close

Menyoal Lagu Protes Bersama J. Cole dan Noname

WEB

Perayaan tahunan Juneteenth di 2020 ini terasa berbeda. Tentu saja karena perayaan terhadap pernyataan pembebasan masyarakat kulit hitam dari perbudakan yang terjadi pada 19 Juni 1865 ini diikuti dengan gelombang aksi massa terbesar #BlackLivesMatter (selanjutnya disebut BLM) di seluruh dunia.

Isu rasialisme kembali menjadi pembahasan bersama di ranah publik dan perkembangan diskursus seputar kekerasan rasial sistematis ini turut berkembang ke ranah belantika musik. Topiknya menyangkut musik hip hop sebagai pembawa pesan perubahan sosial bagi masyarakat kulit hitam itu sendiri.

 

Kontroversi

Pembicaraan mengenai topik ini diawali oleh rapper Noname lewat twitnya tertanggal 29 Mei 2020, kutipan penuhnya:

Poor black folks all over the country are putting their bodies on the line protest for our collective safety and y’all favorite top selling rappers not even willing to put a tweet up. Niggas whole discographies be about black plight and they no where to be found.

Gelombang aksi massa BLM kali ini memang jadi yang termasif. Perihal yang bisa dirujuk sebagai pemantiknya, tentu saja adalah terbunuhnya George Floyd akibat kehabisan nafas setelah lehernya ditahan di aspal selama 8,46 menit oleh lutut seorang polisi pada 25 Mei lalu.

Kasus George Floyd ini memperburuk catatan tindakan rasial kepolisian Amerika yang sebelumnya, dalam waktu yang berdekatan, telah membunuh orang-orang kulit hitam tidak bersalah seperti Ahmaud Arbery (ditembak ketika jogging pada 23 Februari) dan Breonna Taylor (ditembak di rumahnya sendiri pada 13 Maret).

Noname tentu berhak kecewa dengan para rapper yang bungkam di tengah momentum angin perubahan besar ini. Entah berkorelasi langsung atau tidak, sehari setelah twit itu mengudara, rapper J. Cole berpartisipasi langsung dalam aksi BLM di Fayetteville, North Carolina. Kemudian, secara mengejutkan ia merilis lagu “Snow on Tha Bluff” pada 16 Juni. Dari sinilah topik mengenai peran musik kulit hitam, terutama hip hop, terhadap komunitasnya naik ke permukaan.

“Snow on Tha Bluff” disambut dengan kontroversi. Pada tataran permukaan, lagu ini terdengar seperti upaya Cole “cuci tangan” dari tanggung jawab sosial yang disematkan orang-orang kepadanya. Pantas saja, karena lagu ini dibuka dengan baris, “Niggas be thinkin’ I’m deep, intelligent, fooled by my college degree.”

Terlepas bahwa Cole memang lulus kuliah cum laude, dalam skena hip hop kiwari, Cole dianggap memiliki status “goat” (greatest of all time, terbaik sepanjang masa), karena tidak saja sukses secara finansial dari penjualan albumnya, tetapi juga sebab ia mencapainya dengan muatan lirik mengenai kesadaran sosial sehingga tergolong conscious rapper.

Pada baris kedua, ia melanjutkan, “My IQ is average, there’s a young lady out there, she way smarter than me.” Personifikasi “young lady” di sini diduga merujuk pada Noname, karena pada beberapa baris kemudian Cole berucap, “She mad at the celebrities, lowkey I be thinkin’ she talkin’ ’bout me,” merujuk twit Noname sebelumnya.

Cole mendenganya, “I listen,” begitu ujarnya, tetapi “it’s something about the queen tone that’s botherin’ me.” Pada bar-bar selanjutnya, ia memberi kritik kepada Noname yang diakuinya lebih “woke” tetapi tidak bisa semena-mena “to talk like you better than me,” sebab “How you gon’ lead, when you attackin’ the very same niggas that really do need the shit that you sayin’?” Oleh karena itu, “Instead of conveyin’ you holier, come help us get up to speed.”

Hip hop adalah sport; genre ini memiliki bawaan yang paling kompetitif. Noname bukan rapper kemarin sore, walaupun kariernya lebih muda dari Cole. Albumnya, Room 25, adalah salah satu rilisan terbaik 2018. Walaupun begitu, perlu dipahami bahwa ia ada pada ranah conscious yang berbeda dengan Cole. Jika Cole membahas tentang pergulatan hidup sehari-hari, Noname membahas pergulatan itu dengan sudut pandang yang lebih kritis.

Tepat sasaran jika Noname protes kepada J. Cole karena merasa “dikuliahi”. “He really ’bout to write about me when the world is in smokes?,”ucapnya satu waktu dalam lagu balasan kepada Cole dengan judul “Song 33”. Noname melanjutkan perihal urgensi ini, “When George was beggin’ for his mother, saying he couldn’t breathe / You thought to write about me?

Pada verse penutup dari lagu yang hanya berdurasi satu menit lebih sedikit ini, Noname berusaha menjawab tuntutan yang ia ajukan pada Cole. Publik seharusnya membicarakan tentang transpuan kulit hitam yang juga dibunuh oleh polisi, penyelesaian masalah sistematis dengan pembubaran institusi kepolisian, nasionalisasi Amazon sebagai problem kapitalis mutakhir, dan isu migran. “This is new vanguard,” tutup Noname, “I’m the new vanguard.

Perdebatan pun muncul di Twitter, termasuk dari para rapper. Chance The Rapper menyebut bahwa para lelaki harus menerima kekalahan (“taking ‘L’”), karena masih berlaku patriarkis. Chance merasa masalahnya ada di J. Cole, karena keberatan dengan cara Noname mengungkapkan pendapatnya. Earl Sweatshirt menyebut lagu Cole tersebut corny, karena Cole hanya menggunakan kesempatan yang dia punya untuk “cuci tangan” dengan bilang bahwa ia tidak cukup pintar untuk BLM bergantung padanya.

Namun, respons di internet-sphere menjadi terlalu liar hingga muncul tagar #jcoleisoverparty yang berusaha men-cancel atau mendelegitimasi J. Cole di ruang publik. Tabiat toxic sosial media pun menyeruak dengan cercaan bertubi-tubi kepada J. Cole dengan menyebutnya misoginis. Respons negatif ini ditanggapi Cole dengan membuat twit bahwa dia tetap berpendirian sama seperti dalam kata-katanya di “Snow on Tha Bluff” dan secara terbuka menominasikan Noname menjadi panutan bagi gerakan BLM.

Noname pun kembali muncul, kali ini untuk meminta maaf, tentu bukan karena kata-kata dalam “Song 33”, tetapi tindakan kontraproduktifnya sejak awal dengan memperkarakan J. Cole. Ia menulis, “I apologize for any further distraction this caused.” Namun, kerusakan itu sudah terlanjur terjadi.

 

Apa yang Sebetulnya Terjadi

Sayangnya, hip hop memang keburu dikerangkai sebagai kompetisi, sebuah pernyataan keberatan langsung dianggap sebagai diss—dari disrespect—kepada pihak lain. Bukan sebagai pembicaraan antar orang bermartabat yang saling menghormati satu sama lain. Ini satu poin yang tidak banyak dibahas secara terbuka, bagaimana bisa menilai secara proporsional lagu-lagu hip hop dan membangun dialog yang konstruktif darinya?

Langkah J. Cole dan Noname untuk menyadari kekurangan diri mereka masing-masing adalah peristiwa langka. Balas-balasan mereka jauh berbeda dengan, misalnya kasus Pusha T dan Drake, atau Nicky Minaj dan Cardi B. Ada aspek kehidupan sosial yang lebih luas di luar masing-masing individu rapper ini yang nampak dan mereka sadar itu.

Permintaan maaf Noname tepat, karena protesnya terhadap J. Cole tentang distraksi gerakan malah semakin menjadi-jadi dengan keliaran narasi perihal cancel culture yang menyasar J. Cole dan mengalihkan publik dari substansi apa yang diajukan Noname sendiri. Dan pelajaran mengenai isu gender kepada Cole juga jadi momen yang penting untuk memeriksa ulang titik-titik buta dari narasi gerakan yang belum menggapai banyak orang.

Pada dasarnya, respons mereka masing-masing punya kelebihan dan kekurangan dalam diskursus gerakan BLM. Dari sini, seharusnya pembicaraan kita bisa naik level perihal isu tanggung jawab sosial rapper dan keterkaitannya dengan gerakan riil di lapangan.

Keluhan Cole mengenai ekspektasi berlebih padanya—dan mungkin juga pada conscious rapper atau rapper kulit hitam secara khusus serta rapper secara umum—adalah satu permasalahan. Label conscious rapper dan apalagi “goat” yang tersemat padanya membawa konsekuensi tanggung jawab yang lebih besar. Pengalaman hidup para rapper yang riil jadi panutan dan pelipur lara bagi masyarakat kulit hitam yang sering kali tidak memiliki role model.

Resonansi pesan dari para rapper dengan pendengarnya ini bisa berperan lebih jauh, karena adanya identifikasi diri si pendengar kepada artis idolanya. Tepat di sini gugatan pertama Noname yang sebetulnya juga tidak spesifik ditujukan pada J. Cole. Berbicara mengenai konteks sekarang, dengan mudah kita menyasar banyak rapper kulit hitam yang berdiam padahal ia menghidupi dirinya dari diskografi tentang kesengsaraan hidup menjadi warga kulit hitam di Amerika.

Di mana RZA, Nas, DMX, Lil Wayne, atau Kendrick Lamar? Oke, untuk berlaku adil, Kendrick Lamar memang menghadiri protes di Compton pada 7 Juni. Namun, sama seperti J. Cole, kehadirannya seolah-olah hanya untuk menjawab kritikan sejenis yang ditujukan oleh Noname, “Apa kontribusimu sekarang?”

Di sini kita perlu proporsional menilai. Dave Chappelle dalam stand-up special-nya di Netflix memiliki justifikasi yang menarik soal kontroversi diamnya orang-orang kulit hitam ternama sepertinya perihal BLM sekarang. Tentu untuk dirinya sendiri, ada alasan spesifik yang tidak bisa digeneralisasi ke orang lain. Secara pribadi ia sangat terpukul dengan kematian George Floyd. Chappelle merasa beruntung dan memiliki rasa bersalah karenanya, sebab ia pernah lolos dari kejadian penyalahgunaan otoritas aparat kepolisian yang bisa saja membunuhnya.

Chappelle berdalih bahwa ia sangat ingin bersuara, menyampaikan pendapatnya sendiri tentang kekerasan rasial sistematis ini untuk kesekian kalinya. Namun, setelah ditimbang-timbang, ia merasa pernyataannya tidaklah lebih benar atau lebih penting dari apa yang sudah disuarakan aksi massa di jalanan seluruh negara bagian Amerika. “The people have spoken!” ucapnya lantang.

Kenapa orang-orang harus menilai pendapat satu orang lebih penting dari ribuan atau bahkan jutaan suara yang sudah tumpah ruah? Atau, jika kita kembali ke balas-balasan antara Cole dan Noname, apakah satu lagu bisa mengubah segalanya? Kita memang perlu kiranya mengingatkan publik yang lebih luas bahwa para public figures tersebut tidak boleh mengeksploitasi penderitaan banyak orang untuk keuntungan pribadinya.

Namun, jika memang kita mengakui bahwa seluruh diskografi para rapper sudah mewartakan panjang lebar perihal kekerasan rasial sistemik ini, apa signifikansi dari tambahan sebuah twit, satu lagu protes, satu video stand-up di Youtube, kedermawanan filantropis, atau kehadiran sesekali mereka di massa aksi?

Sudah selayaknya memang deretan musisi sudah merilis satu demi satu lagu protes akhir-akhir ini. Grup veteran macam Public Enemy merilis lagu “State of The Union (STFU)” bersama DJ Premier. Generasi yang lebih muda seperti Meek Mill dengan “Otherside of America” dan YG dengan “FTP”. Generasi yang lebih muda lagi seperti Lil Baby dengan “The Bigger Picture”, REASON dengan “Field Nigga”, Anderson .Paak dengan “Lockdown”, Zillakami bersama Nascar Aloe dengan “ACAB”, dan jangan lupa favorit saya “Black 2” dari Buddy serta “Pig Feet” dari rombongan Terrace Martin, Denzel Curry, Daylyt, Kamasi Washington, dan G Perico.

Album dari duo Killer Mike dan El-P lewat Run The Jewels “RTJ4” bahkan digadang-gadang sebagai soundtrack dari “revolusi” ini. Wale dan grup Flatbush Zombies merilis EP khusus tentang huru-hara akhir-akhir ini. Album baru Polo G yang bahkan rilis 15 Mei, sebelum kematian Floyd, ikut beresonansi dengan BLM. DaBaby bersama Roddy Ricch merilis gubahan ulang lagunya “Rockstar” yang pernah memuncaki Billboard Hot 100 dengan versi BLM. Heck, bahkan Beyonce merilis mars protes “Black Parade”.

Semua ini seakan menandakan bahwa satu-dua lagu protes tak pernah cukup. Fenomena ini tidak pernah surut, karena problemnya sendiri terus terjadi. Perselisihan antara rapper dan perlakuan rasis sistemik polisi memiliki sejarah yang panjang. Namun, karena persoalannya yang terus berulang dan juga diikuti dengan lagu protes yang juga berulang, hal ini menandakan bahwa tidak pernah ada perubahan berarti yang terjadi, sebab diskursus publik dan terkhususnya dari cara rapper membicarakan masalahnya sendiri tidak pernah beranjak dari apa yang terlihat di permukaan dan itu sudah menjadi lagu lama.

Oleh karena itu, seharusnya dialog yang konstruktif bisa dilakukan dari sana. Lagu tidak akan pernah mengubah realitas, karena ia hanya memuat visi utopia dari masa depan terjanjikan yang tidak akan terwujud tanpa adanya mobilisasi, aksi, advokasi, lobi, dan keputusan dari pembuat kebijakan. Tentu kita juga tidak bisa menuntut para rapper untuk banting setir jadi aktivis politik. Walaupun kita tidak bisa menafikan vokalnya aktivisme rapper semacam Killer Mike, terlepas isu spesifik yang ia advokasikan perihal pembebasan kulit hitam dengan perluasan akses senjata api.

Sebagai corong wacana, sudah sepantasnya pemikiran mereka diperbarui juga. Setiap rapper bisa memiliki ideologi dan visi masa depan yang berbeda satu sama lain. Para rapper yang lebih radikal seperti Noname dan Killer Mike volumenya lebih keras perihal ini. Noname sudah memberi contoh lewat “Song 33” dengan mengangkat isu-isu lain seperti transpuan kulit hitam dan opsi resolusi seperti pembubaran sama sekali terhadap institusi kepolisian. Namun, tidak semua harus setuju dengannya bukan?

Kendrick Lamar jauh-jauh hari sudah memberikan wacana segar sekaligus tegas mengenai kemunafikan masyarakat kulit hitam yang gelap mata terhadap kekerasan sesamanya (black on black violence), tetapi menuntut penghapusan kekerasan oleh aparat kepolisian. Ini adalah salah satu subteks dari To Pimp a Butterfly yang sudah dirilis lima tahun lalu pada 2015 saat BLM masih muda. Pesan ini luput begitu saja di telinga banyak pendengarnya, karena terbukti pembicaraan mengenai BLM di ruang publik hampir tidak membahasnya sama sekali.

Pembicaraan antar generasi, antar gender, antar ideologi dan antar perspektif dalam BLM itu sendiri sangatlah penting dan mulailah mendengarnya secara proporsional, karena tidak semua dialog adalah berawal dari diss. Kenyataan bahwa masyarakat kiwari inilah yang mengangkat BLM, sekaligus berusaha men-cancel J. Cole, dan memberikan kesempatan rapper seperti 6ix9ine yang hanya memikirkan dirinya sendiri untuk memuncaki Billboard Hot 100 adalah fakta yang lebih dari cukup untuk menunjukkan masalah internal yang harus segera dibereskan.

Jika memang perubahan pada ranah politik ingin dilakukan, sudah sepatutnya masyarakat berhenti menunjuk kesalahan pada sesamanya, buang-buang waktu dengan memecah-belah kelompok sendiri, membanding-bandingkan kontribusi tanpa ada dialog yang konstruktif. Mari bergerak bersama, seperti yang sudah dikatakan J. Cole, “…come help us get up to speed.” (Devananta Rafiq)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.