close

Gaung Jagat: Orkestra Berisik Bebas Ekspresi

gaung jagat (5)

Review overview

WARN!NG Level 7

Summary

7 Score

Gaung Jagat mengumpulkan 30 musisi lintas genre, bukan untuk menyatukan mereka dalam sebuah harmoni, tapi justru membebaskan mereka untuk saling tubruk dalam satu komando bebas ekspresi.

Sepanjang konser perdana Gaung Jagat 8 Februari lalu, mata saya terus mengekor tangan Rully Shabara. Gerakan dan hentakan yang dibuat oleh tangan itulah kunci pertunjukan ini. Tangannya kadang menunjuk, menepuk, menggenggam, bergetar, juga mengayun. Dalam koridor aba-aba itu, para pemain musik mengubah tempo dan mood permainan sesuka mereka, berimprovisasi. Malam itu Gaung Jagat disuguhkan dalam 3 bagian, Gaung Jagat String Quintet, dan dua sesi Gaung Jagat Ensemble. Dan seperti menonton proyek Rully Shabara yang lain, ekspektasi memang harusnya tak diletakkan pada harmoni sempurna yang berpadu merdu.

Gaung Jagat adalah perkembangan dari proyek Raung Jagat. Sebuah sistem alternatif ciptaan Rully Shabara untuk menciptakan komposisi musik berbasis improvisasi terpimpin. Jika pada Raung Jagat dulu Rully menggunakan vokal sebagai subjek paduan suaranya, kali ini di Gaung Jagat, improvisasi musisi atas alat musiknya yang jadi sumber bunyinya.

gaung jagat © Warningmagz

Molor sekitar setengah jam, Gaung Jagat String Quintet mengambil posisi di panggung. Lima orang duduk di kursi, tiga memegang biola, satu cello dan satu bass akustik. Rully memberi pengantar singkat sebelum kemudian menghentakkan tangannya. Suara lengking saling susul menyusul dan berganti tempo tiap Rully menggerakkan jari-jarinya. Senar-senar mereka kadang tak cuma digesek, tapi juga dipetik, ditarik. Sungguh berbeda dari pertunjukan alat musik senar biasa yang syahdu mendayu. Memainkan sekitar 4 komposisi, Gaung Jagat String Quintet mengakhiri setlist dalam permainan intens yang menguarkan emosi. Rully mengaku untuk String Quintet ada perlakuan yang sedikit berbeda karena dasar alat musiknya sangat bergantung pada nada.

Tapi untuk saya, ruh pertunjukan Gaung Jagat yang sebenarnya ada pada bagian Ensemble dimana instrumen musik dan vokal dari beberapa anggota Raung Jagat ada dalam satu panggung. Ensemble pertama dimainkan oleh 18 orang. Bermacam bunyi hadir, dari keyboard, cello, gitar elektronik, flute sampai noise. Seperti ritual kuno, Rully Shabara mulai menghentak-hentak. Ujung jas hitamnya beberapa kali tersibak karena ia melompat-lompat menyulut insting liar para pemusik di panggung. Ada kalanya ketika satu rombongan di sebelah kanan panggung memainkan nada-nada pendek, yang lalu dicut oleh Rully dan polanya dipindah ke pemain di bagian kiri panggung. Ada kalanya seluruh pemain mengeluarkan bunyi dalam tempo cepat dan insten tak terkendali. Saat aba-aba dari Rully terlihat kalem, bebunyian yang hadir pun lebih sederhana.

Begitupun di Ensemble kedua yang sekilas untuk saya terasa lebih intens dan emosional. Berpakaian serba hitam, beberapa wajah yang sudah familiar di grup musik lain seperti Soni Irawan (Seek Six Sick), Ikbal Lubys (Sangkakala), dan Judha Herdanta (Rabu) makin membuat penasaran. Seperti apa jika mereka bermain di Gaung Jagat. Saya sempat memergoki Ayu Sarasvati (Mengayun Kayu) memainkan tuts-tuts keyboardnnya bukan dengan memencet, tapi memukul-mukul dengan genggaman tangan. “Rasanya kayak main game yang disusun rapi, dan emosiku bisa lepas saling memicu di panggung. Apalagi Rully bisa ngasih spirit di tiap hentakan tangannya. Pokoknya paling seneng kalau dapat simbol X,” ujar Ayu menceritakan kesannya bermain di Gaung Jagat. Yang juga menarik adalah adanya elemen noise di suguhan ini, yang dimainkan oleh Bodhi IA dan Sean Stellfox. “Intinya aku membuat sistem yang siapa aja bisa main, alat musik apapun, termasuk noise,” ujar Rully ketika ditemui WARN!NG selepas acara.

Seperti Raung Jagat, sistem simbol dalam Gaung Jagat tak berubah banyak, hanya penerapannnya yang berbeda. Simbol X misalnya, di Raung Jagat berarti bunyi konsonan, sedangkan di Gaung Jagat, X adalah tanda chaos. Juga simbol – di Raung Jagat berarti senandung atau hum, di Gaung Jagat berarti dengung atau drone. Selain itu, Rully juga mengadaptasi partitur orkestra klasik dengan menambahkan simbol-simbol untuk jenis permainan pizzicato, staccato, dan glissando. Lebih lanjut Rully menjelaskan bahwa semua simbol di sistem sebenarnya bisa direpresentasikan lewat jari, jadi sangat gampang dan tetap akan bisa dilakukan bahkan tanpa lembar partitur.

gaung jagat © Warningmagz
gaung jagat © Warningmagz

Pada komposisi terakhir, saya terbawa dalam keriuhan yang teratur tersebut. Dalam bebunyian yang saling menyilang di ruangan itu, saya mengamati bagaimana tiap bunyi dilepaskan oleh para pemain dalam emosi penuh. Choir Raung Jagat di ujung kanan panggung menciap-ciap, disambung tiga vokalis utama yang sekuat tenaga berteriak dan meracaukan kalimat entah apa. Sementara di bawahnya, kebebasan tengah dirayakan dalam improvivasi nada yang jarang bisa mereka dapatkan di panggung biasa. Malam itu Rully Shabara seolah menghilangkan elitisme seorang dirijen orkestra, ia memimpin dengan demokratis. Tak mengikat musik dalam partitur atau birama, bebunyian diproduksi dengan dengan insting masing-masing musisi untuk menentukan nada mereka sendiri. Ensemble kedua ditutup setelah suara berisik mencapai tahap klimaks malam itu, nada-nada tinggi bersahutan dengan teriakan-teriakan kacau. Saling tabrak sebelum berhenti pada satu titik saat Rully mengangkat tangannya tanda habis komposisi.

“Masih banyak yang perlu diperbaiki di sistemnya, tapi aku puas sih akhirnya Gaung Jagat bisa dipentaskan,” tutur Rully tentang konser malam itu. Pada akhirnya, proyek-proyek Rully Shabara ini selalu mengajak kita bukan untuk mengharap sebuah suguhan harmonis di panggung, tapi justru sebaliknya. Baik Raung Jagat dan Gaung Jagat memaksa kita untuk mengapresiasi setiap bunyi yang lahir tanpa harus mengacu pada standar tertentu. [WARN!NG/Titah AW]

Date: 8 Februari 2017

Venue: Audiorium IFI-LIP Sagan, Yogyakarta

Man of The Match: Rully Shabara dan komposisi terakhir di Ensemble kedua

Gallery –> Gaung Jagat

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response