Ginnifer Goodwin, Jason Bateman, Idris Elba, Jenny Slate

Setelah Wreck-It Ralph (2012), subteks mengenai kejamnya prasangka dan penyakit sosial yang disebabkannya kembali dihadirkan oleh kreator yang sama di Zootopia. Merebaknya populisme sayap kanan yang mengeksploitasi ingatan buruk masyarakat terjadi juga di dunia kartun nan lucu di Kota Zootopia. Judy Hopps, kelinci lincah yang optimis, dihadapkan pada kasus besar merebaknya wabah agresivitas makhluk predator. Sementara media dan pemerintah membingkai kasus ini dengan bangkitnya rasa haus daging masyarakat (hewan) buas–Judy Hopps bersama Nick si rubah perlahan menyusuri kasus hilangnya belasan warga Zootopia. Keharmonisan mamalia yang sudah berevolusi menuju peradaban dan tidak lagi mengenal istilah “mangsa” dan “predator” dipertaruhkan di sini.

Keluwesan Zootopia sebagai karya animasi perlu diapresiasi. Buat anak-anak, tentu bukan cerita yang membosankan. Bagi yang sampai umur, tentu terasa sangat kontekstual dengan kehidupan nyata orang dewasa yang penuh intrik dan tebaran kebencian demi meraih tahta. Berita buruknya, film dengan subteks macam ini bakal jadi karya tanpa batas waktu: manusia akan selalu mencari cara membunuh manusia lainnya apabila itu yang memang harus ditempuh untuk memuaskan insting berkuasa.

 

 

 

7. Hail, Caesar!

Director: Ethan-Joel Coen

Cast: Josh Brolin, George Clooney, Alden Ehrenreich, Scarlett Johansson, Jonah Hill

Tilda Swinton, Channing Tatum

Coen Brothers kembali hadir bersama komedi berkelasnya. Anda bisa membantahnya dengan dalil sementara, tapi coba tahan dulu anggapan tersebut dan simak bagaimana Hail, Caesar! berhasil menyajikan kepingan masterpiece setelah era The Big Lebowski (1998) dan tentu saja Burn After Reading (2009) yang paradoks itu.

Lelucon satir menggelinding sepanjang durasi; menyentil industri perfilman klasik Hollywood medio 1950an serta spionase elegan komunis Rusia yang terpampang lewat manifestasi propaganda budaya modern. George Clooney tanpa cela memerankan aktor veteran yang lebih suka menghabiskan waktunya di bar pinggir Los Angeles daripada menerangi reputasinya. Sedangkan Josh Brolin tak kalah mentereng dengan gerak vitalnya sebagai direksi perusahaan yang hilir mudik menyelesaikan satu per satu kasus biduan layar perak; hembusan gosip, tenggat kontrak, hingga usaha membersihkan diri dari dosa tiap tengah malam. Namun satu hal yang pasti; adegan tatap muka bersama pemuka agama setempat tatkala menentukan penggambaran tepat akan sosok Yesus begitu luar biasa konyolnya.

 

 

6. Hell or High Water

Director: David Mackenzie

Cast: Jeff Bridges, Chris Pine, Ben Foster, Gil Birmingham

Sudah menjadi takdir semua film neo-western abad 21 untuk selamanya berada di bawah bayangan No Country for Old Men. Tapi Cormac McCarthy pun akan tertawa saat mengikuti naskah Taylor Sheridan yang dipenuhi candaan pahit. David Mackenzie juga tidak ragu untuk memaksimalkan kersik amarah dan frustrasi melalui bentangan tanah gersang Americana.

Hell or High Water tidak perlu menyamai skala destruktif film-film superhero musim panas lalu untuk membuktikan diri sebagai film aksi menawan. Cukup dengan perampokan bank yang sederhana dalam berencana dan kejar-kejaran tradisional antara polisi dan maling. Sisanya, setiap karakter diberikan waktu banyak untuk banyak berbicara.

 

 

Read More:

Film Internasional Terbaik 2016 (5-1)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response