close

Mengutuk Pemberangusan Terhadap Kebebasan Berekspresi di Indonesia

446558_620

Menyikapi beberapa kasus perampasan kebebasan berekspresi di Indonesia yang terikait dengan pengungkapan informasi dan diskusi mengenai pembunuhan massal 1965 yang belakangan ini terjadi, kru anonim dari film The Act of Killing menyebarkan pernyataan terbuka. Dalam pernyataan ini, mereka mengutuk tindakan aparat dan pihak-pihak yang masih memberlakukan cara Orde Baru kepada beberapa pihak. Yang disorot adalah kasus penangkapan Tom Iljas, pembredelan majalah pers mahasiswa Lentera di Solo dan intimidasi terhadap progam Ubud Writers Festival yang berencana melangsungkan diskusi tentang kasus ’65.

Pernyataan terbuka ini telah ditanda tangani oleh Joshua Oppenheimer dan lebih dari 100 orang yang terdiri dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, penulis, wartawan, aktivis dan lain-lain.

lentera
lentera
PERNYATAAN TERBUKA
Mengutuk Pemberangusan Terhadap Kebebasan Berekspresi di Indonesia
Kebebasan berekspresi dan berpikir kritis sedang mengalami serangan yang brutal di Indonesia. Serangkaian tindakan represif dan kejam dilakukan oleh pihak berwenang terhadap upaya-upaya untuk membuka kembali dan membongkar secara kritis atas tindakan pembersihan terhadap komunis dan para pendukungnya pada tahun 1965, yang dilakukan dengan alasan demi bangsa yang lebih baik, merupakan bukti bahwa warisan totalitarian dari rejim Orde Baru masih bercokol dan hidup.
Suharto mungkin sudah mati, tapi para penjaga orde baru masih mengawasi gerak gerik warga negara ini, dan pada banyak kasus justru melakukan tindakan-tindakan menindas untuk membungkam kebebasan rakyat.
Kita sudah lihat beberapa bukti hanya dalam satu minggu ini saja.
Penangkapan sewenang-wenang yang dilakukan terhadap Tom Iljas di Sumatera serta deportasi dan memasukkannya ke dalam daftar tangkal oleh aparat polisi dan imigrasi setempat hanya karena ia mengunjungi makam ayahandanya –yang menjadi korban pembantaian massal pada tahun 1965– merupakan contoh nyata dari hadirnya hantu Orde Baru itu dimana negara melakukan tindakan kejahatan terhadap rakyatnya sendiri. Teror bertubi-tubi yang dialami oleh Kerabat Tom Iljas pasca penangkapannya yang dilakukan oleh kepala desa dan camat setempat menunjukkan busuknya mentalitas para aparat negara dan pejabatnya
Kemudian Majalah Mahasiswa Lentera dipaksa untuk menarik penerbitan edisi terbaru majalah mereka karena mempublikasikan cerita mengenai pembunuhan-pembunuhan yang terjadi pada tahun 1965 di Salatiga, Jawa Tengah. Tiga  mahasiswa yang terlibat dicokok polisi dan diinterogasi.
Kita juga menjadi saksi atas pembatalan atau penyerangan terhadap acara-acara yang membahas berbagai aspek tahun 1965 baik yang dilakukan oleh warga sipil maupun aparat penegak hukum di berbagai tempat di Indonesia (Banyuwangi, Solo, Bukit tinggi dll). Kejadian-kejadian ini merupakan bukti kuat bahwa telah terjadi ancaman dan ketiadaan perlindungan terhadap kebebasan berekspresi di Indonesia.
Dan yang terkini, Ubud Writers and Readers Festival juga mengalami intimidasi yang dilakukan oleh aparatus lokal dan nasional agar membatalkan program mereka yang berkaitan dengan pembunuhan massal tahun 1965 merupakan bukti nyata bahwa pejabat negara mengawasi setiap langkah warga negaranya dan semakin menegaskan tindak represi terhadap warga sipil dan kreatifitas.
Kami, para penulis, jurnalis, seniman dan aktivis, bersatu mengutuk represi yang semakin sering terjadi terhadap kebebasan berpendapat, berekspresi rakyat dan pemasungan berpikir kritis dengan menggunakan cara-cara represif ala Orde Baru.
Kami mendesak:
  1. Polri dan para petugasnya di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, terutama di Bali, Salatiga dan Padang untuk menghargai hak konstitusional dan hak dasar rakyat dalam kebebasan berekspresi. Mereka harus segera menghentikan tindakan pelarangan ataupun pembatalan diskusi atau seminar untuk memperingati 50 Tahun tragedi 1965 karena semua kegiatan itu harus dianggap sebagai bagian dari rekonsiliasi nasional seperti yang dijanjikan oleh pemerintah Presiden Joko Widodo.
  1. Membatalkan segala bentuk tindakan imigrasi (deportasi, pencekalan) terhadap Tom Iljas, berdasarkan fakta bahwa Tom Iljas dan keluarganya tidak bersalah dan tidak melakukan pelanggaran imigrasi.
  1. Presiden Joko Widodo dan pemerintah Indonesia bersama dengan pemerintah daerah memberikan perlindungan dan menjamin keselamatan mereka yang menginginkan maupun merencanakan diskusi, peninjauan kembali dan melakukan investigasi mengenai tragedi 1965 dari segala bentuk penyensoran, intimidasi dan teror.
  1. Kelompok dan individual yang terlibat dalam tindak kekerasan terhadap diskusi mengenai tragedi 1965 untuk menahan diri dan membuka ruang dialog sehingga memungkinkan solusi damai atas tragedi nasional tersebut
Kami percaya setelah 50 tahun bangsa ini sangat membutuhkan investigasi dan diskusi yang terbuka, transparan serta jujur mengenai pembantaian massal terhadap komunis pada tahun 1965 dan kejadian-kejadian pasca tahun tersebut yang telah merenggut jutaan nyawa dan mendatangkan penderitaan bagi jutaan orang lainnya.
Keluarga korban harus menerima keadilan yang sudah sepatutnya mereka dapatkan, karena kami percaya lembaga yang diduga terlibat dalam kejahatan itu sebaiknya membersihkan nama baik mereka sehingga mereka bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. Menjadi kepentingan bangsa dan rakyat negeri ini untuk tidak mengaburkan sejarah mengenai pembantaian itu sehingga ada keadilan bagi pelaku dan korban.
Narahubung:
Abdul Khalik – Pendiri ASEAN Literary Festival/Jurnalis – (+6281317212838)
Yulia Evina Bhara – Direktur Partisipasi Indonesia – (+6281282275648)
Tunggal Pawestri – Aktivis Perempuan – (+628174962666)
Signatories :
  1. Okky Madasari – Writer/ Founder of ASEAN Literary Festival
  2. Faiza Marzoeki – Playwright, Theater Producer and Director of Institut Ungu
  3. Aquino Hayunta –Indonesian Art Coalition
  4. Tunggal Pawestri – BITES
  5. Yulia Evina Bhara – Partisipasi Indonesia
  6. Dhyta Caturani – Activist
  7. Felencia Hutabarat – Indonesian Art Coalition
  8. Damar Juniarto – Social Blogger
  9. Abdul Khalik – Journalist/Founder of ASEAN Literary Festival
  10. Joshua Oppenheimer – Filmmaker
  11. Iin Purwanti – Alumni of FIB UI
  12. Amerta Kusuma – KawanKawan Film
  13. Fanny Chotimah – Writer/Filmmaker
  14. Mary Farrow – Activist/Coordinator of  Emerald Community House Australia
  15. Yuliana Sandy Aryani – Alumni of FIB UI
  16. Yerry Wirawan – Alumni of  FIB UI
  17. Musita Hartanti – Alumni of  FIB UI
  18. Umar Idris – Alumni of FIB UI/Journalist
  19. Bonnie Triyana,- Chief Editor Historia Magazine.
  20. Amatul Rayyani Siddiqah – Journalist
  21. Atmakusumah Astraatmadja – Press Observer/Lecturer on Journalism
  22. Vivi Widyawati – Politik Rakyat
  23. Mutiara Ika Pratiwi – Perempuan Mahardhika
  24. Aryo Wisanggeni – AJI Indonesia
  25. Arfi Bambani – AJI Indonesia
  26. Yudi Adiyatna – Youth Pro Active TII
  27. Grace Tobing – Indonesia Against Human Trafficking (FIGHT)
  28. Iman D Nugroho – AJI Indonesia
  29. Afra Suci Ramadhan – Pamflet
  30. Nabilla Reysa – Pamflet
  31. Niesrina Nadhifah – Kontras
  32. Amira Hasna – Youth Rights Now
  33. Qory Dellasera – Activist
  34. Annayu Maharani – Indonesian Art Coalition
  35. Oming Putri – Indonesian Art Coalition
  36. Abduh Aziz –  Indonesian Art Coalition
  37. Indah Yusari – Pamflet
  38. Justian Edwin – Pamflet
  39. Ardi Yunanto – visual artist
  40. Qorihani – ALumni of Faculty of Cultural Studies, University of Indonesia
  41. Muhammad Faisal Bustamam – Videomaker/Activist
  42. Veronica Iswinahyu – Activist
  43. Prathiwi W. Putri – pecinta Kampung Kota
  44. Rahung Nasution – food culture activist & videomaker
  45. Wilson Obrigados – Writer
  46. Yasmin Purba – YLBHI
  47. Mugiyanto – INFID
  48. Wisnu Surya Pratama – Film maker
  49. Dwi Sujanti Nugraheni – Filmmaker
  50. Dinda Nuurannisaa Yura – Women’s Rights Activist
  51. Sinnal Blegur – Perkumpulan Praxis
  52. Ibeth Koesrini -Activist
  53. Kurnia Yudha F – Filmmaker
  54. Efi Sri Handayani – Filmmaker
  55. Vera Lestafa – Filmmaker
  56. Shelly W.M – Activist
  57. Agnes Gurning – Activist
  58. Lukman Simbah – citizen
  59. Zico Mulia – citizen
  60. Isti Komah – Nawit Women Group
  61. Yolandri Simanjuntak – citizen
  62. Shinta Miranda – writer
  63. Soe Tjen Marching – writer and activist
  64. Dede Dyandoko Kendro – citizen
  65. Kurniawan- Journalist
  66. Ranggoaini Jahja – Activist
  67. Ririn Sefsani – Small Earth Community
  68. Arman Dhani – Writer
  69. Asfinawati – Public lawyer
  70. Gustaff H Iskandar – Common room
  71. Wenny Mustikasari – citizen
  72. Andreas iswinarto – Galeri Lentera Pembebasan
  73. Ajar Pamungkas – Warga Yogyakarta
  74. Jess Melvin – The University of Melbourne, Australia
  75. Christina Yulita – citizen
  76. Dolorosa Sinaga – Artist/Lecturer Faculty of Fine Art of Jakarta Institute of the Arts
  77. Elisabeth Ida Mulyani – Artist, Belgium
  78. Kresna Astraatmadja
  79. Todung Mulya Lubis – Lawyer
  80. Josefin Morge – Chairperson VIF, Left Forum Sweden
  81. Brad Simpson – Historian, University of Connecticut, USA
  82. Peter Boyle, Green Left Weekly, Australia

…. and more.

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.