close

Film Senyap (The Look of Silence) Menangi Penghargaan Bodil

1907579_10152272143472706_6304915663435009391_n
Joshua Oppenheimer © Shu Harada
Joshua Oppenheimer © Shu Harada

Film Senyap (The Look of Silence) karya sutradara Joshua Oppenheimer dan ko-sutradara Anonim asal Indonesia memenangi penghargaan Bodil untuk film dokumenter terbaik. Penghargaan untuk film lanjutan Jagal (The Act of Killing) ini diberikan oleh Asosiasi Kritikus Film Denmark pada Sabtu, 28 Februari 2015 lalu di Bremen Theater, Copenhagen, Denmark. Film Senyap dinominasikan sebagai film dokumenter terbaik bersama film The Circus Dynasty, 1989, The Arms Drop, dan We Are Journalists.

Dalam sambutannya, Dewan Juri Penghargaan Bodil menyampaikan, “Film Senyap adalah sebuah film yang luar biasa berani, suram, tetapi pada saat yang sama juga penuh dengan rasa kasih. Sebagai kelanjutan dari film Jagal (The Act of Killing), film Senyap memberikan para korban sebuah ruang untuk bersuara. Ini adalah sebuah ruang yang memberi juga kesempata kepada kami, penonton, untuk bisa memasuki peristiwa di tahun 1965 tak terjamah sebelumnya dan lebih jauh menyelami pikiran dan kehidupan orang-orang yang terlibat di dalam peristiwa itu dari kedua sisi—para pembunuh dan korban.”

“Film ‘Senyap’ menggugah perasaan kami, mendorong kami untuk berpikir, dan membuka mata kami untuk melihat dunia.”

Joshua Oppenheimer, mewakili seluruh awak film menerima penghargaan tersebut dan memberikan sambutan, “Lima puluh tahun yang lalu pembantaian massal di Indonesia dimulai, dan dalam satu hal yang mengerikan sekaligus penting, pembantaian itu belum berakhir: para pelaku masih memegang kekuasaan di seluruh negeri, dan banyak orang masih hidup dalam ketakutan. Baru saja, minggu lalu, dua ratus penyintas berusia lanjut diserang oleh sekelompok anggota ormas pada saat para penyintas ini berupaya mengadakan pertemuan dan memperingati kejahatan itu. Sekalipun masih banyak yang harus dilakukan, saya punya harapan besar bahwa dua film saya, Jagal dan Senyap dapat memicu sebuah perbincangan meluas di Indonesia mengenai sejarah gelap di tengah kesunyian yang telah mencekam terlalu lama.”

“Ini semua tidak akan mungkin tanpa tanpa bantuan orang-orang hebat di sekitar saya, termasuk produser Signe Byrge Sørensen, keluarga saya, partner saya, yang tanpanya saya tak dapat berbuat banyak dengan hidup saya, awak film di Denmark, dan awak film anonim di Indonesia yang mempertaruhkan keselamatan mereka untuk menciptakan dua film ini dan menyebarluaskannya di Indonesia. Di atas segalanya, saya berterima kasih kepada protagonis film Senyap yang berani, bijaksana, dan penuh rasa kasih, Adi Rukun dan keluarganya yang luar biasa. Penghargaan ini adalah untuk kalian semua, dan untuk itu saya ucapkan tusind tak, terima kasih sebesar-besarnya.”

Senyap sendiri memfilmkan perjalanan satu keluarga korban pembantaian massal ’65 untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya dari rekaman yang dibuat oleh Joshua Oppenheimer. Adik bungsu korban, Adi Rukun, bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya.

Adi Rukun, yang menjadi tokoh utama dalam film menyampaikan, “Setiap penghargaan yang didapatkan film ini saya harap selalu menjadi pengingat bahwa masih banyak yang harus dikerjakan untuk menegakkan keadilan dan mengungkap fakta-fakta sejarah yang digelapkan dari ruang-ruang kelas di Indonesia. Di tengah hiruk pikuk berita politik di berbagai media, sampai hari ini masih terus terjadi pembatalan paksa pertemuan korban dan penyintas yang berupaya mewujudkan rekonsiliasi di Indonesia. Lima puluh tahun sudah tragedi berdarah itu terjadi, lima puluh tahun kesenyapan yang mencekam menyelimuti kita semua, bangsa Indonesia, upaya ini masih membentur ancaman kekerasan yang dipaksakan oleh organisasi massa, dan negara seperti tidak hadir menjalankan peran utamanya melindungi dan menegakkan hak azasi manusia.”

“Saya ucapkan terima kasih kepada Dewan Juri Penghargaan Bodil yang telah memilih film Senyap sebagai film dokumenter terbaik. Kami berharap bahwa film Senyap dapat membantu membuat kesenyapan yang menghantui bangsa Indonesia selama 50 tahun terakhir ini menjadi bagian dari masa lalu yang dipahami dan dimaknai dengan lebih baik. Penghargaan ini adalah sebuah angin segar dan pendorong semangat bagi kami sekeluarga, sekalipun ia berhembus dari jauh.”

Di Indonesia sendiri, Senyap diputar serentak di beberapa kota untuk memperingati hari Hak Asasi Manusia. Dalam usaha penyebaran film ini di Indonesia, pemutaran Senyap sempat mendapat ancaman di beberapa tempat. Beruntung jadwal-jadwal pemutaran semakin banyak dan film ini dapat disaksikan oleh lebih banyak orang. [WARN!NG/Titah AW]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.