close

[Movie Review] Crimson Peak

Crimson Peak

Director                : Guillermo del Toro

Cast                       : Mia Wasikowska, Tom Hiddleston, Jessica Chastain, Charlie Hunnam, Jim Beaver

Durasi                   : 119 menit

Studio                   : Legendary Pictures

Rating                   : !!!!

Crimson Peak
Crimson Peak

Ghosts are real. That much I know,” kata Edith Cushing. Penggalan pembuka Crimson Peak itu menjadi syahadat yang harus diyakini ketika menjelajahi fantasi Guillermo del Toro. Dimana kengerian bukan berasal pada kegelapan dan nilai-nilai misantropik. Melainkan dari corak romantis dan kehangatan emosional.

Dalam latar waktu awal abad ke-20, kita mengikuti kisah Edith Cushing (Mia Wasikowska), seorang gadis yang datang dari keluarga mapan. Ia ditinggal mati oleh ibunya di usia 10 tahun. Tragedi ini mengantar Edith kepada pengalaman pertamanya dengan makhluk halus. Arwah ibu Edith mendatanginya dalam tidur dan memberikan peringatan yang kala itu tidak ia mengerti.

Beranjak dewasa, Edith menuangkan imajinasinya lewat novel. Dari hubungan bisnis bapaknya, ia berkenalan dengan kakak-beradik bangsawan, Sir Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) dan saudarinya, Lucile Sharpe (Jessica Chastain). Setelah bapaknya meninggal, Edith menikahi Thomas Sharpe dan tinggal di Allerdale Hall, rumah keluarga besar Sharpe di Inggris. Di rumah yang megah namun hampir runtuh itu, Edith makin sering mengalami kejadian aneh, seraya kondisi fisiknya semakin memburuk. Seakan digerogoti rumah yang bernafas, mengerang, dan berdarah itu.

Crimson Peak, dalam takaran tertentu, bukanlah film horror. Sama seperti novel yang digarap Edith, Crimson Peak adalah dongeng, dengan hantu sebagai simbol akan penyesalan yang terus melekat dan mengerip kehidupan. Jika merujuk pada pakem tradisi perfilman, Crimson Peak lebih terasa sebagai film gothic romance ketimbang horror. Tak heran kalau dalam film ini, banyak potongan-potongan yang inspirasinya kuat berakar pada film sejenis Notorious atau Rebecca. Judul film horror klasik seperti The Haunting hingga The Shining juga seringkali teringat setelah beberapa kali menonton Crimson Peak.

Latar tempat yang terbatas biasanya pada satu rumah, tekanan mental pada wanita, dan tokoh pria yang misterius memang sudah menjadi kiasan dasar pada film gothic romance. Meski begitu, banjirnya inspirasi tak semena-mena membuat Crimson Peak menjadi sekedar kliping atau daur ulang. Justru, di tangan Guillermo del Toro, Crimson Peak membangunkan atmosfir yang tidak pernah terasa pada film horror lain. Sebuah gaya yang tidak bisa direplikasi oleh siapapun kecuali dirinya seorang. Kita sebagai penonton hanya bisa terpukau, dan berusaha untuk terus membuka mata dan tidak hilang fokus.

Atmosfir tersebut semakin dipatenkan lewat berbagai aspek dalam film ini. Salah satunya desain produksi. Warna-warna cahaya hingga kostum yang dipakai berbaur cantik tanpa sedikitpun memberi kesan norak. Teknik pengambilan gambar dan transisi yang dipakai di Crimson Peak (kapan terakhir kali Anda melihat penggunaan Iris Wipes?) juga turut memberi keunikan sendiri. Segala hal itu dilakukan bukan demi bergaya semata, seperti para filmmaker amatir yang asal menjiplak gaya Wes Anderson. Penggarapan Crimson Peak sarat akan subteks dan disampaikan dengan begitu indah.

Bahkan di adegan-adegan sederhana yang kelihatannya tidak menyumbang banyak pada cerita keseluruhan. Anda bisa memahami, atau setidaknya merasakan, banyak hal lewat atmosfir Crimson Peak. Anda bisa merasakan optimisme yang tinggi di Amerika Serikat pada masa itu atau depresi dan pandangan hidup yang getir di Eropa. Semua itu dari desain produksi yang apik.

Adu peran antara Mia Wasikowska dan Tom Hiddleston juga terus menjaga percikan perasaan dari keuda karakter yang mereka mainkan. Begitu pula akting Jessica Chastain yang terasa janggal namun tetap membuat Anda terus heran pada Lucile Sharpe. Lewat mereka bertiga, Anda tak hentinya diberikan kejutan seiring narasi berjalan menuju satu kesimpulan. Banyak roh halus muncul dengan beragam bentuknya yang dijamin menghantui malam Anda. Monster-monster juga berkeliaran mengenakan topeng manusia. Namun, kengerian terbesar justru datang dari campur aduk perasaan yang terus tertekan hingga penghujung film.

Film ini mengada pada sebuah ruang otentik ciptaan Guillermo del Toro. Sama halnya dengan karya-karya lainnya seperti Pan’s Labyrinth dan Devil’s Backbone, bahkan Pacific Rim. Ruang itu berisi kepolosan, segalanya terasa organik dan tidak dibuat-buat. Dalam ruang itu, tidak ada konsep benar atau salah, semuanya berasal dari insting dan tidak menuntut apapun. Crimson Peak tidak dibuat oleh tangan seorang maestro sinema. Crimson Peak lahir dari imajinasi seorang anak kecil yang tak mengenal kedalaman ataupun batasan. Dengan arahan dan penguasaan yang tepat, yaitu arahan Guillermo del Toro, imajinasi itu menjadi satu karya yang sungguh memikat. Crimson Peak merupakan salah satu contohnya. [WARN!NG/ Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.