close

[Movie Review] Green Room

Green Room

Green Room

Director: Jeremy Saulnier

Cast: Anton Yelchin, Imogen Poots, Patrick Stewart, Alia Shawkat, Macon Blair

Durasi: 95 menit

Studio: A24 (2015)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Orang-orang yang mendiskreditkan film slasher dengan dalih minimnya inspirasi dan pemaknaan, jelas tidak sepenuhnya paham atas apa yang mereka utarakan. Tipikalnya, ada sekelompok karakater yang dibikin mati satu per satu dengan brutal oleh pihak tertentu. Hingga sampai pada satu orang terakhir, biasanya wanita, melawan balik dan mengalahkan sang tokoh antagonis dengan cara yang tak kalah brutal. Memang benar, hampir setiap film slasher dapat dideskripsikan sesederhana itu. Namun, hanya karena Anda benar, belum tentu Anda menyampaikan kebenaran. Di tangan tertentu, kesederhanaan film slasher dengan seluruh trope yang itu-itu saja bisa menyampaikan pencerahan mendalam.

Menonton Green Room adalah konsekuensi menjalani maraton filmografi Jeremy Saulnier yang turut mencakup Blue Ruin dan Murder Party. Di penghujung maraton, terdapat gambaran tentang otoritas sinema Saulnier sekaligus seberkas refleksi atas pemikirannya. Karakter yang ia ciptakan sering kali bertindak kompulsif, mengambil keputusan drastis tanpa mempertimbangkan imbasnya. Perilaku ini biasanya tidak tumbuh dari keadaan terdesak, melainkan kurangnya nalar terhadap apa yang diketahui. Lebih dari sekadar film slasher licin dan cerdas, ketiga film Saulnier merupakan katarsis atas overdosis kekerasan yang berperan besar dalam pembentukan pola pikir masyarakat modern.

Ada masa ketika Orson Welles, sengaja atau tidak, memicu kepanikan masal lewat siaran radio legendaris War of the Worlds. Itu tahun 1938, ketakutan terbesar pada masa itu telah berakhir 20 sebelumnya, terselubung indah nan heroik dalam balutan Perang Dunia I.

Kini, ketakutan nyata menjelma dalam serangkaian pengeboman dan penembakan liar, dirajut khusus sebagai bingkisan manis untuk kalangan tertentu. Setiap luka terasa begitu personal. Di manapun dan kapanpun, terutama jika Anda tinggal di Timur Tengah, pemilihan ideologi yang kurang tepat bisa berujung pada isi perut yang terurai.

Coba abaikan realitas mencekam ini dan berpaling pada hiperealitas di layar kaca maupun perak. Sayangnya, Anda hanya akan banyak menemukan berita sejenis Yuyun atau kehancuran skala global yang acap kali menjadi bahan utama film-film blockbuster. Abad 21 adalah karosel teror yang dikayuh kencang oleh arak-arakan kekerasan di setiap kanal informasi.

Kalau sudah begini, lebih baik menyerah kalah. Sekalian saja ikut berpartisipasi dan ikut merayakan dekadensi peradaban ini lewat slasher oktan tinggi macam Green Room.

Film ketiga Saulnier menceritakan Ain’t Rights, kuartet punk jadi-jadian beranggotakan Almarhum Anton Yelchin, Alia Shawkat, ahli bela diri, dan seorang rambut toska bernama Tiger. Dari awal sudah ditegaskan kalau Ain’t Rights bukanlah ikon punk sekaliber Sex Pistols atau The Clash. Namun, mereka tidak sekedar meluapkan ocehan kosong mengenai anti-kemapanan. Mereka adalah perwujudan dari anti-kemapanan, bermodal satu telepon genggam yang dipakai berempat dan mobil van keropos berisi bensin curian untuk menjalani sederet gigs recehan.

Terpepet kondisi ekonomi, Ain’t Rights menerima tawaran matinee di pedalaman hutan Oregon. Tak menghiraukan crowd yang dipenuhi komplotan skinhead neo-Nazi, mereka mengawali set dengan “Nazi Punks Fuck Off” milik Dead Kennedys. Terlepas dari provokasi itu, Ain’t Rights menuai respon positif. Namun, impian untuk pulang dengan uang bensin di tangan tersandung sebuah pembunuhan yang mereka saksikan. Bersama Amber, seorang saksi mata lain, Ain’t Rights ditahan di ruang ganti. Terkait urusan dapur, Patrick Stewart memerintahkan kroco-kroco skinhead di bawah komandonya untuk segera melenyapkan semua saksi mata.

Mulai dari sini, kawin silang The Last House on the Left dan Deliverance menghasilkan suasana putus asa yang dikonstruksi secara sporadis. Sama seperti film Jeremy Saulnier lainnya, Green Room membahasakan dirinya dengan lugas dan efektif. Kebinatangan para anggota skinhead gamblang tergambar tanpa sedikitpun kehilangan fokus. Setiap shot dan dialog dirancang sedemikian rupa agar tidak banyak berbasa-basi. Alhasil, setiap ayunan senjata tajam serasa mengiris dengan akurasi klinis pisau bedah, meninggalkan luka yang semakin perih setelah ditaburi humor-humor pahitnya.

Keanggunan Patrick Stewart menghidupkan karakter Darcy sebagai antagonis utama. Ia adalah retorika umum kaum ekstremis, mengeksploitasi loyalitas bawahannya dengan bualan solidaritas pergerakan dan supremasi ras. Sosok bengis dan manipulatif ini terpendam di balik pembawaan kalem dan protektif yang ia tunjukkan. Akting cemerlang lain ditunjukkan oleh Macon Blair, aktor langganan Jeremy Saulnier yang kali ini memainkan karakter Gabe. Lemahnya kepercayaan Gabe tercermin jelas dari setiap tindak tanduknya yang penuh keraguan. Diam-diam, kerapuhan Gabe menjadi konflik tersendiri dalam Green Room.

Sebagai film yang berfokus pada satu band punk, awalnya aneh untuk menerima keputusan Jeremy Saulnier yang mengesampingkan desingan musik punk ke latar belakang. Sebagai gantinya, dengunan elektronik gubahan Brooke dan Will Blair menjadi komponen lain dalam atmosfir memikat Green Room yang dibangun secara skematis.

Pada sebuah wawancara di permulaan film, Anton Yelchin menjelaskan mengapa Ain’t Rights sama sekali tidak mempromosikan dirinya melalui media sosial. Entah bagaimana, pertukaran dialog kecil ini meringkas keseluruhan Green Room dengan tepat.

Jeremy Saulnier menyuling esensi punk sebagai satu skena yang dipenuhi orang-orang berdikari, saling bertubrukan dalam agresi liar tanpa tujuan. Khusus dalam kasus skinhead neo-Nazi, keadaan semakin diperparah oleh jahanam ahli bersilat lidah macam Darcy yang senantiasa mencekoki pengikutnya dengan pemikiran radikal. Mungkin tidak sepenuhnya benar. Tapi yang jelas, Green Room sukses mengimitasi intensitas tinggi yang cuma bisa dirasakan saat berada di tengah rusuh dan ricuhnya konser punk. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.